in

Putra Jokowi, Putra SBY, dan Putra-Putri Presiden Lainnya

Beberapa bulan lalu, ketika melihat spanduk besar di depan mall Dinoyo kota Malang tampak foto AHY. Terbesit kesan bahwa hal tersebut adalah langkah tindak lanjut politik putra SBY setelah dengan segenap kerelaan dan berat hati tersungkur dari percaturan politik ibu kota. AHY yang rela meninggalkan karir kemiliteran itu kemudian menggenapi tuntutan sang ayah yang menjadi ketua salah satu partai besar di Indonesia untuk turut berkecimpung dalam dunia politik.

Buah memang tidak jatuh jauh dari pohonnya. Lain halnya bila buah itu diambil orang. Namun bisa saja pohon tersebut merebutnya kembali buah yang telah ia jatuhkan. Bila Soekarno mempunyai Megawati yang juga menyaingi ayahnya sebagai presiden, Yenni Wahid kerap diundang untuk meneruskan paham ke-Gus Dur-an yang kian mendapat apresiasi, SBY pun tidak mau kalah dengan cara mengkarbit AHY yang umurnya relatif masih muda jika dilihat dari saingan-saingan politiknya. Bagaimana dengan bapak Jokowi? Sedikit aneh barangkali ketika putranya memilih untuk asyik ngevlog sembari nyuting kegiatan-kegiatan ayahnya.

Sekian pemimpin besar Indonesia terus menghasilkan generasi-generasi alternatif dalam dunia perpolitikan. Hal ini terkesan bahwa figur politik masa kini masihlah belum mendapat upgrade dan pembaharuan. Belum lagi politik-politik dinasti yang merambat pada sebagian banyak daerah kabupaten di Indonesia yang kemudian malah melahirkan kasus-kasus dan isu korupsi yang berujungkan ketenaran KPK dalam upaya dan kinerjanya mengentas korupsi. Rasanya, figur politik yang diusung-usung oleh sejumlah partai belum sepenuhnya mendemokrasi. Para pengurus partai hanya mencalonkan segelintir orang untuk dijadikan pion percaturan kepemimpinan. Atau paling tidak orang-orang yang memang diketahui berhubungan baik dengan si figur utama.

Lantas muncul kabar baru tentang pertemuan Jokowi beserta putra sulungnya dengan AHY. Terlepas dari kebenaran isu politik yang semakin mendapat picingan mata, hal tersebut memunculkan gambaran pada masyarakat bahwa Indonesia seperti memiliki dua golongan masyarakat. Satu golongan adalah keluarga besar politisi Indonesia dan satu sisi mereka yang hanya bisa menggunakan hak pilih tanpa bisa memenuhi hak mencalonkan diri.

Baca Juga :   Merawat Toleransi Dengan “Kutang”

Para keluarga besar politisi kemudian saling mendatangi tetangga-tetangga mereka dalam setiap ajang pertemuan dengan membawa masing-masing keluarga. Beramah tamah, kemudian keesokan harinya banyak surat kabar dan media yang memposting pewartaan ketika acara tersebut. Lantas muncullah nama-nama baru yang masih dalam ruang lingkup keluarga besar politisi Indonesia yang kemudian dikenal oleh masyarakat. Akhirnya, referensi figur masyarakat hanyalah berkutat pada itu-itu saja. Kalau tidak anak ya istrinya.

Kini, Indonesia seperi memasuki generasi politik kedua yang ditengarai oleh Megawati sebagai putri presiden yang juga menjadi presiden. Disusul oleh keberadaan AHY yang dikader oleh SBY. Entah apa hasilnya akan sesukses Bung Karno kelak. Sementara putra-putra Jokowi yang notabene sudah mendapatkan potensi ketenaran melalui pemberitaan media massa masih belum melakukan pergerakan politik. Mereka masih asyik dalam karir masing-masing.

Perihal Gibran sebagai pengusaha dan AHY sebagai alumni militer yang ketikung masuk dunia politik, mulailah muncul kabar bahwa pertemuan mereka belakangan ini adalah upaya lanjutan dalam misi AHY. Pasangan calon yang serasi barangkali ketika melihat keduanya yang memiliki potensi masing-masing dan saling mendukung satu sama lain. Bahkan keduanya sempat mendapat sentilan pertanyaan dari seorang wartawan dengan sebuah kalimat sederhana: “untuk 2024 ya?” di mana 2024 merupakan ajang baru setelah event pemilihan 2019 (detiknews.com).

Terlepas dari isu-isu tersebut, bahwa figur-figur politik sekarang hampir menyerupai pabrik pemproduksian figur-figur baru. Satu figur mendapatkan ketenaran, kemudian memunculkan nama-nama baru yang masih dalam ruang lingkup keluarga sendiri dan kemudian tertangkap oleh media massa yang pada akhirnya nama-nama tersebut menjadi figur-figur kecil yang kelak akan mengantikan posisi figur-figur utama. Sekali lagi, masyarakat kurang mendapat referensi tokoh baru dalam kedemokrasian politik Indonesia.

Baca Juga :   Panggilan Alam Liar Alex

Dunia politik yang mendapat ketenaran dari pewartaan sejumlah media menjadi sebuah ajang untuk mengkerdilkan pandangan masyarakat agar tidak berpaling pada figur-figur baru. Toh, banyak juga pastinya yang kelak dapat membawa kemajuan dan kesejahteraan dan bukan hanya dalam bentuk diplomasi dan pertemuan-pertemuan semata.

Indonesia seperti merindukan sosok Hasan dan Husain yang tidak akan menunjuk diri sendiri walau sebenarnya memiliki potensi lebih daripada para pemimpin yang ada. Beliau berdua baru akan bergerak ketika ada dorongan dari bawah dan bukan malah akan bergerak bila ada intruksi dari atasan.

Namun untuk menjadi sebuah tokoh yang kemudian bisa dikenal dan menjadi rujukan masyarakat dalam perpolitikan rasanya repot. Untuk pencalonan diri tanpa adanya rangkulan partai politik dirasa mustahil. Mau dari uang sendiri? Berapa ratus juta rupiah yang akan dikeluarkan untuk memasang bener-bener berpajangkan foto dan nama? Belum lagi acara-acara orasi. Mau gratisan pakai sumbangan simpatisan? Apa mampu kiranya mencukupi? Sumbangan masjid saja masih kelar seribu dua ribu!

Pada akhirnya semua pencalonan tergantung terhadap siapakah nama-nama yang kelak akan keluar dari rahim-rahim partai politik. Partai yang masif dan gencar merayu masyarakatlah kelak akan meraup kemenangan dan masyarakat hanya merasakan keriuhan sejenak ketika pemilu dan pesta demokrasi. Setelah itu sibuk masing-masing. Belum lagi anak istri yang perlu dinafkahi, belum juga kerugian hasil panen belum tertutupi. Masyarakat dalam hal ini tidaklah mungkin dapat mengkritisi fenomena-fenomena politik yang terjadi. Dalam kondisi seperti ini, akankah ada figur-figur baru yang memang lahir dari masyarakat bawah yang kelak akan menjadi perahu layar mereka dalam mengarungi kepemimpinan? atau memang hanya nama-nama sanak saudara para politisi agung yang akan muncul lagi, lagi, dan lagi.

Baca Juga :   Bung Jokowi, Penguasa yang Membungkuk

Untuk mempragmatiskan dan mengapatiskan diri sendiri rasanya malu di saat umur-umur penuh gelora seperti ini. Setidaknya, kita tetap harus bisa berjuang dalam kondisi dan orientasi masing-masing. Dalam belajar, bermasyarakat, juga berbangsa dan bernegara agar kelak dapat bersaing dengan para putra dan putri segenap presiden pula alumni presiden kami yang tercinta.

Written by ozik ole-olang

Mahasiswa rantau asal Madura

Leave a Reply

Loading…

TINGGALKAN KOMENTAR