Kamis, Desember 3, 2020

Putra Jokowi, Putra SBY, dan Putra-Putri Presiden Lainnya

Apa Benar Pendidikan Tinggi Harus Sesuai dengan Kebutuhan Industri?

Seringkali, kita mendengar pembicaraan di sekeliling kita, bahwa menjadi mahasiswa adalah untuk menjadi tenaga kerja dalam relasi upahan, agar bisa memenuhi kebutuhan industri. Bahkan hal...

Ikhtiar Membangun Indonesia ala HMI

Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) yang didirikan pada tanggal 14 Rabi’ul Awwal 1366 H/05 Februari 1947 M silam, sudah menginjak usia ke-71. HMI sudah tidak...

Golput Otonom dan Tantangan Demokratisasi

Golput (Golongan Putih) di Indonesia bukanlah hal baru. Ia adalah gerakan sosial dalam artinya yang paling populis (kerakayatan) sekaligus politik (demokrasi) warga dalam upaya...

Menggugat Nalar, Membangkitkan Fungsi Intelektual

Nalar pernah menjadi dewa maha perkasa dunia manusia. Otoritasnya yang termanifestasi melalui proses Rennaissance dan Aufklarung telah melengserkan referensi kebenaran manusia Eropa kala itu...
Avatar
ozik ole-olang
Mahasiswa rantau asal Madura

Beberapa bulan lalu, ketika melihat spanduk besar di depan mall Dinoyo kota Malang tampak foto AHY. Terbesit kesan bahwa hal tersebut adalah langkah tindak lanjut politik putra SBY setelah dengan segenap kerelaan dan berat hati tersungkur dari percaturan politik ibu kota. AHY yang rela meninggalkan karir kemiliteran itu kemudian menggenapi tuntutan sang ayah yang menjadi ketua salah satu partai besar di Indonesia untuk turut berkecimpung dalam dunia politik.

Buah memang tidak jatuh jauh dari pohonnya. Lain halnya bila buah itu diambil orang. Namun bisa saja pohon tersebut merebutnya kembali buah yang telah ia jatuhkan. Bila Soekarno mempunyai Megawati yang juga menyaingi ayahnya sebagai presiden, Yenni Wahid kerap diundang untuk meneruskan paham ke-Gus Dur-an yang kian mendapat apresiasi, SBY pun tidak mau kalah dengan cara mengkarbit AHY yang umurnya relatif masih muda jika dilihat dari saingan-saingan politiknya. Bagaimana dengan bapak Jokowi? Sedikit aneh barangkali ketika putranya memilih untuk asyik ngevlog sembari nyuting kegiatan-kegiatan ayahnya.

Sekian pemimpin besar Indonesia terus menghasilkan generasi-generasi alternatif dalam dunia perpolitikan. Hal ini terkesan bahwa figur politik masa kini masihlah belum mendapat upgrade dan pembaharuan. Belum lagi politik-politik dinasti yang merambat pada sebagian banyak daerah kabupaten di Indonesia yang kemudian malah melahirkan kasus-kasus dan isu korupsi yang berujungkan ketenaran KPK dalam upaya dan kinerjanya mengentas korupsi. Rasanya, figur politik yang diusung-usung oleh sejumlah partai belum sepenuhnya mendemokrasi. Para pengurus partai hanya mencalonkan segelintir orang untuk dijadikan pion percaturan kepemimpinan. Atau paling tidak orang-orang yang memang diketahui berhubungan baik dengan si figur utama.

Lantas muncul kabar baru tentang pertemuan Jokowi beserta putra sulungnya dengan AHY. Terlepas dari kebenaran isu politik yang semakin mendapat picingan mata, hal tersebut memunculkan gambaran pada masyarakat bahwa Indonesia seperti memiliki dua golongan masyarakat. Satu golongan adalah keluarga besar politisi Indonesia dan satu sisi mereka yang hanya bisa menggunakan hak pilih tanpa bisa memenuhi hak mencalonkan diri.

Para keluarga besar politisi kemudian saling mendatangi tetangga-tetangga mereka dalam setiap ajang pertemuan dengan membawa masing-masing keluarga. Beramah tamah, kemudian keesokan harinya banyak surat kabar dan media yang memposting pewartaan ketika acara tersebut. Lantas muncullah nama-nama baru yang masih dalam ruang lingkup keluarga besar politisi Indonesia yang kemudian dikenal oleh masyarakat. Akhirnya, referensi figur masyarakat hanyalah berkutat pada itu-itu saja. Kalau tidak anak ya istrinya.

Kini, Indonesia seperi memasuki generasi politik kedua yang ditengarai oleh Megawati sebagai putri presiden yang juga menjadi presiden. Disusul oleh keberadaan AHY yang dikader oleh SBY. Entah apa hasilnya akan sesukses Bung Karno kelak. Sementara putra-putra Jokowi yang notabene sudah mendapatkan potensi ketenaran melalui pemberitaan media massa masih belum melakukan pergerakan politik. Mereka masih asyik dalam karir masing-masing.

Perihal Gibran sebagai pengusaha dan AHY sebagai alumni militer yang ketikung masuk dunia politik, mulailah muncul kabar bahwa pertemuan mereka belakangan ini adalah upaya lanjutan dalam misi AHY. Pasangan calon yang serasi barangkali ketika melihat keduanya yang memiliki potensi masing-masing dan saling mendukung satu sama lain. Bahkan keduanya sempat mendapat sentilan pertanyaan dari seorang wartawan dengan sebuah kalimat sederhana: “untuk 2024 ya?” di mana 2024 merupakan ajang baru setelah event pemilihan 2019 (detiknews.com).

Terlepas dari isu-isu tersebut, bahwa figur-figur politik sekarang hampir menyerupai pabrik pemproduksian figur-figur baru. Satu figur mendapatkan ketenaran, kemudian memunculkan nama-nama baru yang masih dalam ruang lingkup keluarga sendiri dan kemudian tertangkap oleh media massa yang pada akhirnya nama-nama tersebut menjadi figur-figur kecil yang kelak akan mengantikan posisi figur-figur utama. Sekali lagi, masyarakat kurang mendapat referensi tokoh baru dalam kedemokrasian politik Indonesia.

Dunia politik yang mendapat ketenaran dari pewartaan sejumlah media menjadi sebuah ajang untuk mengkerdilkan pandangan masyarakat agar tidak berpaling pada figur-figur baru. Toh, banyak juga pastinya yang kelak dapat membawa kemajuan dan kesejahteraan dan bukan hanya dalam bentuk diplomasi dan pertemuan-pertemuan semata.

Indonesia seperti merindukan sosok Hasan dan Husain yang tidak akan menunjuk diri sendiri walau sebenarnya memiliki potensi lebih daripada para pemimpin yang ada. Beliau berdua baru akan bergerak ketika ada dorongan dari bawah dan bukan malah akan bergerak bila ada intruksi dari atasan.

Namun untuk menjadi sebuah tokoh yang kemudian bisa dikenal dan menjadi rujukan masyarakat dalam perpolitikan rasanya repot. Untuk pencalonan diri tanpa adanya rangkulan partai politik dirasa mustahil. Mau dari uang sendiri? Berapa ratus juta rupiah yang akan dikeluarkan untuk memasang bener-bener berpajangkan foto dan nama? Belum lagi acara-acara orasi. Mau gratisan pakai sumbangan simpatisan? Apa mampu kiranya mencukupi? Sumbangan masjid saja masih kelar seribu dua ribu!

Pada akhirnya semua pencalonan tergantung terhadap siapakah nama-nama yang kelak akan keluar dari rahim-rahim partai politik. Partai yang masif dan gencar merayu masyarakatlah kelak akan meraup kemenangan dan masyarakat hanya merasakan keriuhan sejenak ketika pemilu dan pesta demokrasi. Setelah itu sibuk masing-masing. Belum lagi anak istri yang perlu dinafkahi, belum juga kerugian hasil panen belum tertutupi. Masyarakat dalam hal ini tidaklah mungkin dapat mengkritisi fenomena-fenomena politik yang terjadi. Dalam kondisi seperti ini, akankah ada figur-figur baru yang memang lahir dari masyarakat bawah yang kelak akan menjadi perahu layar mereka dalam mengarungi kepemimpinan? atau memang hanya nama-nama sanak saudara para politisi agung yang akan muncul lagi, lagi, dan lagi.

Untuk mempragmatiskan dan mengapatiskan diri sendiri rasanya malu di saat umur-umur penuh gelora seperti ini. Setidaknya, kita tetap harus bisa berjuang dalam kondisi dan orientasi masing-masing. Dalam belajar, bermasyarakat, juga berbangsa dan bernegara agar kelak dapat bersaing dengan para putra dan putri segenap presiden pula alumni presiden kami yang tercinta.

 

Avatar
ozik ole-olang
Mahasiswa rantau asal Madura
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Meneguhkan Keindonesiaan di Tengah Pandemi

Sejak diumumkannya kasus pertama covid 19 di Indonesia pada bulan Maret 2019 silam, perjalanan kasus ini tidak pernah surut. Memasuki bulan Oktober 2020 justru...

Upah Minimum atau Upah Maksimum?

Belakangan ini demo buruh tentang upah minimum mulai sering terdengar. Kenaikan upah minimum memang selalu menjadi topik panas di akhir tahun. Kini menjadi semakin...

Menjatuhkan Ganjar-Jokowi dengan Satu Batu

Saya sebenarnya kasihan dengan Jokowi. Sejak beberapa hari yang lalu organ di bawahnya terlihat tidak bisa kerja. Misalnya soal kasus teroris di Sigi, tim...

Mengapa RUU Minol Harus Disahkan

Pada zaman yang serba modern seperti sekarang ini apa saja dapat dilakukan dan didapatkan dengan mudah karena teknologi sudah semakin canggih. Dahulu untuk mendapatkan...

Pay It Forward Merespon Dampak Pandemi Covid-19

Sinopsis Film Pay It Forward Pay It Forward merupakan sebuah film asal Amerika Serikat yang sarat pesan moral. Film ini dirilis pada tahun 2000, yang...

ARTIKEL TERPOPULER

Luasnya Kekuasaan Eksekutif Menurut Undang-Undang

Proses demokrasi di Indonesia telah memasuki tahap perkembangan yang sangat penting. Perkembangan itu ditandai dengan berbagai perubahan dan pembentukan institusi atau lembaga baru dalam...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Pendidikan di Indonesia

Sudah 8 bulan lalu kasus virus Covid-19 menyerang dunia. Begitu cepatnya perubahan wabah Covid-19 dari Endemi hingga memenuhi syarat menjadi Pandemi, wabah yang mendunia....

Hyper Grace : Kejahatan Intelektualitas Manusia Yang Menggunakan

Hyper Grace adalah anugerah yang dilebih-lebihkan (keluar dari porsi) anugerah yang melebihi yang Firman Allah katakan (menambahkan Firman-Nya).Itu adalah anugerah di mana kamu harus...

“Pilkada Pandemi” dan Pertanyaan Soal Substansi Demokrasi

Pilkada sebagai sebuah proses politik di negara demokrasi adalah salah satu wujud terpenuhinya hak politik warga negara, selain terjadinya sirkulasi elite penguasa. Namun di...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.