Sabtu, Oktober 24, 2020

Puritanisme Islam: Memurnikan Ajaran atau Arabisasi?

Sastra Wangi dan Euforia Sastra Selangkangan

Sebenarnya sudah terlambat mengangkat tema ini. Sebab polemik tentang “Gerakan Syahwat Merdeka” yang dimunculkan Taufik Ismail sudah sejak tahun 2006 lalu. Tepatnya pada 20...

Cara Praktis Agar Mencintai Dunia Baca Tulis

Mungkin satu tahun belakangan ini adalah momen yang paling saya syukuri selama menempuh studi di bumi para nabi. Pasalnya, ada satu perasaan yang sebelumnya...

Duka Lara Dibalik Desah Mesra

Misterium tramendum fascinan! Ungkapan dari salah satu teolog ternama yakni Rudolf otto. Bahwa Tuhan merupakan sesuatu yang misterius, suci dan bergolak dalam jiwa manusia. Dunia...

Ramadhan, Momen Bertoleransi

Dalam beberapa hari lagi, kaum muslim akan menyambut bulan Ramadhan. Bulan yang sangat dinanti-nanti oleh jutaan umat Islam di seluruh dunia itu menyimpan banyak...
Dani Ismantoko
Penulis. Tinggal di Bantul.

Dalam sejarah Islam, gerakan puritan paling tidak muncul ketika Khawarij muncul. Prinsipnya, setelah Nabi Muhammad wafat umat Islam kembali tergantung pada kesukuan, bukan kepada agama. Purifikasi bertujuan memurnikan ajaran agama dari noda-noda yang diakibatkan dari ketergantungan kesukuan.

Sebenarnya munculnya gerakan puritan bukan dimulai saat Islam muncul. Kita tentu ingat dulu, Galileo Galilei dihukum oleh gereja, dianggap melawan Gereja karena menyebarkan paham bumi mengelilingi matahari.

Bukan matahari yang mengelilingi bumi. Saat itu gereja beranggapan bahwa bumi adalah pusat alam semesta. Secara formal apa yang dilakukan gereja tidak disebut sebagai gerakan puritan. Tetapi sikap defensif gereja menunjukkan bahwa mereka menginginkan ajaran mereka murni menurut pandangan mereka.

Di luar itu semua, saya kira kecenderungan untuk menjaga kemurnian selalu dimiliki oleh penganut agama apa pun. Khawarij yang perlahan hilang dimakan sejarah tidak sepenuhnya hilang. Prinsip purifikasi diteruskan. Seakan memang sengaja dilestarikan. Sampai sekarang.

Di satu sisi sebenarnya tidak buruk. Asalkan prosesnya berprinsip pada kemaslahatan. Namun tidak jarang yang terjadi bukan seperti itu. Bagi penganutnya ada yang terlupa. Agama dianggap sebatas ritual, juga rumbai-rumbai yang berorientasi pada tanda–tanda fisik tertentu yang sebenarnya tidak substantif.

Ritual agama dan akhlak tidak terpisah. Ritual agama adalah jalan dan akhlak adalah tujuan. Ritual agama bertujuan supaya berakhlak baik. Kalau seseorang berakhlak baik ritual ibadah pun akan dengan sendirinya dilaksanakan tanpa perlu dipaksa. Ritual dan akhlak sosial bersifat ulang alik dan terikat.

Oleh karenanya agama tidak melulu ibadah, tidak melulu persoalan fiqih, yang entah mengapa seringkali baik ibadah secara khusus atau persoalan fiqih secara umum dilinierkan dengan tanda–tanda fisik yang bersifat Arabic, misalnya dalam pakaian, atau tanda fisik seperti jenggot.

Nabi Muhammad telah mengabarkan, “Innamaa bu’itstu liutammima makarimal akhlaq.” Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlaq, kata beliau. Bukan untuk maniak fiqih atau maniak fashion Arab.

Gerakan puritan, terutama yang kekinian, dapat dilihat, gejala yang berkembang seringkali hanya berurusan dengan ibadah dan fiqih. Persoalan akhlaq diabaikan. Bahkan, ibadah dan fiqih yang terkesan dipisahkan dari akhlak jadi berpotensi melanggar akhlak.

Islam dan Arab berbeda. Islam memang lahir di tengah budaya Arab. Islam adalah agama yang datangnya langsung dari Allah. Budaya Arab ada hasil kreatifitas manusia Arab. Maka, Islam seharusnya tidak terikat oleh budaya Arab. Islam bisa masuk di budaya mana pun.

Islam bisa masuk ke suatu daerah karena telah melakukan penyesuaian – penyesuaian yang dinamis. Sehingga Islam bisa diterima dengan mudah tanpa menimbulkan gesekan – gesekan dengan masyarakat dan budaya lokal yang berakibat fatal.

Dalam hal itu, kita bisa lihat Wali Songo. Penyebar agama Islam di Nusantara.

Pada abad 7 – 8 Masehi Agama Islam masuk di Nusantara dibawa oleh pedagang Arab. Islam tidak berkembang pesat. Pada abad 14 Masehi islam dibawa oleh para Wali. Dan berkembang pesat tanpa gesekan – gesekan yang berarti.

Itu bisa terjadi karena para wali melakukan penyesuaian yang dinamis. Misalnya, Sunan Kalijaga dengan wayang kulit dan tembang-tembangnya.

Jauh sebelum itu Allah, dan Rasulnya sudah melakukan itu, bahkan di ritual wajibnya, haji. Orang Quraisy yang pagan sudah melakukan thawaf. Oleh Allah dan Rasulnya thawaf yang awalnya syarat akan kemusyrikan, tidak tertuju kepada Allah, diganti dengan ketauhidan yang seharusnya.

Jika dilihat dari segi niatnya, purifikasi tidak buruk. Menghilangkan kerikil – kerikil yang menghalangi jalan menuju Allah. Tetapi jika dilihat gejala kekinian, saya kira purifikasi menjadi tampak membingungkan dan tidak tepat sasaran.

Gerakan purifikasi, terutama di Indonesia, selalu berfokus menghilangkan kolaborasi antara islam dan budaya jawa seperti tahlilan kematian, ziarah kubur, nyadran. Selain itu juga ilmu – ilmu dan budaya leluhur lain (yang dianggap musyrik oleh kaum puritan) diganti dengan Islam yang Arab.

Mereka selalu menyuarakan bahwa yang melakukan sesuatu tidak seperti yang dilakukan Nabi Muhammad akan masuk neraka, dan kalau bisa persis, mungkin sampai sesuatu yang detail dalam kehidupan Nabi, seperti posisi tidur, cara berjalan akan masuk surga.

Kalau seperti itu, mengapa Allah menakdirkan kita lahir di Indonesia, dengan beragam budayanya, juga lahir di zaman yang jauh berbeda dengan zaman Nabi Muhammad hidup? Bukankah kita wajib menjadi seperti yang dikehendaki Allah? Apakah segala keragaman yang ada di dunia ini muaranya adalah supaya semua orang di dunia mau berproses menjadi orang Arab?

Lagi pula, daripada sibuk menyalahkan orang tahlilan, ziarah kubur, nyadran, shalawatan agaknya lebih baik menyibukkan diri membimbing akhlak para koruptor supaya tidak semakin membuat negara bangkrut.

Dani Ismantoko
Penulis. Tinggal di Bantul.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Sektor Bisnis di Indonesia

Sejak COVID-19 memasuki wilayah Indonesia pada Maret 2020, pemerintah mencanangkan regulasi Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) alih-alih menerapkan lockdown. PSBB itu sendiri berlangsung selama...

Disrupsi Perbankan Perspektif Ekonomi Islam

Disrupsi berasal dari bahasa inggris disruption yang memiliki arti sebagai: gangguan, kekacauan atau permasalahan yang kemudian mengganggu aktivitas, peristiwa ataupun proses. Sedangkan inovasi disruptif yaitu...

Pesan untuk Para Pemimpin dari Imam Al Ghazali

Dalam Islam, pemimpin mempunyai banyak istilah, di antaranya, rain, syekh, imam, umara’, kaum, wali, dan khalifah. Istilah rain merupakan arti pemimpin yang merujuk pada...

Gerakan Mahasiswa, Belum Beranjak dari Utopia?

Sampai hari ini retorika gerakan mahasiswa agaknya belum beranjak dari utopia yang meyakini perannya sebagai agen revolusioner yang mendorong perubahan. Sering kali retorika tersebut...

Nelangsa Mahasiswa Handphone Kentang dan Laptopnya Potato

"Kuliah hari ini saya berikan beberapa pertanyaan tentang mata kuliah kita, kalian jawab dan dikumpulkan 1 jam dari sekarang” “Ting tong” sebuah notifikasi muncul di...

ARTIKEL TERPOPULER

Tanggapan Orang Biasa terhadap Demo Mahasiswa dan Rakyat 2019

Sudah dua hari televisi dihiasi headline berita demonstrasi mahasiswa, hal yang seolah mengulang berita di TV-TV pada tahun 1998. Saya teringat kala itu hanya...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Cara Mahasiswa Menghadapi Revolusi Industri 4.0

Teknologi selalu mengalami perubahan-perubahan seakan tidak pernah ada ujungnya. Seperti halnya saat ini teknologi sudah sangat berkembang dengan pesat terutama dalam bidang teknologi informasi...

Gerakan Mahasiswa, Belum Beranjak dari Utopia?

Sampai hari ini retorika gerakan mahasiswa agaknya belum beranjak dari utopia yang meyakini perannya sebagai agen revolusioner yang mendorong perubahan. Sering kali retorika tersebut...

Menyerupai Suatu Kaum: Hadits, Konteks Budaya, dan Tahun Baru 2018

Hanya dengan satu hadits ini, “Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka” (HR Abu Daud dan Ahmad), banyak ustaz yang lantang...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.