in

Pulanglah ke Nusantara


Pulang dari bahasa sehari-hari yang di gunakan berarti memiliki makna ‘Kembali’.

Kembali ke Nusantara menurut saya adalah kembali kepada ajaran Nusantara yang ramah tamah, santun, berpancasila dan memegang tegung nilai-nilai kemanusiaan.

Ada puncak rindu dalam kegelisahan yang melanda. Puncak rindu tersebut yaitu kangen yang teramat dahsyat seketika melanda. Bayangkan, betapa rindunya kita seketika lama tak jumpa dengan Kekasih.

Lama tak pulang ke Nusantara (Indonesia) dengan semua tradisi dan kebudayaan yang berkembang ribuan kali lipat rindunya terhadap kekasih.

Ajaran Nusantara adalah ajaran yang sejalan dengan Nilai-nilai religius dan spiritualitas. Tidak bertentangan apalagi bertolak belakang.

Sadar atau tidak, kita sudah terlalu lama tersesat di bangsa kita sendiri. Karena kita membanggakan Kebudayaan luar yang tidak begitu sejalan dengan Kebudayaan dan tradisi bangsa kita.

Kita terlalu lama meninggalkan Pancasila, kita hanya memiliki jasad pancasila sedangkan ruhnya pergi entah kemana. Kita hanya memperebutkan abu, sedangkan api nya kita padamkan.

Pancasila diperjual-belikan secara transaksional untuk mendapatkan jabatan dan keuntungan pribadi. Sedangkan rakyat yang seharusnya menikmati seluruh Jiwa-Raga Pancasila hanya mendapatkan pepesan kosong, yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin.

Saya sangat sependapat dengan apa yang di katakan oleh Sujiwo Tejo ‘Berhenti mengejar modernitas apabila Tradisional tinggalkan’

Dari ucapan Bah Tejo tersebut, saya mendapatkan jawaban yang sempurna dari sosok Dedi Mulyadi. ‘Modernitas adalah Kebudayaan yang dikirim dari Luar untuk menyisihkan tradisionalitas dan kebudayaan yang berkembang di suatu daerah dan Negeri’


Baca Juga :   Jangan Sampai Dedi Mulyadi Maju di Pilgub Jawa Barat

Artinya, secara umum kita bukan berarti menolak modernitas, tetapi kita menolak modern apabila menyisihkan apa yang menjadi milik kita.

Modernitas dan tradisionalitas tidaklah bisa di pisahkan, keduanya singkron dan saling melengkapi. karena menyerap secara detail dari nilai-nilai yang berkembang di Publik.

Coba baca sejarah, ketika sekarang ini bangsa lain di belahan dunia yang mengaku lebih modern dan lebih manusiawi, bangsa ini puluhan abad kebelakang sudah memegang teguh prinsip tersebut, saat bangsa-bangsa yang sekarang mengaku Modern sedang di selimuti kabut kegelapan.

Dimana kebudayaan, peradaban, teknologi, ilmu pengetahuan, pelayaran dan lain sebagainya berkembang begitu pesat di tanah Nusantara.

Semuanya porak-poranda ketika Imprealisme dan hujan darah serta dentuman bom mencucuri langit-langit nusantara.

Hari berganti tahun berubah, kemerdekaan serta persatuan yang cita-citakan terlahir ditanah Khatulistiwa, peradaban yang hancur-lebur itu kembali di bangun oleh putra-putri terbaik bangsa.

Waktunya di habiskan untuk bekerja demi sebuah cita-cita, yakni menjadi bangsa yang besar dan percaya diri kepada bangsanya sendiri. Nilai-nilai tradisi di ikat dalam pita Kebhikekaan dan di cengkram kuat oleh Burung garuda.

Putra-putri terbaik silih berganti memimpin negeri, tetapi tidak belum bisa merubah seluruh wajah negeri.

Jaman milenial sekarang, pemimpin semakin giat untuk membangun. Di bawah komando Presiden Joko Widodo, Indonesia bekerja-bekerja dan bekerja demi sebuah cita-cita yang telah di perjuangkan oleh para pendiri bangsa.

Baca Juga :   Trans Pacific Partnership Gugurkan Nawa Cita Jokowi

Tradisi yang hampir memudar terus di pulas agar semakin terang benderang, supaya kita tersadar, bahwa perbedaan merupakan rahmat Tuhan yang harus di jaga sampai dengan cucuran darah dan keringat.

Di kota pusat pemerintahan kebhinekaan di pertanyakan, di daerah kebnikeaan semakin kuat. Di Purwakarta wajah Pancasila semakin terlihat dalam bentuk nyata.

Setiap kali berkunjung ke daerah-daerah Indonesia, Jokowi selalu memakai pakaian adat yang berkembang, untuk apa? Jelas untuk merapatkan dan memperkuat kecintaan pada bangsa yang tumbuh kian menua ini.

Di Daerah Dedi Mulyadi mendengungkan Nasionalismenya, ‘saya adalah orang sunda, nasionalisme saya adalah nasionalisme sunda. Kalau saya jawa, maka nasionalisme saya jawa. kalau saya papua, maka nasionalisme saya papua’

Perkataan tersebut bukanlah untuk memecah belah, melainkan untuk merekatkan kecintaan pada tradisi yang berkembang. Karena Indonesia ada gugusan Kemajemukan, maka di daerah harus bangga dan menjaga kemajemukan yang tumbuh dan berekmbang tersebut.

Berbeda dengan Pakde Jokowi, karena beliau adalah Pemimpin besar Indonesia, maka Nasionalisme beliau adalah nasionalisme Indonesia yang melebur dengan Pancasila. Bukan Nasionalisme ke daerahan, melainkan Nasionalisme persatuan.

Seperti yang telah di katakan oleh founding father bangsa ini, ‘kalau jadi Hindu jangan jadi orang India. Kalau jadi Islam jangan jadi orang Arab . Kalau jadi Kristen jangan jadi orang Yahudi. Tetaplah jadi orang Indonesia dengan adat budaya Nusantara yang kaya raya ini’ Ir. Soekarno

Baca Juga :   Dedi Mulyadi di Tengah Isu SARA

#SalamPerjuangan #SalamPersatuan


Written by Aming_Soedrajat

Pegiat Media Sosial

Tinggalkan Balasan

Loading…

TINGGALKAN KOMENTAR