Jumat, Februari 26, 2021

Pulanglah ke Nusantara

Public Life: Agama, Sekularisme dan Pancasila.

Oktober adalah "Bulannya Pancasila". Momentum ini penting untuk memperkuat dan merawat -salah satunya dengan berbagai kajian terkait Pancasila- ideologi bangsa Indonesia, Pancasila. Tulisan ini...

Keterhubungan Wacana Indigenous Peoples dengan Masyarakat Adat

Pada aras global, gerakan masyarakat adat sedang menggeliat. Gerakan tersebut adalah gerakan Indigenous peoples, yang dalam narasi Pasca kolonialisme adalah perwujudan dari penolakan marjinalisasi...

Ketika Tsamara Menertawai Hary Tanoe Mencapreskan Jokowi

Dunia politik itu, meminjam judul lagu Iwan Fals, asyik nggak asyik. Kabar mengejutkan datang, Ketum Perindo Hary Tanoesoedibjo (HT) mengindikasikan dukungan terhadap Presiden Joko...

Ekspresi Keberagamaan Muslim Kelas Menengah

Berhijab, jilbab mewah, hijab penuh dengan pernak-pernik, pergi umrah plus, mengikuti jemaah pengajian berkelas di TV, ikut serta jamiyyah dzikir, serta rajin sedekah ke...
Aming Soedrajat
Pegiat Media Sosial

Pulang dari bahasa sehari-hari yang di gunakan berarti memiliki makna ‘Kembali’.

Kembali ke Nusantara menurut saya adalah kembali kepada ajaran Nusantara yang ramah tamah, santun, berpancasila dan memegang tegung nilai-nilai kemanusiaan.

Ada puncak rindu dalam kegelisahan yang melanda. Puncak rindu tersebut yaitu kangen yang teramat dahsyat seketika melanda. Bayangkan, betapa rindunya kita seketika lama tak jumpa dengan Kekasih.

Lama tak pulang ke Nusantara (Indonesia) dengan semua tradisi dan kebudayaan yang berkembang ribuan kali lipat rindunya terhadap kekasih.

Ajaran Nusantara adalah ajaran yang sejalan dengan Nilai-nilai religius dan spiritualitas. Tidak bertentangan apalagi bertolak belakang.

Sadar atau tidak, kita sudah terlalu lama tersesat di bangsa kita sendiri. Karena kita membanggakan Kebudayaan luar yang tidak begitu sejalan dengan Kebudayaan dan tradisi bangsa kita.

Kita terlalu lama meninggalkan Pancasila, kita hanya memiliki jasad pancasila sedangkan ruhnya pergi entah kemana. Kita hanya memperebutkan abu, sedangkan api nya kita padamkan.

Pancasila diperjual-belikan secara transaksional untuk mendapatkan jabatan dan keuntungan pribadi. Sedangkan rakyat yang seharusnya menikmati seluruh Jiwa-Raga Pancasila hanya mendapatkan pepesan kosong, yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin.

Saya sangat sependapat dengan apa yang di katakan oleh Sujiwo Tejo ‘Berhenti mengejar modernitas apabila Tradisional tinggalkan’

Dari ucapan Bah Tejo tersebut, saya mendapatkan jawaban yang sempurna dari sosok Dedi Mulyadi. ‘Modernitas adalah Kebudayaan yang dikirim dari Luar untuk menyisihkan tradisionalitas dan kebudayaan yang berkembang di suatu daerah dan Negeri’

Artinya, secara umum kita bukan berarti menolak modernitas, tetapi kita menolak modern apabila menyisihkan apa yang menjadi milik kita.

Modernitas dan tradisionalitas tidaklah bisa di pisahkan, keduanya singkron dan saling melengkapi. karena menyerap secara detail dari nilai-nilai yang berkembang di Publik.

Coba baca sejarah, ketika sekarang ini bangsa lain di belahan dunia yang mengaku lebih modern dan lebih manusiawi, bangsa ini puluhan abad kebelakang sudah memegang teguh prinsip tersebut, saat bangsa-bangsa yang sekarang mengaku Modern sedang di selimuti kabut kegelapan.

Dimana kebudayaan, peradaban, teknologi, ilmu pengetahuan, pelayaran dan lain sebagainya berkembang begitu pesat di tanah Nusantara.

Semuanya porak-poranda ketika Imprealisme dan hujan darah serta dentuman bom mencucuri langit-langit nusantara.

Hari berganti tahun berubah, kemerdekaan serta persatuan yang cita-citakan terlahir ditanah Khatulistiwa, peradaban yang hancur-lebur itu kembali di bangun oleh putra-putri terbaik bangsa.

Waktunya di habiskan untuk bekerja demi sebuah cita-cita, yakni menjadi bangsa yang besar dan percaya diri kepada bangsanya sendiri. Nilai-nilai tradisi di ikat dalam pita Kebhikekaan dan di cengkram kuat oleh Burung garuda.

Putra-putri terbaik silih berganti memimpin negeri, tetapi tidak belum bisa merubah seluruh wajah negeri.

Jaman milenial sekarang, pemimpin semakin giat untuk membangun. Di bawah komando Presiden Joko Widodo, Indonesia bekerja-bekerja dan bekerja demi sebuah cita-cita yang telah di perjuangkan oleh para pendiri bangsa.

Tradisi yang hampir memudar terus di pulas agar semakin terang benderang, supaya kita tersadar, bahwa perbedaan merupakan rahmat Tuhan yang harus di jaga sampai dengan cucuran darah dan keringat.

Di kota pusat pemerintahan kebhinekaan di pertanyakan, di daerah kebnikeaan semakin kuat. Di Purwakarta wajah Pancasila semakin terlihat dalam bentuk nyata.

Setiap kali berkunjung ke daerah-daerah Indonesia, Jokowi selalu memakai pakaian adat yang berkembang, untuk apa? Jelas untuk merapatkan dan memperkuat kecintaan pada bangsa yang tumbuh kian menua ini.

Di Daerah Dedi Mulyadi mendengungkan Nasionalismenya, ‘saya adalah orang sunda, nasionalisme saya adalah nasionalisme sunda. Kalau saya jawa, maka nasionalisme saya jawa. kalau saya papua, maka nasionalisme saya papua’

Perkataan tersebut bukanlah untuk memecah belah, melainkan untuk merekatkan kecintaan pada tradisi yang berkembang. Karena Indonesia ada gugusan Kemajemukan, maka di daerah harus bangga dan menjaga kemajemukan yang tumbuh dan berekmbang tersebut.

Berbeda dengan Pakde Jokowi, karena beliau adalah Pemimpin besar Indonesia, maka Nasionalisme beliau adalah nasionalisme Indonesia yang melebur dengan Pancasila. Bukan Nasionalisme ke daerahan, melainkan Nasionalisme persatuan.

Seperti yang telah di katakan oleh founding father bangsa ini, ‘kalau jadi Hindu jangan jadi orang India. Kalau jadi Islam jangan jadi orang Arab . Kalau jadi Kristen jangan jadi orang Yahudi. Tetaplah jadi orang Indonesia dengan adat budaya Nusantara yang kaya raya ini’ Ir. Soekarno

#SalamPerjuangan #SalamPersatuan

Aming Soedrajat
Pegiat Media Sosial
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Penguatan Kultur Demokrasi di Indonesia

Sebagian persoalan dalam praktik demokrasi di Indonesia muncul dari kalangan elite yang membajak sistem. Masyarakat sebagai pemilik sah kedaulatan tertinggi dalam demokrasi hanya dijadikan...

Buntara Kalis

Oleh: Queen Vega Latiefah, SMAN 76 Jakarta Esai favorit lomba: Mengenal Indonesia, Mengenal Diri Kita Seperti cahaya rembulan di malam hari, seperti itu bayangan orang orang...

Sejarah Palestina dan Hubungannya dengan Kita

Usai Kekalahan Ottoman pada perang dunia 1 yakni pada (1914 - 1918) wilayah Palestina - Israel sejak 1922 berada di bawah mandat Inggris. Peluang...

Asesmen dan Metode Wawancara dalam Psikologi Klinis

Seperti yang kita tahu, bahwa psikologi merupakan sesuatu yang sangat identik dengan kehidupan manusia, karena psikologi berpengaruh terhadap kehidupan seseorang. Psikologi yang kurang baik...

Kajian Anak Muda Perspektif Indonesia

Sejak awal, perkembangan kajian anak muda dalam perspektif Indonesia telah menjadi agenda penting dan strategis. Sebagai bidang penelitian yang relatif baru, tidak dapat dipungkiri...

ARTIKEL TERPOPULER

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Menilik Pencekalan Panglima Gatot

Insiden diplomatik antara Amerika Serikat dan Indonesia terjadi hari Sabtu lalu, (21/10/2017) di Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta. Kejadiannya, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo dicekal untuk...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Sejarah Palestina dan Hubungannya dengan Kita

Usai Kekalahan Ottoman pada perang dunia 1 yakni pada (1914 - 1918) wilayah Palestina - Israel sejak 1922 berada di bawah mandat Inggris. Peluang...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.