Selasa, Maret 2, 2021

Puisi Sukmawati: Sastra sebagai Media Penghinaan?

Istri Gus Dur dan Gerakan Multikultural di Bulan Ramadhan

Selama bulan ramadhan ini, istrinya Alm. Gus Dur, yaitu ibu Sinta Nuriyah Wahid mengadakan buka sahur di berbagai daerah di Indonesia. Tema yang diusung...

Jokowi dan Ingatan Orde Baru

Sebagai seorang teknokrat, gaya kepemimpinan Jokowi tak jauh beda dengan era Orde Baru. Dalam menciptakan kebijakan instrumental pemerintahan misalnya, Jokowi menghidupkan kembali gaya teknokrasi...

Gus Sholah dan KPK

Wafatnya KH. Salahuddin Wahid, biasa dipanggil Gus Sholah, pada hari minggu (02/02/2020), menyisakan duka dan rasa kehilangan yang cukup mendalam, bukan saja bagi segenap...

Gibran, Dinasti Politik, dan Kaderisasi Parpol

Akhir-akhir ini media sosial kita seperti twitter, instagram, facebook dan whatsApp ramai memperbincangkan topik Gibran dalam dekapan dinasti politik. Seolah perbincangan Gibran ini mengalahkan...
Imron Maulana
Penulis lepas yang aktif sebagai pegiat literasi di Komunitas Pamekasan Membaca (KOMPAK) dan mahasiswa aktif Pascasarjana IAIN Madura.

Sastra sampai saat ini masih dijadikan media paling tepat dalam mengungkapkan ekspresi penulisnya. Menjadi media paling halus untuk berkomunikasi, mengkritik, dan menyampaikan hikmah-hikmah terhadap orang lain.

Tidak jarang pula sastra dijadikan sebagai media pemberontakan dan perlawanan terhadap kelaliman kehidupan kemanusiaan, sebut saja penulis sastra yang sering melakukan perlawanan melalui puisi-puisinya WS Rendra, Wiji Tukul, dan yang lain-lainnya yang tak mungkin penulis tulis semuanya di sini.

Yang menjadi pertanyaan, mungkinkah karya sastra dijadikan alat untuk menghina? Seperti terjadi belakangan ini di Indonesia yang dihebohkan oleh pembacaan puisi Sukmawati Soekarnoputri dalam acara “29 Tahun Anne Avantie Berkarya” dengan judul “Ibu Indonesia” di mana puisi tersebut mengandung isi yang kontroversial bagi agama mayoritas di Indonesia yaitu Islam.

Pembacaan puisi yang berhasil menggoyang umat Islam Indonesia. Membangunkan macan tidur, mungkin ungkapan yang tepat untuk pembacaan puisi Sukmawati, simbolisasi yang digunakannya sangat menggelitik umat Islam Indonesia sebab penggunakan simbol dan perbandingan-perbandingannya menyerang umat Islam.

Perbandingan “sari konde dengan cadar dan kidung dengan adzan” menunjukkan semakin menusuknya Sukmawati terhadap umat Islam. Tusukan mesra yang memancing macan-macan Islam menghantam garang.

Berbicara menghina melalui sastra, penulis teringat kasus atas diterbitnya novel “Ayat-ayat Setan” tulisan Salman Rushdie yang mampu menggoyang umat Islam dan sastra dunia. Tulisan yang berhasil menghebohkan dunia tersebut menyajikan Nabi Muhammad sebagai Mahound (Ruh Jahat), dipandang sebagai penyebar kejahilan, kemesuman, kemungkaran, dan kedurhakaan.

Cara pandang serupa itu menunjukkan agar agama Islam tak lagi menemui masa perkembangan dan ingin menuai citra buruk Islam dan umatnya. Munculnya tulisan tersebut dan pembacaan puisi ibu Sukmawati melahirkan berbagai tuntutan terhadap masing-masing penulisnya. Salman Rushdie dijatuhkannya hukuman mati oleh Ayatullah Khomaini dan ibu Sukmawati dituntut untuk meminta maaf terhadap publik secara terbuka oleh pihak Majelis Ulama Indonesia.

Sastra sebagai bentuk ungkapan ekspresi tentunya mempunyai koridor penggunaan dan pengungkapannya. Seperti yang telah disampaikan oleh sastrawan besar Nusantara Hamzah Fansuri yang nantinya menjadikan ciri khas atas puisi-puisinya (Abdul Hadi: 102-103). Pertama, penekanan penyair terhadap individualitas atau kesadaran diri, yaitu kebebasannya untuk mengekspresikan pengalaman pribadinya.

Kedua, puisi bukan sekedar ungkapan perasaan biasa yang hanya sekedar menyenangkan pembacanya agar terbebas dari duka lara. Puisi yang menyandarkan simbolisasinya terhadap agama untuk mengungkapkan kegairahan mistik, dan fana’, yaitu hapusnya ego rendah dalam Wujud Yang Hakiki, yang bisa disetarakan dengan unio mystica.

Ketiga, menekankan pada individulaitas, tema pencarian diri menjadi perhatian utama. Pencarian diri untuk menemukan kebenaran hakiki seperti di rujuk pada hadis qudsi, “Barangsiapa mengenal dirinya, akan mengenal Tuhannya”.

Keempat, Al-Qur’an dijadikan asas dan sandaran puitik, serta menggunakan tamsil-tamsil yang terdapat didalamnya sebagai rujukan dan titik tolak renungan puitik. Sehingga terbentuklah pengalaman perenungan yang berperan sebagai cahaya pembimbing penyair.

Kelima, tamsil-tamsil atau citraan simbolik yang digunakan penyair diambil dari kehidupan budaya masyarakatnya dan lingkungan alam Nusantara. Sebagai bentuk keakraban penyair dengan lingkungan dan masyarakatnya.

Koridor sastra ini sangat relevan dan bahkan penting untuk menjadi perhatian penyair dalam menuliskan syair-syairnya. Agar tercipta syair yang mengandung hikmah dan mengajak pembacanya dalam pencarian atas dirinya tanpa menghilangkan identitas budaya dimana ia tinggal.

Dengan tamsil yang diambil dari budaya tempat tinggal penyair serta disandarkan pada Al-Qur’an, maka terbentuklah pola pikir pembaca untuk mengejar kebenaran yang sebenarnya. Bukan malah melakukan sebaliknya, mengambil citraan simbolik dari budaya untuk dibandingkan dengan simbol agama. Hal tersebut akan menghadirkan suasana sebaliknya.

Sastra sebagai bentuk pengungkapan ekspresi memang tidak seharusnya meninggalkan koridor sastra itu sendiri. Baik koridor dari sisi teori kesusastraan maupun koridor dari aturan kenegaraan (budaya). Sehingga tercipta karya sastra yang benar-benar dibutuhkan masyarakat.

Sampai pada akhirnya tidak akan muncul karya sastra kontroversial seperti Ibu Indonesia-nya Sukmawati Soekarnputri dan Ayat-ayat Setan-nya Salman Rushdie. Karya sastra yang berhasil menggoyang umat Islam Nusantara dan bahkan umat Islam di dunia.

Meski pada akhirnya Sukmawati mengakhiri goyangannya dengan meminta maaf secara terbuka. Seperti diberitakan dalam jarrak.id (Rabu, 4 April 2018) Sukmawati menyatakan “Dari lubuk hati yang paling dalam, saya mohon maaf lahir dan batin, kepada umat Islam Indonesia”.

Begitupun dengan Salman Rushdie mengakhiri goyangannya dengan berita pertobatannya sebelum meninggal. Sebagaimana yang diliris harian Pelita (Rabu, 26 Desember 1990). Yang endignnya berita pertobatan tersebut menimbulkan kesangsian apakah pertaubatan itu jujur dan ikhlas.

Selanjutnya, dari hebohnya pembacaan puisi dan terbitnya novel tersebut sebenarnya ada beberapa hal yang ditunjukkan terhadap dunia. Pertama, betapa bersatunya umat Islam di Indonesia dan di Dunia untuk membela serta menjaga keharmonisan tatanan ajaran keislaman mereka. Dan menyegarkan pengetahuan keislaman mereka sehingga relatif tercipta kesadaran baru.

Kedua, munculnya semangat bersastra, berkreasi, dan menulis bagi umat Islam Indonesia. Dengan banyak munculnya sastrawan-sastrawan baru yang populer di media sosial. Khususnya setelah pembacaan puisi Ibu Indonesia sebagai bentuk jawaban atas puisi tersebut.

Dari sinilah semua bisa belajar bahwa setiap yang terjadi akan selalu hadir dari dua arah secara bersamaan. Dari arah yang positif dan dari arah yang negatif, yang semu ini dibutuhkan kekuatan besar untuk menghadapinya. Dalam menghadapi kesulitan-kesulitan tersebut nampaklah kekuatan sesungguhnya dari manusia untuk menampakkan dirinya.

Sehingga Iqbal tidak terlalu berlebihan atas perkataannya bahwa, “Kemanusiaan yang sebenarnya terletak dalam kesabaran bertarung melawan bencana penderitaan dan kejahatan.”

Selamat menikmati, semoga goyangan ingi tidak terus berlarut setelah permintaan maaf Sukmawati menyapa hati para umat Islam Indonesia.

Imron Maulana
Penulis lepas yang aktif sebagai pegiat literasi di Komunitas Pamekasan Membaca (KOMPAK) dan mahasiswa aktif Pascasarjana IAIN Madura.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Gangguan Jiwa Skizofrenia

Kesehatan jiwa adalah kondisi dimana individu dapat berkembang secara fisik, mental, spiritual dan social sehingga individu tersebut menyadari kemampuan diri sendiri. Dapat mengatasi tekanan,...

Mencermati Inflasi Menjelang Ramadhan

Beberapa pekan lagi, Bulan Ramadhan akan tiba. Bulan yang ditunggu-tunggu sebagian umat muslim ini adalah bulan yang istimewa karena masyarakat muslim berusaha berlomba-lomba dalam...

Kasus Khashoggi Makin Mendunia

Hari ini, 1 Maret 2021, Biden mau umumkan resmi di Washington keterlibatan MBS dalam pembunuhan Kashoggi. Menarik. KAS pasti meradang. Ini konflik pertama, yg sulit...

Jujur Itu Hebat, Artidjo Personifikasi dari Semua Itu

Satu demi satu orang tumbang dibekap covid, penyakit lain atau karena usia. Pagi ini saya kembali dikejutkan oleh berpulangnya Artidjo Alkostar, kawan lama yang...

Common Sense dalam Filsafat Ilmu

Ilmu filsafat selalu merumuskan tentang pertanyaan – pertanyaan kritis atas kemapanan jawaban yang sudah dipecahkan oleh ilmu pengetahuan. Pada zaman sekarang ilmu pendidikan tidak...

ARTIKEL TERPOPULER

Artidjo Alkostar, Sebuah Kitab Keadilan

Gambaran apa yang muncul di benak Anda setiap mendengar profesi pengacara dan kepengacaraan? Apapun citra itu, Artidjo Alkostar menghancurkannya berkeping-keping. Sebagai pengacara hingga akhir 1990an,...

Ziarah Ke Media Sosial

Meminjam istilah masyarakat industrial Kuntowijoyo dalam masyarakat tanpa masjid (2001), merupakan kondisi masyarakat yang terkungkung oleh rasionalisasi, komersialisasi dan monetisasi. Mengutip pendapat Robert Bala,...

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Common Sense dalam Filsafat Ilmu

Ilmu filsafat selalu merumuskan tentang pertanyaan – pertanyaan kritis atas kemapanan jawaban yang sudah dipecahkan oleh ilmu pengetahuan. Pada zaman sekarang ilmu pendidikan tidak...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.