OUR NETWORK

Puasa Menurut Filsuf Muslim

Corbin mewartakan ke Barat bahwa filsafat Islam belum mati karena serangan Al Ghazali

Selama ini ada anggapan umum yang diterima luas, bahwa nasib filsafat Islam telah berakhir di tangan Ibn Rusyd. Filsuf Andalusia yang mencoba melakukan counter attack terhadap Imam Al Ghazali yang menyerang filsafat melalui karya monumental Tahafut al Falasifah, kira-kira artinya kerancuan filosof. 

Ibn Rusyd mencoba meneguhkan filsafat dengan melawan karya Imam Al Ghazali dengan menulis Tahafut al Tahafut yang artinya kira-kira, kerancuan orang yang rancu. Sayangnya pengaruh serangan Al Ghazali lebih kuat dibandingkan pembelaan Ibn Rusyd terhadap filsafat, hal ini indikasinya adalah filsafat banyak dijauhi, ditakuti bahkan diharamkan oleh sebagian kaum muslim. Sehingga jamak diamini filsafat Islam dianggap mati pasca Ibn Rusyd.

Pandangan kematian filsafat Islam hampir dimutlakkan. Seolah sama benarnya dengan dua ditambah dua sama dengan empat. Hampir tiada satupun cendekiawan yang berani menggugat kematian filsafat Islam, terutama pandangan ini berlaku kuat di Barat. Hingga Henry Corbin datang menyampaikan risetnya dan menyentak akademisi Barat.

Corbin mewartakan ke Barat bahwa filsafat Islam belum mati karena serangan Al Ghazali. Bukan hanya filsafat Islam masih hidup, bahkan pasca Ibn Rusyd, menurut Corbin, filsafat Islam menunjukkan ciri yang justru semakin Islami. Jika sebelumnya filsafat Islam dituduh sebagai copy paste filsafat Yunani, maka pasca Ibn Rusyd filsafat Islam berkembang dengan coraknya sendiri yang unik. Filsafat yang bersumber dari sumur kenabian, demikian Corbin menyebutnya. Jadi tidak benar jika dikatakan filsafat Islam berakhir di tangan Ibn Rusyd.

Siapakah Henry Corbin? Nama dia masih asing di nusantara, baik di kalangan publik maupun di kalangan akademisi filsafat Islam. Mungkin salah satu faktornya karena Corbin menulis karya-karyanya dalam bahasa Prancis.

Corbin adalah profesor filsafat di Prancis yang ahli pemikiran Martin Heidegger. Dia kemudian mewakafkan hidupnya untuk puluhan tahun meneliti filsafat Islam, terutama sekali Corbin terpengaruh dan mengagumi pemikiran Suhrawardi al maqtul. 

Dalam bahasanya Seyyed Hossein Nasr dikatakan, “ruh suci Suhrawardi menuntun jiwa Corbin untuk menyusuri kitab-kitab dari satu perpustakaan ke perpustakaan lain, menyusuri jejak pemikiran Suhrawardi”.

Manfaat Puasa Menurut Suhrawardi al Maqtul

Syihabudin Suhrawardi, adalah pendiri mazhab baru filsafat Islam pasca Ibn Rusyd. Beliau digelari Syeikh al Isyraq, atau dikenal juga dengan gelar al maqtul, artinya yang dibunuh. Hal ini karena beliau menemui kematian di tangan penguasa saat itu yang takut akan pengaruh pemikiran Suhrawardi.

Menurut Pandangan Suhrawardi al maqtul, diantara manfaat puasa ialah, mempersiapkan diri untuk memperoleh pengetahuan. Pendiri mazhab filsafat Isyraqiyah, mensyaratkan agar orang-orang yang ingin membaca kitab filsafatnya Hikmah al Isyraq sebaiknya berpuasa selama 40 hari terlebih dulu, sebelum membaca kitab masterpiecenya itu. Karena tanpa melakukan ritual tersebut, karya yang telah dituliskannya takkan berarti apa-apa bagi para pembacanya. Tak lebih dari kumpulan huruf mati tanpa memberikan manfaat yang maksimal.

Syeikh Isyraq menyebut kepada para pembaca karyanya sebagai ikhwanu tajrid, orang-orang yang telah terlepas dari penjara materi. Jelas disini bahwa ada kaitan antara perolehan pengetahuan dengan puasa. Bahwa puasa adalah upaya untuk melepaskan diri dari penjara raga yang material. Jadi Syeikh Isyraq percaya dan meyakini puasa akan mampu menjadi sarana pendahuluan untuk memperoleh suatu jenis pengetahuan. Laku ritual seperti ini sebanrnya juga akrab dan kerap disebut-sebut oleh para orang tua jawa misalnya. Bahwa ada lelaku untuk meraih ilmu.

Pesan yang bisa diambil dari pandangan filsuf muslim Syihabudin Suhrawardi al maqtul atau syeikh al Isyraq ialah, bahwa ibadah puasa idelanya bisa menghadirkan suatu pencerahan diri yang bisa diraih pelakunya. Jadi dari ibadah ritual puasa yang dijalani oleh seseorang, akan bisa menghasilkan sebuah pencerahan yang mempersiapan batin untuk memperoleh pengetahuan yang lebih tinggi.

Entah berupa terbitnya kesadaran diri, atau juga limpahan kenikmatan cahaya pengetahuan yang membanjiri rohani sang pelaku ibadah puasa. Dan bahkan bagi Syeikh Isyraq, untuk membaca sebuah kitab atau sebuah buku, ternyata dibutuhkan pendahuluan berupa laku puasa.

Kemudian saya mencoba merenung, instrospeksi dan bertanya pada diri sendiri, adakah limpahan pengetahuan atau terbitnya kesadaran baru pada bekas-bekas puasaku yang telah saya jalani, ataupun pada jejak-jejak puasaku di masa lalu. Dan sayangnya, saya tidak menemukannya.

Saya juga bertanya-tanya sendiri, mengapa saat menjelang buka puasa, sekitar pukul lima sore, para pengendara di jalan raya justru nampak saling beradu cepat, saling serobot, dan enggan mengalah. Padahal bukankah puasa adalah latihan menahan diri, mengendalikan hasrat, dan sebagaimana kata Suhrawardi, upaya menerbitkan kesadaran diri melalui jalan pengetahuan.

Kini, selagi masih ada kesempatan terbuka, rasanya masih ada kesempatan untuk meraih percikan kenikmatan pengetahuan dari ritual ibadah puasa kita, semoga Allah berkenan melimpahkan pengetahuan kepada kita semua, melalui perantara puasa yang kita tengah jalani di bulan suci Ramadhan ini. Sehingga di akhir Ramadhan nanti, kita dapat menjalani kehidupan dengan kesadaran yang baru, yang lebih bermanfaat bagi alam semesta dan sesama makhluk-Nya.

Penulis (Embun Kerinduan), Bergiat di Rumi Institute Jakarta & Center of Living Islamic Philosophy Jakarta IG: raewellmina / FB: rae wellmina / Twitter : @RaeWellmina / Youtube : Rumi Institute

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…