Banner Uhamka
Rabu, September 30, 2020
Banner Uhamka

Puasa, Hawa Nafsu, dan Hasil Pemilu

Norma Gender Berpengaruh Terhadap Kesehatan Reproduksi?

Yani (nama samaran) mengeluh sekaligus mensyukuri kehamilan keduanya. Dua hal bertentangan yang ternyata bisa berjalan beriringan. Menurutnya, ‘anak’ akan menjadi ‘penghalang’ untuk berkarir atau...

Menuju Agama Etik Transformatif

Emanuel K. Twisigiye (2007) mengatakan bahwa sebab utama mengapa agama bisa lenggeng dan diterima di muka bumi ini adalah karena setiap sosok pembawa risalah...

Membaca Peta Politik Amien Rais

Beberapa waktu lalu, KPK menyebut Amien Rais menerima aliran dana terkait kasus dugaan korupsi alat kesehatan (alkes) sebesar Rp 600 juta. aliran dana itu...

Menebak Arah Rekonsiliasi Pasca Putusan MK

Riuh, rendah pesta politik masih terasa hingga detik ini. Masyarakat masih terus disajikan oleh berita-berita terkait Pemilihan Umum 2019 utamanya terkait dengan sidang sengketa...
Mohammad Iqbal Shukri
Masih mahasiswa

Sudah berbulan-bulan pesta demokrasi berlalu.  Dari kampanye hingga pemungutan suara. Berbagai dinamika pun mewarnai jalannya pesta demokrasi pemilu dan pilpres. Dari label cebong vs  kampret hingga misteri kematian ratusan petugas KPPS.

Jika diamati dari masa ke masa ada saja isu yang digodog sedemikian rupa. Layaknya sebuah film yang tak habis-habis atau ratusan episode.

Dari masa kampanye, contohnya tampang Boyolali, antek asing, anti Islam, keturunan PKI berhasil menggegerkan jagad maya dan nyata. Tujuannya yakni meraih simpatisan dan dukungan masyarakat dan menjatuhkan pesaingnya.

Tak bisa dihindari, aroma perpecahan pun terjadi. Disadari atau tidak pemilu ini menguras tenaga dan menawarkan nilai-nilai perpecahan. Kenapa tidak? Seolah-olah berbeda pilihan dianggap sebagai musuh. Lupa akan ke Indonesiaannya.

Kita tahu tujuan adanya pemilu ini untuk siapa? Ya, Indonesia. Untuk kebaikan bukan? Pastinya.

Jika sudah sadar untuk kebaikan Indonesia. Kenapa kita berjuang dengan tidak baik? Alih-alih sampai bermusuhan dengan kawan, saudara, keluarga. Ironis.

22 Mei Pemilu Selesai?

Jagad dunia maya, isu yang paling seksi dan selalu digodog yakni isu sosial politik. Sehingga ada anggapan seperti ini “pemilu cepat selesai biar negara cepat aman, “Setiap buka berita kok isinya politik terus”.

Nah, apakah setelah adanya pengumuman hasil pemilu nanti, Suasana panas pasta demokrasi akan selesai? Atau kah ada episode selanjutnya?

Mari kita tunggu saja. Yang penting tetap jaga persatuan dan kesatuan, kenyamanan, keamanan negara ini bersama.

Kedewasaan yang diuji

Tanggal 22 Mei, adalah tanggal yang ditunggu-tunggu. Puncak dari segala perjuangan dan nasib daripada para kontestan politik negeri ini.

Masih dalam bulan puasa, dimana kita harus bisa menahan dari makan, minum dan hawa nafsu.  Memang menahan dari makan dan minum sudah cukup biasa. Namun puasa bukan hanya sekedar itu, dalam puasa harus bisa menahan hawa nafsu. Nanti kita akan mengetahui orang-orang yang belum bisa menahan nafsunya. Puasa bagi dirinya belum mampu untuk membuatnya menjadi dewasa.

Selain itu, baru-baru ini, sedang marak penangkapan sejumlah teroris, yang diduga akan meledakkan bom rakitannya pada tanggal 22 Mei 2019.

Hal itu menandakan adanya sebuah ancaman dan gambaran atas ketidaksiapan dari kubu yang nantinya dikabarkan kalah.

Nah, disini kedewasaan masyarakat Indonesia diuji.  Apakah bisa menerima hasil yang di umumkan KPU nanti dengan lapang dada, atau dengan amarah.

Bukan hanya masyarakat,  namun para kandidat yang ikut mencalonkan dirinya. Ini yang paling dikhawatirkan. Kenapa? Ya, modal yang dikeluarkan olehnya tidak sedikit, bahkan ada yang menjual tanah, mobil dan barang pribadinya untuk mencalonkan diri. Siapa yang nantinya berhasil menerima kekalahan dengan lapang itu lah yang berjiwa kesatria. Sulit, memang.

Namun jika mereka tidak mempunya sikap kesatria, alih-alih Rumah Sakit Jiwa (RSJ) yang akan menunggunya. Dan kabarnya sudah ada beberapa RSJ yang siap menampung para kandidat yang gagal.

Disini perlu adanya sikap empati, simpati kesatuan dan persatuan. Baik dari keluarga, teman dan kelompok partai seperjuangan. Supaya Indonesia aman dan nyaman pada tanggal 22 Mei 2019 nanti dn seterusnya.

Mohammad Iqbal Shukri
Masih mahasiswa
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Pengkhianatan Cinta

''Pernahkah Anda melihat orang yang berbuat jahat terhadap orang yang amat dicintainya?'' seseorang bertanya pada Abu Dzar al-Ghiffari, sahabat Rasulullah SAW. ''Pernah, bahkan sering,''...

Minang, Tan Malaka dan Dialektikanya

Minang kembali diperbincangkan di panggung politik nasional. Kali ini bukan karena tokoh dan pemikirannya, melainkan karena ucapan “Semoga Sumatera Barat mendukung Pancasila.” Tulisan ini tidak...

Optimasi Peran Wakil Rakyat di Tengah Pandemi

Mengutip pendapat Cicero dalam Phoebe E. Arde-Acquah (2015), terdapat sebuah adagium hukum yang menyatakan bahwa keselamatan rakyat merupakan hukum tertinggi. Secara konstitusional, adagium hukum...

Miskonsepsi Seks dengan Persetujuan

Pada 13 September 2020 lalu, terunggah sebuah kiriman di Instagram yang berjudul “Kupas Tuntas Pakta Integritas UI dan Pendidikan Sex dengan Persetujuan” yang di...

Jika Cantik Hanya Mengikuti Standar Industri

Belakangan ini perbincangan mengenai bagaimana diri kita maupun bagaimana industri mendefinisikan standart kecantikan kembali ramai diperdebatkan. Mulai dari gerakan perempuan dukung perempuan yang dianggap...

ARTIKEL TERPOPULER

Pengakuan Pak Harto: Malam Jahanam itu Bernama Kudeta

RAUT wajah Presiden Sukarno tampak menahan kesal teramat sangat. Sambil duduk, ia dihadapkan pada selembar kertas yang harus ditandatangani. Di sisi kanan Bung Besar,...

Pengantar Ilmu Komunikasi

Selain menjadi makhluk individual, manusia pun sebagai makhluk sosial yang senatiasa ingin berinteraksi dengan manusia lainnya. Disisi lain, manusia yang berinteraksi tidak hanya ingin...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Hyper Grace : Kejahatan Intelektualitas Manusia Yang Menggunakan

Hyper Grace adalah anugerah yang dilebih-lebihkan (keluar dari porsi) anugerah yang melebihi yang Firman Allah katakan (menambahkan Firman-Nya).Itu adalah anugerah di mana kamu harus...

Menyerupai Suatu Kaum: Hadits, Konteks Budaya, dan Tahun Baru 2018

Hanya dengan satu hadits ini, “Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka” (HR Abu Daud dan Ahmad), banyak ustaz yang lantang...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.