OUR NETWORK

Puasa dan Kepekaan Sosial

Pernahkah kita memperhatikan wajah-wajah dermawan saat mereka menyantuni anak yatim? Atau mungkin diantara kita ada yang pernah melakukannya? Mengapa saat seseorang memberi sesuatu kepada orang lain ada perasaan gembira, ceria, rasa senang terpancar diwajahnya?
Pakar Neurosains yang juga dekan salah satu universitas di California, Prof. Taruna Ikrar menjelaskan bahwa fenomena tersebut berkaitan dengan hormon kebahagiaan. Apa itu hormon kebahagiaan? Sesuai namanya, hormon tersebutlah yang bertanggungjawab untuk membuat seseorang merasa bahagia, senang, dan bersemangat bila ia hadir di tubuh kita. Endorphine namanya.
Nah, ketika kita melakukan kegiatan yang bersifat sosial seperti sedekah, charity, bakti sosial ataupun yang lainnya. Ternyata aktivitas sosial tersebut merangsang tubuh kita untuk memproduksi hormon endorphine. Seketika itu kebahagian terpancar di wajah mereka. menyebar lalu beberapa organ
Inilah nilai lebih dari aktivitas-aktivitas sosial. Tak heran mengapa Islam begitu menekankan agar umatnya untuk rajin berinfaq, shodaqoh, zakat dan lainnya.
Salah satu semangat yang terkandung dalam puasa ialah semangat sosial. Tak heran jika di bulan ini frekuensi berbagi rezeki sangat tinggi. Baik dalam bentuk makanan maupun yang lainnya. Inilah dampak sosial dari kewajiban berpuasa, rekatnya solidaritas sesama umat Islam.

Puasa dan Solidaritas Sosial
Puasa memang ibadah yang amat istimewa. Puasa Ramadhan yang dilakukan satu kali dalam setahun ini begitu mengagumkan. Kedatangannya disambut suka cita lalu kepergiannya banyak yang menangisi. Bak tamu, puasa Ramadhan adalah tamu agung yang telah lama dinantikan kehadirannya oleh segenap umat muslim di seluruh dunia.
Keistimewaan puasa Ramadhan makin kentara jika dilihat dari efeknya yang bersifat multidimensional, tidak hanya spiritual-individual, tetapi juga sosial. Puasa tak hanya membentuk kesalehan pribadi (spiritual, moral yang cenderung individual), tetapi sekaligus juga kesalehan sosial.
Kesalehan individual tercermin dari semangat pencegahan dari hal-hal destruktif. Menahan haus, lapar dan perkara lainnya yang membatalkan puasa. Sekalipun hal tersebut adalah halal tetapi bagi yang sedang berpuasa tidak diperkenankan sampai waktu berbuka tiba. Semangat ini merupakan landasan bagi kesalehan individual sekaligus sebagai bentuk ketaatan atas perintah Allah swt. Orang yang mampu menjalankannya, Ia saleh/baik kepribadiannya, moral serta spiritualnya.
Mereka diajak untuk menahan keburukan akibat hawa nafsu. Menahan diri dari menggunjing, memfitnah, menyebarkan berita bohong. Dalam bahasa Imam Al-Ghazali, menahan diri dari sesuatu yang mengurangi nilai kemuliaan manusia.
Jika kita tarik semangat tersebut pada ranah kehidupan yang lebih luas, ranah sosial. Maka, kita juga mesti menahan lapar dan haus psikologis, tidak hanya lapar dan haus biologis. Ilyas Ismail membagi rasa lapar kedalam dua macam, yaitu lapar biologis dan lapar psikologis. Lapar biologis lekas sembuh dengan makan. Lapar psikologis, seperti lapar kekuasaan, kehormatan, dan kekayaan (duniawi). Ini tidak mudah disembuhkan.
Seseorang yang puasanya semata-mata lillahi ta’ala akan terbebas dari lapar psikologis, terbebas dari penyakit cinta dunia. Untuk selanjutnya lebih peduli dan sadar akan kepentingan orang lain (sosial). Itulah karakter takwa.
Selanjutnya, orang yang puasa disuruh banyak berbagi. Rasulullah SAW menyebutnya sebagai Syahr al-Muwasah atau bulan kepedulian sosial. Pendidikan dan pelatihan yang sangat komprehensif dimana tidak sekedar kecerdasan emosional-spiritual saja yang ditekankan dalam puasa Ramadhan, tetapi juga kepekaan dan solidaritas sosial.
Penghujung bulan puasa, kita disuruh mengeluarkan zakat fitrah. Kewajiban ini semakin menyempurnakan dimensi sosial dari ibadah puasa. Karena, tanpa zakat, pahala puasa kita belum sampai kepada Allah. Ia masih bergantung dan berputar-putar di atas langit. Artinya, Allah swt tidak menerima amal ibadah seseorang yang hanya mengutamakan kepentingan individualnya saja, sekedar mensalehkan diri sendiri tetapi lalai terhadap kewajiban sosial.
Dari semangat puasa inilah, kita di latih dan di didik untuk menjadi the giver (sang pemberi), bukan peminta-minta (taker). Al-Qur’an sendiri telah memberikan tuntunan kepada siapa sajakah kita harus memberikan zakat. Ada delapan golongan yang berhak di santuni. Fakir, Miskin, Mualaf, Riqab (hamba sahaya), Gharim (orang yang memiliki banyak hutang), Fisabilillah (orang-orang yang berjuang di jalan Allah), Ibnu Sabil (orang yang sedang menuntut Ilmu di perantauan), Amil/ panitia zakat (QS. At-Taubah: 60).
Mengapa harus kepada mereka? Islam menekankan aspek keadilan sosial dan ekonomi. Orang-orang yang disebutkan dalam delapan golongan tersebut ada yang masuk dalam kategori lemah secara ekonomi, yakni fakir dan miskin. Kemiskinan tentu bukan keinginannya. Oleh karena itu, sudah sepantasnya, sebagai orang yang memiliki kelebihan harta turut membantu, meringankan dan menguatkan semangat hidup mereka. Kelompok ini harus diprioritaskan. Selain itu, hamba sahaya serta orang-orang yang memiliki banyak hutang juga merupakan kelompok prioritas setelah fakir miskin.
Kategori kedua adalah orang-orang yang berjuang di jalan Allah, fisabilillah. Pemberian zakat kepada mereka karena dedikasinya terhadap agama Allah. Mereka yang siang dan malamnya tak lelah membumikan nilai-nilai ketuhanan. Mendidik dan mengajarkan ilmu agama.
Para fisabilillah penerima zakat saat ini dapat berupa organisasi penyiaran dakwah Islam di kota-kota besar, proyek pembangunan masjid, maupun syiar Islam di daerah terpencil.
 Mualaf juga termasuk orang yang berhak menerima zakat untuk mendukung penguatan iman dan takwa mereka dalam memeluk agama Islam. Zakat yang diberikan kepada mualaf memiliki peran sosial sebagai alat mempererat persaudaraan sesama muslim.
Sementara itu, amil atau pengelola zakat adalah kelompok terakhir yang berhak menerima zakat apabila tujuh kelompok lainnya sudah mendapatkan. Inilah pengajaran Ramadhan yang secara khusus ditujukan kepada orang beriman (Yons Ahmad/zakat.or.id).
Semoga dengan sebulan puasa ini semakin meng-eratkan tali persaudaraan sesama muslim-muslimat. Cerdas spiritual, moral dan sosial. Menutup Ramadhan dengan berbagi kegembiraan. “Sesungguhnya ibadah puasa tidak hanya untuk kesalehan spiritual yang cenderung individual tetapi juga untuk keadilan sosial dan ekonomi”.
Wallahu’alam bishowab

*) Penulis Aktif di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI).

Aktif di Badan Pengelola Latihan Himpunan Mahasiswa Islam (BPL HMI) Korwil Jawa Barat.

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…