Rabu, Oktober 28, 2020

Puan Maharani, Tugas Kemanusiaan, dan HAM

William (PSI) dan Transparansi Anggaran

Publik geger dengan temuan William soal anggaran fantastis di dinas pendidikan DKI Jakarta, diantaranya Lem Aibon senilai 84 Milyar dan Pulpen senilai 123,8 Milyar. Meski...

Pelayanan Publik 2018-2019: Humanis atau Teknoratis?

Relasi politik pilkada dan pilpres akan semakin realistis ketika timing keduanya berdekatan. Beberapa analisis politik menunjukkan bahwa siapa yang menguasai pilkada 2018 otomatis naik...

Polemik NKRI: Bersyariah atau Pancasila?

Perbedaan pendapat dan gagasan mengenai sistem pemerintahan Indonesia bukanlah hal yang baru. Sebagai negara dengan usianya yang telah mencapai 73 tahun, Indonesia diperhadapkan dengan...

Memikirkan Jalan Baru Akuntabilitas

Komparasi Negara dengan Korporasi seharusnya hari-hari ini menjadi tak relevan. Nilai-nilai yang dibawa kedua entitas organisasi tersebut selalu saja bertentangan. Memang Negara belajar good...
Anies Billah
Perempuan Ala Kadarnya...

SINDOphoto

Dalam selayang pandang, kita seperti tidak melihat hasil dari pembangunan jika tak bisa “diwujudkan” di depan mata. Maka wajar ketika apresiasi yang ada, didapatkan oleh mereka yang berhasil membangun secara fisik. Sementara bagi mereka yang bekerja untuk membangun manusia, kebudayaan, dan aspek lain yang “tidak nyata” kerap tak mendapatkan tempat dan porsi penilaian yang kurang proporsional.

Satu sisi memang penting untuk menunjang pembangunan melalui penyediaan fasilitas dan pembangunan infrastruktur. Tapi membangun kualitas manusia, menjaga kebudayaan, mempertahankan kehidupan sosial, dan penanaman nilai-nilai Pancasila sebagai sebuah karakter bersama juga sangat penting, pada sisi lainnya.

Pada posisi inilah Puan Maharani berada. Tugasnya sebagai Kemenko bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) adalah untuk mengorkestrakan pembangunan yang menitikberatkan pada peningkatan kualitas kemanusiaan melalui berbagai koordinasi, sinkronisasi, dan kebijakan-kebijakan produktif yang bermuara pada peningkatan kesejahteraan, sekaligus untuk mempertahankan Indonesia yang berkepribadian budaya, terutama melalui pelaksanaan revolusi mental.

Maka, dalam konteks ini, sejatinya tugas Puan Maharani adalah tugas kemanusiaan.

Puan Maharani menyadari betul, bahwa kemajuan dan pembangunan manusia akan didapatkan jika mereka terdidik dan sehat secara fisik. Maka pendidikan dan kesehatan adalah dua hal yang disadari Puan Maharani sebagai tugas dan kerja kemanusiaan. Pendidikan terus diupayakan untuk menuju ke kemajuan dengan pemberian kesempatan untuk mengenyam dunia sekolah, pembiayaan melalui KIP, revitalisasi pendidikan vokasional, penguatan pendidikan karakter, termasuk juga komitmen untuk menjaga moralitas dalam dunia pendidikan serta menjaga dari segala bentuk ajaran radikal, ekstrim, dan intoleran melalui kerjasama dengan ormas keislaman seperti PBNU dan Muhammadiyah.

Dalam konteks memajukan dunia kesehatan, pemberian akses yang mudah untuk sehat dan berobat melalui KIS terus digalakkan, pendidikan kesehatan melalui Gerakan Masyarakat Sehat (Germas) dan Kampung KB, bantuan alat kesehatan untuk membudayakan memeriksa kesehatan meski tidak harus ke rumah sakit, kerjasama dengan berbagai instansi (terutama luar negeri), termasuk juga pengawasan terhadap rumah sakit yang “ribet” dan “matre”.

Khusus yang terakhir ini, Puan Maharani kerap kali mewanti-wanti bahwa tugas pelayan kesehatan adalah tugas kemanusiaan. Nyawa lebih penting daripada sekedar prosedur dan mekanisme, atau bahkan uang sekalipun, tegas Puan Maharani tanpa ragu. Puan Maharani tak menginginkan lagi ada kejadian ibu-ibu yang ditolak berobat oleh beberapa rumah sakit karena urusan prosedur dan uang, dan tak perlu lagi ada cerita bayi yang meninggal hanya karena soal teknis, apalagi hanya sekedar karena uang muka yang tak sanggup dibayar.

Tugas kemanusiaan Puan Maharani juga terejawantahkan dalam beberapa kegiatan kerja, termasuk kunjungan-kunjungan yang dilakukannya terhadap para korban bencana. Tak jarang kita disajikan berita tentang kehadiran Puan Maharani langsung di tengah-tengah para korban, untuk menanyakan keadaan, memberi kabahagiaan (sebagai representasi kehadiran negara), sekaligus untuk memastikan mekanisme bantuan. Termasuk juga komitmen Puan Maharani untuk pemulihan berbagai bencana, pemulihan Aceh pasca Tsunami dan gampa, serta yang terbaru pemulihan korban terdampak Gunung Agung di Bali

Tugas kemanusiaan itu juga tergambarkan dari bagaimana Puan Maharani melakukan koordinasi dan gotong royong untuk menggalang bantuan bagi warga Rohingnya yang “terusir”. Puan Maharani peduli Rohingya, termasuk juga kepeduliannya terhadap pemulihan Karibia.

Tak hanya soal tugas kemanusiaan, Puan Maharani begitu peduli terhadap Hak Asasi Manusia. Selain terepresentasikan melalui kunjungan kerja ke berbagai daerah untuk memastikan hak para korban bencana, Puan Maharani juga memberikan pembelaan HAM terhadap mereka yang menjadi korban ISIS. Seperti diketahui, pemerintah Turki mendeportasi 152 warga negara Indonesia (WNI) yang diduga kuat berafiliasi pada ISIS. Tidak hanya 152 saja, ada 435 WNI lain yang terlibat ISIS dan direncanakan juga akan dipulangkan ke tanah air (tribunnews.com).

Polemik sempat terjadi antara Puan Maharani dengan Ryamizad Riacudu, yang lebih menginginkan untuk “mengusir” mereka. Tapi pandangan yang lebih soft, diberikan oleh Puan Maharani, bahwa mereka tetaplah warga Indonesia (WNI), yang pada dirinya masing-masing masih melekat hak sebagai warga negara yang diakui. Menurut Puan Maharani, asalkan mereka mau menerima mekanisme dan prosedur yang dibuat oleh pemerintah, hak-hak mereka akan didapatkan meski kesalahan fatal telah dilakukan.

Bagi Puan Maharani, bukan tugas negara untuk mendiskreditkan warganya. Negara tak bisa diskriminatif dan mengebiri rakyatnya. Negara tak bisa dengan seenaknya mencabut kewarganegaraan seseorang sehingga menjadi stateless, dan justeru itu akan menyebabkan masalah yang lebih besar. Selama masih bisa diperbaiki, cara-cara kasar dan represif tak bisa dilakukan.

Itulah Puan Maharani, dengan tugas kemanusiaan dan kepeduliannya atas HAM, ia membangun bangsa tercinta ini dengan cara yang lebih “manis”, substantif, meski tanpa harus “menenggelamkan”!.

Anies Billah
Perempuan Ala Kadarnya...
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

KDRT Saat Pandemi

Severe acute respiratory syndrome coronavirus 2 (SARS-CoV-2) atau yang lebih dikenal dengan nama COVID-19 adalah jenis baru dari coronavirus yang menular ke manusia. Virus ini...

Politik dan Monopoli Media Sosial

Saat ini, kita hidup di era cyberspace (dunia maya). Era yang pertama kali diperkenalkan oleh William Gibson dalam buku Neuromancer itu, dimaknai sebagai suatu...

Candu Media Sosial, Kajian Filosofis dan Psikologis

Bermain ria di “alam medsos” terkadang meng-asyikkan. Tapi akhirnya menganggap dunia nyata jadi tak menarik untuk bersosialisasi dan mengemban hidup secara hakiki. Untuk melihat...

Membendung Hegemoni China di Asia Tenggara

Lima hari sudah Menteri Luar Negeri (Menlu) China Wang Yi berkunjung ke empat negara di Asia Tenggara (15-18 Oktober 2020). Dalam kunjungan ke Kamboja,...

Reformasi Kewenangan Legislasi DPD

Dewan Perwakilan Daerah (DPD) sebagai anak kandung reformasi telah berusia 16 tahun. Lembaga negara buah amandemen ketiga UUD 1945 mengalami banyak goncangan. Isu pembubaran...

ARTIKEL TERPOPULER

Pemuda Pancasila Selalu Ada Karena Banyak yang Memeliharanya

Mengapa organisasi ini masih boleh terus memakai nama Pancasila? Inikah tingkah laku yang dicerminkan oleh nama yang diusungnya itu? Itulah pertanyaan saya ketika membaca...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Tamansiswa, Ki Hadjar Dewantara, dan Sistem Pendidikan Kolonial

Setiap 2 Mei kita dihadapkan pada kesibukan rutin memperingati Hari Pendidikan Nasional. 2 Mei itu merupakan tanggal kelahiran tokoh pendidikan nasional, Ki Hadjar Dewantara,...

Cara Mahasiswa Menghadapi Revolusi Industri 4.0

Teknologi selalu mengalami perubahan-perubahan seakan tidak pernah ada ujungnya. Seperti halnya saat ini teknologi sudah sangat berkembang dengan pesat terutama dalam bidang teknologi informasi...

Mengenal Dua Tokoh Ateisme: Feuerbach dan Marx

Ludwid Feuerbach (1804-1872) dan Karl Marx (1818-1883) menjadi dua tokoh besar ateisme dalam sejarah peradaban manusia. Keduanya digolongkan filsuf materialistis karena bagi mereka pemikiran...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.