Sabtu, Januari 23, 2021

Puan Maharani dan Ikhtiar Mewujudkan Toleransi

Membangun Semangat Peradaban Islam

Hari raya idul fitri adalah puncak pengalaman hidup sosial keagamaan rakyat indonesia. dapat dikatakan bahwa seluruh kegiatan rakyat selama satu tahuan diarahkan untuk dapat...

Standar Ganda Pria Korban KDRT

Bayangkan ketika Anda berjalan di taman dan melihat sebuah pasangan suami istri sedang duduk di bangku taman. Namun kemudian Anda mulai mendengar suara ricuh...

Menurunkan Biaya Logistik

Bank Dunia merilis Logistic Performance Index (LPI) tahun 2018. Dalam rilis tersebut Indonesia menduduki peringkat ke 46 atau naik 17 peringkat dari posisi dua...

Tanggal 30 September dan Kelahiran Rumi yang Terlupakan

Ada hubungan apa antara Jalaluddin Rumi dengan tanggal 30 September? Di tanggal itulah seorang sufi besar, yakni Jalaluddin Rumi lahir ke dunia. Sayangnya, hiruk...

Puan Maharani selalu menegaskan bahwa pluralitas adalah suatu kenyataan sebagai bangsa Indonesia

***

Tak ada kehidupan tanpa kesadaran yang kuat di dalam diri masyarakatnya: sebuah kesadaran untuk hidup dalam suasana toleransi. Apakah itu toleransi dan seperti apa wujud hidup yang toleran? Robert Green Ingersoll (1833-1899) yang mengatakan bahwa: “Tolerance is giving to every other human being every right that you claim for your self.

Toleransi selalu dimengerti sebagai kesadaran kita untuk menerima atau memberi kepada orang lain sebuah kebebasan yang seringkali bila menuruti kehendak kita, yang demikian tak selalu kita sukai. Dengan kesadaran bahwa apa yang kita suka dan tidak suka tak perlu mengganggu kebebasan orang lain, itu berarti dalam diri kita ada kesadaran toleransi. Kita mungkin terganggu dengan orang lain, tapi sampai sejauhmana tingkat ketergangguan dan kita masih bisa memaafkan atau menolerir, berarti dalam diri kita ada sebuah kesadaran toleransi.

Dalam hidup berdampingan dimana seringkali kita berbeda dalam banyak hal dengan orang lain, dalam pikiran, nilai-nilai budaya dan sebagainya, kita mesti merawat kesadaran toleransi. Bagi kita sebagai bangsa Indonesia, kesadaran ini mesti kuat. Sebab bangsa ini memiliki keanekaragaman yang luar biasa kaya. Tentu keanekaragaman ini suatu keindahan. Asal saja kita bisa saling mengerti untuk merawat perbedaan-perbedaan yang ada.

Tetapi memang dalam kenyataannya, tidak ada manusia yang benar-benar mampu bersikap toleransi dalam pengertian yang tinggi. Dan dalam kehidupan kita, toleransi adalah sesuatu yang masih terus perlu mendapat dorongan dari berbagai kalangan. Pemerintah terutama perlu terus mendorong berbagai macam upaya untuk meningkatkan kesadaran bahwa bangsa ini sejak dari awal tidak direbut melalui segelintir kelompok. Kemerdekaan ini dimenangkan oleh berbagai latar belakang orang, jenis kulit, agama, suku dan keanekaragaman lainnya yang menjadi identitas-identitas rakyat Indonesia. Dengan demikian menjadi penting kesadaran untuk pengakuan itu.

Puan Maharani selalu menegaskan bahwa pluralitas adalah suatu kenyataan sebagai bangsa Indonesia. Pluralitas menandai kekayaan bangsa ini. Pengakuan bangsa-bangsa lain atas bangsa ini disebabkan karena kemampuannya merawat pluralitas ini di tengah maraknya politik identitas yang seringkali mengoyak-koyak suatu bangsa. Politik identitas seringkali melampaui akal sehat. Ia mengeksploitasi sentimen-sentimen, menguatkan suatu identitas tertentu sebagai perekat dan meminggirkan identitas lain. Politik identitas bahkan lebih jauh membawa efek destruksi. Kohesi sosial, di tengah menguatnya politik identitas sosial, bakal selalu dibayang-bayangi kehancuran.

Politik identitas tentu begitu banyak macamnya. Sentimen-sentimen yang menyasar identitas keagamaan atau etnis seringkali digunakan. Dalam pilkada DKI kemarin, persoalan politik identitas begitu menguat. Kelompok-kelompok tertentu mengeksploitasi agama atau etnis tertentu untuk memperkuat dukungan satu pihak dan mendelegitimasi lawan politik di sisi lain. Identitas-identitas tertentu menjadi lahan empuk untuk diperkuat dan identitas lain diserang dan diframing sedemikian buruk. Identitas tertentu dianggap legitimate untuk memimpin DKI dan identitas lain dianggap kurang atau bahkan tidak legitimate untuk memimpin. Isu-isu ini disebarkan dan dimainkan oleh media. Kita pun tahu apa yang terjadi dan dikorbankan: kohesi sosial retak. Persaudaraan kita – yang seharusnya dibangun di atas landasan kemanusiaan bukan warna-warna identitas – tergadaikan.

Itu sebabnya pemerintah selalu mewanti-wanti agar pasca pemilu DKI yang menguras banyak energi dan banyak hal yang dikorbankan ini, hendaknya kembali damai. Damai adalah berarti kembali menguatkan persaudaraan. Apa yang terjadi sejak pemilu, anggaplah hanya bagian kecil dari pemilu politik yang memang susah untuk dihapuskan.

Puan Maharani, selaku bagian dari pemerintah, merasa penting untuk menguatkan kembali ikatan persaudaraan ini. Dia menyadari bangsa besar ini satu sisi adalah kekayaan dan membawa berkah tetapi di sisi lain bila tidak mampu menjaga dengan baik, ini bisa jadi malapetaka. Dengan menggandeng NU, dengan berbicara di depan Fatayat NU dan berbagai upaya lainnya, Puan telah menunjukkan kepeduliannya pada bangsa ini.

Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Capitol, Trump, dan Biden

Menjelang pelantikan Joe Biden sebagai Presiden AS, 20 Januari ini (Rabu malam waktu Indonesia), Washington kembali tegang. Penyerbuan gedung Capitol, Washington -- simbol demokrasi...

Pelantikan Joe Biden dan Pembangkangan Trump

Pelajaran Demokrasi untuk Dunia yang Terus Berubah Washington tegang menjelang pelantikan Presiden Joe Biden dan Kemala Harris, 20 Januari 2021. Kondisi ini terbentuk akibat pembangkangan...

Proyeksi OPEC, Konsumsi Migas Dunia akan Meningkat

Senin (18/1) penulis berkesempatan untuk memberikan kuliah umum secara daring dengan adik-adik di Politeknik Akamigas Cepu, Jawa Tengah. Maraknya pemberitaan mengenai kendaraan listrik dan...

Revolusi Azyumardi Azra

Ketika masih sekolah di Pendidikan Guru Agama (PGA), setingkat SMA, di Pariaman, Sumatera Barat, Azyumardi Azra mengirim puisi berbahasa Inggris ke Harian The Indonesian...

Towards Success: Re-evaluating Indonesia Ecological Development

Indonesia has long been an active participant of the environmental policy formation and promotion. Ever since 1970, as Dr Emil Salim appointed as the...

ARTIKEL TERPOPULER

Revolusi Azyumardi Azra

Ketika masih sekolah di Pendidikan Guru Agama (PGA), setingkat SMA, di Pariaman, Sumatera Barat, Azyumardi Azra mengirim puisi berbahasa Inggris ke Harian The Indonesian...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Pandangan Mochtar Lubis Terhadap Kemunafikan Manusia Indonesia

Pernyataan Mochtar Lubis dalam naskah pidato Manusia Indonesia (kemudian diterbitkan menjadi buku) sampai sekarang pidato ini masih relevan untuk dibahas, baik kalangan awam maupun...

Menyerupai Suatu Kaum: Hadits, Konteks Budaya, dan Tahun Baru 2018

Hanya dengan satu hadits ini, “Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka” (HR Abu Daud dan Ahmad), banyak ustaz yang lantang...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.