OUR NETWORK

Puan Maharani Adalah Representasi Cita-cita Kartini

“… kecerdasan pemikiran Bumiputera tidak akan maju jika perempuan ketinggalan dalam usaha itu. Perempuan adalah pembawa peradaban…” (RA. Kartini)

courtesy liputan6.com

Jika mimpi yang diperjuangkan oleh Kartini adalah tentang emansipasi perempuan, tentang menaikkan “kelas” dan martabat perempuan, tentang mengangkat peran serta perempuan dalam membangun dan memajukan bangsa, utamanya melalui jalur pendidikan dan “pemberian” tempat untuk “membuka” wawasan dan pikiran, maka representasi itu sebenarnya ada pada sosok Puan Maharani: perempuan masa kini yang, diakui atau tidak, merupakan salah satu pemilik “magnet” dalam konteks perpolitikan nasional.

Puan Maharani, terlepas dari “trah” dan gen Soekarno yang tidak dimiliki oleh semua orang, memilih jalur untuk memperjuangkan idealismenya seperti cara-cara yang diinginkan oleh Kartini. Setidaknya, Puan Maharani menyadari betul tentang arti penting pendidikan dan kebermanfaatan dalan konteks kemanusiaan. Maka, ia menempa diri untuk menjadi manusia terdidik, mencari sebanyak mungkin pengalaman hidup dari berbagai sumber, sebelum akhirnya memasrahkan diri untuk terjun dalam dunia politik.

Melihat Puan Maharani, kini, seperti tak ada lagi “jurang pemisah” antara laki-laki dengan perempuan dalam ruang publik, sebab tak ada lagi superioritas-inferioritas, tak ada juga klasifikasi manusia kelas satu atau pun kelas dua, dan kesetaraan berdasarkan asas proporsionalitas; sebuah cita-cita yang diinginkan oleh Kartini untuk kemajuan dan peran perempuan Indonesia.

Hebatnya, Puan Maharani bahkan bisa ikut mewarnai kebijakan dalam konteks memajukan negeri ini, terutama dalam posisinya sebagai Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK). Maka dalam hal ini Puan Maharani, barangkali, telah melampaui cita-cita Kartini tentang perempuan Indonesia, karena bisa memberikan andil dalam menciptakan dan menentukan kebijakan produktif untuk kepentingan dan kesejahteraan bangsa Indonesia.

Banyak kerja yang telah dilakukannya, terutama yang berkaitan dengan pendidikan dan kesehatan bangsa Indonesia.

Dalam konteks pendidikan, Puan Maharani menghasilkan beberapa program unggulan. Tidak hanya soal penyebaran Kartu Indonesia Pintar (KIP) saja, tapi upaya revitalisasi pendidikan vokasional, urgensi moral dalam pendidikan (dini), revitalisasi penanaman nilai-nilai Pancasila dan revolusi mental dalam dunia pendidikan sebagai counter attack atas munculnya paham-paham ektrim, radikal, dan intoleran, serta revitalisasi dan penguatan ilmu pengetahuan dan teknologi melalui riset. Termasuk juga berbagai kerjasama monumental, baik dengan lembaga dalam negeri maupun luar negeri.

Begitu juga kerja Puan Maharani dalam konteks kesehatan. Banyak kebijakan produktif yang telah dihasilkan untuk menunjang peningkatan kesehatan di negeri ini. Bukan hanya soal penyebaran Kartu Indonesia Sehat (KIS), tapi juga soal pelayanan dan akseptabilitas rumah sakit dan pelayan kesehatan, kebijakan tentang Kampung KB sebagai sebuah gerakan akan kesadaran tentang kesehatan, termasuk juga terbentuknya Gerakan Masyarakat Sehat (Germas). Konsep Puan Maharani sederhana; membangun sebagai (atau melalui) sebuah gerakan, sehingga muncul kebersamaan.

Pada saat yang bersamaan, sehebat dan sesibuk apapun perannya dalam bernegara, Puan Maharani tetaplah seorang istri yang baik untuk suaminya, dan ibu yang baik juga untuk anak-anaknya. Ia tetaplah “rumah” yang membahagiakan untuk keluarganya. Ia tetaplah ibu, yang tak menafikan kodrat kewanitaannya, untuk menjadi pelayan bagi suami dan tempat bersandar untuk anak-anaknya.

Kemudian, apa yang dilakukannya, kerap ia suguhkan sebagai cerita untuk menciptakan spirit dan keinginan yang sama bagi banyak perempuan-perempuan lainnya. Puan Maharani kerap kali mengirimkan pesan berharga untuk perempuan Indonesia, bahwa perempuan harus bisa; tak boleh abai terhadap persoalan yang membelit negara; dan ikut berperan dalam mengisi dan menjaga kemerdekaan Indonesia. Sebab bagaimanapun, perempuan adalah tiang bagi tegak dan kuatnya Indonesia, begitu ungkapnya suatu ketika.

 Pada akhirnya, kita mungkin perlu menyepakati sebuah kenyataan, bahwa Puan Maharani adalah representasi yang pas untuk cita-cita Kartini tentang perempuan Indonesia. Puan Maharani menjadi figur dari “kebangkitan” kaum perempuan, sebab pada saat bersamaan hal itu dibuktikan dengan kerja dan prestasi yang dicapainya sebagai perempuan Indonesia asli; yang suka tampil sederhana, cukup dengan batik dan kebaya saja!.

Pembaca, dan sesekali menulis saja...

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…