Senin, Maret 8, 2021

Psikologis Wanita Terganggu Jika Pandemi Masih Merajalela

Pornografi, Ancaman atau Ajaran?

Belum lama ini masyarakat Indonesia dikejutkan dengan peredaran video pornografi anak yang diperankan bocah laki-laki yang diduga berusia sekitar 12 tahun dengan seorang perempuan...

TNI di Mata Anak Kampung: Cerita Absurd

Pagi itu, saya datang ke kantor seperti biasa, selesai menyiapkan alat pekerjaan di meja, segera memasak air, menyeduh kopi. Sekitar 30 menit kemudian, beberapa...

Mengembangkan Karakter Kewirausahaan Pemuda Desa

Terbitnya UU Desa memimpikan kehidupan desa yang otonom dalam mengelola pemerintahan, pembangunan, kemasyarakatan, dan pemberdayaan. Pada PP Nomor 43 Tahun 2014 yang diubah melalui...

BPJS Kesehatan, Apa Tantangannya?

Pemerintah baru saja menerbitkan Peraturan Presiden (Perpres) No. 82/2018 perubahan Perpres No. 12/2013 tentang Jaminan Kesehatan Nasional. Salah satu isinya yang menarik adalah dicantumkannya...
Mohammad Andri Dwi
Mahasiswa Program Magister di Salah satu Perguruan Tinggi Swasta di Malang Jawa Timur

“Kita harus Belajar dari sebuah sejarah, Bahwa kita harus waspada akan dampak kesehatan mental yang terus berlanjut, lama setelah wabah Covid-19 menular dan tak kunjung Usai.”

Beberapa para peneliti menemukan bahwa dua dekade yang menjadi perespon spertama mengalami tingkat depresi yang tinggi dan gangguan stres pascatrauma(PTSD) yang akan mulai menyerang kita semua. Mereka juga menyimpulkan bahwa dampak kesehatan mental adalah konsekuensi paling signifikan dari bencana tersebut, yang menyebabkan ribuan kematian dan sangat merusak perekonomian tentunya.

Kondisi ini akan menjadi lebih parah bagi orang-orang yang memang mempunyai masalah kesehatan mental sebelumnya, atau yang berpenghasilan rendah. Wabah pandemi yang tak kunjung usai membuat kita semua menjadi ketakutan untuk keluar rumah dan lebih memilih untuk berdiam diri dirumah, bahkan melakukan pekerjaan atau aktivitas lainnyapun jauh lebih aman jika dilakukan dirumah.

Jika kita keluar untuk melakukan aktivitas lain, Misalnya : saat naik transportasi umum, waspada dengan kebersihan alat makan, dan merasa tak nyaman ketika melihat gambar sel virus corona yang terpampang di berbagai macam poster dan lainnya. Kita semua pasti merasakan “Gejala utamanya adalah kita mulai menangis. kita merasa seperti akan mati, dan kemudian kita menangis sampai tubuh dan paru-paru kita terasa sakit ketika kita mulai bosan di dalam rumah, Tanpa kita sadari hal itu juga membuat gangguan pada mental kita.

Penyebaran Virus Corona benar-benar harus diwaspadai, Banyak yang merasakan dampak dari Virus Corona yang bisa dirasakan, salah satunya adalah penyakit psikis, seperti insomnia, kecemasan, depresi, dan lain-lain.

Melansir dari The Guardian, dari 402 pasien yang masih dimonitor setelah dirawat dari Virus Corona, 55% di antara mereka setidaknya memiliki satu penyakit psikis.

Berdasarkan wawancara klinis dan pengisian kuesioner, 28% mengalami post-traumatic stress disorder (PTSD),  31% depresi, 42% kecemasan atau anxiety, 40% insomnia, dan 20% obsessive-compulsive symptoms. Penemuan tersebut meningkatkan kekhawatiran tentang dampak Virus Corona dari sisi psikologis.

Sebuah penelitian yang dipublikasikan dalam The Journal Brain, Behaviour, and Immunity merekomendasikan untuk memeriksa psikopatologi dari pasien Virus Corona yang selamat. Hal itu dilakukan dengan mempertimbangkan kesehatan mental dan pengetahuan psikiatri saat ini.

Penelitian mendalam terkait inflammatory biomakers juga perlu dilakukan untuk mendiagnosa dan mengatasi kondisi psikis yang muncul.

The Guardian juga menjelaskan penelitian yang melibatkan 265 laki-laki dan 137 perempuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa wanita lebih menderita secara psikologis daripada pria. Dampak Virus Corona itu bisa semakin parah jika memiliki riwayat diagnosa psikiatrik sebelumnya.Dampak Virus Corona terkait kesehatan mental disebabkan karena sistem imun yang merespons Virus Corona. P

embatasan sosial dan dampak psikologis dari rasa sakit yang dirasakan pasien juga memperparah kondisi tersebut.Selain itu, adanya kekhawatiran menyebarkan Virus Corona ke orang lain dan stigma yang berkembang di masyarakat membuat dampak Virus Corona semakin terasa merajalela dan tak kunjung usai.

Ada beberapa faktor yang melatarbelakangi perempuan menjadi kelompok rentan mengalami masalah psikologis semasa pandemi. Salah satunya,  kondisi pandemi membuat perempuan harus mengemban tambahan “tugas” yang berlipat ganda di waktu yang bersamaan: menjadi guru bagi anak, istri bagi suami, hingga karyawan bagi perusahaan.

Hal tersebut pula yang membuat perempuan sulit menemukan waktu untuk self-care. Hmmm, coba ingat-ingat lagi kapan terakhir kali Anda merasa punya waktu untuk melakukan hal yang disukai? Ketika kita tidak bisa melakukan kegiatan favorit, entah itu window shopping di mal, menonton film di bioskop, hingga hangout dengan the girls secara leluasa, tekanan mental yang kita alami pun akan menjadi semakin besar.

Jika tekanan pekerjaan jadi penyebab utama stres, maka saya menyarankan untuk menentukan batasan kapan waktu bekerja dan kapan waktu beristirahat. Bila merasa lelah, beristirahatlah. Banyak sekali hari untuk menyelesaikan pekerjaan kita, Tidak semua apa yang kita kerjakan harus selesai pada hari ini juga.

Jangan terlalu memaksakan diri untuk memenuhi deadline pekerjaan karena kondisi pandemi ini membutuhkan Anda untuk beradaptasi lebih ekstra dengan situasi bekerja dibandingkan biasanya. Selain itu, sebisa mungkin pisahkanlah ruang bekerja dan beristirahat. Bekerja di atas tempat tidur? Big no no, ladies. Jika memang ruang tempat tinggal Anda terbatas, paling tidak hindari bekerja di atas tempat tidur.

Kemudian, yang tak kalah penting, fokuslah terhadap hal-hal yang positif. Namun, ingat jangan memaksakan diri merasa positif, ya. Apabila melihat media sosial tertentu membuat Anda merasakan banyak emosi negatif, tutup atau pilih media sosial lainnya. Kalau melihat berita soal perkembangan Covid-19 menimbulkan rasa cemas, berhentilah untuk mencari tahu terlebih dahulu.

“Ketika muncul emosi negatif, ceritakan ke orang-orang terdekat yang memahami atau cari outlet untuk mengeluarkan emosi negatif, mulai dari mendengarkan lagu sedih, menggambar, menuliskan isi hati, bahkan berolahraga”, ujar saya. Dan, ketika ada orang terdekat kita merasakan emosi negatif, cobalah untuk mendengarkan tanpa menghakimi. Ini adalah saatnya untuk membangun interaksi yang lebih kuat lagi dengan orang terdekat, dengan berbagi keluh-kesah, saling mendengarkan, dan memahami satu sama lain agar fikiran kita tidak terasa berat sepenuhnya.

Mohammad Andri Dwi
Mahasiswa Program Magister di Salah satu Perguruan Tinggi Swasta di Malang Jawa Timur
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Apresiasi dan Masalah Tersisa Pencabutan Perpres Miras

Kita patut memberikan apresiasi yang setinggi-tingginya atas tindakan berani dan jujur Presiden Jokowi untuk mencabut lampiran Peraturan Presiden Nomor 10 Tahun 2021 tentang Investasi...

Amuk Leviathan Hobbesian dalam Konflik Partai Demokrat

Tahun 1651, Thomas Hobbes menerbitkan buku berjudul “Leviathan”. Nama leviathan merujuk kepada monster sangat ganas dalam mitologi Yunani. Makhluk yang hidup di lautan ini...

Dialektika Hukum Kepemiluan

Dalam penyelenggaraan suatu pemerintahan, hukum dan politik merupakan dua hal yang memiliki keterikatan secara timbal balik. Hubungan timbal balik antara hukum dan politik tersebut...

Ujian Kedewasaan Digital Kita

Teknologi digital diciptakan agar tercapai pemerataan informasi tanpa pandang bulu, namun sayangnya kini dampak negatif yang tak terelakkan adalah munculnya disinformasi, berita bohong, hingga...

Toxic Masculinity dalam Patriarki

Sebelumnya, saya ingin menghimbau bahwa topik ini merupakan pembahasan yang sensitif dan masih dipandang tabu dari beberapa kalangan. Tulisan ini berupa opini saya mengenai...

ARTIKEL TERPOPULER

Amuk Leviathan Hobbesian dalam Konflik Partai Demokrat

Tahun 1651, Thomas Hobbes menerbitkan buku berjudul “Leviathan”. Nama leviathan merujuk kepada monster sangat ganas dalam mitologi Yunani. Makhluk yang hidup di lautan ini...

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Toxic Masculinity dalam Patriarki

Sebelumnya, saya ingin menghimbau bahwa topik ini merupakan pembahasan yang sensitif dan masih dipandang tabu dari beberapa kalangan. Tulisan ini berupa opini saya mengenai...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.