Sabtu, Maret 6, 2021

Psikologi Politik Menuju Pilpres 2019

Memoar, Martin Aleida, dan 1965

"Virus tak ada tempat, kecuali hati mereka yang culas,". Ini merupakan secuil kata-kata dari memoar setebal 271 halaman. Terasa relevan kini, tiada lupa terhadap peristiwa...

Sedekat Unicorn, Selekat Unikop

Populasi masyarakat virtual kian tak terbendung dengan perkembangan digitalisasi segala lini. Fenomena di masyarakat saat ini dikenal dengan istilah populer “internet of all things”, dimana...

Tes Covid Mahal, Menurunnya Pembangunan Nasional

Dunia sedang mengalami ujian ditengah pandemi Covid-19 yang hingga saat ini masih belum mendapatkan solusi. Sebagian besar pemerintah di seluruh dunia dituntut untuk mempertahankan...

Peran Milenial dalam Pemilu Serentak

Kita baru saja menyelenggarakan acara akbar yang rutin dilaksanakan dan cukup menyita banyak energi dari berbagai elemen bangsa yaitu Pemilu pada 17 April 2019...
hardian feril
Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Andalas Penerima Beastudi Etos Dompet Duafa

Politik bukan ajang perlombaan penanaman saham. Tapi kita terlanjur menikmatinya demikian. Sekuat daya dan upaya menjatuhkan lawan, lalu bersorak mengejek. Hasrat ejek-mengejek inilah yang sedang menguasai psikologi politik kita. Mencari kepuasan dengan mempecundangi lawan.

Politik adalah seni menguasai. Yang memaksa siapapun untuk mengikuti. Semestinya ia dinikmati sebagai sebuah proses yang mendewasai dan mengedukasi, bukan malah sebagai ajang promosi eksistensi dan janji-janji.

Suhu politik semestinya adalah suhu aspirasi. Yang muncul sebagai bentuk implementasi dari ideologi. Justru bagian inilah yang telah hilang dari politik hari ini. Yang kita temukan hanya pertikaian perebutan kursi. yang menjadi tujuan politik tak lagi sesuai dengan konstitusi.

Politik hari ini tak lagi mempedulikan amanat proklamasi. Kesejahteraan rakyat hanya sebatas mimpi. Yang menonjol hanya proses bagi-bagi. Janji-janji hanya jadi kalimat open interpretasi. Tak punya pondasi yang kuat untuk bertahan diposisi. Ketika kepentingan pemodal mesti dipenuhi. Bagian rakyatpun di akuisisi.

Dulu kita pernah punya tokoh-tokoh pendiri negeri yang mengerti. Penuh akan idealisme yang terproteksi. Sumpah ketika berjuang membangun bangsa ini telah terpatri. Jauh dalam hati nurani, mengabdi adalah pekerjaan yang suci. Contoh saja Haji Agus Salim.

Dalam suatu rapat politik, Haji Agus Salim berpidato memukau. Lawan politiknya datang dan meneriakkan bunyi  kambing “mbeeek” ketika Agus Salim sedang berpidato. Teriakan itu sudah jelas utk menghina agus salim yang berjenggot. Rapat jadi gaduh dan caci maki memenuhi ruangan rapat.

Tapi Agus Salim tak terusik, dengan tenang ia berbicara “maaf, ini rapat manusia, mengapa ada suara kambing?” politik adalah kecerdasan. Haji Agus Salim tak mengejek balik. Ia hanya memakai otaknya untuk membungkam lawan. Ia memberi pelajaran, politik adalah pikiran bukan makian.

Kini duel politik tak lagi bermutu. Gagasan dihapus oleh hiruk pikuk ejekan. Sensasi dirayakan, esensi diabaikan. Rasa gagah memenuhi dada ketika ejekan disambut gempita oleh sesama pendukung. Sahut menyahut diruang sosial melambungkan kebanggaan kubu. Semacam ketagihan massal, ejekan menjadi obat perangsang politik .

Kini penjiwaan otoriter telah berhasil sepenuhnya memunculkan wajah demokratis pada politik hari ini. Politik sebagai independent variable dalam konfigurasi politik dengan produk hukum telah berhasil menciptakan dependet variable yang ortodoks. Ketika UU No 17 tahun 2013  tentang Ormas tak bisa jadi senjata untuk membungkam lawan politik, maka politik konservatif dengan langgam otoritarian menjadi solusi yang memunculkan produk ortodoks, yakni Perppu No 2 tahun 2017.

Hari ini politik dan produk politik digunakan sebagai senjata untuk menghantam dan menjatuhkan lawan. Karena untuk pertama kalinya orang-orang dengan pemikiran nasional dan patriotik dilabeli tidak pancasilais. Pancasila menjadi tolak ukur yang digunakan sesuai citarasa penguasa.

“homo homini lupus” Jeremy Bentham mengatakan bahwasanya manusia bisa menjadi srigala bagi manusia lain. Dan dalam konteks politik kekinian. Pemerintah sudah jadi srigala bagi rakyat. BBM naik, pajak naik, Biaya STNK naik. Hutang negarapun ikut naik. Apa namanya ini kalo bukan pemangsaan masal. Pembobolan sumber kehidupan bangsa untuk pmenuhan nafsu srigala.

Dalam konfigurasi politik dengan produk hukumnya. Dijelaskan bahwasanya hukum ini adalah produk dari politik. Perwajahan politik hari ini bisa dilihat dari bagaimana proses penegakan hukum serta proses pengimplementasian aturan-aturan hukum yang bersifat mengatur kehidupan masyarakat.

Hari ini negeri kita butuh seorang negarawan. Butuh Agus Salim, Soekarno, Hatta, Natsir, Buya Hamka. Karena hanya seorang negarawanlah yang siap menghadapi tombak-tombak musuh yang siap membunuh bangsa ini. hanya seorang negarawanlah yang siap menahan cangkul-cangkul asing yang sedang menggerogoti sumberdaya alam negeri ini.

Pemilihan Presiden 2019 nanti akan menjadi klimaks pertarungan politik yang sejatinya sudah dimulai semenjak tahun 2014 silam. Adalah suatu keharusan bagi masyarakat dan partai politik untuk memberikan pengajaran politik yang bersih. Mari tunjukan pertarungan yang demokratis. Sebab demokrasi adalah perihal konten. Maka visi dan misi mesti jadi pusat perhatian. Jangan tertipu dengan segala kehormatan yang ada pada pribadi masing-masing calon.

hardian feril
Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Andalas Penerima Beastudi Etos Dompet Duafa
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Ranking Kampus Dunia: Jangan Salah Kaprah

Baru-baru ini dunia pendidikan tinggi kita mendapatkan gabar gembira. Lima perguruan tinggi (PT) asal Indonesia menempati 10 universitas Islam terbaik dunia. Bahkan salah satunya...

Rock and Roll, Budaya yang Terusir

Penyebaran virus Rock and roll tidak hanya datang dari radio luar negeri, tapi juga dari rekaman piringan hitam yang dibawa dari luar negeri dan...

Cantik Hemat dari Dapur

Cantik adalah impian bagi setiap perempuan. Sejak umat manusia tercipta, kecantikan menjadi sebuah patok keindahan. Terbukti dari kisah dua orang putra nabi Adam yang...

Apa Hubungannya Toleransi dan Kearifan Lokal?

“Hai seluruh manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya...

Lubang Hitam Narasi Teroris Selama Pandemi

Sudah lima hari sejak saya terkonfirmasi positif Covid-19. Rasanya begitu berat, alih-alih sekedar menyerang fisik, rupanya virus ini juga menyerang mental. Untuk itu, saya...

ARTIKEL TERPOPULER

Pendidikan yang Berkebudayaan, Mencipatakan Manusia Kreatif dan Otonom

Review Buku: Yudi Latif, Pendidikan yang Berkebudayaan: Histori, Konsepsi dan Aktualisasi Pendidikan Transformatif, (Jakarta: Gramedia Pustaka, 2020). Pendidikan nasional sudah seharusnya tidak meninggalkan akar-akar...

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Serial Non-Muslim Bisa Masuk Surga. Siapa Mereka?

Apa pendapat para ulama dan cendekiawan dulu dan sekarang tentang keselamatan penganut agama-agama selain syariat Nabi Muhammad Saw? Apakah orang yang biasa disebut “non-Muslim”...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.