OUR NETWORK

PSI, Sikap Anti Korupsi dan Rekonstruksi Politik

Adalah Partai Solidaritas Indonesia (PSI) yang menjaga harapan itu. Muncul dari gerbong “kereta” yang sama, cita-cita yang sama dan generasi yang sama pula.

Anak-anak muda dari generasi milenial itu menentukan garis batas cepat-cepat. Sebuah batas untuk menjaga harapan Indonesia yang bebas dari korupsi. Merawat nalar publik atas sikap tegas tidak hanya sebatas retorika politik, tapi juga perbuatan yang linear dengan impian banyak orang. Mereka tidak takut dimusuhi siapapun. Mereka bertarung untuk apa yang diyakininya menjadi partai politik yang anti korupsi.

Adalah Partai Solidaritas Indonesia (PSI) yang menjaga harapan itu. Muncul dari gerbong “kereta” yang sama, cita-cita yang sama dan generasi yang sama pula. Kemudian berkerumun dan bergerak mewujudkan cita-cita untuk bisa masuk ke dalam politik yang kotornya mirip “kubangan lumpur”. Lalu menyebur masuk ke dalam kubangan tersebut lalu berusaha membersihkannya dari dalam. Tak mudah memang, perlu usaha ekstra keras tapi selama dilakukan dengan niat dan perbuatan yang tulus. Maka hasilnya juga pasti maksimal.

Buktinya lihat saja pada pemberitaan di ragam media saat ini. Bagaimana PSI sebagai partai yang sejak awal mengusung gagasan sebagai partai anak muda yang anti-korupsi konsisten dengan perjuangannya.

Hal ini terlihat jelas dari rilis yang dilakukan oleh Badan Pengawas Pemilu Republik Indonesia (Bawaslu RI) pada tanggal 27 juli 2018 yang lalu. Dimana PSI merupakan satu-satunya partai politik nasional yang tidak mencalonkan eks-narapidana korupsi ke dalam bakal calon legislatif (bacaleg) yang dikirimkan mereka ke KPU. Berbeda dengan partai politik lain yang masih memasukkan nama-nama eks koruptor dalam daftar bacaleg mereka.

Seperti; Partai Gerindra yang mendaftarkan 27 bacaleg eks napi koruptor, Partai Golkar mendaftarkan 25 bacaleg, Partai Nasdem mendaftarkan 17 bacaleg,  Partai Berkarya mendaftarkan 16 bacaleg, Partai Hanura mendaftarkan 15 bacaleg, PDI Perjuangan mendaftarkan 13 bacaleg, Partai Demokrat mendaftarkan 12 bacaleg, Partai Perindo mendaftarkan 12 bacaleg, PAN mendaftarkan 12 bacaleg, PBB mendaftarkan 11 bacaleg,  PKB mendaftarkan 8 bacaleg, PPP mencalonkan 7 bacaleg, PKPI mendaftarkan 7 bacaleg, Partai Garuda mendaftarkan 6 bacaleg dan PKS mendaftarkan 5 bacaleg eks koruptor.

Rekonstruksi Politik

Berita-berita mengenai korupsi di Indonesia, khususnya pasca reformasi 1998 saat ini sangat sporadis. Penyebabnya banyak politisi-politisi masuk ke dalam penjara karena tidak bisa menahan nafsu korupsi dan terlena oleh kekuasaan pula. Alasannya bermacam-macam dengan argumentasi yang sebenarnya tidak logis.

Fakta ini pula yang membuat spekulasi bahwa salah satu kegagalan reformasi adalah terbukanya pintu untuk korupsi. Apalagi sejak keran sistem multipartai dibuka, politik justru tak semakin membaik akibat banyaknya dana-dana rakyat yang dicuri oleh para pejabat publik yang merusak itu. Kondisi politik ini pula yang harus direkontruksi oleh para penerus politik kita kedepannya, demi perbaikan demi masa depan demokrasi di Indonesia.

Salah satunya adalah menumbuhkan kembali politik gagasan dengan jalan utama rekonstruksi politik. PSI sebagai partai anak muda dengan tagline perjuangan “Menebar Kebajikan, Merawat Keragaman dan Mengukuhkan Solidaritas” adalah jalan yang sangat bagus. Apalagi kepengurusan dari PSI adalah  mereka anak-anak muda yang  umurnya di bawah 45 tahun yang sering disebut sebagai generasi milenial. Generasi milenial yang aktif dan bebas dalam bersikap menentukan masa depannya politiknya demi perbaikan politik kita. Melalui internet dan media sosial virus-virus kebajikan kembali dihidupkan untuk menekankan bahwa pada pemilu 2019 nanti.

Masyarakat Indonesia kini punya partai alternatif  lain yaitu PSI, yang selama ini belum mampu memberi kepuasan kepada masyarakat akan perpolitikan tanah air. Apalagi partai-partai politik di Indonesia saat ini diisi oleh generasi yang secara struktur, rekrutmen anggota dan kepengurusan hampir memiliki skema sama yang terpatron pada satu tokoh tertentu. Berbanding terbalik dengan kepengurusan di PSI yang semua anggotanya adalah setara dan egaliter secara struktur dengan panggilan bro dan sis. Tidak hanya itu saja di PSI kita tidak akan menemukan model politisi “kutu loncat” karena semua kepengurusan PSI adalah orang-orang yang bebas dari dosa politik masa lalu.

Pilihan yang paling baik saat ini adalah kita masyarakat Indonesia mensyukuri kehadiran PSI menjadi rekonstruksi yang sangat baik untuk memperbaiki kotornya politik kita hari ini. Bertarungnya mereka anak-anak muda PSI menjadi catatan yang baik pula. Sebab, secara empirik pun, ketika kita membaca bagaimana sejarah panjang perubahan politik Indonesia. Anak-anak muda progresif layaknya PSI selalu memiliki peran tersendiri dan tidak pernah lepas dari perubahan dalam setiap memutus garis kekekuasaan yang dipenuhi oleh koruptor-koruptor yang tidak mengenal batas itu.

Mimpi Kita

Pada titik ini pula, setiap saya membaca berita-berita politik. Saya kerap menyaksikan bagaimana PSI selalu mendorong orang-orang baik untuk menjadi pemimpin pada seluruh wilayah di Indonesia yang tujuannya adalah mewujudkan mimpi yang masih tertunda karena kejahatan dalam pengelolaan anggaran. Layaknya nilai-nilai kebajikan yang disampaikan Plato dalam bukunya Republik. PSI tegak lurus mendukung orang-orang yang berkomitmen terhadap pembersihan nilai-nilai korup dalam sejarah panjang membangun peradaban baru bangsa Indonesia kedepannya. Hal ini pula yang dipertegas Grace Natalie di setiap kesempatan saat memberikan kata sambutannya tentang bagaimana cara kerja PSI yaitu “bahwa kedepannya bangsa Indonesia harus dipimpin oleh orang-orang baik” Baik menurut masyarakat mayoritas Indonesia adalah mereka-mereka yang bebas dari dosa politik masa lalu khususnya mereka yang tidak pernah terlibat dalam persekongkolan jahat dalam mencuri uang rakyat.

Harapan saya tentunya PSI menjadi role model pada partai-partai lain untuk mengawasi setiap kandidat yang akan mereka usung baik itu di pileg, pilkada maupun pilpres. Partai-partai lain harus belajar pula pada PSI agar melakukan filter untuk setiap politisi mereka. Ini bukan persoalan tua atau muda, senior atau junior. Karena bukankah demokrasi menjewatahkan dalam prinsip “one man, one vote and one value”, yang menjawab jelas politisi-politisi senior tidak perlu malu untuk belajar pada anak-anak muda dalam hal kejujuran. Politik kita butuh kejujuran dan kejujuran itu ada pada anak-anak muda PSI. Selamat bertarung di Pemilu 2019 PSI, wakili kami anak-anak muda Indonesia…

Penggiat media sosial dan aktivis sosial.

TINGGALKAN KOMENTAR

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

    Processing files…