OUR NETWORK

Profesor Nurdin Abdullah dan Semangat (yang terus) Muda

Apa yang kita kenang setiap 28 Oktober?

Barangkali sebuah teks lawas yang menggugah dan yang bunyinya begini:

Pertama: Kami poetra dan poetri Indonesia, mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah Indonesia/ Kedoea: Kami poetra dan poetri Indonesia mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia/ Ketiga: Kami poetra dan poetri Indonesia mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia.

Tapi tulisan ini lebih suka mengenangkan semangat kaum mudanya. Apa yang kita mengerti sebagai kaum muda rasanya tak selalu soal angka usia. Rasa-rasanya akan lebih elegan jika kaum muda disematkan pada ‘gemuruh jiwa’, ‘kobaran api semangat’, dan suasana yang selalu penuh bara untuk maju atau membangun, katakanlah, sebuah bangsa. Dengan memberi pengertian kaum muda pada sesuatu yang menyangkut gerak jiwa, semangat yang berkobar atau pengabdian yang tak lelah (bukan sekedar pada angka usia), maka kita bisa mendapati lautan sosok kaum muda di negeri ini.

Dan tulisan ini melompat jauh ke Timur ke suatu daerah bernama Bantaeng. Di daerah sini, semangat kaum muda melekat pada diri sosok bernama Nurdin Abdullah.

***

Apa dan bagaimana spirit (muda) yang dimiliki oleh Profesor Nurdin Abdullah? Menarik untuk kita lihat lebih jauh?

Mula-mula kita harus memahami bahwa dalam lintasan sejarah bangsa, kaum muda selalu dikaitkan dengan ‘idealisme’ yang tinggi. Tan Malaka menyebut: idealisme adalah kemewahan terakhir kaum muda. Apa yang bisa kita pahami dari idealisme? Dalam kamus besar bahasa Indonesia terdapat tiga pengertian darinya. Tapi yang menyangkut nilai moral mengatakan bahwa idealisme berarti hidup atau berusaha hidup menurut cita-cita, menurut patokan yang dianggap sempurna. Kaum muda seringkali dianggap ‘idealis’ sebab ciri atau karakter berupa semangat untuk selalu menjunjung cita-cita atau patokan yang sempurna terus menguat dalam dirinya.

Dalam sejarah sumpah pemuda yang tercetus pada 28 Oktober 1928, yang menonjol dari sejarah itu bukan tentang siapa yang berumur berapa? Tetapi apa yang terjadi di hari itu dan apa kontribusi besarnya bagi bangsa ini? Tercatatlah tentang sebuah komitmen bersama untuk membangun kesadaran bersama tentang sebuah bangsa besar bernama Indonesia, tentang sebuah kesadaran untuk tak lagi sekedar terkotak-kotakkan berdasarkan kepentingan etnis, lokalilitas kita yang terpisah-pisah atau perbedaan lainnya. Sumpah pemuda adalah sebuah komitmen untuk bersatu sebagai sebuah bangsa dan seterusnya berjuang demi kesejahteraan sosial bangsa ini.

Bila mengacu pada dua narasi di atas, Nurdin Abdullah adalah kaum muda yang di dalam dirinya mengalir ‘idealisme’. Tapi bagaimana kita bisa yakin bahwa dalam diri NA mengalir idealisme?

Pertama, sebuah daerah tertinggal bernama Bantaeng yang kemudian menjelma sebagai daerah maju rasanya tidak mungkin dibangun oleh seorang yang dalam dirinya tidak ada keinginan untuk memajukan daerah  atau menyejahterakan bangsanya. Tidak mungkin Bantaeng bisa maju jika pemimpinnya tidak punya komitmen pada kepentingan umum, cita-cita luhur kesejahteraan sosial, melainkan sekedar pada kepentingan sempit pribadi. Faktanya daerah ini maju dan kesejahteraan ekonomi masyarakatnnya meningkat. Maka fakta ini menguatkan bahwa kepemimpinan di bawah Nurdin Abdullah adalah kepemimpinan yang berpijak pada cita-cita luhur membangun. Ciri ini menegaskan bahwa dalam diri Nurdin Abdullah mengalir darah idealisme yang kuat.

Terlebih lagi kita sadar bahwa pekerjaan memulihkan sebuah daerah tertinggal menjadi daerah maju butuh banyak pengorbanan. Hanyalah orang-orang yang memiliki daya tahan untuk berjuang dan mengorbankan kepentingan dirinya yang mampu berbuat seperti yang bisa dilakukan oleh Nurdin Abdullah. Dengan kata lain, pekerjaan Nurdin Abdullah adalah pekerjaan yang menuntut kelurusan hati dan kesediaan untuk berjuang dengan gigih.

Kedua, hingga saat ini, setelah berbagai kemajuan dicapainya selama menjadi bupati Bantaeng, Nurdin Abdullah tak pernah merasa selesai dengan kewajibannya. Setelah dua periode menjadi Bupati, setelah mempertimbangkan harapan-harapan dari masyarakat yang telah merasakan gemilang buah kepemimpiannya, dia kembali maju untuk menunjukkan keberpihakan politiknya pada kesejahteraan sosial dan kemajuan daerahnya. Dia maju sebagai calon gubernur Sulawesi Selatan. Dia meyakini – di tengah-tengah pragmatisme politik yang tentu tak banyak menguntungkan masyarakatnya – bahwa politik adalah salah satu jalan paling efektif untuk memenangkan suara rakyat. Dengan menjadi pemimpin, seperti yang telah ia lalui, dia bisa berbuat lebih besar untuk kebaikan umum.

Dengan maju ke pentas politik yang lebih tinggi bermodalkan kepercayaan dari masyarakat dan dukungan dari tokoh dan partai, Nurdin Abdullah berkeyakinan: ini adalah bagian dari jihad untuk mewujudkan cita-cita luhur bangsa. Jalur politik yang dia ambil adalah jalan untuk mewujudkan keadilan sosial. Sebagaimana yang dia telah lakukan untuk Bantaeng, hal yang sama hendak dia wujudkan di Provinsi Sulawesi Selatan. Baginya politik bukan lagi barang haram. Di tangan orang yang benar atau pemimpin yang baik, politik adalah alat perjuangan.

Kobaran semangat dan cita-cita yang terus membara dalam diri Nurdin Abdullah untuk berjuang di jalan politik demi tegaknya keadilan sosial itu menunjukkan betapa jiwa Nurdin Abdullah selalu merupakan jiwa muda. Jiwa Nurdin Abdullah selalu merupakan jiwa yang hendak terus mengabdi untuk bangsanya. Entahlah sampai kapan ‘idealisme’ Nurdin Abdullah terus muda dan bergelora. Yang pasti kita semua harus berdoa: semoga terus ada Nurdin Abdulah-Nurdin Abdullah yang lain. Hanya dengan cara ini, politik sebagai alat perjuangan penegakan keadilan sosial bisa terus tercapai.

Penyuka Albert Camus

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…