Jumat, Januari 15, 2021

Profesor Nurdin Abdullah dan Semangat (yang terus) Muda

Menelisik Wacana Pengeluaran Perppu oleh Presiden

Revisi UU KPK yang telah disahkan oleh Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) beberapa waktu lalu, telah menimbulkan gelombang demonstrasi di berbagai wilayah Indonesia. Tuntutan yang di...

Memaknai Epistemologi Islam

Dalam dunia yang serba dinamis, adalah sebuah silogisme dengan premis-premis mayor yang berujung pada konklusi bahwa Ilmu adalah jalan bagi seseorang untuk bisa mengelaborasi...

Kidung untuk Keragaman

Pada suatu hari, seorang guru muda menjelaskan status Indonesia sebagai negara dengan ragam etnis tertinggi ke-24 di dunia. Dicomotnya nama Suku Batak, Dayak, Minahasa,...

Teknologi dan Janji Pemerataan Pendidikan

logan di atas gencar dipromosikan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Melalui sebuah situs belajar bernama Rumah Belajar, guru dan siswa dapat mengakses berbagai macam materi...
nugrohoali
Penyuka Albert Camus

Apa yang kita kenang setiap 28 Oktober?

Barangkali sebuah teks lawas yang menggugah dan yang bunyinya begini:

Pertama: Kami poetra dan poetri Indonesia, mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah Indonesia/ Kedoea: Kami poetra dan poetri Indonesia mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia/ Ketiga: Kami poetra dan poetri Indonesia mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia.

Tapi tulisan ini lebih suka mengenangkan semangat kaum mudanya. Apa yang kita mengerti sebagai kaum muda rasanya tak selalu soal angka usia. Rasa-rasanya akan lebih elegan jika kaum muda disematkan pada ‘gemuruh jiwa’, ‘kobaran api semangat’, dan suasana yang selalu penuh bara untuk maju atau membangun, katakanlah, sebuah bangsa. Dengan memberi pengertian kaum muda pada sesuatu yang menyangkut gerak jiwa, semangat yang berkobar atau pengabdian yang tak lelah (bukan sekedar pada angka usia), maka kita bisa mendapati lautan sosok kaum muda di negeri ini.

Dan tulisan ini melompat jauh ke Timur ke suatu daerah bernama Bantaeng. Di daerah sini, semangat kaum muda melekat pada diri sosok bernama Nurdin Abdullah.

***

Apa dan bagaimana spirit (muda) yang dimiliki oleh Profesor Nurdin Abdullah? Menarik untuk kita lihat lebih jauh?

Mula-mula kita harus memahami bahwa dalam lintasan sejarah bangsa, kaum muda selalu dikaitkan dengan ‘idealisme’ yang tinggi. Tan Malaka menyebut: idealisme adalah kemewahan terakhir kaum muda. Apa yang bisa kita pahami dari idealisme? Dalam kamus besar bahasa Indonesia terdapat tiga pengertian darinya. Tapi yang menyangkut nilai moral mengatakan bahwa idealisme berarti hidup atau berusaha hidup menurut cita-cita, menurut patokan yang dianggap sempurna. Kaum muda seringkali dianggap ‘idealis’ sebab ciri atau karakter berupa semangat untuk selalu menjunjung cita-cita atau patokan yang sempurna terus menguat dalam dirinya.

Dalam sejarah sumpah pemuda yang tercetus pada 28 Oktober 1928, yang menonjol dari sejarah itu bukan tentang siapa yang berumur berapa? Tetapi apa yang terjadi di hari itu dan apa kontribusi besarnya bagi bangsa ini? Tercatatlah tentang sebuah komitmen bersama untuk membangun kesadaran bersama tentang sebuah bangsa besar bernama Indonesia, tentang sebuah kesadaran untuk tak lagi sekedar terkotak-kotakkan berdasarkan kepentingan etnis, lokalilitas kita yang terpisah-pisah atau perbedaan lainnya. Sumpah pemuda adalah sebuah komitmen untuk bersatu sebagai sebuah bangsa dan seterusnya berjuang demi kesejahteraan sosial bangsa ini.

Bila mengacu pada dua narasi di atas, Nurdin Abdullah adalah kaum muda yang di dalam dirinya mengalir ‘idealisme’. Tapi bagaimana kita bisa yakin bahwa dalam diri NA mengalir idealisme?

Pertama, sebuah daerah tertinggal bernama Bantaeng yang kemudian menjelma sebagai daerah maju rasanya tidak mungkin dibangun oleh seorang yang dalam dirinya tidak ada keinginan untuk memajukan daerah  atau menyejahterakan bangsanya. Tidak mungkin Bantaeng bisa maju jika pemimpinnya tidak punya komitmen pada kepentingan umum, cita-cita luhur kesejahteraan sosial, melainkan sekedar pada kepentingan sempit pribadi. Faktanya daerah ini maju dan kesejahteraan ekonomi masyarakatnnya meningkat. Maka fakta ini menguatkan bahwa kepemimpinan di bawah Nurdin Abdullah adalah kepemimpinan yang berpijak pada cita-cita luhur membangun. Ciri ini menegaskan bahwa dalam diri Nurdin Abdullah mengalir darah idealisme yang kuat.

Terlebih lagi kita sadar bahwa pekerjaan memulihkan sebuah daerah tertinggal menjadi daerah maju butuh banyak pengorbanan. Hanyalah orang-orang yang memiliki daya tahan untuk berjuang dan mengorbankan kepentingan dirinya yang mampu berbuat seperti yang bisa dilakukan oleh Nurdin Abdullah. Dengan kata lain, pekerjaan Nurdin Abdullah adalah pekerjaan yang menuntut kelurusan hati dan kesediaan untuk berjuang dengan gigih.

Kedua, hingga saat ini, setelah berbagai kemajuan dicapainya selama menjadi bupati Bantaeng, Nurdin Abdullah tak pernah merasa selesai dengan kewajibannya. Setelah dua periode menjadi Bupati, setelah mempertimbangkan harapan-harapan dari masyarakat yang telah merasakan gemilang buah kepemimpiannya, dia kembali maju untuk menunjukkan keberpihakan politiknya pada kesejahteraan sosial dan kemajuan daerahnya. Dia maju sebagai calon gubernur Sulawesi Selatan. Dia meyakini – di tengah-tengah pragmatisme politik yang tentu tak banyak menguntungkan masyarakatnya – bahwa politik adalah salah satu jalan paling efektif untuk memenangkan suara rakyat. Dengan menjadi pemimpin, seperti yang telah ia lalui, dia bisa berbuat lebih besar untuk kebaikan umum.

Dengan maju ke pentas politik yang lebih tinggi bermodalkan kepercayaan dari masyarakat dan dukungan dari tokoh dan partai, Nurdin Abdullah berkeyakinan: ini adalah bagian dari jihad untuk mewujudkan cita-cita luhur bangsa. Jalur politik yang dia ambil adalah jalan untuk mewujudkan keadilan sosial. Sebagaimana yang dia telah lakukan untuk Bantaeng, hal yang sama hendak dia wujudkan di Provinsi Sulawesi Selatan. Baginya politik bukan lagi barang haram. Di tangan orang yang benar atau pemimpin yang baik, politik adalah alat perjuangan.

Kobaran semangat dan cita-cita yang terus membara dalam diri Nurdin Abdullah untuk berjuang di jalan politik demi tegaknya keadilan sosial itu menunjukkan betapa jiwa Nurdin Abdullah selalu merupakan jiwa muda. Jiwa Nurdin Abdullah selalu merupakan jiwa yang hendak terus mengabdi untuk bangsanya. Entahlah sampai kapan ‘idealisme’ Nurdin Abdullah terus muda dan bergelora. Yang pasti kita semua harus berdoa: semoga terus ada Nurdin Abdulah-Nurdin Abdullah yang lain. Hanya dengan cara ini, politik sebagai alat perjuangan penegakan keadilan sosial bisa terus tercapai.

nugrohoali
Penyuka Albert Camus
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Menilik Proses Pembentukan Hukum Adat

Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia dikaruniai Tuhan Yang Maha Kuasa kekayaan yang begitu melimpah di segala bidang. Segala jenis tumbuhan maupun binatang...

Milenial Menjawab Tantangan Wajah Baru Jatim

Tahun berganti arah berubah harapan baru muncul. Awal tahun masehi ke-2021 terlihat penuh tantangan berkelanjutan bagi Jawa Timur setelah setahun penuh berhadapan dengan Covid-19...

Menghidupkan Kembali Pak AR Fachruddin

Buku Pak AR dan jejak-jejak bijaknya merupakan buku biografi yang ditulis oleh Haidar Musyafa. Buku ini dicetak pertama kali pada bulan April 2020 dengan...

Menata Kinerja Buzzer yang Produktif

  Buzzer selalu hadir membingkai perdebatan carut-marut di ruang media sosial atau paltform digital lainnya. Seperti di twitter, facebook, instagram, dan media lainnya. Buzzer memiliki...

Lika-Liku Ganja Medis di Indonesia

Setiap manusia berhak sehat dan setiap yang tidak sehat berhak dapat pengobatan. Alam semesta telah menyediakan segala jenis obat untuk banyaknya penyakit di dunia...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Bagaimana Menjadi Muslim Moderat

Pada tahun 2017 saya pernah mengikuti Halaqah Ulama ASEAN yang diselenggarakan oleh Kementerian Agama. Kampanye yang digaungkan Kemenag masih seputar moderasi beragama. Dalam sebuah diskusi...

Narkoba Menghantui Generasi Muda

Narkoba telah merajalela di Indonesia .Hampir semua kalangan masyarakat positif menggunakan Narkoba. Bahkan lebih parahnya lagi adalah narkoba juga telah merasuki para penegak hukum...

PKI, Jokowi, dan Tertusuknya Syekh Jaber

Syekh Ali Jaber ditusuk AA, Ahad malam (13/9/2000) di Lampung. Siapa AA? Narasi di medsos pun gonjang-ganjing. Konon, AA adalah kader PKI. Partai yang berusaha...

Our World After The Pandemic: The Threat of Violent Ekstremism and Terrorism, The Political Context

Pandemic C-19: Disruptions Personal and public health with rapid spread of the pandemic globally, more than 90 millions infected and almost two million death...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.