OUR NETWORK

Pro-Kontra Ahok Kepala Badan Otorita Ibu Kota Baru

Di sisi lain, Ahok banyak ditentang oleh sejumlah kalangan terutama kalangan 212 yang sempat mendemo Ahok menyoal pencalonan Komisaris Utama Pertamina dan saat ini sebagai calon kepala badan otorita ibu kota negara baru

Ahok atau dikenal BTP sudah sering kita dengar dengan berbagai kapasitasnya memimpin sejumlah instansi baik di daerah maupun BUMN. Track record beliau dalam memimpin bukanlah isapan jempol belaka. Berbagai prestasi ditorehkan mantan Gubernur DKI Jakarta sekaligus Komisaris Utama Pertamina yang menjabat sekarang ini.

Namun, menyoal kepala ibu kota negara baru menarik perhatian sejumlah masyarakat terutama pencalonan beliau yang bersaing dengan sejumlah nama seperti Azwar Anas (Bupati Banyuwangi), Tumiyana (Direktur PT Wijaya Karya) dan Bambang Brodjonegoro (Menteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional).

Keempatnya memang tidak seterkenal Ahok, namun mereka mempunyai keahlian masing-masing di bidang yang dipimpinnya. Begitupun, Ahok beliau sudah malang melintang di dunia pemerintahan.

Menurut pakar Ekonomi INDEF, Faisal Basri mendukung secara penuh hingga memberikan angka 110 % terhadap wacana pencalonan Ahok. Namun, pertanyaan besar menanti apakah Jokowi telah membuat blunder dengan adanya pencalonan Ahok dimana rentan memberikan pro-kontra ditengah masyarakat Indonesia?

Perlu disimak, Ahok memang sosok yang kontroversial di berbagai kebijakannya, akan tetapi tidak semuanya menimbulkan kontroversi berlebihan. Sikap tegas dan lantang menyuarakan aspirasi rakyat menjadi nilai positif, meskipun beliau kerap mengumbar kemarahan ketika sedang rapat internal di Balai Kota ataupun sedang melakukan inspeksi mendadak di sejumlah lokasi tempat kerja PNS DKI Jakarta.

Berdasarkan survei SMRC pada tahun 2016 mengenai tingkat kepuasan kinerja Ahok oleh masyarakat DKI Jakarta, 75 % warga menyatakan cukup puas atau sangat puas dengan capaian kinerja Ahok. Adapun masyarakat DKI Jakarta yang tidak puas hanya 22 %.

Dengan adanya indikator ini, memang belum bisa dijadikan tolak ukur. Jika kita melihat sejumlah prestasi baik individu maupun secara lembaga, Ahok pernah meraih berbagai prestasi di tingkat nasional dan internasional. Di kancah nasional, Ahok memperoleh penghargaan dari Bappenas pada tahun 2015 terkait Pemprov DKI Jakarta yang dipimpinnya sebagai instansi Provinsi dengan capaian MDGS terbaik dan pencapaian indikator MDGS terbanyak.

Belum lagi, di tahun 2014, Ahok kembali meraih Democracy Award di salah satu media online. Capaian tersebut juga menambah sederet penerapan kebijakan yang terkenal di era selama beliau memimpin seperti reformasi e-budgeting, relokasi Kampung Pulo, pembangunan jalan layang Kuningan, dan pembangunan RPTRA.

Karya Ahok juga mendunia dalam membangun ketahanan kota, Jakarta pernah menjadi salah satu finalis dari kota-kota di seluruh dunia yang tergabung dalam jaringan 100 Resilient Cities atau 100 RC. Ahok sempat mengisi cerita di New York Times yang berjudul “Run by Jakarta Governor Up ends Indonesia’s Party Politics”.  Prestasi lainnya yang tak kalah pamor adalah Ahok pernah masuk dalam daftar Global reThinkers 2017.

Berkaca kepada pengalaman beliau, Jokowi ingin mencari figur yang mapan secara tata kelola pemerintahan yang memang dimiliki secara kapasitas, kapabilitas, dan kredibilitas Ahok. Begitupun dengan nilai integritas, tidak dipertanyakan lagi dimana beliau juga meraih Bung Hatta Anti-Corruption Award di tahun 2013.

Di sisi lain, Ahok banyak ditentang oleh sejumlah kalangan terutama kalangan 212 yang sempat mendemo Ahok menyoal pencalonan Komisaris Utama Pertamina dan saat ini sebagai calon kepala badan otorita ibu kota negara baru.

Transformasi Kepemimpinan

Kecerdasan intelektual dan moral yang dimiliki oleh Ahok tidak lepas semasa beliau menjabat di Belitung lalu di Jakarta dan sekarang di instansi migas terbesar di Indonesia, Pertamina. Lepas dari itu semua, pengalaman selama di Mako Brimob menjadi pil pahit yang harus ditelan oleh Ahok selama di jeruji besi. Lebih dari 1 tahun 8 bulan, beliau menjalani masa tahanan, namun beliau menjalani dengan tegar selama proses di tahanan.

Beliau pernah bercerita dalam press conference peluncuran buku “Panggil Saya BTP” merasa bersyukur bahwa proses pendewasan diri selama di tahanan menjadi titik balik menjadi pribadi yang lebih dewasa dan tenang. Kutipannya yang mengatakan bahwa kesulitan ini bukan untuk menjatuhkan kita, tetapi menentukan suatu keadaan pergumulan dimanapun pasti ada solusinya.

Setelah beliau keluar dari tahanan, nama Ahok terang-terangan kembali jadi sorotan publik. Ada yang merasa senang, adapula merasa was-was bahkan terkesan takut instansinya kembali dipimpin oleh beliau. Namun, jawaban itu dijawab lugas oleh Erick Thohir yang langsung memilih beliau selaku Komut Pertamina. Sempat ada persepsi bahwa “komut rasa dirut” dimana beliau lebih sering tampil di depan publik dibandingkan Direktur Utama Pertamina, Nicke Widyawati.

Kinerja Ahok pun dinilai mengesankan oleh publik. Prestasi B30 yang dipaparkan oleh Ahok di Atlantic Council Global Energy Forum 2020 sebagai program mandatori biodiesel merupakan prestasi yang ditorehkan oleh jajaran Pertamina sejak revolusi kepemimpinan Ahok. Belum lagi isu, beberapa blok migas di Indonesia yang mulai dikuasai oleh pemerintah.

Keputusan Jokowi

Publik akan menanti keputusan terbesar Jokowi dalam menunjuk kepala badan otorita ibukota negara baru yang resmi dalam waktu dekat. Menilik kepada otoritas kepala ibukota negara baru, levelnya akan sama dengan menteri ataupun kepala lembaga tinggi negara. Jika Ahok menjadi kepala badan otorita ibukota negara baru levelnya akan menyamai menteri.

Terlepas dari itu semua, menurut Budi Guna Sadikin selaku Wakil Menteri BUMN jabatan komut di Pertamina tidak akan begitu saja dilepas karena menurut beliau selama tidak menjabat sebagai direksi di salah satu BUMN. Oleh karena itu, dualisme jabatan juga akan dipertanyakan sejumlah kalangan apakah Ahok tetap akan menjabat sebagai komut Pertamina selain sebagai calon kepala ibukota negara baru jika terpilih atau justru melepaskan salah satu jabatan tersebut?

Publik sedang harap-harap cemas apakah memang Jokowi akan kembali memilih Ahok untuk mengepalai ibukota negara baru di Kalimantan Timur. Menyikapi hal ini, publik perlu menarik lebih jauh tentang sosok Ahok yang dinilai penuh kontroversi. Jokowi sebagai kepala negara lebih mengetahui mantan partnernya di DKI Jakarta ini.

Lagi-lagi, soal isu kedekatan keduanya yang pernah memimpin DKI Jakarta. Ada yang pro maupun kontra dengan sikap Jokowi mengenai hal tersebut. Bila kita melihat dari objektivitas semata, Ahok tentu layak dengan segala prestasi, kapasitas, kapabilitas, dan kredibilitas dalam memimpin ibukota negara baru. Patut disimak, Indonesia tentu akan memilih.

Alumni Fakultas Hukum Universitas Trisakti | Pengamat Hukum Tata Negara

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…