Selasa, Oktober 20, 2020

Prioritas Terdekat dan Dukungan Kepada Yohanes Surya

Hukum Tata Negara Darurat pada Situasi Pandemi

Dalam Kondisi Pandemi COVID-19 yang melanda seluruh dunia seperti saat ini, seharusnya seluruh negara di dunia menerapkan darurat nasional di masing-masing negaranya untuk mencegah...

Menteri Mencaleg: Antara Tugas Negara dan Tugas Partai

Gelaran pesta akbar demokrasi sudah mendekati waktunya, para partai politik peserta pemilu telah mendaftakan bakal calonnya ke KPU. Banyak yang menjadi perhatian publik dari daftar...

Meninggalkan Jejak Puasa Ramadhan

Tanpa kita sadari waktu terus berjalan, sejak kita di dalam kandungan yang berumur hari, kemudian minggu dan bulan lalu terlahir menjadi bayi, remaja, dewasa,...

Kesadaran Melindungi Data Pribadi

Sudah cukupkah melindungi data pribadi di media sosial dengan membuat akun Instagram menjadi privat? Sebagian besar dari kita–termasuk saya– menganggap pengaturan privasi media sosial...

Gajah di pelupuk mata tak tampak, semut di tengah lautan tampak. Peribahasa ini mengandung maksud bahwa sering terjadi seseorang tidak melihat dan menyadari kekurangan sendiri. Sementara persoalan kekurangan orang lain nun jauh di sana justru nampak bak raksasa. Boleh dibilang inilah salah satu penyakit yang mendera sebagian besar bangsa ini.

Salah satu kekurangan diri itu adalah tidak memprioritaskan atau memperhatikan sebuah masalah yang sebenarnya penting yang terjadi sangat dekat dengan diri kita. Sementara yang jarak dan kepentingannya lebih jauh justru lebih diutamakan. Yang jauh lebih dipentingkan dan sebaliknya yang dekat malah dilupakan.

Contoh sepele, sering orang-orang kini terbawa arus perdebatan wacana atau informasi yang menguras fikiran. Paling aktual tentang penerbitan PERPPU Ormas oleh pemerintah. Disusul pembubaran HTI karena tidak Pancasilais. Juga yang sedang panas-panasnya tentang Gerindra yang berbalik arah mundur dari Pansus Hak Angket KPK. Tidak ketinggalan tentu saja agresi militer Israel terhadap rakyat Palestina dengan cara menutup Masjid al-Aqsa.

Adanya wacana-wacana yang bernuansa politik an sich tersebut, banyak orang yang sengaja atau tidak telah melupakan persoalan-persoalan penting yang ada di seputar lingkungan terdekatnya. Apalagi persoalan tersebut tergolong prioritas yang wajib didahulukan. Dalam bahasa ushul fiqih disebut dharuriyat atau kebutuhan primer.

Orang lebih mengikuti perdebatan wacana politik tersebut di media-media nasional. Namun tidak melek mata jika ada banyak tetangganya yang kelaparan. Bahkan tetangga tersebut tempat tinggalnya ada di belakang rumah. Ironisnya tembok rumah mereka saling berdempetan.

Orang lebih memperhatikan perdebatan pembubaran sebuah ormas oleh pemerintah. Namun terjadinya penyalahgunaan narkoba dan minuman keras di kalangan pemuda di lingkungannya sendiri tidak terperhatikan. Anak-anak muda di perempatan jalan kampungnya hampir tiap malam menenggak alkohol, tapi orang-orang yang sok mengikuti perkembangan informasi tersebut tidak pernah menggubrisnya. Mereka menganggap itu semua bukan persoalan hidupnya sehingga tidak perlu dijadikan prioritas.

Orang lebih ramai ingin pergi ke Palestina, ikut berperang jalanan melawan tentara Israel. Padahal untuk persoalan pemberangkatannya saja itu sudah menyusahkan diri sendiri dan pemerintah. Belum lagi ketika sampai di medan laga, dengan bersenjatakan apa mereka melawan tentara Israel yang terkenal teknologi militernya yang sangat canggih. Bukankah itu sama pula tidak memprioritaskan keamanan jiwa sendiri, alias datang untuk bunuh diri. Kecuali jika diwujudkan dalam bentuk bantuan pangan atau dukungan politik dan moral seperti yang dipidatokan Jokowi beberapa bulan yang lalu dalam forum OKI.

Jangan Lupakan Yohanes Surya

Salah satu prioritas perhatian, dukungan dan bahkan bantuan yang perlu kita lakukan sekarang ini adalah kepada Prof. Yohanes Surya. Seperti diberitakan Tempo.com, Universitas Surya, perguruan tinggi yang didirikan Yohanes Surya pada September 2013 itu sedang mengalami krisis utang. Tidak tanggung-tanggung jumlahnya mencapai Rp. 16 milyar. (nasional.tempo.co/read/news/2017/07/24/173893830/krisis-keuangan-universitas-surya-terjerat-utang-rp-16-miliar, akses 27 Juli 2017)

Utang tersebut berdasarkan skema pinjaman student loan di Bank Mandiri yang diajukan orang tua dari 300 orang siswa, seperempat persen dari total 1.247 mahasiswa yang mendaftar di kampus tersebut. Memang pengajuan student loan tersebut dibuat dan ditandatangani oleh orang tua siswa, namun dalam perjanjian antara pihak bank, Universitas Surya dan orang tua siswa disepakati jika yang membayar utang itu adalah pihak kampus.

Kontan, kredit macet itu mengakibatkan jalannya proses pendidikan di kampus tersebut menjadi tersendat. Banyak mahasiswa yang memutuskan pindah kampus. Demikian pula dengan para dosen pengajar, sebagian besar juga memutuskan keluar dari Universitas Surya dan memilih mengajar di kampus lain. Beberapa ada yang dipotong gajinya, terutama yang masih mau bertahan.

Menilik sosok utama Yohanes Surya yang menjadi penanggung jawab Universitas Surya dan atas jasa besarnya bagi dunia pendidikan bangsa ini, tentu persoalan yang mendera profesor bidang fisika ini perlu dijadikan perhatian. Terutama oleh pemerintah yang beberapa kali diharumkan namanya dengan banyak prestasi Yohanes Surya yang mampu melatih banyak pelajar kita yang menjuarai beberapa kali olimpiade fisika dan matematika tingkat internasional.

Perlu kita akui bahwa keikutsertaan dan banyak yang menjuarai olimpiade fisika atau matematika tingkat internasional oleh pelajar negeri ini sebenarnya dipelopori Yohanes Surya. Peristiwa tersebut terjadi pada tahun 1992, dimana saat itu Yohanes Surya bersama temannya yang bernama Agus Ananda sedang mengenyam kuliah doktoral di College of William & Mary, Virginia, Amerika Serikat. Saat itu di kampus tersebut akan diadakan Olimpiade Fisika Internasional ke-24 (IPHO), keduanyapun mengundang 5 pelajar dari Indonesia dan dilatih demi mengikuti perlombaan tersebut. Keikutsertaan itupun berlanjut hingga sekarang. (http://schandra-salim.blogspot.co.id/2009/05/indonesia-di-olimpiade-fisika, akses tanggal 27 Juli 2017)

Saya tidak berhak mendesak atau memaksa pemerintah untuk segera membantu sang profesor pencetus MESTAKUNG (Semesta Mendukung) dan metode pembelajaran matematika dan fisika GASING (Gampang, Asyik dan Menyenangkan) tersebut. Saya hanya ingin agar kita semua tidak mengabaikan nama penting dari sosok Yohanes Surya ini. Sosok yang tidak bisa dipungkiri benar-benar memberikan perubahan pada penguasaan matematika, fisika dan sains di dunia pendidikan bangsa ini.

Saya membayangkan ketika problem keuangan yang mendera sosok yang banyak memperoleh penghargaan di bidang fisika ini tidak teratasi karena tidak mendapat bantuan atau minimal dukungan, kemudian kampus tersebut gulung tikar, maka boleh jadi kita sedang pongah. Pongah dan gampang amnesia akan prestasi-prestasi yang selama ini berhasil dicapai negeri ini melalui kerja keras Yohanes Surya tersebut. Dan kita tidak bisa menutup rasa malu itu, bahwa kepada yang tidak penting justru memprioritaskan. Sebaliknya terhadap persoalan yang sangat mendesak di seputaran kita, malah menganggapnya ghaib belaka.

Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

K-Pop dalam Bingkai Industri Budaya

Budaya musik Korea atau yang biasa kita sebut K-Pop selalu punya sisi menarik di setiap pembahasannya. Banyak stigma beredar di masyarakat kita yang menyebut...

Hitam Putih Gemerlap Media Sosial

“Komunikasi adalah inti dari masyarakat kita. Itulah yang menjadikan kita manusia.” Setidaknya begitulah yang dikatakan Jan Koum, pendiri aplikasi Whatsapp yang kini telah mencapai...

Mahasiswa Dibutakan Doktrin Aktivisme Semu?

Aktivisme di satu sisi merupakan “alat” yang bisa digunakan oleh sekelompok orang untuk melakukan reformasi atau perbaikan ke arah baru dan mengganti gagasan lama...

Prekariatisasi Global dan Omnibus Law

"Setuju", dengan intonasi panjang penuh kebahagiaan peserta sidang secara serentak merespons pimpinan demi ketukan palu UU Cipta Kerja atau akrab dikenal sebagai Omnibus Law. Tok,...

Perang dan Cerita

Demonstrasi tolak RUU Cipta Kerja terjadi pada 8 Oktober 2020. Seperti aksi-aksi lainnya, kita barangkali bisa mulai menebak, bahwa sepulangnya nanti, hal-hal yang menarik...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Legacy Jokowi, UU Cipta Kerja dan Middle Income Trap

“Contohlah Jokowi. Lihatlah determinasinya. Visinya. Ketegasannya ketika berkehendak menerapkan UU Cipta Kerja. Ia tak goyah walau UU itu ditentang banyak pihak. Ia jalan terus...

Tanggapan Orang Biasa terhadap Demo Mahasiswa dan Rakyat 2019

Sudah dua hari televisi dihiasi headline berita demonstrasi mahasiswa, hal yang seolah mengulang berita di TV-TV pada tahun 1998. Saya teringat kala itu hanya...

Hakikat Demokrasi

Demokrasi bagi bangsa Indonesia sendiri adalah istilah baru yang dikenal pada paruh abad ke-20. Dalam kehidupan berbangsa dan bermasyarakat, demokrasi dalam bentuknya yang modern...

Cara Mahasiswa Menghadapi Revolusi Industri 4.0

Teknologi selalu mengalami perubahan-perubahan seakan tidak pernah ada ujungnya. Seperti halnya saat ini teknologi sudah sangat berkembang dengan pesat terutama dalam bidang teknologi informasi...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.