Jumat, Oktober 30, 2020

Pramoedya dan Tantangan Novelis Hari Ini

Ijtima Ulama Bukan Acuan Politik Kaum Muslim?

Momentum Pilpres 2019 sungguh luar biasa. Hampir seluruh stake holder bangsa ini mencurahkan energinya dalam menyambut pesta demokrasi yang digelar setiap lima tahun sekali....

Filosofi Korupsi

Kasus Korupsi di Indonesia setiap tahunnya menjadi hal yang marak diperbincangkan. Negeri yang kaya ini terus menerus diperas oleh koruptor, dan pada akhirnya semakin...

Islam dan Integrasi Masyarakat Global

Kajian terhadap realitas sosial modern melahirkan apa yang disebut pluralisme sebagai ideologi baru tatanan masyarakat multikultural. Paham pluralisme sosial didasarkan atas kenyataan akan kemajemukan...

Populisme Kanan dan Terorisme Gaya Baru

Sejumlah pengamat politik internasional, mensinyalir keluarnya Inggris  dari Uni Eropa (Brexit) dan kemenangan Donal Trump pada Pemilihan Presiden AS sebagai bentuk menguatnya populisme sayap...

Jauh sebelum Indonesia memasuki masa reformasi, Pramoedya Ananta Toer telah menghadirkan suatu bacaan menarik lewat karya (novel) yang begitu bersemangat, antusias dan memberikan gagasan menarik kepada pembaca.

Sebagai novelis ulung yang punya gagasan kemanusiaan dan berorientasi pada kemajuan peradaban manusia, Pram telah menempatkan karyanya sebagai salah satu bacaan yang menggugah pembaca untuk berkelana dan menukik lebih dalam inti sari gagasan Pram.

Gagasan yang bertitik pangkal pada rasa kemanusiaan rasanya semakin mendapatkan tempat di hati pembaca untuk terus membaca. Hal ini dapat kita baca dari beberapa karya Pram yang secara tersirat mengandung pesan kemanusiaan, seperti karya Bumi Manusia, Arus Balik, Gadis Pantai, Rumah Kaca dan karya lainnya.

Dalam konteks kita hari ini, Pram telah mewariskan seluruh karyanya untuk dibaca dan dipahami serta dilakukan. Pram sadar bahwa karyanya ini akan memberikan kontribusi besar dalam kehidupan manusia dan generasi selanjutnya. Untuk itu, sumbangsih besar Pram bagi kita saat ini bukan hanya karyanya bisa kita baca ataupun kita dapat mengenal Pram sebagai sosok novelis.

Lebih dari itu, karya Pram dan sosoknya mewariskan sumbangsih yang jauh lebih penting dan memiliki makna yang sangat besar bagi kemajuan. Di masa kolonial, Orde Lama dan Orde Baru, Pram selalu menulis banyak hal seperti yang dapat kita baca saat ini lewat karya gemilangnya.

Bagi saya, ketika kita membaca Pram, kita dibawa pada sebuah cara berpikir tentang kemanusiaan. Dalam konteks yang lebih terbatas, Pram sebetulnya ingin memberikan suatu khzanah pengetahuan baru bahwa menegakan kemanusiaan berarti kita bisa memaknai keberadaan manusia.

Lantas pertanyaan penting kita hari ini setelah novelis ulung itu pergi dan meninggalkan jejak-jejak pemikiran yang sangat luar biasa hebatnya bagi kemajuan. Apakah novelis kita hari ini mampu bahkan melampaui gagasan berpikir Pram (dalam konteks kemanusiaan) lewat karya mereka? Apakah novelis kita hari ini berpihak pada kemanusiaan?

Pertanyaan tersebut tidak sekedar untuk menggugah naluri berpikir kita, namun lebih tepatnya memberikan suatu perspektif baru bagi khzanah pengetahuan kita terhadap aspek kemanusiaan ditengah menggempurnya kemanusiaan itu digerus. Hanya dengan menghadirkan karya yang bertitik pangkal pada rasa kemanusiaan, kita telah (setidaknya) memberikan sumbangsih besar bagi kemajuan eksistensi manusia. Pram telah menunjukan itu dan disinilah tantangan itu harus kita terima.

Novelis dan Kemanusiaan

Hari-hari ini, banyak novelis mulai menunjukan gagasan di ruang publik. Gagasan yang mereka tawarkan beragam, mulai dari persoalan ekologi, ekonomi, budaya, politik, sosial dan macam-macam lainnya. Namun dalam konteks kita hari ini ditengah semakin menguatnya kekerasan terhadap eksistensi manusia, sedikit sekali bahkan masih terbatas novelis yang melahirkan karyanya untuk menyuarakan penindasan kemanusiaan.

Sementara kehadiran mereka sangat dinilai penting bahkan memberikan gebrakan baru terhadap nilai-nilai kemanusiaan ditengah masyarakat modern dan beragam. Hingga hari ini, menurut pembacaan saya ketika berkelana membaca beberapa karya novelis kita hari ini, saya bahkan mengakui sedikit sekali novelis kita yang memuat karyanya untuk memperjuangkan sisi-sisi kemanusiaan.

Sementara aspek kemanusiaan kian penting dan menjadi sumber untuk menegakan eksistensi manusia. Di tengah praktik pelanggaran hukum serta payung hukum yang diterapkan tidak tepat sekaligus tebang pilih, suara perlawanan dari novelis sangat penting untuk mendorong terciptanya hukum yang adil (justice). Suara perlawanan melalui karya sangat bermanfaat untuk mendorong hukum lebih ditegakan bagi kemanusiaan.

Bagi saya, ruang kemanusiaan tidak hanya membutuhkan aspek perlindungan hukum yang jelas namun juga dibutuhkan suara perlawanan yang massif dari sekelompok orang bahwa kemanusiaan itu harus sejalan dengan misi besar eksistensi manusia. Saat ini kita sering mengamati bahwa persoalan keadilan seringkali mengalami tumpang-tindih (overleaping) dengan penerapan hukum (law).

Konsep keadilan serta kemanusiaan dibicarakan hanya ketika seseorang telah dilucuti kemanusiaannya, sementara aspek kemanusiaan itu harus terus digalakan dan berkelanjutan (sustainable) tanpa manusia merasa dirinya mengalami represif.

Logika semacam ini mengalir begitu saja bahkan semakin kental saat ini. Kita belum memberikan gagasan yang baik bagi tumbuh kembangnya aspek hukum dan kemanusiaan. Dalam hal ini kekerasan akan dengan mudah terjadi dan orang akan dengan mudah ditindas dibawah kendali sepihak orang-orang yang merasa dirinya berkuasa. Persoalan ini seringkali luput dari pembicaraan publik bahkan absen untuk didiskusikan sebagai mode yang dapat memberikan penegakan hukum yang transparan, akuntabel dengan bertitik pada rasa kemanusiaan.

Di sinilah maksud saya itu terjawab, bahwa tantangan novelis kita hari ini bukan terletak pada sedikit-banyak karya yang diciptakan. Tetapi jauh dari itu, bahwa tantangan yang paling harus disadari ialah sejauh mana suara perlawanan itu didengungkan ke ruang publik terhadap eksistensi kemanusiaan yang kian hari selalu ditindas.

Tantangan novelis kita bagi saya ialah berani mendengungkan aspek kemanusiaan ditengah proyeksi hukum yang semakin kabur. Novelis harus mampu mendaraskan gagasan dan karyanya kepada aspek kemanusiaan untuk memberikan sumbangsih nyata bagi kemanusiaan. Pramoedya telah menunjukan itu lewat karya yang kita baca hari ini. Bumi Manusia misalnya, dengan tegas memberikan suatu cara pandang baru bahkan menyadari kita untuk melihat bahwa ada aspek kemanusiaan yang tidak diakomodir secara pasti dalam lanskap hukum.

Di dalamnya kita bisa membaca dengan teliti bahwa Pram ingin menunjukan ada keadilan yang diterapkan dalam sebuah prosedur yang salah kaprah sehingga mengasingkan kemanusiaan orang lain dibawah kehendak diri seorang penguasa. Untuk itulah Pramoedya menulis dengan tegas bahwa aspek kemanusiaan harus mendapatkan tempat dalam masyarakat. Tanpa itu manusia dan eksistensi yang mendasarinya akan dengan mudah dilindas dibawah logika penguasa.

Pram telah menghadirkan dirinya lewat karyanya bahwa seorang novelis harus berpihak pada rasa kemanusiaan. Pada aras ini sebetulnya novelis kita hari ini harus mampu berkiblat dan berakar pada rasa kemanusiaan untuk menyuarakan bahwa eksistensi manusia harus dibentuk diatas kemanusiaan itu sendiri.

Dengan ini saya pikir, novelis kita akan lebih berupaya menemukan bahwa sumbangsih mereka terhadap kemanusiaan sangat penting nilainya bagi kemajuan manusia. Pram adalah contoh nyata dari manifestasi seorang novelis bahwa seorang novelis harus berani berpikir dan berimajinasi tidak saja pada aspek yang lebih terbatas, melainkan pada sisi kemanusiaan. Di situlah mengapa karya Pram tidak pernah lekang dibaca oleh setiap pembaca dalam periode waktu yang berbeda.

Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Pemuda dalam Pergerakan Nasional Pandemi Covid-19

Peringatan hari Sumpah Pemuda mempunyai makna yang khusus di masa Covid-19 saat ini. Tak bisa dipungkiri bahwa negara Indonesia adalah salah satu negara yang...

Pilu-Kasih di Medan Aksi

Malam itu menjadi momen yang tak terlupakan. Saya kira, saya hanya akan menghabiskan malam dengan makan atau nongkrong di kafe favorit bersama sang kekasih....

Pendidikan di Era Disrupsi (Catatan Karya Yudi Latif)

Yudi Latif lebih muda 10 tahun dari saya. Dan walau saya, tentunya, lebih awal menulis, Yudi jelas jauh lebih produktif. Dua bulan lalu, saya diminta...

Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Pendidikan di Indonesia

Sudah 8 bulan lalu kasus virus Covid-19 menyerang dunia. Begitu cepatnya perubahan wabah Covid-19 dari Endemi hingga memenuhi syarat menjadi Pandemi, wabah yang mendunia....

Kelamnya Dunia Politik di Thailand

Apa yang kalian bayangkan tentang negara Thaiand? Ya, negara gajah putih tersebut sangat dikenal dengan keindahannya. Apalagi keindahan pantai yang berada di Krabi dan...

ARTIKEL TERPOPULER

Sandiwara Dibalik Pernikahan Raja Majapahit Bali

Belakangan di Bali ramai pemberitaan mengenai acara pertunangan Raja Majapahit Bali bernama lengkap Abhiseka Ratu Dr Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna Mahendradatta Wedasteraputra...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Pendidikan di Era Disrupsi (Catatan Karya Yudi Latif)

Yudi Latif lebih muda 10 tahun dari saya. Dan walau saya, tentunya, lebih awal menulis, Yudi jelas jauh lebih produktif. Dua bulan lalu, saya diminta...

Pemuda, Agama Sipil, dan Masa Depan Indonesia

Sejarah sangat berguna untuk mengetahui dan memahami masa lampau, dalam rangka menatap masa depan, ungkap Ibnu Khaldun (1332-1406 M). Semestinya tidak hanya dibaca sebagai...

Pandangan 2 Mazhab Hukum Terhadap Putusan MA Soal Eks Napi Koruptor

Pertengahan tahun 2018 ini publik dikagetkan dengan hadirnya PKPU No. 20/2018 yang dalam Pasal 4 ayat (3) menyatakan bahwa Pengajuan daftar bakal calon anggota...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.