Senin, April 12, 2021

Prabowo yang Segarang Harimau atau Jokowi yang Secerdik Rubah?

Geliat Pilpres, Masyarakat Lupa Harus Memilih Legislatif

Gemerlap kampanya baik di media massa maupun aksi lapangan cukup mendebarkan menjelang pesta demokrasi Indonesia di 2019 ini. Semua stakeholder penting mengambil perannya dengan...

Tumbangnya Politik Emak-Emak di Pilpres 2019

Emak-emak menjadi idola baru di panggung politik kita dewasa ini. Ia yang selama ini nyaris tidak pernah diperhitungkan dalam konstelasi perpolitikan kita, kini ia...

El Hombre de Las Mil Caras, Parodi Politik di Film Spanyol

Perkenalkan, "El Hombre de Las Mil Caras". Itu adalah film bajigur asal Spanyol. Berkisah tentang seseorang yang mempecundangi seluruh negeri. Si penipu ulung. Tokoh...

Amien Versus Luhut: Tontonan “Politik Opera Sabun”

Perdebatan sengit antara Amien Rais dan Luhut Binsar Pandjaitan yang diekspos sejumlah media massa, menarik perhatian publik dan menjadi viral di masyarakat. Dua tokoh...
Adib Khairil Musthafa
Tukang tidur yang banyak mimpi | Pegiat Literasi di Tasawwuf Institute Malang |

Klimaks suasana politik perhelatan pilpres 2019 semakin terasa membuat kita gerah, makna politik sabagai entitas paling mulia dalam mengangkat derajad manusia yang berkeadilan, bertanggung jawab dan hanya bertujuan memberikan seluas-luasnya kepentingan dan kesejahteraan rakyat, hanya menjadi narasi-narasi kosong yang tak hanya miskin gagasan dan ide, namun cenderung mangkrak dan tidak produktif.

Bukan hal yang baru, kenyataan politik kita hari ini, lebih banyak diramaikan persaingan politik naratif yang semakin gagal menagkap pesan-pesan penting demokrasi yang seharusnya bernuansa egaliter dan kaya gagasan, berbagai isu-isu terus saja dihidangkan, hoax, SARA, ujaran kebencian hingga yang mengarah pada persoalan sektarian.

Oposisi dan Petahana

Menyoal politik maka kita akan jauh berbicara tentang hasil daripada proses, hasil yang baik adalah tujuan dari politik itu sendiri, #2019 menjadi ajang kontestasi adu strategi, adu gagasan, adu ide, bahkan adu sentimen atau bisa jadi adu sensasi antar dua kubu yang kita sebut, “Petahana” dan “Oposisi”, jika diruntut berbagai isu-isu yang terjadi akhir-akhir ini mau tidak mau harus kita akui sebagai dampak dari pertarungan dua kubu.

Oposisi misalnya sebagai penantang, semakin memperdalam karakternya sebagai aktor antagonis dalam kontestasi ini, mulai dari, munculnya tagar #2019GantiPressiden, lengsernya gubernur DKI Jakarta Basuki Cahaya Purnama atau Ahok, hingga reuni aksi 212 yang semakin memperjelas bahwa permainan itu tak jauh dari kepentingan kontestasi di 2019.

Petahanapun tak jauh berbeda, meski jika dilihat metode politik yang digunakan cendrung Protagonis, tak heran karena saat ini petahana sebagai pemangku kebijakan memang terasa semakin jelas menggunakan metode-metode legitimasi kekuasaan, sebut saja bagaimana aksi reuni 212 nyaris tak diliput dalam media massa, atau legitimasi hukum terhadap Habib Bahar yang dituduh menghina kubu petahana.

Strategi Harimau dan Rubah

Adu Strategi memang menjadi kewajaran dalam politik, Machiavelli salah satu tokoh filsafat politik dalam bukunya The Prince mempunyai sebuah kredo terkenal bahwa, Seorang pemimpin yang baik adalah seseorang yang dicintai atau ditakuti?’

Machiavelli pun berpendapat bahwa lebih baik ditakuti daripada dicintai, menurut Machiavelli seorang pemimpin harus mengabaikan pertimbangan moral sepenuhnya dan mengandalkan segala sesuatunya atas kekuatan, akal, dan bisa juga kelicikan. Dalam mempertahankan kekuasaan, dibutuhkan cara kekerasan, keluwesan hingga tipu daya jika perlu.

Tentu hari ini kita melihat konsep Machiavelli seperti dikemas dengan selaput atau bungkus yang beraneka rupa, dalam berbagai bentuk negosiasi, timbal-balik, atau lempar batu sembunyi tangan.

Segalanya dilakukan untuk sebuah tujuan politik, dengan cara apapun dan mengorbankan apapun, kemanusiaan, moral, nilai bahkan parahnya sampai pada kurang ajarnya etika politik para elite kita.

Rakyat dipertontonkan kebodohan-kebodohan yang herannya masih saja mereka pelihara. Penilaian terhadap strategi yang dilakukan para politisi dari dua kubu seakan terbelah menjadi dua, antara harapan dan kekecewaan, disatu sisi harapan bahwa gagasan-gagasan yang dibawa oleh kedua calon pemimpin mampu menjawab persoalan-persoalan rakyat secara kompleks, mengembalikan marwah entitas yang kita sebut politik sebagai satu dari banyaknya sarana menghidangkan kepentingan dan kesejahteraan rakyat.

Namun, disisi lain kita di hadapkan pada sinisme, bahwa tontonan yang mereka hidangkan semakin membuka pikiran, tentang ada jarak yang amat lebar dan luas tentang transaksi kesepakatan di ruang belakang dan dapur-dapur partai politik, hal itu bisa dilihat dari tingkat kebohongan yang ditampakkan oleh alur cerita yang  mereka rancang dan sutradarai  sendiri.

Maka pertanyaannya bisakah sebenarnya menjadi politisi dan orang baik secara bersamaan?, atau hematnya bisakah politisi menjadi politisi santun? Machiavelli memberikan keberanian tegas dengan mengatakan, Tidak!.

Menurut Machiavelli kemajuan politik jauh lebih mudah terjadi pada orang yang tidak bermoral. Lantas mungkinkah Kubu Oposisi dan Petahana memang tak ada yang bermoral?Pandangan tersebut tentu merupakan pandangan Subjektif seorang Filsuf Politik, yang tak sepenuhnya bisa kita anggap benar ataupun sepenuhnya dianggap salah, dalam proses politik kita hari ini persepsi Machiavellli tentang istilah “Segarang Harimau Secerdik Rubah” di hidangkan oleh dua calon pemimpin kita dengan karakter masing-masing.

Hal mendasar yang sebenarnya harus diperhatikan dalam politik adalah kepentingan dan kesejahteraan rakyat, terlepas dari bagaimana proses politik yang dilakukan oleh dua kubu, selama tidak memecah belah rakyat sebagai tuan mereka maka strategi-strategi politik baik yang dilakukan oposisi dengan karakter antagonisnya ataupun oleh petahana dengan karakter keluwesannya jika memang menjadi keharusan akan menjadi kewajaran dalam proses demokrasi.

Seorang politisi memang dipanggil untuk mampu menguasai dua karakter konsep Machiavelli segarang harimau dan secerdik rubah, yaitu politisi yang licin sekaligus keras, lembut namun bisa menerkam, dari politisi yang seperti inilah akan muncul yang namanya Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang cerdas dalam bertindak, berdiri dikaki sendiri tak mampu diintervensi oleh kekuatan manapun apalagi kekuatan koalisi partai.

(Sumber Gambar: News.detik.com)

Adib Khairil Musthafa
Tukang tidur yang banyak mimpi | Pegiat Literasi di Tasawwuf Institute Malang |
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Bertahan Disegala Kondisi

Pandemi COVID-19 membawa beragam nilai positif. Bagi dunia pendidikan, selain orangtua mengetahui betapa susahnya Pendidik (guru/dosen) mengajar anak didik, pendidik juga bisa belajar secara...

Bagaimana Cara Mengatasi Limbah di Sekitar Lahan Pertanian?

Indonesia merupakan negara agraris yang mayoritas warganya bermata pencaharian sebagai petani. Pada bidang pertanian terutama pertanian konvensional terdapat banyak proses dari penanaman hingga pemanenan,...

Terorisme dan Paradoks Keyakinan

Jika Brian May, gitaris grup band Queen, menulis lagu berjudul "Too Much Love Will Kill You", dalam terorisme barangkali judul yang lebih tepat, "Too...

Kebebasan Berpendapat Masih Rancu

Kebebasan berpendapat merupakan sebuah bentuk kebebasan yang mutlak bagi setiap manusia. Tapi belakangan ini kebebasan itu sering menjadi penyebab perpecahan. Bagaimana bisa kebebasan yang...

Laporan Keuangan? Basi?

Berbicara soal laporan keuangan, tentu sudah tidak asing lagi di telinga orang ekonomi, apalagi yang bergelut dalam dunia akuntansi. Secara singkat, laporan keuangan adalah...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Jihad Versi Kristen?

Kamus Besar Bahasa Indonesia menuliskan arti kata jihad sebagai usaha dengan segala upaya untuk mencapai kebaikan. Mengamati definisi ini paling tidak kita memiliki pengertian...

Umat Kristiani Bukan Nashara [Kaum Nasrani]

Dalam bahasa Arab, kata "nashara" merupakan bentuk jamak dari "nashrani". Sebutan "umat Nasrani" secara salah-kaprah digunakan untuk merujuk pada umat Kristiani, penganut agama Kristen....

Terorisme dan Paradoks Keyakinan

Jika Brian May, gitaris grup band Queen, menulis lagu berjudul "Too Much Love Will Kill You", dalam terorisme barangkali judul yang lebih tepat, "Too...

Mengenang Hans Küng (1928-2021), Tokoh Dialog Antar Agama

Bagi para pegiat dialog antar agama, sosok dan pemikiran Hans Küng tak asing lagi. Namanya kerap disebut seiring dengan pemikirannya tentang upaya mewujudkan perdamaian...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.