Rabu, Maret 3, 2021

Prabowo yang Segarang Harimau atau Jokowi yang Secerdik Rubah?

Pendidikan Profetik: Solusi Pendidikan Abad 21

Yang hendak dikaji dalam tulisan ini ialah profetisme sebagai satu paradigma pendidikan di abad 21. Profetisme sebagai satu paradigma layak diamini oleh semua umat...

Fungsi Mahasiswa dan Faktor yang Mempengaruhinya

Mahasiswa itu adalah insan yang berasal dari masyarakat luhur namun diberikan kelebihan intelektual, sehingga menjadi masyarakat yang luar biasa. Seorang mahasiswa diberikan kecerdasan lebih...

Netralitas ASN dalam Pilkada 2020

Setelah usai hiruk-pikuk penyelenggaraan pemilu serentak 2019 yang pertama kali dalam sejarah bangsa, kini masyarakat Indonesia kembali dihadapkan pada pesta demokrasi yang sama yakni...

Merasakan Wisata Pluralisme di Desa Mbawa-Donggo, Bima

  Kalau sekiranya Anda sempat berkunjung ke Bima - Nusa Tenggara Barat, cobalah berwisata ke sebuah desa tradisional yang unik, yakni Desa Mbawa, Kecamatan Donggo....
Adib Khairil Musthafa
Tukang tidur yang banyak mimpi | Pegiat Literasi di Tasawwuf Institute Malang |

Klimaks suasana politik perhelatan pilpres 2019 semakin terasa membuat kita gerah, makna politik sabagai entitas paling mulia dalam mengangkat derajad manusia yang berkeadilan, bertanggung jawab dan hanya bertujuan memberikan seluas-luasnya kepentingan dan kesejahteraan rakyat, hanya menjadi narasi-narasi kosong yang tak hanya miskin gagasan dan ide, namun cenderung mangkrak dan tidak produktif.

Bukan hal yang baru, kenyataan politik kita hari ini, lebih banyak diramaikan persaingan politik naratif yang semakin gagal menagkap pesan-pesan penting demokrasi yang seharusnya bernuansa egaliter dan kaya gagasan, berbagai isu-isu terus saja dihidangkan, hoax, SARA, ujaran kebencian hingga yang mengarah pada persoalan sektarian.

Oposisi dan Petahana

Menyoal politik maka kita akan jauh berbicara tentang hasil daripada proses, hasil yang baik adalah tujuan dari politik itu sendiri, #2019 menjadi ajang kontestasi adu strategi, adu gagasan, adu ide, bahkan adu sentimen atau bisa jadi adu sensasi antar dua kubu yang kita sebut, “Petahana” dan “Oposisi”, jika diruntut berbagai isu-isu yang terjadi akhir-akhir ini mau tidak mau harus kita akui sebagai dampak dari pertarungan dua kubu.

Oposisi misalnya sebagai penantang, semakin memperdalam karakternya sebagai aktor antagonis dalam kontestasi ini, mulai dari, munculnya tagar #2019GantiPressiden, lengsernya gubernur DKI Jakarta Basuki Cahaya Purnama atau Ahok, hingga reuni aksi 212 yang semakin memperjelas bahwa permainan itu tak jauh dari kepentingan kontestasi di 2019.

Petahanapun tak jauh berbeda, meski jika dilihat metode politik yang digunakan cendrung Protagonis, tak heran karena saat ini petahana sebagai pemangku kebijakan memang terasa semakin jelas menggunakan metode-metode legitimasi kekuasaan, sebut saja bagaimana aksi reuni 212 nyaris tak diliput dalam media massa, atau legitimasi hukum terhadap Habib Bahar yang dituduh menghina kubu petahana.

Strategi Harimau dan Rubah

Adu Strategi memang menjadi kewajaran dalam politik, Machiavelli salah satu tokoh filsafat politik dalam bukunya The Prince mempunyai sebuah kredo terkenal bahwa, Seorang pemimpin yang baik adalah seseorang yang dicintai atau ditakuti?’

Machiavelli pun berpendapat bahwa lebih baik ditakuti daripada dicintai, menurut Machiavelli seorang pemimpin harus mengabaikan pertimbangan moral sepenuhnya dan mengandalkan segala sesuatunya atas kekuatan, akal, dan bisa juga kelicikan. Dalam mempertahankan kekuasaan, dibutuhkan cara kekerasan, keluwesan hingga tipu daya jika perlu.

Tentu hari ini kita melihat konsep Machiavelli seperti dikemas dengan selaput atau bungkus yang beraneka rupa, dalam berbagai bentuk negosiasi, timbal-balik, atau lempar batu sembunyi tangan.

Segalanya dilakukan untuk sebuah tujuan politik, dengan cara apapun dan mengorbankan apapun, kemanusiaan, moral, nilai bahkan parahnya sampai pada kurang ajarnya etika politik para elite kita.

Rakyat dipertontonkan kebodohan-kebodohan yang herannya masih saja mereka pelihara. Penilaian terhadap strategi yang dilakukan para politisi dari dua kubu seakan terbelah menjadi dua, antara harapan dan kekecewaan, disatu sisi harapan bahwa gagasan-gagasan yang dibawa oleh kedua calon pemimpin mampu menjawab persoalan-persoalan rakyat secara kompleks, mengembalikan marwah entitas yang kita sebut politik sebagai satu dari banyaknya sarana menghidangkan kepentingan dan kesejahteraan rakyat.

Namun, disisi lain kita di hadapkan pada sinisme, bahwa tontonan yang mereka hidangkan semakin membuka pikiran, tentang ada jarak yang amat lebar dan luas tentang transaksi kesepakatan di ruang belakang dan dapur-dapur partai politik, hal itu bisa dilihat dari tingkat kebohongan yang ditampakkan oleh alur cerita yang  mereka rancang dan sutradarai  sendiri.

Maka pertanyaannya bisakah sebenarnya menjadi politisi dan orang baik secara bersamaan?, atau hematnya bisakah politisi menjadi politisi santun? Machiavelli memberikan keberanian tegas dengan mengatakan, Tidak!.

Menurut Machiavelli kemajuan politik jauh lebih mudah terjadi pada orang yang tidak bermoral. Lantas mungkinkah Kubu Oposisi dan Petahana memang tak ada yang bermoral?Pandangan tersebut tentu merupakan pandangan Subjektif seorang Filsuf Politik, yang tak sepenuhnya bisa kita anggap benar ataupun sepenuhnya dianggap salah, dalam proses politik kita hari ini persepsi Machiavellli tentang istilah “Segarang Harimau Secerdik Rubah” di hidangkan oleh dua calon pemimpin kita dengan karakter masing-masing.

Hal mendasar yang sebenarnya harus diperhatikan dalam politik adalah kepentingan dan kesejahteraan rakyat, terlepas dari bagaimana proses politik yang dilakukan oleh dua kubu, selama tidak memecah belah rakyat sebagai tuan mereka maka strategi-strategi politik baik yang dilakukan oposisi dengan karakter antagonisnya ataupun oleh petahana dengan karakter keluwesannya jika memang menjadi keharusan akan menjadi kewajaran dalam proses demokrasi.

Seorang politisi memang dipanggil untuk mampu menguasai dua karakter konsep Machiavelli segarang harimau dan secerdik rubah, yaitu politisi yang licin sekaligus keras, lembut namun bisa menerkam, dari politisi yang seperti inilah akan muncul yang namanya Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang cerdas dalam bertindak, berdiri dikaki sendiri tak mampu diintervensi oleh kekuatan manapun apalagi kekuatan koalisi partai.

(Sumber Gambar: News.detik.com)

Adib Khairil Musthafa
Tukang tidur yang banyak mimpi | Pegiat Literasi di Tasawwuf Institute Malang |
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Polwan Yuni Purwanti yang Terjebak Mafia Narkoba

Publik terkejut. Jagad maya pun ribut. Ini gegara Kapolsek Astana Anyar, Kota Bandung, Kompol Yuni Purwanti Kusuma Dewi terciduk tim reserse antinarkoba Polda Jabar....

Stop Provokasi, Pelegalan Miras? Mbahmu!

Lampiran Perpres yang memuat izin investasi miras di daerah tertentu, baru saja dicabut oleh Presiden. Ini disebabkan karena banyak pihak merasa keberatan. Daripada ribut...

Beragama di Era Google, Mencermati Kontradiksi dan Ironi

Review Buku Denny JA, 11 Fakta Era Google: Bergesernya Pemahaman Agama, dari Kebenaran Mutlak Menuju Kekayaan Kultural Milik Bersama, 2021 Fenomena, gejala, dan ekspresi...

Artijo dan Nurhadi di Mahkamah Agung

In Memoriam Artijo Alkostar Di Mahkamah Agung (MA) ada dua tokoh terkenal. Artijo Alkostar, Hakim Agung di Kamar Pidana dan Nurhadi, Sekjen MA. Dua tokoh MA...

Gangguan Jiwa Skizofrenia

Kesehatan jiwa adalah kondisi dimana individu dapat berkembang secara fisik, mental, spiritual dan social sehingga individu tersebut menyadari kemampuan diri sendiri. Dapat mengatasi tekanan,...

ARTIKEL TERPOPULER

Common Sense dalam Filsafat Ilmu

Ilmu filsafat selalu merumuskan tentang pertanyaan – pertanyaan kritis atas kemapanan jawaban yang sudah dipecahkan oleh ilmu pengetahuan. Pada zaman sekarang ilmu pendidikan tidak...

Artidjo Alkostar, Sebuah Kitab Keadilan

Gambaran apa yang muncul di benak Anda setiap mendengar profesi pengacara dan kepengacaraan? Apapun citra itu, Artidjo Alkostar menghancurkannya berkeping-keping. Sebagai pengacara hingga akhir 1990an,...

Ziarah Ke Media Sosial

Meminjam istilah masyarakat industrial Kuntowijoyo dalam masyarakat tanpa masjid (2001), merupakan kondisi masyarakat yang terkungkung oleh rasionalisasi, komersialisasi dan monetisasi. Mengutip pendapat Robert Bala,...

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.