Rabu, April 14, 2021

Potret Sepakbola Perancis, Petani, dan Rasisme

Belajar dari ‘Abbas Mahmud al-‘Aqqad

Sebagai mahasiswa kadang beberapa orang bertanya kepada saya: Nanti, setelah lulus kuliah, kira-kira kamu mau kerja apa? Saya suka jawab, kalau impian saya sangat...

Pak Polisi, piye Novel Baswedan?

Begitu banyak kasus- kasus besar yang mengganggu ketenangan publik selama dua bulan terakhir ini. Namun jika diklasifikasikan berdasarkan tingkat kriminalnya plus derajat kebiadabannya maka...

Duet Prabowo-Salim Segaf Al-Jufri Masih Perlu Sosialisasi Extra

Hasil Ijtima' Ulama dan Tokoh Nasional Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) merekomendasikan dua nama untuk mendampingi Ketua Umum Gerindra Prabowo Subianto pada Pilpres 2019...

Tak Usah Urus Ratna Sarumpaet

Indonesia saat ini dilanda bencana yang tentunya menyentil rasa kemanusiaan orang Indonesia selain di wilayah terjadinya gempa. Pertama di Lombok, selang beberapa bulan terjadi...
Akhmad Mukhlis
Belajar psikologi sambil menikmati sepakbola

Beberapa bulan sebelum gelaran Piala Dunia 2018, jauh sebelum Hugo Lloris mengangkat piala di tengah hujan, seorang petani zaitun dari Roya Valley (sebuah lembah di perbatasan Prancis-Italia) menjadi buah bibir di Prancis.

Cedric Herrou, nama petani itu, pertama kali menjadi perhatian publik Prancis tahun lalu ketika ia terancam hukuman 5 tahun ditambah denda sebesar € 30.000 karena membantu puluhan migran menyeberang ke Prancis, seperti dimuat dalam Guardian (4/1/2017).

Atas tuduhan tersebut dia dan teman-temannya merasa sedang dianiaya oleh kesepakatan jahat, hukum negara yang tidak adil, dia melawan. Akhirnya bertepatan dengan gemerlapnya Piala Dunia 2018, pak petani tersebut memenangkan gugatannya pada jumat, 13 Juli 2018.

Liberté, égalité, fraternité dan orang gunung

Dalam pembelaannya, Herrou dan teman-temannya menyatakan tindakannya hanyalah reflek “orang gunung”. Mereka hanya mematuhi kode sederhana yang telah dianut petani secara turun temurun, yaitu membantu orang-orang yang tersesat di gunung, memberikan makanan dan pertolongan lainnya demi keselamatan dan kelangsungan hidup mereka. Tidak ada niat ideologis apapun terkait tindakan bantuan tersebut, murni hanya rasa kemanusiaan.

Sebagai sebuah bangsa, Prancis dikenal memiliki tiga prinsip utama, yaitu “liberté, égalité, fraternité” (kebebasan, kesetaraan dan persaudaraan). Prinsip itulah yang menurut mahkamah konstitusi-nya Prancis disebut melindungi Herrou dari segala tuntutan. Hakim menyatakan bahwa fraternité menganugerahkan kebebasan setiap warga Prancis untuk membantu orang lain, demi kemanusiaan, tanpa mempertimbangan kewarganegaraan. Setiap manusia adalah saudara.

Benarkah Eropa (masih) rasis?

Sebuah keputusan yang bukan saja besar karena memenangkan petani atas sebuah negara (Prancis), namun keputusan tersebut dianggap sangat signifikan bagi seantero Eropa yang dianggap semakin memusuhi para migran. Tuduhan yang amat serius bagi bangsa eropa.

Nyatanya, anggapan tersebut bukanlah isapan jempol semata. Lihat saja sepakbola Prancis, dua kali meraih Piala Dunia, dua kali juga skuad tim nasional mereka dipenuhi oleh anak-anak migran. Deschamp membawa 19 dari 23 pemain berbau migran, entah itu anak dari seorang migran ataupun seorang migran tulen. Pranscis seolah-olah ‘terlihat’ sebagai negara yang ramah akan pendatang.

Nyatanya, commission nationale consultative des droits de l’homme (CNCDH) atau komisi hak asasi nasional Prancis dalam rilisnya menyatakan hal yang bertolak belakang. Le Monde (22/3/2018) mempublikasikan data CNCDH yang menyatakan bahwa 40% masyarakat Prancis percaya bahwa Islam merupakan ancaman terbesar mereka. Itu merupakan angka terbesar diantara minoritas lainnya yang kesemuanya tidak ada yang mencapai kepercayaan melebihi angka 80%.

Pertanyaannya adalah bagaimana mungkin negara yang merepresentasikan dirinya terbuka melalui sepakbola (beragamnya etnis), ternyata memendam prasangka terhadap minoritas. Bahkan bintang utama mereka Pogba dan Kante adalah seorang penganut Islam, merek kaum minoritas.

Lebih jauh, Montaigne Institute mempublikasikan tentang akses laki-laki muslim dan kepercayaan lainnya. Penelitian yang digawangi oleh Marie-Anne Valfort  -dosen senior Sorbonne yang dipublikasikan The Local (9/10/2015) menyebut bahwa di Prancis seorang lelaki muslim hanya memiliki kemungkinan 4,7% untuk dipanggil wawancara kerja dibandingkan 17,9% kesempatan yang diperoleh lelaki katolik.

Itu artinya, akses muslim hanya  ¼ dibandingkan penganut katolik. Jika dibandingkan dengan Yahudi (15,8%), penganut Islam juga kalah jauh untuk mendapatkan akses kerja, padahal Yahudi dibayangi tragedi Holocaust. Bahkan muslim di Prancis disebut mendapatkan perlakuan diskrimasi lebih buruk daripada apa yang diterima keturunan Afrika di Amerika Serikat.

Fakta lain adalah bahwa pada pemilihan presiden terakhir, Marine Le Pen yang merupakan tokoh konservatif mendapatkan 7,6 juta pemilih atau 20% suara nasional. Guardian menyebut fakta tersebut sebagai rekor terbaru perolehan suara kandidat yang diusung partai berhaluan kanan tersebut.

Setelah era Zidane tahun 1998, kita memiliki gambaran bahwa Prancis adalah negara multietnis. Hal tersebut diperkuat dengan slogan yang muncul saat itu, “black, blanc, beur”(hitam, putih, arab) yang mewakili semua elemen tim nasional saat itu. Namun nyatanya selama 20 tahun telah berlalu, Prancis masih menyimpan bara rasisme.

Lagi-lagi sepakbola

Prasangka, sisnisme dan ketidakpercayaan atas komitmen imigran atau minoritas menggambarkan betapa susahnya rasisme dihapuskan. Faktanya, 20 tahun kemudian sepakbola menjadi salah satu dari sedikit jalan yang dapat dilewati para imigran untuk mengangkat harkatnya sebagai manusia.

Bahwa anak-anak imigran bisa mendapatkan kesejahteraan material maupun sosial melalui sepakbola. Sepakbola tetap adem meskipun melewati panasnya bara prasangka rasial. Bahkan dalam perayaan kemenangan, slogan liberté, égalité, fraternité dipelesetkan menjadi liberté, égalité, mbappé. Kita tahu Mbappe adalah bintang muda yang mencetak gol di partai final dan bermain gemilang sepanjang laga. Namun kita juga paham bahwa plesetan tersebut juga bisa diartikan Mbappe sebagai representasi anak imigran, kaum minoritas.

Lihat saja semua gambar yang diabadikan dalam dua kali momen pemberian piala tahun 1998 dan 20 tahun kemudian, 2018. Itulah gambar terhebat yang membantu kita untuk mengenali sejauh mana kita tersesat.

Apakah kita sengaja menyesatkan diri dalam prasangka rasial, ataukah memang mata dan indera kita yang lain telah ditutupi oleh kebalnya kabut sehingga tidak merasakan bahwa ada liyan disekitar kita. Mereka memiliki hak yang sama dengan kita. Sayangnya potret itu ‘hanya’ potret sepakbola. Entah sampai kapan itu menjadi potret asli kehidupan kita. Berbeda, bersama dan bahagia.

Akhmad Mukhlis
Belajar psikologi sambil menikmati sepakbola
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Menolak lupa: Seputar Perjalanan Covid-19 di Indonesia

Tidak terasa kasus pandemi Covid-19 di Indonesia hampir berusia 1 tahun. Apabila kita ibaratkan sebagai manusia, tentu pada usia tersebut belum bisa berbuat banyak,...

Eren Yeager, Kesadaran dan Kebebasan

Pemberitahuan: esai ini terdapat cuplikan cerita Attack on Titan (AoT) episode 73. Pada musim akhir seri AoT, Eren Yeager tampil dengan kondisi mental yang jauh lebih...

Dibalik Kunjungan Paus Fransiskus ke Timur Tengah

  Tak dapat disangkal kekristenan bertumbuh dan berkembang dari Timur Tengah. Sebut saja, antara abad 1-3 masehi, kekristenan praktisnya berkembang pesat di sekitar wilayah Asia...

Bertahan Disegala Kondisi

Pandemi COVID-19 membawa beragam nilai positif. Bagi dunia pendidikan, selain orangtua mengetahui betapa susahnya Pendidik (guru/dosen) mengajar anak didik, pendidik juga bisa belajar secara...

Bagaimana Cara Mengatasi Limbah di Sekitar Lahan Pertanian?

Indonesia merupakan negara agraris yang mayoritas warganya bermata pencaharian sebagai petani. Pada bidang pertanian terutama pertanian konvensional terdapat banyak proses dari penanaman hingga pemanenan,...

ARTIKEL TERPOPULER

Terorisme dan Paradoks Keyakinan

Jika Brian May, gitaris grup band Queen, menulis lagu berjudul "Too Much Love Will Kill You", dalam terorisme barangkali judul yang lebih tepat, "Too...

Peranan Terbesar Manajemen Dalam Bisnis Perhotelan

Melihat fenomena sekarang ini mengenai bisnis pariwisata di Indonesia yang terus tumbuh sesuai dengan anggapan positif dunia atas stabilnya keamanan di Indonesia mendorong tumbuhnya...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Umat Kristiani Bukan Nashara [Kaum Nasrani]

Dalam bahasa Arab, kata "nashara" merupakan bentuk jamak dari "nashrani". Sebutan "umat Nasrani" secara salah-kaprah digunakan untuk merujuk pada umat Kristiani, penganut agama Kristen....

Bertahan Disegala Kondisi

Pandemi COVID-19 membawa beragam nilai positif. Bagi dunia pendidikan, selain orangtua mengetahui betapa susahnya Pendidik (guru/dosen) mengajar anak didik, pendidik juga bisa belajar secara...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.