Minggu, Maret 7, 2021

Politik Praktis dan Wacana Pemecah Belah Bangsa

Arah Langkah Media Konvensional di Era Revolusi Industri 4.0

Saat ini kita telah merasakan sebuah fenomena yang dinamakan globalisasi. Globalisasi bermakna bahwa seluruh wilayah di penjuru dunia terhubung nyaris tanpa ada batas, termasuk...

Pemimpin Perempuan dan Bahayanya Male Sentrism

Sampai detik ini saya masih melongo, menyadari bahwa suara rakyat ternyata tidak digubris sama sekali oleh wakil rakyat di Senayan. Lebih-lebih ketika membaca berita...

Perkembangan Kejahatan Pasca Pandemi

Pandemi Covid19 telah menjadi masalah multi dimensional dimana tidak hanya mengancam kesehatan manusia akan tetapi juga kelumpuhan ekonomi suatu bangsa. Di masa pandemi ini...

Perlunya Menjadi Corong Suara Islam

Amal Kassir punya niat mulia. Gadis warga Negara Amerika ini cukup mafhum bahwa setelah beberapa jam dalam penerbangan tentu aroma mulut seseorang sudah tidak...
Muh Fahrurozi
Alumni Universitas Negeri Makassar Angkatan 2015. Relawan dan Pemerhati Pendidikan.

Semakin hari, Negeri ini semakin melenceng dari tujuan awalnya didirikan. Kekuasaan yang seharusnya diambil melalui jalan musyawarah mufakat seperti yang telah diadobsi sejak dari nenek moyang, ribuan tahun lalu. Hari, ini jalan musyawarah itu telah dipelintir dengan balutan demokrasi.

Musyawarah dalam hal memilih pemimpin sebetulnya harus dilihat berdasarkan kemampuan organisatoris yang baik dan juga kecerdasan yang cakap. Dan sayangnya, kenyataanya sekarang musyawarah nasibnya sangat menyedihkan. Dia mulai dianak tirikan sejak datangnya demokrasi yang konon katanya dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat.

Kita patut memahami kenapa generasi sebelumnya mengubah kebijakan Negara menjadi kebijakan yang bernama Demokrasi (Dalam hal memilih pemimpin). Semua itu disebabkan karena MPR yang saat itu memiliki wewenang penuh dalam memilih dan mengangkat presiden sudah dimasuki oleh orang-orang tidak bertanggung jawab yang membawa misi individu dan kelompok.

Kita juga patut mengapresiasi generasi sebelumnya yang memilih demokrasi untuk menghindari politik kotor dalam internal MPR. Dan memang yang namanya politik itu akan selalu berkembang mengikuti zaman, sama seperti barang elektronik dan aksesoris lainya.

Beberapa tahun sejak perubahan pemilihan pemimpin dengan jalan Demokrasi, awalnya lancar-lancar saja, tapi itu tidak bertahan lama. Indonesia kembali dilanda oleh budaya baru, untuk mencapai kekuasaan digunakan senjata baru yaitu lewat budaya pencitraan. Sehingga beberapa orang yang menginginkan maju sebagai pemimpin mulai melakukan hal-hal baru yang dapat menarik perhatian masyarakat sebagai pemilih.

Di depan layar bersikap merakyat, turun ke sawah-sawah, datang ke daerah-daerah terpencil, benarkah itu betul-betul datang dari hati mereka? Kalaupun benar, kenapa saat dekat pemilihan baru turun? Selama ini kemana? Sudah dapat dipastikan bahwa itu semua dilakukan hanya untuk pencitraan. Dan hasilnya memang  betul-betul berkhasiat. Jokowi dengan gaya pencitraannya yang bernama ‘blusukan’ berhasil menarik perhatian masyarakat, sehingga dia terpilih menjadi presiden di tahun 2014.

Sama seperti politik yang selalu berubah, masyarakat Indonesiapun juga semakin pintar, mungkin salah satu faktornya karena media-media seperti hp dan juga jaringan internet sudah mulai masuk di daerah-daerah terpencil, sehingga akses informasi terbuka luas untuk masyarakat mengetahui bagaimana roda perpolitikan di negeri ini.

Politik pencitraan tidak lagi berlaku, entah dari mana datang lagi ide baru tentang politik praktis yang membawa kelompok-kelompok seperti Agama, ras, budaya, dst.

Politik jenis ini betul-betul terbuka lebar di Negeri ini, dan sayangnya tidak ada yang peduli. Politik seperti ini akan membuka kran pengelompokkan dan pengkotak-kotakan, sehingga pada akhirnya nanti tidak mengherankan kita akan keluar dari semboyan ‘bhineka tunggal ika’ yang selama ini sudah mengeratkan semangat persauan masyarakat Indonesia.

Di khawatirkan jika hal semacam ini jika terus dilanjutkan dan tidak ada upaya pencegahan, jelas sudah suatu saat bangsa ini akan bubar seperti yang ramai dibicarakan.

Tidak mengherankan juga, selanjutnya akan ada jenis politik baru yang tentunya lebih kotor dari politik hari ini. Dan itu akan semakin memperlebar gerbang pemecahan bangsa. Belum lagi Aceh dan Papua beberapa tahun belakangan ini terus-terus menggemakan pemisahan diri dengan Indonesia.

Jika kesadaran berbangsa dan negaranya masih tetap tidak ada, maka kita perlu mempersiapkan diri kita untuk menyambut Negara baru, atau mungkin saja menjadi budak dan menghamba ketika penjajah gaya baru masuk menguasai negeri ini seperti berabad-abad lalu.

Mari kita kembali ke Pancasila dan UUD 1945 yang sebenarnya. Mari tumbuhkan kembali kesadaran patriotisme dan nasionalisme Negara. Itu satu-satunya harapan untuk mempertahankan Negeri yang dimerdekakan diatas lautan darah bercampur keringat dan air mata ini.

Muh Fahrurozi
Alumni Universitas Negeri Makassar Angkatan 2015. Relawan dan Pemerhati Pendidikan.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Ranking Kampus Dunia: Jangan Salah Kaprah

Baru-baru ini dunia pendidikan tinggi kita mendapatkan gabar gembira. Lima perguruan tinggi (PT) asal Indonesia menempati 10 universitas Islam terbaik dunia. Bahkan salah satunya...

Rock and Roll, Budaya yang Terusir

Penyebaran virus Rock and roll tidak hanya datang dari radio luar negeri, tapi juga dari rekaman piringan hitam yang dibawa dari luar negeri dan...

Cantik Hemat dari Dapur

Cantik adalah impian bagi setiap perempuan. Sejak umat manusia tercipta, kecantikan menjadi sebuah patok keindahan. Terbukti dari kisah dua orang putra nabi Adam yang...

Apa Hubungannya Toleransi dan Kearifan Lokal?

“Hai seluruh manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya...

Lubang Hitam Narasi Teroris Selama Pandemi

Sudah lima hari sejak saya terkonfirmasi positif Covid-19. Rasanya begitu berat, alih-alih sekedar menyerang fisik, rupanya virus ini juga menyerang mental. Untuk itu, saya...

ARTIKEL TERPOPULER

Pendidikan yang Berkebudayaan, Mencipatakan Manusia Kreatif dan Otonom

Review Buku: Yudi Latif, Pendidikan yang Berkebudayaan: Histori, Konsepsi dan Aktualisasi Pendidikan Transformatif, (Jakarta: Gramedia Pustaka, 2020). Pendidikan nasional sudah seharusnya tidak meninggalkan akar-akar...

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Serial Non-Muslim Bisa Masuk Surga. Siapa Mereka?

Apa pendapat para ulama dan cendekiawan dulu dan sekarang tentang keselamatan penganut agama-agama selain syariat Nabi Muhammad Saw? Apakah orang yang biasa disebut “non-Muslim”...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Perbedaan; Pendidikan Karakter, Moral dan Akhlak

Kita lihat bila Secara filosofis, terminologi pendidikan karakter, pendidikan moral, pendidikan etika, dan pendidikan akhlak memiliki perbedaan. Terminologi pendidikan moral (moral education) lebih cenderung...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.