Minggu, Oktober 25, 2020

Politik Praktis dan Wacana Pemecah Belah Bangsa

Anak, Pendidikan, dan Kebinekaan

Sidik Nugroho*) Beberapa waktu lalu kita memperingati Hari Anak Nasional (HAN). Peringatan yang sudah berlangsung sejak 1984 ini adalah momen untuk menengok kembali, sampai sejauh...

Bolehkah Aku Mengenal Mu

Tiada kisah paling indah dalam hidup, hanyalah kisah tentang diri ku yang ingin mengenal mu. Tiada momen paling indah, hanyalah momen berjumpa dengan mu.Berjumpa,...

Bela Negara Perspektif Hukum Positif dan Hukum Islam

Diskursus bela negara akhir – akhir ini memantik diskusi yang menarik dikalangan masyarakat, hal tersebut tidak lepas dari adanya ancaman disintegrasi bangsa yang setidaknya...

Film ‘Tilik’ Gambaran ‘Bad Women’ pada Budaya Jawa

Film yang berjudul ‘Tilik’ karya Wahyu Agung Prasetyo tengah naik daun. Film yang berdurasi kurang lebih setengah jam ini memberikan banyak tanda mengenai stereotip...
Muh Fahrurozi
Mahasiswa Fakultas Teknik UNM Angkatan 2015 | Saat Ini Sedang Menjabat Sebagai Ketua Umum Lingkar Studi Pemuda Pemerhati Pendidikan Indonesia Sulsel Periode 2019-2022 | Ketua Umum Forum Lingkar Pena Universitas Negeri Makassar Periode 2019-2020 | Staf Divisi IT dan Multimedia di Generasi Anti Narkotika Nasional Wilayah Sulawesi Selatan Periode 2020-2025 | Juga sedang Aktif di Beberapa Komunitas Kerelawanan Pendidikan Pelosok |

Semakin hari, Negeri ini semakin melenceng dari tujuan awalnya didirikan. Kekuasaan yang seharusnya diambil melalui jalan musyawarah mufakat seperti yang telah diadobsi sejak dari nenek moyang, ribuan tahun lalu. Hari, ini jalan musyawarah itu telah dipelintir dengan balutan demokrasi.

Musyawarah dalam hal memilih pemimpin sebetulnya harus dilihat berdasarkan kemampuan organisatoris yang baik dan juga kecerdasan yang cakap. Dan sayangnya, kenyataanya sekarang musyawarah nasibnya sangat menyedihkan. Dia mulai dianak tirikan sejak datangnya demokrasi yang konon katanya dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat.

Kita patut memahami kenapa generasi sebelumnya mengubah kebijakan Negara menjadi kebijakan yang bernama Demokrasi (Dalam hal memilih pemimpin). Semua itu disebabkan karena MPR yang saat itu memiliki wewenang penuh dalam memilih dan mengangkat presiden sudah dimasuki oleh orang-orang tidak bertanggung jawab yang membawa misi individu dan kelompok.

Kita juga patut mengapresiasi generasi sebelumnya yang memilih demokrasi untuk menghindari politik kotor dalam internal MPR. Dan memang yang namanya politik itu akan selalu berkembang mengikuti zaman, sama seperti barang elektronik dan aksesoris lainya.

Beberapa tahun sejak perubahan pemilihan pemimpin dengan jalan Demokrasi, awalnya lancar-lancar saja, tapi itu tidak bertahan lama. Indonesia kembali dilanda oleh budaya baru, untuk mencapai kekuasaan digunakan senjata baru yaitu lewat budaya pencitraan. Sehingga beberapa orang yang menginginkan maju sebagai pemimpin mulai melakukan hal-hal baru yang dapat menarik perhatian masyarakat sebagai pemilih.

Di depan layar bersikap merakyat, turun ke sawah-sawah, datang ke daerah-daerah terpencil, benarkah itu betul-betul datang dari hati mereka? Kalaupun benar, kenapa saat dekat pemilihan baru turun? Selama ini kemana? Sudah dapat dipastikan bahwa itu semua dilakukan hanya untuk pencitraan. Dan hasilnya memang  betul-betul berkhasiat. Jokowi dengan gaya pencitraannya yang bernama ‘blusukan’ berhasil menarik perhatian masyarakat, sehingga dia terpilih menjadi presiden di tahun 2014.

Sama seperti politik yang selalu berubah, masyarakat Indonesiapun juga semakin pintar, mungkin salah satu faktornya karena media-media seperti hp dan juga jaringan internet sudah mulai masuk di daerah-daerah terpencil, sehingga akses informasi terbuka luas untuk masyarakat mengetahui bagaimana roda perpolitikan di negeri ini.

Politik pencitraan tidak lagi berlaku, entah dari mana datang lagi ide baru tentang politik praktis yang membawa kelompok-kelompok seperti Agama, ras, budaya, dst.

Politik jenis ini betul-betul terbuka lebar di Negeri ini, dan sayangnya tidak ada yang peduli. Politik seperti ini akan membuka kran pengelompokkan dan pengkotak-kotakan, sehingga pada akhirnya nanti tidak mengherankan kita akan keluar dari semboyan ‘bhineka tunggal ika’ yang selama ini sudah mengeratkan semangat persauan masyarakat Indonesia.

Di khawatirkan jika hal semacam ini jika terus dilanjutkan dan tidak ada upaya pencegahan, jelas sudah suatu saat bangsa ini akan bubar seperti yang ramai dibicarakan.

Tidak mengherankan juga, selanjutnya akan ada jenis politik baru yang tentunya lebih kotor dari politik hari ini. Dan itu akan semakin memperlebar gerbang pemecahan bangsa. Belum lagi Aceh dan Papua beberapa tahun belakangan ini terus-terus menggemakan pemisahan diri dengan Indonesia.

Jika kesadaran berbangsa dan negaranya masih tetap tidak ada, maka kita perlu mempersiapkan diri kita untuk menyambut Negara baru, atau mungkin saja menjadi budak dan menghamba ketika penjajah gaya baru masuk menguasai negeri ini seperti berabad-abad lalu.

Mari kita kembali ke Pancasila dan UUD 1945 yang sebenarnya. Mari tumbuhkan kembali kesadaran patriotisme dan nasionalisme Negara. Itu satu-satunya harapan untuk mempertahankan Negeri yang dimerdekakan diatas lautan darah bercampur keringat dan air mata ini.

Muh Fahrurozi
Mahasiswa Fakultas Teknik UNM Angkatan 2015 | Saat Ini Sedang Menjabat Sebagai Ketua Umum Lingkar Studi Pemuda Pemerhati Pendidikan Indonesia Sulsel Periode 2019-2022 | Ketua Umum Forum Lingkar Pena Universitas Negeri Makassar Periode 2019-2020 | Staf Divisi IT dan Multimedia di Generasi Anti Narkotika Nasional Wilayah Sulawesi Selatan Periode 2020-2025 | Juga sedang Aktif di Beberapa Komunitas Kerelawanan Pendidikan Pelosok |
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Berlindung di Balik Topeng Kaca, Public Figure juga Manusia

Ketika Candil lewat Grup Band Seurieus, salah satu Band Rock Kenamaan tahun 2000-an awal ini menyuarakan pendapatnya lewat lagu Rocker juga Manusia, saya seratus...

Lelaki Dilarang Pakai Skin Care, Kata Siapa?

Kamu tahu penyakit lelaki: mau menunjukkan kegagahan! (Ayu Utami, Maya) Sering kali, drama dari negeri ginseng menampilkan para aktor maskulin dengan wajah glowing (bersinar) yang menggunakan skin care (perawatan kulit...

Digitalisasi Bisnis Saat Pandemi

Pandemi Covid-19 telah mengubah secara drastis dunia usaha. Dari pasar, proses bisnis, sumber pendanaan, konsumen, tenaga kerja, tempat kerja, hingga cara bekerja, semuanya berubah...

Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Sektor Bisnis di Indonesia

Sejak COVID-19 memasuki wilayah Indonesia pada Maret 2020, pemerintah mencanangkan regulasi Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) alih-alih menerapkan lockdown. PSBB itu sendiri berlangsung selama...

Disrupsi Perbankan Perspektif Ekonomi Islam

Disrupsi berasal dari bahasa inggris disruption yang memiliki arti sebagai: gangguan, kekacauan atau permasalahan yang kemudian mengganggu aktivitas, peristiwa ataupun proses. Sedangkan inovasi disruptif yaitu...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Cara Mahasiswa Menghadapi Revolusi Industri 4.0

Teknologi selalu mengalami perubahan-perubahan seakan tidak pernah ada ujungnya. Seperti halnya saat ini teknologi sudah sangat berkembang dengan pesat terutama dalam bidang teknologi informasi...

Tanggapan Orang Biasa terhadap Demo Mahasiswa dan Rakyat 2019

Sudah dua hari televisi dihiasi headline berita demonstrasi mahasiswa, hal yang seolah mengulang berita di TV-TV pada tahun 1998. Saya teringat kala itu hanya...

10 Profesi Keren di Sektor Pertanian

Saudara saya tinggal di sebuah desa lereng Gunung Sindoro. Dari hasil pertanian, dia sukses menyekolahkan salah satu anaknya hingga lulus paska-sarjana (S2) dalam bidang...

Mengapa Pancasila Membolehkan Paham Ateisme?

Dalam pasal 156a KUHP disebutkan bahwa “Dipidana dengan pidana penjara selama-lamanya lima tahun, barang siapa dengan sengaja di muka umum mengeluarkan perasaan atau melakukan...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.