Sabtu, Februari 27, 2021

Politik Pengakuan Berdasarkan Sudut Pandang Charles Taylor

Politik dan Monopoli Media Sosial

Saat ini, kita hidup di era cyberspace (dunia maya). Era yang pertama kali diperkenalkan oleh William Gibson dalam buku Neuromancer itu, dimaknai sebagai suatu...

Menabur Kampanye Provokatif, Sandi Merusak Moral Bangsa?

Cawapres nomor urut 02, Sandiaga Uno terus mengumbar pernyataan provokatif dalam setiap kali safari kampanyenya. Contoh teranyar kampanye ‘ngawur’ Sandi ialah ketika dia menemui...

Karakteristik Milenial di Era Disrupsi

Dewasa ini, pemakaian istilah Disrupsi masih terdengar asing oleh kaum muda atau generasi milenial sekarang. Lalu apa sebenarnya yang dimaksud dengan disrupsi?. Jika kita...

Debat Ketiga, Panggung ‘Dramaturgi’ Kiai Ma’ruf Amin

Debat Kandidat yang ketiga adalah panggung pertunjukan yang menentukan penilaian, siapakah yang terbaik membangun cerita itu. Tentunya, mereka yang mampu menyajikan penampilan dari perjalanan...
Brian Fauzy Firdaus
Hello ! Welcome in my bio :)

Sebelum kita mengenal lebih jauh tentang politik pengakuan, haruslah mengenal tokoh nya terlebih dahulu. Siapakah tokoh tersebut? Tokoh tersebut adalah Charles Taylor. Charles Taylor lahir pada 5 November 1931. Ia berasal dari Kanada, yakni kota Montreal, Quebec. Ia adalah seorang filsuf yang memiliki jangkauan penelitian dan refleksi sangat luas, mulai dari filsafat politik, filsafat ilmu-ilmu sosial, dan sejarah filsafat.

Pada 1952 Taylor meraih gelar B.A pada bidang sejarah dari Universitas McGill. Kemudian ia melanjutkan studi ke Oxford pada bidang filsafat, politik, dan ekonomi. Pada 1955, ia menjalani studi doktoral di bawah Isaiah Berlin dan G.E.M Anscombe pada bidang filsafat.

Apa yang dimaksud dengan politik pengakuan?

Politik pengakuan secara etimologi, pengakuan berarti “menemukan” atau “mengetahui sesuatu atau seseorang sekali lagi” yang berasal dari kata kerja Latin cognoscere yang berarti mengetahui dan prefiks “re”. Menurut etimologi ini, pengakuan berarti tindakan untuk memperoleh pengetahuan sekali lagi, yang membuka kemungkinan untuk melihat seseorang yang kita temui dalam keseharian hidup kita dalam cara pandang yang baru, dengan “mata yang baru”.

Dengan kata lain, ada perhatian yang benar pada ciri atau sifat dan aspek yang barangkali tidak kita sadari atau lihat saat perkenalan awal. Konsep pengakuan ini masuk dalam diskursus politik sejak akhir abad ke-20. Diskursus ini kemudian berkembang menjadi topik yang hangat dalam etika politik post modern pada awal abad ke-21 ini. Salah satu filsuf yang getol membicarakan konsep politik pengakuan ini adalah Charles Taylor.

Tambahan sebagai sebuah konsep, politik pengakuan berutang akar filosofisnya kepada Georg Hegel yang mendalilkan bahwa identitas individu dibangun melalui proses saling pengakuan antara orang atau subjek yang berbeda. Dengan demikian, pengakuan sosial, atau penerimaan, sangat penting untuk pengembangan gagasan tentang diri seseorang. Politik pengakuan, seperti yang dikembangkan oleh filsuf politik termasuk Charles Taylor dan Nancy Fraser, memainkan peran penting dalam perjuangan untuk hak-hak minoritas seksual, etnis, bahasa atau agama yang terpinggirkan, yang memandang diri mereka sama dan berbeda dari mayoritas dominan di dalamnya negara-bangsa.

CharlesTaylormenjelaskan konsep politik pengakuannya dengan bertolak dari perjuangan kelompok orang berbahasa Prancis di Provinsi Quebec, Kanada untuk mempertahankan identitas kulturalnya. Tujuan perjuangan warga Quebec adalah untuk melindungi budaya minoritas berbahasa Prancis yang terancam punah di bawah hegemoni budaya berbahasa Inggris di Amerika Utara (Madung, 2017).

Dengan mengacu pada perjuangan masyarakat Quebec, Taylor menegaskan pentingnya memberikan pengakuan terhadap keunikan dan perbedaan yang dimiliki oleh suatu kelompok tertentu. Pengakuan yang kita berikan dapat menjadi jaminan bagi suatu kelompok tertentu untuk tetap mempertahankan identitasnya.

Menurut Taylor, identitas adalah sebuah pemahaman akan diri, tentang karakteristik fundamental yang mendefinisikan kemanusiaan seorang individu. Ketiadaan pengakuan menghalangi individu untuk merealisasikan diri sebagai manusia.

Dalam artikelnya yang berjudul “The Politic of Recognition” yaitu “Identitas kita sebagiannya dibentuk oleh pengakuan atau ketiadaan pengakuan, sering oleh kesalahan pengakuan dari orang lain sehingga seorang pribadi atau sekelompok orang bisa menderita kerugian, distorsi, kalau orang atau komunitas sekitar mereka memberikan gambaran yang mengikat atau merendahkan atau menghina. Ketiadaan pengakuan atau pengakuan yang salah dapat mendatangkan kerusakan dan memenjarakan orang dalam model yang salah, distorsif dan reduktif.” – Charles Taylor

Tesis Taylor di atas menggarisbawahi konsep antropologis Taylor bahwa pengakuan merupakan kebutuhan vital manusia. Ketiadaan pengakuan tidak saja menunjukkan ketiadaan penghormatan melainkan menciptakan luka yang mendalam dalam diri manusia. Jadi, konsep politik pengakuan Taylor pada dasarnya lebih menekankan pentingnya penghargaan terhadap kekhasan identitas yang dimiliki oleh setiap individu atau kelompok.

Pemahaman tentang identitas ini juga berkelindan dengan prinsip otentisitas. Prinsip ini menuntut keberadaanku yang asli sebagai individu dan kelompok budaya. Akibatnya, identitas individu dan kelompok budaya tidak bergantung pada hierarki sosial atau kondisi eksternal melainkan sebuah ziarah kembali ke dalam diri.

Konsep politik pengakuan seperti yang digagas oleh Taylor ini tentunya sangat relevan dengan realitas politik saat ini. Dalam kaitan dengan pertarungan politik, para aktor politik biasanya berusaha untuk memperoleh dukungan dalam kelompok mayoritas dan mengabaikan dukungan dari kelompok minoritas. Alhasil, ketika mereka berhasil meraih kursi kekuasaan politik, kepentingan kelompok mayoritaslah yang lebih mereka utamakan.

Selan berkaitan dengan keragaman budaya yang dimiliki oleh seorang pribadi atau kelompok, konsep pengakuan sebagai jaminan identitas Taylor juga berkaitan dengan pengakuan akan kualitas-kualitas pribadi yang dimiliki oleh seorang individu.

Oleh karena itu, dalam setiap pertarungan politik, khususnya dalam pemilu (nanti), hal utama yang perlu diperhatikan oleh setiap aktor politik adalah pengakuan akan kualitas-kualitas yang dimiliki oleh setiap pribadi. Itu berarti, setiap aktor politik yang bertarung untuk merebut kekuasaan politik harus membangun sikap saling menghargai dan mengakui berbagai kualitas-kualitas yang ada dalam diri masing-masing.

Sikap saling mengakui dan menghargai berbagai kualitas yang ada dalam diri dapat menjadi pemicu lahirnya politik yang bersih dan jauh dari beraneka macam kebencian. Dengan mengakui kualitas dari pribadi yang lain, seorang aktor politik dapat membangun daya juang dalam diri untuk menampilkan kualitas dirinya dan bertarung secara sehat dengan aktor politik yang lain itu. Dengan begitu, terciptalah kontestasi politik yang bersih dan sehat.

Dalam Gereja Katolik ada sebuah ritus yang disebut ritus pengakuan. Ritus ini dilakukan untuk mengakui segala macam kelemahan dan dosa kepada Sang Pencipta. Tentu tidaklah salah jika kita menempatkan konsep pengakuan ini juga dalam konteks pertarungan politik saat ini.

Ritus pengakuan pada dasarnya lebih terarah ke kedalaman diri masing-masing pribadi. Ritus pengakuan mengajak setiap pribadi untuk kembali ke dalam diri sendiri, merefleksikan segala keburukan yang ada dalam diri.

Dalam kaitan dengan realitas politik, konsep pengakuan seperti ini perlu ditumbuhkan juga dalam diri setiap aktor politik. Aktor-aktor politik yang akan bertarung dalam perhelatan pemilu yang akan datang hendaknya tidak hanya membanggakan dirinya dalam setiap kampanye, tetapi juga dengan rendah hati mengakui kesalahan dan keburukan yang pernah dilakukannya pada masa lalu sambil membangun niat untuk berubah dan membawa perubahan.

Brian Fauzy Firdaus
Hello ! Welcome in my bio :)
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Perempuan dalam Isi Kepala Mo Yan

Tubuh perempuan adalah pemanis bagi dunia fiksi. Kadang diperlakukan bermoral, kadang sebaliknya, tanpa moral. Naluri bebas dari perempuan yang manusiawi, memendam dengki dan membunuh...

Kenapa Saya Mengkritik Mas Anies?

Dua hari yang lalu saya mengkritik Gubernur DKI Jakarta Mas Anies Baswedan melalui unggahan akun Instagram. Soalnya Mas Anies melempar kesalahan pada curah hujan dan...

Berpegangan Tangan dengan Leluhur

Oleh: Arlita Dea Indrianty, SMAN 36 Jakarta Esai favorit lomba: Mengenal Indonesia, Mengenal Diri Kita Bicara tentang Indonesia tidak akan membawa seseorang pada titik...

Penguatan Kultur Demokrasi di Indonesia

Sebagian persoalan dalam praktik demokrasi di Indonesia muncul dari kalangan elite yang membajak sistem. Masyarakat sebagai pemilik sah kedaulatan tertinggi dalam demokrasi hanya dijadikan...

Buntara Kalis

Oleh: Queen Vega Latiefah, SMAN 76 Jakarta Esai favorit lomba: Mengenal Indonesia, Mengenal Diri Kita Seperti cahaya rembulan di malam hari, seperti itu bayangan orang orang...

ARTIKEL TERPOPULER

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Kenapa Saya Mengkritik Mas Anies?

Dua hari yang lalu saya mengkritik Gubernur DKI Jakarta Mas Anies Baswedan melalui unggahan akun Instagram. Soalnya Mas Anies melempar kesalahan pada curah hujan dan...

Penguatan Kultur Demokrasi di Indonesia

Sebagian persoalan dalam praktik demokrasi di Indonesia muncul dari kalangan elite yang membajak sistem. Masyarakat sebagai pemilik sah kedaulatan tertinggi dalam demokrasi hanya dijadikan...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.