Sabtu, Maret 6, 2021

Politik Panas, Santaikan dengan Humor

Yamin dan Tafsir Tunggal Atas Sejarah Indonesia

Kebutuhan historiografi atau penulisan sejarah dilandasi oleh niat beragam. Sejak Herodotus (484-425 SM) menulis perang Yunani-Persia (478 SM) hingga periode munculnya aliran Sejarah Baru...

OTT Hakim dan Prinsip Independensi

Operasi tangkap tangan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap oknum hakim di Pengadilan Negeri Tangerang yang dilakukan pada Senin malam (12/03) kembali menyingkap praktik...

Sambut Pesta Demokrasi Nelayan Harus Bersatu

Tak bisa dielakan lagi bahwa saat ini kelompok besar lebih diperhitungkan dari pada kelompok kecil, sekalipun secara kualitas kelompok kecil tersebut jauh lebih baik....

Covid-19, Drama Korea dan Feminisme

Bagi remaja Indonesia, terutama yang masih jomblo, film Drama Korea atau sering disebut drakor seperti kehidupan surga yang selalu di damba-dambakan. Momen ketika si...
Ana Dwi Itsna Pebriana
Mahasiswi sederhana, baper dan doyan curhat.

Indonesia adalah negara yang serba ada. Kekayaan ada, kemiskinan pun jangan ditanya. Banyak sekali jumlahnya. Selain itu Indonesia juga mudah panas dengan isu yang di ada-adakan. Politik, misalnya.

Ajang pilpres 2019 ternyata bukan hanya milik pasangan Joko Widodo-Ma’ruf Amin dan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno semata. Di tengah isu panas pemilihan dua paslon tersebut, hadirlah sosok yang menjadi penyegar suasana, Nurhadi-Aldo yang memiliki singkatan cukup nyeleneh, Dildo.

Nurhadi-Aldo merupakan pasangan capres dan cawapres poros ketiga yang namanya tidak terdaftar resmi di KPU. Mereka diusung oleh Partai Untuk Kebutuhan Iman. Dilansir dari detiknews.com, pasangan Nurhadi-Aldo adalah tokoh fiktif yang diciptakan oleh sekelompok anak muda yang merasa gerah dengan kampanye hitam yang banyak terjadi di panggung politik Indonesia.

“Menuju Indonesia Tronjal Tronjol Maha Asyik” menjadi tagline andalan pasangan hits ini. Layaknya capres dan cawapres betulan, pasangan Nurhadi-Aldo gemar mengumbar kata-kata inspiratif hingga program kerja. Jangan tanya isinya, tentu hanya guyonan belaka. Tagar #McQueenYaQueen, yang merupakan pelesetan dari “Makin Yakin” mendadak viral dan digemari banyak netizen.

Ya, keberadaan mereka tidaklah nyata. Dua orang itu hanya hadir di dunia maya dengan akun Instagram @nurhadi_aldo. Memulai unggahannya pada 24 Desember 2018 lalu, akun ini sampai Sabtu 05 Januari 2019 telah diikuti oleh 108.000 pengguna instagram. Setiap postingan-nya pun selalu disambut baik oleh para penggemarnya dengan berbagai komentar.

Meski Nurhadi–Aldo adalah pasangan fiktif, namun Nurhadi benar-benar ada. Ia merupakan seorang tukang pijat dari Moejobo, Kudus yang sebelumnya sudah terkenal di kalangan pengguna facebook. Sementara Aldo adalah tokoh fiktif yang wajahnya merupakan gabungan dari wajah seorang politikus dan orang lain. Sosok Aldo ini berasal dari guyonan di komunitas shitpost. (detiknews.com, 04/01/2019)

Penciptaan kedua tokoh ini tak lain adalah sebagai humor politik dan menjadi sarana kritik bagi pemerintah ditengah riuhnya pesta perpolitikan Indonesia yang kian memanas. Priyo Hendarto dalam bukunya Filsafat Humor, mengatakan bahwa manusia hidup dengan naluri kuat untuk mencari kegembiraan dan hiburan atau yang lebih dikenal dengan humor.

Mahadian (2014 : 6) dalam praktiknya di Indonesia, humor politik sering kali dibangun dalam wujud satire, ironi, sindiran, hingga self-depreciating humor atau humor yang menertawakan diri sendiri.

Diharapkan humor ini bisa menjadi penyegar pikiran agar masyarkat tidak terlalu serius pada hiruk pikuk perpolitikan yang kerap menuai pertikaian. Humor politik juga mengandung pesan tersirat yang membungkus hal yang bersifat tabu untuk disampaikan. Sehingga kritik pedas dan tajam dalam komunikasi pun bisa melibatkan tawa riang dan kesenangan.

Meski bahasa yang mereka gunakan terkesan nyeleneh, syur bahkan berbau mesum. Namun nyatanya masyarakat tetap menyambut baik dan bisa mengambil hal-hal positif dari setiap gebrakannya. Inilah yang luput dari para politikus kita saat ini. Gemar mengkampanyekan janji-janji namun acapkali tak sadar bahwa bahasa yang digunakan tidak mudah dipahami para awam.

Kedua kubu, Joko Widodo-Ma’ruf Amin dan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno bisa turut mengambil pelajaran dari fenomena paslon fiksi ini. Bila dalam kampanye mereka selalu menggunakan bahasa yang serius dan kaku, cara Nurhadi-Aldo  ini nampaknya patut ditiru. Bukan dengan bahasa nyeleneh tentunya.

Dalam kegiatan kampanye, para paslon betulan bisa menggunakan bahasa yang lugas dan mudah dipahami berbagai kalangan. Santai layaknya bahasa sehari-hari. Membuat para awam maupun ilmuwan dengan mudahnya memahami maksud mereka.

Kehadiran pasangan Nurhadi-Aldo menjadi sarana edukasi politik tersendiri bagi masyarakat Indonesia. Membuat siapapun merasa perlu untuk terlibat dan memahami dunia perpolitikan yang kadang kala melenakan.

Dunia perpolitikan yang terkesan panas dan menjenuhkan pun seketika menjadi hal yang seru untuk diulas. Kedua tokoh ini mengingatkan kita bahwa hidup dan segala macam tetek bengeknya memang jangan terlalu dibawa serius. Santaikan!

Ana Dwi Itsna Pebriana
Mahasiswi sederhana, baper dan doyan curhat.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Ranking Kampus Dunia: Jangan Salah Kaprah

Baru-baru ini dunia pendidikan tinggi kita mendapatkan gabar gembira. Lima perguruan tinggi (PT) asal Indonesia menempati 10 universitas Islam terbaik dunia. Bahkan salah satunya...

Rock and Roll, Budaya yang Terusir

Penyebaran virus Rock and roll tidak hanya datang dari radio luar negeri, tapi juga dari rekaman piringan hitam yang dibawa dari luar negeri dan...

Cantik Hemat dari Dapur

Cantik adalah impian bagi setiap perempuan. Sejak umat manusia tercipta, kecantikan menjadi sebuah patok keindahan. Terbukti dari kisah dua orang putra nabi Adam yang...

Apa Hubungannya Toleransi dan Kearifan Lokal?

“Hai seluruh manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya...

Lubang Hitam Narasi Teroris Selama Pandemi

Sudah lima hari sejak saya terkonfirmasi positif Covid-19. Rasanya begitu berat, alih-alih sekedar menyerang fisik, rupanya virus ini juga menyerang mental. Untuk itu, saya...

ARTIKEL TERPOPULER

Pendidikan yang Berkebudayaan, Mencipatakan Manusia Kreatif dan Otonom

Review Buku: Yudi Latif, Pendidikan yang Berkebudayaan: Histori, Konsepsi dan Aktualisasi Pendidikan Transformatif, (Jakarta: Gramedia Pustaka, 2020). Pendidikan nasional sudah seharusnya tidak meninggalkan akar-akar...

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Serial Non-Muslim Bisa Masuk Surga. Siapa Mereka?

Apa pendapat para ulama dan cendekiawan dulu dan sekarang tentang keselamatan penganut agama-agama selain syariat Nabi Muhammad Saw? Apakah orang yang biasa disebut “non-Muslim”...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.