Minggu, Maret 7, 2021

Politik Out of the Box!

Revisi UU KPK, Menguatkan atau Melemahkan?

Akhir kepemimpinan para Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR) sudah berada di ujung tandung. Tepat pada tanggal 30 September 2019, anggota dewan yang tidak...

Menteri Mencaleg: Antara Tugas Negara dan Tugas Partai

Gelaran pesta akbar demokrasi sudah mendekati waktunya, para partai politik peserta pemilu telah mendaftakan bakal calonnya ke KPU. Banyak yang menjadi perhatian publik dari daftar...

Mewujudkan Kembali KTT AS-Korut

Hal yang paling ditunggu-tunggu oleh masyarakat internasional adalah terwujudnya Konferensi Tingkat-Tinggi (KTT) antara Presiden Amerika Serikat, Donald Trump dengan Presiden Korea Utara, Kim Jong-Un. Namun,...

Menjadi Kids Zaman Now yang Berbudaya

Generasi muda adalah salah satu aset berharga yang dimiliki oleh bangsa. Anak muda menjadi sebuah investasi besar-besaran bagi negara, sebab di tangan mereka masa...
Suranto Andreas
Alumni Mahasiswa S1 Program Studi Ekonomi, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta

Generasi milenial saat ini dianggap hanya selalu berfokus pada bidang seni budaya, olahraga, dan dunia daring semata. Namun nyatanya, secara tidak langsung, generasi milenial disodorkan dengan banyaknya diskusi politik yang muncul di media sosial yang kebanyakan digunakan oleh generasi milenial saat ini. Bertolak dari diskusi politik yang terjadi di dalam negeri maupun di luar negeri.

Namun, sayangnya kebanyakan pandangan tentang diskusi politik tersebut kadang-kadang berbanding terbalik dengan generasi sebelumnya. Dalam pandangan politik, generasi muda lebih menyukai pandangan politik yang mendekati pandangan mereka secara umur, inovasi, kinerja, tujuan ataupun idola.

Generasi milenial yang identik dengan kreativitas ini merupakan generasi yang melek teknologi, selalu bersinggungan dengan teknologi dan tentunya dapat mendapatkan informasi apapun dari kemudahan teknologi.

Alexis de Toqcueville mengatakan bahwa di negara demokrasi, setiap generasi adalah manusia baru. Generasi milenial yang merupakan representatif dari generasi baru, menggunakan media sosial dan internet untuk melangkah lebih maju dari manusia baru sebelumnya.

Cara berpikirnyapun sudah di luar kebiasaan dari generasi sebelumnya. Jika generasi sebelumnya hanya lebih suka menjadi pengikut, lebih suka hal-hal biasa dan sesuai standar yang disepakati, maka generasi milenial lebih menyukai hal-hal yang baru, menciptakan hal-hal baru, pentuh tantangan dan berbau kreativitas.

Imbas dari cara berpikir generasi milenial ini mengubah wajah perpolitikan sekarang. Dimana generasi milenial menuju era yang lebih cerdas, semakin melek politik dan kuantitas keterlibatan perpolitikan semakin meningkat. Cirinya adalah generasi milenial yang dinamis dan peduli.

Kepedulian generasi milenial ini tertuang pada sikap melawan korupsi, kolusi dan nepotisme yang marak terjadi. Generasi milenial adalah calon penerus perolitikan di Indonesia. Perubahan pada perpolitikan di Indonesia bagi generasi milenial adalah tidak mudah percaya kepada elite partai poltik, teruatama yang terjerat korupsi dan permainan isu negatif di media sosial. Hal tersebut merupakan bentuk dari perubahan generasi sebelumnya ke generasi milenial.

Sebagai generasi yang menginginkan perubahan, dukungan dari pemerintah untuk pendidikan perpolitikan belumlah maksimal. Pendidikan perpolitikan generasi milenial hanya didapatkan dari aktivitas bermedia sosial dan berselancar di dunia maya melalui jaringan internet.

Pendidikan politik yang didapatkan pun bersifat personal. Hal ini sangat rentan dengan adanya berita atau isu negatif yang berunsur sara serta mematikan nilai-nilai demokrasi bagi generasi milenial ini. Apalagi generasi milenial tidak melek sejarah perpolitikan di Indonesia yang didapatkan lewat pendidikan formal atau media massa arus utama. Hal ini sangat menambah sempitnya pilihan tentang kebenaran sejarah.

Dampak dari pendidikan politik lewat media sosial ini mengakibatkan generasi milenial sebagai pengguna media sosial merasa terombang-ambing sentimen atas unsur sara. Pemerintah seharusnya memberikan pendidikan politik yang memadai bagi generasi milenial.

Yakni, memaksimalkan penggunaan teknologi dengan membangun nilai-nilai kebangsaan yang efektif melalui konten atau iklan yang cinta akan tanah air dan mentalitas produktif. Harapannya adalah perpolitikan di Indonesia bukan melulu untuk menaikkan kepentingan personal elit politik. Tetapi lebih menekankan pada nilai-nilai moral dan kebhinekaan dalam berpolitik.sehingga menghasilkan pendidikan politik yang sehat.

Melalui pendidikan politik yang sehat, generasi milenial dapat belajar memegang tongkat estafet perpolitikan yang lebih baik, lebih teratur tetapi fleksibel dan terarah serta penuh dengan kejutan-kejutan inovasi.

Politik yang dibumbui dengan sentimen unsur sara menjadikan politik di Indonesia masih senang bergelut dengan kebiasaan buruk, pandangan pesimis yang tidak dapat dikontrol dan terus memutar pada isu-isu itu saja. Namun, Generasi milenial yang melek teknologi membuat politik seperti itu dapat terdisrupsi secara politik. Generasi milenial lebih menginginkan politik out of the box!

Suranto Andreas
Alumni Mahasiswa S1 Program Studi Ekonomi, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Toxic Masculinity dalam Patriarki

Sebelumnya, saya ingin menghimbau bahwa topik ini merupakan pembahasan yang sensitif dan masih dipandang tabu dari beberapa kalangan. Tulisan ini berupa opini saya mengenai...

Ranking Kampus Dunia: Jangan Salah Kaprah

Baru-baru ini dunia pendidikan tinggi kita mendapatkan gabar gembira. Lima perguruan tinggi (PT) asal Indonesia menempati 10 universitas Islam terbaik dunia. Bahkan salah satunya...

Rock and Roll, Budaya yang Terusir

Penyebaran virus Rock and roll tidak hanya datang dari radio luar negeri, tapi juga dari rekaman piringan hitam yang dibawa dari luar negeri dan...

Cantik Hemat dari Dapur

Cantik adalah impian bagi setiap perempuan. Sejak umat manusia tercipta, kecantikan menjadi sebuah patok keindahan. Terbukti dari kisah dua orang putra nabi Adam yang...

Apa Hubungannya Toleransi dan Kearifan Lokal?

“Hai seluruh manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya...

ARTIKEL TERPOPULER

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Perbedaan; Pendidikan Karakter, Moral dan Akhlak

Kita lihat bila Secara filosofis, terminologi pendidikan karakter, pendidikan moral, pendidikan etika, dan pendidikan akhlak memiliki perbedaan. Terminologi pendidikan moral (moral education) lebih cenderung...

Serial Non-Muslim Bisa Masuk Surga. Siapa Mereka?

Apa pendapat para ulama dan cendekiawan dulu dan sekarang tentang keselamatan penganut agama-agama selain syariat Nabi Muhammad Saw? Apakah orang yang biasa disebut “non-Muslim”...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Beberapa Kesalahan Berpikir Kita

Proses berpikir merupakan salah satu komposisi dari pola aktifitas manusia dalam kehidupan, sekaligus menjadikan nya sebagai prestise seseorang agar terhindar dari segala bentuk keterasingan...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.