Senin, April 12, 2021

Politik Olahraga, Dari Rugby di Afrika Selatan Hingga El Clasico

Open House dan Silaturahmi Senyap

Seperti biasanya, pada saat Hari Raya Idul Fitri, sejumlah pejabat negara menggelar acara Open House di kediamannya masing-masing. Acara gelar griya ini dimaksudkan sebagai...

Lika-Liku Solar Power Plant

Teknologi energi terbarukan, terutama energi solar sudah diterapkan di berbagai negara. Investasi global di energi terbarukan pada tahun 2015 mencapai US$312.2 Milyar. China menginvestasikan...

Berguru Pada M. Quraish Shihab

Rabu, tanggal 16 Februari 1944, bertepatan dengan 22 Safar 1363 H. Seorang bayi mungil lahir diiringi tangisan yang keras, terdengar menyusup celah-celah daun jendela...

KH Ma’ruf Amin Cawapres, Prabowo, SBY, PKS, PAN ‘Tamat’

Dipilihnya KH Ma’ruf Amin (MA) sebagai cawapres oleh Jokowi, sampai hari ini masih terus menuai kontroversi dari sebagian kecil masyarakat. Tapi, kontroversi itu sama...
Syaidina Sapta
Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Olahraga mungkin dahulu hanya bertujuan untuk menyehatkan badan, namun kini olahraga lebih dari sekedar untuk menyehatkan badan saja. Olahraga seperti sepak bola, rugby, basket, badminton, dan sebagainya sudah sangat populer hampir di seluruh dunia. Sering kali olahraga menjadi alat politik, baik dalam artian positif maupun negatif.

Menjadi positif ketika pertandingan olahraga ini menjunjung sportifitas dan menjadi pemersatu, namun kerap kali menjadi negatif ketika persaingan yang ada berujung konflik dan perpecahan. Adanya pertandingan Piala Dunia, atau pertandingan antar negara di suatu Benua tentu selain untuk olahraga semata juga sebagai alat perekat persahabatan antar negara.

Jika anda pernah menyaksikan film Invictus, olahraga yang saat itu populer di Afrika Selatan, yakni rugby, dimanfaatkan oleh Presiden Afrika Selatan, Nelson Mandela, sebagai upaya menghapuskan politik apharteid di Afrika Selatan.

Saat itu olahraga rugby menjadi identitas tersendiri bagi politik apharteid, rugby biasa dimainkan oleh para imigran kulit putih di Afrika Selatan, sehingga jika team rugby Afrika Selatan bermain dengan negara lain maka orang-orang kulit hitam Afrika Selatan justru mendukung lawannya.

Maka saat perhelatan piala dunia rugby 1995, Nelson Mandela mencoba memanfaatkannya untuk menghilangkan sekat identitas antara si kulit hitam dan si kulit putih, membuat agar seluruh warganya mendukung team negara mereka dalam kancah internasional. Di sini, dia mencoba untuk membangun nasionalisme melalui olahraga.

Sebagaimana rugby di Afrika Selatan yang dikisahkan dalam film Invictus, dalam pertandingan sepak bola kita mengenal adanya El Clasico, pertandingan antara Barcelona vs Real Madrid yang dimenangkan oleh Barcelona. Bagi kita warga di luar Spanyol mungkin El Clasico hanyalah pertandingan antara dua team besar penuh pemain bintang.

Tapi di luar itu, Barcelona dan Real Madrid mewakili dua daerah serta dua kekuatan politik di Spanyol, yakni Real Madrid yang berasal dari kota Madrid yang merupakan Ibukota Spanyol dengan Barcelona yang berasal dari kota Catalonia. Sudah menjadi rahasia umum bahwa antara Spanyol dengan Catalonia merupakan dua daerah yang sejak dahulu sering bersitegang. Meskipun Catalonia merupakan salah satu kota otonom di Spanyol, namun sudah sejak lama mereka ingin memerdekakan diri dari Spanyol.

Alasan Catalonia ingin merdeka, sebagaimana saya kutip dari majalah Info Singkat Pusat Penelitian Badan Keahlian DPR RI edisi Vol. IX, No. 20/II/Puslit/Oktober/2017, pertama karena adanya faktor historis dan kultural dimana Catalonia memang dalam sejarahnya adalah daerah yang merdeka, mereka memiliki tradisi, kebudayaan, hingga bahasa yang berbeda dari orang-orang Spanyol.

Kedua, karena faktor ekonomis, pemerintah Spanyol memberlakukan pajak yang lebih tinggi tiap tahunnya sebesar US$12 miliar kepada Catalonia dibandingkan dengan kota lain yang lebih kecil dari itu, namun jumlah pembayaran pajak yang tinggi itu tidak sebanding dengan  imbalan yang diberikan oleh pemerintah Spanyol kepada Catalonia, selain itu warga Catalonia pun menuding bahwa pemerintah Spanyol adalah penyebab dari krisis eknomi yang menimpa Catalonia sehingga menyebabkan kenaikan harga dan bertambahnya pengangguran.

Pertentangan antara Catalonia dengan Spanyol semakin tinggi ketika pada tanggal 1 Oktober 2017 yang lalu Catalonia melakukan referendum untuk merdeka, dari 2,2 juta suara yang masuk 90% menyatakan setuju agar Catalonia merdeka dari Spanyol. Namun pemerintah Spanyol menganggap bahwa referendum itu adalah illegal dan inkonstitusional.

Inilah mengapa pertandingan El Calsico, antara Barcelona vs Real Madrid selalu bertensi lebih panas dan tinggi dibandingkan dengan pertandingan antara klub besar lain, karena banyak yang menghubungkan kedua klub itu dengan perlawanan antara rakyat Catalonia melawan pemerintahan Spanyol.

Pendukung kedua team merasa memiliki identitas tersendiri yang berbeda satu sama lainnya.  Bahkan The Washington Post pernah menyebutkan bahwa warga Catalonia tumbuh dengan rasa nasionalisme yang rendah, sebagian besar mereka merasa bukanlah warga negara Spanyol.

Tentu, persaingan antara Barcelona vs Real Madrid ini memanas dengan kenyataan bahwa keduanya adalah team sepak bola terbesar di Spanyol, bahkan hingga merajai Eropa, ditambah lagi keberadaan para pemain bintangnya mulai dari Luis Figo, Johan Cruyf, Ronaldo, Ronaldinho, Zidane, Raul, Kaka, hingga masa Messi dan Christiano Ronaldo. J

Syaidina Sapta
Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Bertahan Disegala Kondisi

Pandemi COVID-19 membawa beragam nilai positif. Bagi dunia pendidikan, selain orangtua mengetahui betapa susahnya Pendidik (guru/dosen) mengajar anak didik, pendidik juga bisa belajar secara...

Bagaimana Cara Mengatasi Limbah di Sekitar Lahan Pertanian?

Indonesia merupakan negara agraris yang mayoritas warganya bermata pencaharian sebagai petani. Pada bidang pertanian terutama pertanian konvensional terdapat banyak proses dari penanaman hingga pemanenan,...

Terorisme dan Paradoks Keyakinan

Jika Brian May, gitaris grup band Queen, menulis lagu berjudul "Too Much Love Will Kill You", dalam terorisme barangkali judul yang lebih tepat, "Too...

Kebebasan Berpendapat Masih Rancu

Kebebasan berpendapat merupakan sebuah bentuk kebebasan yang mutlak bagi setiap manusia. Tapi belakangan ini kebebasan itu sering menjadi penyebab perpecahan. Bagaimana bisa kebebasan yang...

Laporan Keuangan? Basi?

Berbicara soal laporan keuangan, tentu sudah tidak asing lagi di telinga orang ekonomi, apalagi yang bergelut dalam dunia akuntansi. Secara singkat, laporan keuangan adalah...

ARTIKEL TERPOPULER

Jihad Versi Kristen?

Kamus Besar Bahasa Indonesia menuliskan arti kata jihad sebagai usaha dengan segala upaya untuk mencapai kebaikan. Mengamati definisi ini paling tidak kita memiliki pengertian...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Umat Kristiani Bukan Nashara [Kaum Nasrani]

Dalam bahasa Arab, kata "nashara" merupakan bentuk jamak dari "nashrani". Sebutan "umat Nasrani" secara salah-kaprah digunakan untuk merujuk pada umat Kristiani, penganut agama Kristen....

Terorisme dan Paradoks Keyakinan

Jika Brian May, gitaris grup band Queen, menulis lagu berjudul "Too Much Love Will Kill You", dalam terorisme barangkali judul yang lebih tepat, "Too...

Mengenang Hans Küng (1928-2021), Tokoh Dialog Antar Agama

Bagi para pegiat dialog antar agama, sosok dan pemikiran Hans Küng tak asing lagi. Namanya kerap disebut seiring dengan pemikirannya tentang upaya mewujudkan perdamaian...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.