Rabu, Maret 3, 2021

Politik Itu Memang Ngehek Kok?

Perubahan Iklim, Kolonisasi Mars, dan Hikmah Berpuasa

Ramadan selalu datang dan pergi setiap tahun. Iklim juga terus menerus berubah. Lantas hikmah apa yang bisa kita pelajari dari puasa sebulan penuh di...

2019 Tidak hanya Milik PDIP, Demokrat, atau Golkar

Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) tahun 2018 telah selesai dilaksanakan. Pilkada yang menelan anggaran negara sebesar 15,6 Trilun tersebut dapat dikatakan berjalan dengan baik dan...

Etika Siar Berita

Berita terkait peristiwa-peristiwa sosial, hukum, politik, ekonomi, keagamaan, seni budaya, gaya hidup, dan lain sebagainya melumuri jagat media, mewarnai peradaban dengan berbagai sudut pandang....

Roti Beraroma Cinta

Saya tinggal di pinggiran Solo. Ketika menuju kawasan kota, bau jalanan acapkali sewangi bau adonan roti yang tertelecek. Solo dari pinggiran menuju kota hanya...
Budicanggih
Budi Hartono, biasa dipanggil budicanggih adalah seorang warganegara biasa pecinta kopi lokal, yang meminati masalah-masalah sosial politik dan media sosial.

Dengan gonjang-ganjing perilaku para politisi yang jauh panggang daripada api, maka bersiap-siaplah kecewa bagi mereka yang pernah mempelajari mata kuliah ilmu politik. Kenapa begitu? Ya, tentu saja, dalam banyak teori dasar ilmu politik, di sana dijelaskan berbagai macam pengertian normatif dari ilmu politik itu sendiri yang begitu luhurnya untuk kemaslahatan masyarakat.

Saya sendiri dulu pernah membaca buku karya Prof. Miriam Budiardjo yang berjudul ”Dasar-dasar Ilmu Politik”. Menurutnya, ilmu politik adalah ilmu yang mempelajari tentang perpolitikan. Politik diartikan sebagai usaha-usaha untuk mencapai kehidupan yang baik.

Nah, apakah yang dimaksud dengan “untuk mencapai kehidupan yang baik itu?” untuk bisa menjawab itu perlu disampaikan mengenai fungsi instrumen politik, yaitu partai politik (parpol). Setidaknya ada 6 fungsi Parpol yaitu: sebagai sarana komunikasi politik, sosialisasi politik, sarana rekruitment politik, pengatur konflik, sarana kontrol politik dan terakhir, sebagai sarana partisipasi politik.

Keenam fungsi parpol tersebut didesain untuk mencapai tujuan-tujuan mulia politik, yaitu, keadilan dalam hukum, kesetaraan dalam kehidupan bermasyarakat, kesejahteraan rakyat dan sebagainya. Untuk itu diperlukanlah rekrutment politik guna menjaring orang-orang yang bercita-cita tinggi, penuh idealisme dan rela mengorbankan dirinya untuk mengurusi hajat hidup orang banyak. Inilah apa yang disebut sebagai fungsi rekrutment politik di parpol. Jadi mestinya yang tersaring adalah orang-orang hebat, para politisi yang idealnya mendekati manusia setengah dewa. Dan tentunya sudah berdamai dengan dirinya sendiri.

Lalu, apa lacur dengan fakta saat ini? Das sein das sollen. Dalam ilmu sosial, teori tidak sama dengan prakteknya, apa yang seharusnya, akan berbeda dengan apa yang terjadi. Maka jangan termehek-mehek, meratap dan mengutuki nasib jika jagoan pilihannya setelah terpilih inkonsisten dengan janji yang pernah diucapkn ketika kampanye. Dan jangan pula menjadi berlebih senangnya bukan kepalang, ketika pendukung calon yang kalah melihat konsistensi itu terjadi. Bukan tidak mungkin keadaan akan berbalik. Bukankah Allah Maha membolak-balikan hati manusia? Yang jelas, selalu ada harga yang harus dibayar untuk sebuah transaksi politik. Mau contoh?

Berapa banyak wakil rakyat yang menjadi pasien KPK setelah terciduk dalam operasi tangkap tangan? Padahal mereka adalah yang mulia anggota dewan yang terhormat, yang dipilih atas nama rakyat yang percaya bisa membawa perubahan agar konsisi sosial, politik dan ekonomi kearah perubahan agar menjadi lebih baik. Justru mereka memainkan mandat rakyat untuk kepentingan pribadi dan golongan. Siapa yang berhak disalahkan? fungsi rektutment politiknya atau konstituennya? Yang jelas, ketika para politisi berjanji, tugas pemilih adalah mencatatnya dengan baik dan menagihnya tanpa ampun bak kolektor ketika mereka terpilih.

Contoh lain adalah kondisi saat ini mengenai kelangkaan gas tabung 3kg bersubsidi. Sudah harganya mahal, (harga terakhir Rp. 20.000,-/tabung dari harga awal Rp. 15.000,-/tabung) langka pula dipasaran. Padahal konversi minyak tanah ke tabung gas untuk kalangan masyarakat kelas bawah yang disubsidi dimaksudkan sebagai cara penghematan subsidi sekaligus memudahkan rakyat dalam penggunaannya.

Di kasus lain, tarif listrik PLN pun naik dari Rp 415,-/Kwh menjadi Rp. 1.352,-/Kwh. Tarif toll dibeberapa ruas efektif per 8 Desember 2017 pun naik dikisaran angka Rp. 500,-. belum lagi pengenaan biaya administrasi untuk kartu toll secara sepihak. Lalu sebuah situs berita mainstream menulis judul berita, bahwa masyarakat tidak meminati BBM jenis premium yang bersubsidi. Bagaimana mau meminati dan menikmati premium bersubsidi, wong pasokannya sering tidak ada.

Weladalah, ini sudah jelas pembohongan publik atas pesanan nasi bungkus. Dan uniknya, tidak ada interupsi atas kenaikan tarif yang sepihak pada beberapa konsumsi subsidi (listrik, gas, bbm) dari para politisi yang dipercayakan oleh rakyat untuk mengurusi hajat hidup orang banyak di DPR. Tidak ada tangisan Puan dan kesedihan Megawati dan keluarga Bantengnya atas perilaku pemerintah terhadap rakyatnya, sebagaimana yang pernah dilakukan sebelumnya.

Belum lagi kasus kesaktian papah Setnov yang berujung drama telenovanto dipengadilan tipikor beberapa waktu lalu. Secara terang-terangan, yang mulia Ketua DPR yang juga Ketua Golkar mencoba mengerahkan segala kesaktiannya untuk berupaya melawan hukum. Adalah ironis, ketika proyek pengadaan E-KTP bernilai triliunan rupiah, hampir separuh anggarannya menguap kebeberapa kelompok, disatu sisi banyak masyarakat yang belum mempunyai E-KTP karena kehabisan blanko.

Dan kontradiktif pula ketika subsidi untuk rakyat dikurangi oleh pemerintah, sementara tidak ada otoritas yang menghitung komparasi antara berapa subsidi yang dikeluarkan oleh negara untuk kesejahteraan masyarakat dengan berapa kerugian negara yang dikorupsi oleh segelintir elit para politisi dan pejabat melalui “transaksi politik”. Sebenarnya, ini semua adalah intrik politik yang berujung pada perebutan keuntungan ekonomi melalui penyalahgunaan wewenang politik para pejabat. Maka tak heran jika disinyalir beberapa calon pejabat “mengijon” jabatan sebelum pejabat itu terpilih.

Namun demikian, jangan pula banyak berharap jika kubu lawan memenangi pertarungan, karena kondisinya setali tiga uang. Sama saja. Mereka adalah orang yang sama, hanya beda bendera saja, beda isu yang dimainkan dan tentu saja ada harga yang harus dibayar. Sebuah novel karya Andrea Hirata berjudul Maryamah Karpov menyebutkan “dinegeri ini kawan, janganlah kau terlalu banyak berharap pada pemerintah, mereka pun bingung hendak berbuat apa untuk kita”

Kalau sudah begini, kapan kiranya para politisi bisa memperjuangkan martabat negara dan hajat hidup masyarakat kearah yang lebih baik? Ketika rekruitment politik memilih secara serampangan (bahkan transaksional) orang-orang untuk menjalankan amanah. Sebaliknya, harkat dan martabat masyarakat pun tidak akan pernah berubah kearah yang lebih baik, jika masih memilih para politisi serampangan. Kedua hal ini sangat berkaitan erat, maka diperlukan peran serta aktif masyarakat (civil society) untuk menjadi kontrol sosial dinegara demokrasi dan jangan hanya bermodalkan mantra “viralkan!!!” menyebarkan berita yang tak pasti.

Sambil menunggu traffic jump dan hujan reda, tutup buku teori politikmu. Silahkan renungkan fungsi partai politik secara teori dan kondisi politik yang sedang terjadi.  Jangan lupa cemilannya dimakan, sesekali bolehlah mengumpat “ngehe, pedes banget ini makaroni!”

Budicanggih
Budi Hartono, biasa dipanggil budicanggih adalah seorang warganegara biasa pecinta kopi lokal, yang meminati masalah-masalah sosial politik dan media sosial.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Polwan Yuni Purwanti yang Terjebak Mafia Narkoba

Publik terkejut. Jagad maya pun ribut. Ini gegara Kapolsek Astana Anyar, Kota Bandung, Kompol Yuni Purwanti Kusuma Dewi terciduk tim reserse antinarkoba Polda Jabar....

Stop Provokasi, Pelegalan Miras? Mbahmu!

Lampiran Perpres yang memuat izin investasi miras di daerah tertentu, baru saja dicabut oleh Presiden. Ini disebabkan karena banyak pihak merasa keberatan. Daripada ribut...

Beragama di Era Google, Mencermati Kontradiksi dan Ironi

Review Buku Denny JA, 11 Fakta Era Google: Bergesernya Pemahaman Agama, dari Kebenaran Mutlak Menuju Kekayaan Kultural Milik Bersama, 2021 Fenomena, gejala, dan ekspresi...

Artijo dan Nurhadi di Mahkamah Agung

In Memoriam Artijo Alkostar Di Mahkamah Agung (MA) ada dua tokoh terkenal. Artijo Alkostar, Hakim Agung di Kamar Pidana dan Nurhadi, Sekjen MA. Dua tokoh MA...

Gangguan Jiwa Skizofrenia

Kesehatan jiwa adalah kondisi dimana individu dapat berkembang secara fisik, mental, spiritual dan social sehingga individu tersebut menyadari kemampuan diri sendiri. Dapat mengatasi tekanan,...

ARTIKEL TERPOPULER

Common Sense dalam Filsafat Ilmu

Ilmu filsafat selalu merumuskan tentang pertanyaan – pertanyaan kritis atas kemapanan jawaban yang sudah dipecahkan oleh ilmu pengetahuan. Pada zaman sekarang ilmu pendidikan tidak...

Artidjo Alkostar, Sebuah Kitab Keadilan

Gambaran apa yang muncul di benak Anda setiap mendengar profesi pengacara dan kepengacaraan? Apapun citra itu, Artidjo Alkostar menghancurkannya berkeping-keping. Sebagai pengacara hingga akhir 1990an,...

Ziarah Ke Media Sosial

Meminjam istilah masyarakat industrial Kuntowijoyo dalam masyarakat tanpa masjid (2001), merupakan kondisi masyarakat yang terkungkung oleh rasionalisasi, komersialisasi dan monetisasi. Mengutip pendapat Robert Bala,...

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.