Kamis, Januari 21, 2021

Politik Genderuwo?

PJJ dan Ketimpangan Akses Pendidikan

Terhitung semenjak Maret 2020, Indonesia tengah mengalami wabah virus Corona/Covid -19. Akibatnya, hampir seluruh sektor kehidupan masyarakat Indonesia mengalami disrupsi. Semua pola interaksi normal...

Menelaah Dampak Buruk Sinetron

Budaya menonton televisi telah melekat dalam kehidupan masyarakat kita. Tidak heran jika berbagai stasiun televisi berlomba-lomba untuk menarik sebanyak mungkin penonton. Berbagai program bermunculan,...

Pasca Kebudayaan Muhammadiyah

Saya menulis judul "Pasca" bukan berarti Muhammadiyah itu sudah selesai pergerakannya --tidak berpengaruh lagi untuk budaya. Walaupun sekarang, banyak tumbuh kelompok-kelompok islam yang sering...

Arak dan Amuk

Di tengah unjuk rasa pada 21-22 Mei lalu dengan tuntutan menolak hasil Pilpres, ditangkap sejumlah massa yang diduga mengonsumsi alkohol. Konsumsi alkohol ini seakan-akan...
Akmal Maulana
Seorang pemuda di selatan Banten

Politik dengan menebar ketakutan, atau belakangan ini populer disebut sebagai politik genderuwo, memang salah satu cara yang cukup efektif untuk mendapat dukungan dan simpati massa. Menakuti orang dengan suatu hal, untuk dapat mengendalikannya, itu merupakan strategi yang cukup ampuh memang.

Dengan menanamkan ketakutan pada masyarakat, kemudian memberi “solusi” untuk ketakutan tersebut agar masyarakat mendukungnya. Cara ini cukup populer dan sering digunakan bukan hanya di Indonesia tapi diseluruh dunia.

Diantara yang pernah menggunakannya antara lain, Hitler, Stalin, Mao Zedong, Pol Pot, dan Soeharto tentu saja. Meski akhirnya nama-nama itu pun berakhir, tapi pengaruhnya saat berkuasa menggunakan “politik genderuwo” sangatlah luar biasa.

Sekarang ini, menghadapi Pemilu 2019 nanti, kedua kubu sama-sama menggunakan strategi ini untuk mendapat dukungan sebanyak-banyaknya. Narasi yang dibangun bermacam-macam, tapi esensi-nya sama, agar masyarakat takut untuk memilih lawannya, dan kemudian memilih jagoannya saat pemilu nanti. Cukup sederhana, tapi sangat ampuh.

Saya merasa, wajar saja jika para elit melakukan hal yang demikian, selama tak ada aturan yang dilanggar disana, it’s ok. Toh, Tuhan sekalipun menggunakan “politik genderuwo” pada mahluknya, dengan mengancam, jika tidak patuh kau akan dimasukkan ke Neraka. Jadi, mungkin saja manusia ini mendapat inspirasi dari Tuhan untuk membuat mahluknya patuh, dengan menanam ketakutan ke setiap manusia.

Tapi, entah kenapa saya tidak menyukai apa yang disebut sebagai “politik genderuwo” ini. Mungkin karena doktrin yang ditanamkan adalah ketakutan terhadap lawan politiknya, sehingga akan menimbulkan suatu kebencian. Ini yang saya khawatirkan, jika sudah benci terhadap seseorang, apapun yang dilakukan orang itu akan kita benci pula, dan lebih parah jika kita membenci orang atau kelompok yang tidak ikut membenci apa yang kita benci. Akan muncul rantai kebencian yang hanya akan menjadi akar perpecahan.

Para elit politik itu akan ngopi santai di belakang layar setelah berdebat hebat tentang calon yang didukungnya didepan kamera, mereka juga dapat keuntungan dari hal itu. Sementara rakyat yang dibodohi di bawah, berdebat hebat tentang jagoan masing-masing, gak ada hasil apa-apa, akhirnya hanya saling benci satu sama lain. Debat ataupun diskursus mengenai hal ini, hanya akan berakhir tanpa solusi dan menguatkan kebencian.

Kotor? Kotor memang. Licik? Memang licik. Tapi itulah politik kita. Sulit untuk membenahinya. Sangat disayangkan memang, reformasi kita yang sudah berjalan 19 tahun ini belum bisa menghasilkan cara berpolitik yang mengedepankan akal sehat. Politik yang mencerdaskan rakyat, politik yang mengutamakan kepentingan bersama, politik yang meletakkan keindonesiaan di atas segalanya. Politik yang tidak hanya menggunakan Bhineka Tunggal Ika sebagai slogan belaka, tapi visi bersama. Politik yang bukan hanya mendengungkan Pancasila tapi mengamalkannya sebagai ideologi bangsa.

Kesel gak sih, lihat politisi bahas PKI, Agama, hoaks, tempe, sontoloyo, Boyolali, neo-orba, subsidi, dan hal-hal yang sifatnya itu hanya demi kepentingan elektoral belaka. Sama sekali tidak menyasar akan dibawa kemana masyarakat Indonesia puluhan tahun kedepan. Kan lebih enak kalo lihat mereka bahas sistem pendidikan kita yang jauh tertinggal, minat baca bangsa kita yang jauh di bawah negara lain, atau bagaimana memaksimalkan potensi kekayaan alam maupun budaya yang ada di Indonesia, kan lebih berfaedah pastinya.

Akmal Maulana
Seorang pemuda di selatan Banten
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Apa Itu Teo Demokrasi dan Nasionalisme?

Apa itu Konsep Teo Demokrasi? Teo demokrasi terdiri dari gabungan kata yaitu teologi yang berarti agama dan demokrasi yang terdiri dari kata demos berarti rakyat dan...

Menilik Superioritas Ras dalam Film Imperium

Film Imperium yang ditulis dan disutradarai oleh Daniel Ragussis adalah sebuah film thriller yang menampilkan usaha seorang karakter utama yang mencoba untuk “masuk” ke...

Pandangan Mochtar Lubis Terhadap Kemunafikan Manusia Indonesia

Pernyataan Mochtar Lubis dalam naskah pidato Manusia Indonesia (kemudian diterbitkan menjadi buku) sampai sekarang pidato ini masih relevan untuk dibahas, baik kalangan awam maupun...

Revolusi Mental Saat Pandemi

Vaksin Sinovac memang belum banyak terbukti secara klinis efektifitas dan efek sampingnya. Tercatat baru dua negara yang telah melakukan uji klinis vaksin ini, yakni...

Bencana Alam: Paradigma Ekologi dan Aktivisme

Ekologi sebagai kajian ilmiah tentang hubungan antara makhluk hidup dengan makhluk tidak hidup telah memberikan perspektif baru tentang sistem keterkaitan. Namun, sebagian besar pemerhati...

ARTIKEL TERPOPULER

Pandangan Mochtar Lubis Terhadap Kemunafikan Manusia Indonesia

Pernyataan Mochtar Lubis dalam naskah pidato Manusia Indonesia (kemudian diterbitkan menjadi buku) sampai sekarang pidato ini masih relevan untuk dibahas, baik kalangan awam maupun...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Bencana Alam: Paradigma Ekologi dan Aktivisme

Ekologi sebagai kajian ilmiah tentang hubungan antara makhluk hidup dengan makhluk tidak hidup telah memberikan perspektif baru tentang sistem keterkaitan. Namun, sebagian besar pemerhati...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Bagaimana Masa Depan Islam Mazhab Ciputat?

Sejak tahun 80-an Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Jakarta dikenal "angker" oleh sebagian masyarakat, pasalnya mereka menduga IAIN Jakarta adalah sarangnya orang-orang Islam liberal,...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.