Minggu, Oktober 25, 2020

Politik Genderuwo?

Zelotisme Dunia Pertelevisian Indonesia

Hiruk pikuk kehidupan modern saat ini semakin menjadi permasalahan yang sangat rumit, sehingga sampai saat era digital seperti ini manusia tidak pernah berhenti untuk...

Membuka Ruang Publik Milenial Membatasi Staqus Quo

Di era Orde Baru hingga akhir pemerintahan SBY.  Mereka yang duduk dikekuasaan berdasarkan pada kedekataan (nepotisme). Membuka generasi milenial,  menjadi trigger konsepsi ruang publik...

Menabur Kampanye Provokatif, Sandi Merusak Moral Bangsa?

Cawapres nomor urut 02, Sandiaga Uno terus mengumbar pernyataan provokatif dalam setiap kali safari kampanyenya. Contoh teranyar kampanye ‘ngawur’ Sandi ialah ketika dia menemui...

Mengkaji Pencalonan Menteri di Pileg 2019

Sesuai tahapan Pemilu tahun 2019 Pendaftaran Bakal Calon Anggota Legislatif  (Bacaleg) tingkat pusat dan daerah telah resmi ditutup oleh KPU pada hari selasa pukul...
Akmal Maulana
Seorang pemuda di selatan Banten

Politik dengan menebar ketakutan, atau belakangan ini populer disebut sebagai politik genderuwo, memang salah satu cara yang cukup efektif untuk mendapat dukungan dan simpati massa. Menakuti orang dengan suatu hal, untuk dapat mengendalikannya, itu merupakan strategi yang cukup ampuh memang.

Dengan menanamkan ketakutan pada masyarakat, kemudian memberi “solusi” untuk ketakutan tersebut agar masyarakat mendukungnya. Cara ini cukup populer dan sering digunakan bukan hanya di Indonesia tapi diseluruh dunia.

Diantara yang pernah menggunakannya antara lain, Hitler, Stalin, Mao Zedong, Pol Pot, dan Soeharto tentu saja. Meski akhirnya nama-nama itu pun berakhir, tapi pengaruhnya saat berkuasa menggunakan “politik genderuwo” sangatlah luar biasa.

Sekarang ini, menghadapi Pemilu 2019 nanti, kedua kubu sama-sama menggunakan strategi ini untuk mendapat dukungan sebanyak-banyaknya. Narasi yang dibangun bermacam-macam, tapi esensi-nya sama, agar masyarakat takut untuk memilih lawannya, dan kemudian memilih jagoannya saat pemilu nanti. Cukup sederhana, tapi sangat ampuh.

Saya merasa, wajar saja jika para elit melakukan hal yang demikian, selama tak ada aturan yang dilanggar disana, it’s ok. Toh, Tuhan sekalipun menggunakan “politik genderuwo” pada mahluknya, dengan mengancam, jika tidak patuh kau akan dimasukkan ke Neraka. Jadi, mungkin saja manusia ini mendapat inspirasi dari Tuhan untuk membuat mahluknya patuh, dengan menanam ketakutan ke setiap manusia.

Tapi, entah kenapa saya tidak menyukai apa yang disebut sebagai “politik genderuwo” ini. Mungkin karena doktrin yang ditanamkan adalah ketakutan terhadap lawan politiknya, sehingga akan menimbulkan suatu kebencian. Ini yang saya khawatirkan, jika sudah benci terhadap seseorang, apapun yang dilakukan orang itu akan kita benci pula, dan lebih parah jika kita membenci orang atau kelompok yang tidak ikut membenci apa yang kita benci. Akan muncul rantai kebencian yang hanya akan menjadi akar perpecahan.

Para elit politik itu akan ngopi santai di belakang layar setelah berdebat hebat tentang calon yang didukungnya didepan kamera, mereka juga dapat keuntungan dari hal itu. Sementara rakyat yang dibodohi di bawah, berdebat hebat tentang jagoan masing-masing, gak ada hasil apa-apa, akhirnya hanya saling benci satu sama lain. Debat ataupun diskursus mengenai hal ini, hanya akan berakhir tanpa solusi dan menguatkan kebencian.

Kotor? Kotor memang. Licik? Memang licik. Tapi itulah politik kita. Sulit untuk membenahinya. Sangat disayangkan memang, reformasi kita yang sudah berjalan 19 tahun ini belum bisa menghasilkan cara berpolitik yang mengedepankan akal sehat. Politik yang mencerdaskan rakyat, politik yang mengutamakan kepentingan bersama, politik yang meletakkan keindonesiaan di atas segalanya. Politik yang tidak hanya menggunakan Bhineka Tunggal Ika sebagai slogan belaka, tapi visi bersama. Politik yang bukan hanya mendengungkan Pancasila tapi mengamalkannya sebagai ideologi bangsa.

Kesel gak sih, lihat politisi bahas PKI, Agama, hoaks, tempe, sontoloyo, Boyolali, neo-orba, subsidi, dan hal-hal yang sifatnya itu hanya demi kepentingan elektoral belaka. Sama sekali tidak menyasar akan dibawa kemana masyarakat Indonesia puluhan tahun kedepan. Kan lebih enak kalo lihat mereka bahas sistem pendidikan kita yang jauh tertinggal, minat baca bangsa kita yang jauh di bawah negara lain, atau bagaimana memaksimalkan potensi kekayaan alam maupun budaya yang ada di Indonesia, kan lebih berfaedah pastinya.

Akmal Maulana
Seorang pemuda di selatan Banten
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Sastra, Dildo dan Evolusi Manusia

Paling tidak, berdasarkan catatan tertulis, kita tau bahwa sastra, sejak 4000 tahun lalu telah ada dalam sejarah umat manusia. Hari ini, catatan yang ditulis...

Benturan Antar Peradaban dan Masa Depan Politik Dunia

Di dalam buku Huntington yang 600-an halaman yang berjudul Benturan Antar Peradaban dan Masa Depan Politik Dunia mengatakan bahwasanya masa depan politik dunia akan...

Di Bawah Erdogan Turki Lebih Tidak Demokratis dari Indonesia

Turki di bawah kepemimpinan Erdogan sering dibanding-bandingkan dengan Indonesia di bawah Jokowi. Perbandingan dan penghadap-penghadapan antara Erdogan dan Jokowi yang sering dilakukan oleh kelompok...

Refleksi Bulan Bahasa: Apa Kabar Perpres 63/2019?

Oktober adalah bulan yang sangat bersejarah dalam kehidupan bangsa Indonesia. Pada bulan inilah, 92 tahun silam terjadi peristiwa Sumpah Pemuda yang menjadi tonggak lahirnya...

Berlindung di Balik Topeng Kaca, Public Figure juga Manusia

Ketika Candil lewat Grup Band Seurieus, salah satu Band Rock Kenamaan tahun 2000-an awal ini menyuarakan pendapatnya lewat lagu Rocker juga Manusia, saya seratus...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Cara Mahasiswa Menghadapi Revolusi Industri 4.0

Teknologi selalu mengalami perubahan-perubahan seakan tidak pernah ada ujungnya. Seperti halnya saat ini teknologi sudah sangat berkembang dengan pesat terutama dalam bidang teknologi informasi...

Memperkuat Peran Politik Masyarakat

Salah satu kegagalan konsolidasi demokrasi elektoral adalah tidak terwujudnya pemilih yang cerdas dalam membuat keputusan di hari pemilihan. Menghasilkan pemilih cerdas dalam pemilu tentu...

10 Profesi Keren di Sektor Pertanian

Saudara saya tinggal di sebuah desa lereng Gunung Sindoro. Dari hasil pertanian, dia sukses menyekolahkan salah satu anaknya hingga lulus paska-sarjana (S2) dalam bidang...

Refleksi Bulan Bahasa: Apa Kabar Perpres 63/2019?

Oktober adalah bulan yang sangat bersejarah dalam kehidupan bangsa Indonesia. Pada bulan inilah, 92 tahun silam terjadi peristiwa Sumpah Pemuda yang menjadi tonggak lahirnya...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.