Rabu, April 14, 2021

Politik Bukan Kekuatan Sejarah Seutuhnya

Urgensi Digital Literacy di Indonesia

Pada era digital ini kemajuan teknologi informasi sangat berkembang. Dalam satu sentuhan saja, kita mampu mengakses informasi yang jaraknya ribuan kilometer dari tempat kita...

Budaya Tradisional dan Modern Life di Dubai?

Jika ada pertanyaan tentang apa kota paling modern di dunia saat ini, pasti kebanyakan orang akan setuju untuk mengatakan Dubai sebagai salah satu contoh...

Krisis Moralitas Sepak Bola Indonesia

Pada Minggu (23/9), sebelum laga Persija kontra Persib di Gelora Bandung Lautan Api (GBLA) dimulai, satu jiwa telah melayang: Haringga Sirla suporter The Jak...

H.O.S Tjokroaminoto dan Gagasan Sosialisme Islam

Raden Mas Haji Oemar Said Tjokroaminoto atau dikenal dengan H.O.S Tjokroaminoto merupakan salah satu tokoh pergerakan nasional yang memberikan pengaruh besar dalam dinamika politik...
Anggi Supriyadi
Penulis, Penikmat Alam

Sejarah bukanlah perihal masa lampau yang tanpa gairah saat mempelajarinya, namun sejarah juga dapat menyebabkan seseorang menjadi begitu tendensius dalam menciptakan sejarahnya. Karena setiap sejarah memiliki momentum untuk selalu diingat masa.

Maka, Pemilu 2019 mendatang adalah momentum bersejarah dalam pertarungan ideologi Politik antara Prabowo Subianto dan Joko Widodo sebagai calon Presiden supaya disebutkan namanya dalam catatan buku sejarah.

Perspektif politik di Indonesia dengan berbagai kompleksitas masalahnya bukanlah satu-satunya warisan para pendiri Bangsa Indonesia kepada generasi jaman now dalam memajukan Bangsa. Pergerakan Nasional dalam menghadapi penjajahan Belanda dan Jepang bukan sekedar menunjukkan sikap politik dengan tanpa ditunjang oleh aspek sosial dan budaya di satu sisi sebagai penentu keberhasilan secara politis Negara Indonesia merdeka tahun 1945.

Sudah banyak sekali waktu kita habiskan hanya untuk sekedar debat kusir demi persoalan politik yang tak pernah pasti dan tidak jelas ujung pangkalnya. Padahal masalah politik itu telah menjauhkan perhatian kita terhadap masalah yang jauh lebih penting, berupa pembangunan sumber daya manusia dalam bidang pendidikan, ekonomi, dan terutama sekali dalam aspek kebudayaan. Sejak tahun 2014 lalu dan mungkin jauh sebelumnya, diskusi publik terkait masalah politik telah banyak menyita perhatian kita.

Hampir tak ada waktu bagi kita terlepas dan melepaskan diri dari isu politik. Bersikap apolitis itu tidak baik, tetapi jika terlena dalam pusaran politik juga tidak baik, sebab dalam politik semuanya tampak absurd, maka cukup proporsional saja. Karena yang punya rencana dan mengerti strategi permainannya hanyalah mereka, para Politisi dan perancang strategi di belakangnya.

Besarnya animo masyarakat Indonesia terhadap politik harus menjadi kritik dan sebuah titik balik. Secara positif dan ekstensif masyarakat dapat belajar juga terbuka wawasannya tentang arti sebuah pertarungan, dan per-tunangan seputar mahligai kekuasaan. Di samping itu, secara negatif banyak orang mengasumsikan bahwa politik merupakan “ladang” kotor yang akan melakukan apa saja demi berjalannya sebuah rencana dengan berbagai macam cara, jadi apa yang terencana oleh mereka harus terlaksana.

Pertanyaannya adalah apakah kita akan menghabiskan waktu demi persoalan politik saja? Sedangkan waktu terus bergerak meninggalkan hari ini sebagai sejarah dan hari esok sebagai harapan untuk menjawab tantangan dan peluang bagi masa depan.

Apabila kita tidak mempersiapkan hari esok sebagai peluang maka kita tidak memiliki masa depan, oleh karena kita minim pengetahuan dan persiapan dalam menjawab setiap tantangan daripada hanya sekedar berseteru dalam politik bersebrangan.

Setiap manusia (laki-laki maupun perempuan) mungkin masih mengira bahwa dengan ber-politik dapat menjawab seluruh persoalan negeri. Sampai saat menjelang Pemilu 2019 beberapa kelompok masyarakat mulai membentuk aliansi untuk membela dan memberikan suara terhadap satu pasangan calon presiden dengan tanpa perhitungan dan analisis data yang kuat sebagai pertimbangan.

Hal itu mereka lakukan demi sedikit perubahan nasib yang selama ini dirasakan timpang dengan mendukung partai oposisi dianggap akan membawa peruntungan nasib jika kelak unggul dalam pemilihan.

Lemahnya daya nalar kritis di tengah masifnya perkembangan teknologi dan informasi di era Globalisasi sebagai aspek kognitif pengetahuan manusia bisa mengakibatkan pendangkalan akal manusia.

Padahal, apa yang kita terima dalam perangkat “terminal” elektronik kita harus benar-benar cermat saat menerima dan juga mencerna setiap pemberitaan yang masuk, sedangkan alat pencerna itu tak lain berupa akal budi kita. Setidaknya dalam hidup manusia, seperti diharapkan oleh Pramoedya Ananta Toer, untuk berlaku adil sejak dalam pikiran.

Mengedepankan aspek rasionalitas bukan berarti mengagamakan rasio sebagai aspek penentu kehidupan. Berpikir rasional lebih tepat mengarah pada pola pikir yang masuk di akal (rasional) dan output-nya dapat diterima oleh masyarakat luas.

H.A.R. Tilaar menjelaskan, irasionalisme biasanya membawa kita kepada sikap tertutup tanpa dialog (1992:96). Melalui pertimbangan ini kiranya masyarakat dapat lebih rasional dan teguh pada pendirian dari segala bujukan praksisme politik.

Kita selalu mengira politik itu menentukan, kita kemudian membayar mahal untuk sebuah pesta demokrasi lima tahunan. Kita tidak menyadari bahwa kekuatan sejarah umat manusia tidak semata ditentukan oleh aspek politik saja.

Sebab itu, Kuntowijoyo menegaskan bahwa kekuatan politik hanyalah penunjang dari proses terjadinya arus perubahan sejarah. Masih ada banyak sekali aspek penunjang menuju perubahan terhadap perkembangan sejarah umat manusia.

Biarkan saja urusan politik diurus oleh para politisi, masyarakat sipil cukup menjadi masyarakat warga yang baik dan tentu tidak apatis. Dalam artian, kita perlu berperan aktif dalam menjalankan tugas kita dalam bernegara sesuai amanat yang tercantum jelas dalam UUD 1945 untuk turut serta dalam “mencerdaskan kehidupan Bangsa” dan “menjaga ketertiban dunia”. Akhirnya, dalam pemilihan Presiden periode 2019-2024 mendatang boleh berbeda!

Anggi Supriyadi
Penulis, Penikmat Alam
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Menolak lupa: Seputar Perjalanan Covid-19 di Indonesia

Tidak terasa kasus pandemi Covid-19 di Indonesia hampir berusia 1 tahun. Apabila kita ibaratkan sebagai manusia, tentu pada usia tersebut belum bisa berbuat banyak,...

Eren Yeager, Kesadaran dan Kebebasan

Pemberitahuan: esai ini terdapat cuplikan cerita Attack on Titan (AoT) episode 73. Pada musim akhir seri AoT, Eren Yeager tampil dengan kondisi mental yang jauh lebih...

Dibalik Kunjungan Paus Fransiskus ke Timur Tengah

  Tak dapat disangkal kekristenan bertumbuh dan berkembang dari Timur Tengah. Sebut saja, antara abad 1-3 masehi, kekristenan praktisnya berkembang pesat di sekitar wilayah Asia...

Bertahan Disegala Kondisi

Pandemi COVID-19 membawa beragam nilai positif. Bagi dunia pendidikan, selain orangtua mengetahui betapa susahnya Pendidik (guru/dosen) mengajar anak didik, pendidik juga bisa belajar secara...

Bagaimana Cara Mengatasi Limbah di Sekitar Lahan Pertanian?

Indonesia merupakan negara agraris yang mayoritas warganya bermata pencaharian sebagai petani. Pada bidang pertanian terutama pertanian konvensional terdapat banyak proses dari penanaman hingga pemanenan,...

ARTIKEL TERPOPULER

Terorisme dan Paradoks Keyakinan

Jika Brian May, gitaris grup band Queen, menulis lagu berjudul "Too Much Love Will Kill You", dalam terorisme barangkali judul yang lebih tepat, "Too...

Peranan Terbesar Manajemen Dalam Bisnis Perhotelan

Melihat fenomena sekarang ini mengenai bisnis pariwisata di Indonesia yang terus tumbuh sesuai dengan anggapan positif dunia atas stabilnya keamanan di Indonesia mendorong tumbuhnya...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Umat Kristiani Bukan Nashara [Kaum Nasrani]

Dalam bahasa Arab, kata "nashara" merupakan bentuk jamak dari "nashrani". Sebutan "umat Nasrani" secara salah-kaprah digunakan untuk merujuk pada umat Kristiani, penganut agama Kristen....

Bertahan Disegala Kondisi

Pandemi COVID-19 membawa beragam nilai positif. Bagi dunia pendidikan, selain orangtua mengetahui betapa susahnya Pendidik (guru/dosen) mengajar anak didik, pendidik juga bisa belajar secara...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.