OUR NETWORK

Polarisasi Sosial Media Sosial Pasca Pilkada Jakarta

Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok dan calon Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan di Balai Kota, Jakarta, Kamis (20/4). ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A.

Pilkada DKI 2017 meninggalkan polarisasi sangat kuat antara dua pendukung. Polarisasi ini sebenarnya mulai muncul ketika Pilkada DKI 5 tahun lalu, kemudian semakin menguat ketika Pilpres 2014 yang memunculkan Jokowi, orang ndeso yang menjadi Presiden RI ke-7 mengalahkan Prabowo, seorang jenderal dan bagian dari para priyayi.

Polarisasi ini lantas semakin meruncing pada Pilkada DKI yang baru saja selesai, karena polarisasinya bergeser menjadi polarisasi agama, antara Islam dan anti Islam. Sedikit aneh memang kalau melihat komposisi yang ada, jika kemudian polarisasinya menjadi Islam dan anti-Islam. Di kelompok yang dikatakan anti-Islam sesungguhnya ada Nahdatul Ulama yang merupakan organisasi terbesar representasi umat Islam. Sedangkan di kelompok yang mengklaim pembela Islam, juga ada kelompok-kelompok non-Islam yang menjadi pendukungnya.

Namun, itulah faktanya; orang-orang mengikuti sesuatu yang dipersepsikan benar oleh tokoh-tokohnya, kemudian mengkorfirmasi bahwa pendapat tersebut adalah benar karena sesuai dengan persepsinya juga (confirmation bias). Saya kira polarisasi ini akan tetap dipertahankan sampai Pilpres 2019. Selama rentang waktu itu, akan ada konflik-konflik kecil yang terjadi, seperti yang dikatakan mahzab neo-weberianism bahwa konflik adalah pendorong perubahan.

Faktor Penyebab Polarisasi

Setiap orang secara naluriah akan bergabung dengan orang-orang yang mempunyai kesesuaian dengan dirinya. Kesesuaian tersebut dipengaruhi oleh pengalaman hidup, pengetahuan dan konstruksi fikirannya terhadap semua hal yang diperolehnya. Inilah yang kemudian menjadi mental model baginya. Inilah yang mengarahkan seseorang untuk mencari informasi secara aktif untuk memenuhi kebutuhannya bersosialisasi dalam lingkar kelompoknya.

Akibatnya terjadi perputaran informasi yang itu-itu saja dalam kelompok tersebut sehingga terjadi penguatan informasi terhadap orang-orang di dalamnya (echo chamber). Hal ini menyebakan polarisasi semakin tajam. Kelompok satu semakin membenci kelompok lainnya, karena telah dibanjiri oleh informasi tentang “kejahatan” pihak lainnya.

Pandangan yang tercipta adalah kami kelompok yang benar dan tidak ada salah, sementara kelompok lain adalah kelompok yang salah dan tidak ada kebenaran darinya. Dengan pemahaman seperti itu, berita yang disebarkan bukan lagi berdasarkan benar atau tidak benar, namun menjadi andil kepada kemenangan kelompoknya dan kekalahan kelompok lain.

Efek echo chamber ini sangat luar biasa ketika informasi yang beredar di dalamnya adalah informasi palsu, apakah itu fake news atau bahkan hoax. Akan terjadi kebencian yang semakin meningkat, yang pada akhirnya akan terjadi benturan di antara keduanya. Melihat secara mata telanjang berita-berita yang menyebar saat pilkada lalu, hampir sepenuhnya diisi oleh fake news dan hoax, apalagi sudah ada upaya delegitimasi terhadap media arus utama seperti Metro TV, Kompas di satu sisi dan TV one dan Republika di sisi lain.

Praktis berita yang dikonsumsi adalah berita-berita yang dimuat dari website-website dan share dari buzzer-buzzer yang tidak bisa dimintai pertanggungjawaban. Sehingga kebencian menguat pada titik yang tertinggi. Inilah salah satu yang bisa menjelaskan mengapa tingkat kepuasan warga DKI yang tinggi (76%) tidak berbanding lurus dengan pilihan warga DKI yang hanya memilih Ahok sebesar 42% saja.

Berarti sebanyak 34% warga DKI harus menghadapi kondisi tidak nyaman (Cognitive dissonance), saat mengikuti mental model nya yang berlawan dengan realitas yang sedang ia hadapi. Bahwa agamanya menolak memilih Ahok, sebagus apa pun hasil kerjanya dan sebesar apa pun pengaruh baik terhadapnya.

Media Sosial sebagai Penguat Polarisasi

Dalam Cyberpsychology, ada yang dikenal dengan istilah disinhibition effect, yaitu sebuah gejala yang dialami oleh seseorang yang mengatakan dan melakukan sesuatu di dunia maya yang tidak mereka lakukan di dunia nyata dalam komunikasi tatap muka. Mereka menjadi bisa berekspresi lebih terbuka, lebih bebas dan merasa tidak ada hambatan untuk melakukannya.

Efek ini mengklarifikasi betapa orang begitu mudah menshare berita-berita tanpa mempelajari dahulu kebenaran beritanya. Efek ini dipadukan dengan panggilan kelompoknya menjadi satu hal yang luar biasa militan dalam penyebaran berita-berita palsu dan hoax.

Wael Ghonim, penggagas Revolusi Mesir melalui Facebook yang berhasil menurunkan Mubarak dari kursi kepresidenan, lalu diikuti oleh negara-negara arab lainnya yang dikenal dengan Arab Spring, menyatakan penyesalannya pada Desember 2015 di TEDGlobal di Geneva, bahwa media sosial telah menjadi pemecah Mesir menjadi dua kelompok yang terus saling bertikai, yaitu militer dan Islamis.

Dan pertikaian itu sampai sekarang belum bisa dicairkan. Dia berpendapat bahwa media sosial mempunyai peran yang sangat signifikan untuk meningkatkan polarisasi tersebut.

Platform media sosial bekerja dengan Algoritma yang berlandaskan pada perhitungan bisnis. Bisnis yang berbasis internet (website) sangat bergantung pada trafik. Semakin banyak pengguna yang masuk ke website tersebut, maka trafiknya semakin tinggi. Trafik semakin tinggi artinya undangan bagi pebisnis lainnya untuk membuka iklan dan kerjasama lainnya.

Algoritma di media sosial akan menampilkan kontent-konten yang mendapat respons paling ramai dari penggunanya (trending topic). Siapa yang menampilkan konten dan bagaimana kualitas konten tersebut, tidak dihiraukan. Itulah mengapa pemilik akun yang mempunyai pengikut yang banyak lebih sering muncul di timeline kita.

Bagi pemilik akun, hal ini juga menjadi ladang mencari uang dengan menjadi buzzer. Buzzer ini berperan sebagai penyebar isu yang kemudian diamini dan dishare oleh pengikut-pengikutnya. Pemilik pos Metro mengatakan pada Tirto.id, bahwa penghasilan rata-rata mereka adalah 25-30 juta perbulan hanya dengan mengambil artikel dari media lain dan diolah dengan gaya provokatif.

Menghadapi persoalan ini, literasi informasi melalui media sosial menjadi wajib saat ini, penyebaran informasi tentang bahanya informasi yang sesat harus terus dikumandangkan, pembuatan-pembuatan pamflet dan film-film singkat tentang ancaman para penyebar fitnah harus secara masif disebarkan untuk mengurangi kecenderungan orang menyebarkan berita sesat tersebut. Dengan semakin berkurangnya berita-berita sesat, setidaknya kebenaran mutlak bisa sedikit dikurangi, bahwa kita tidak benar 100% dan dia tidak salah 100%. Ini menjadi penting untuk mengurai polarisasi yang semakin tajam ini.

Organisasi-organisasi sosial dan keagamaan mempunyai peran yang sangat vital untuk menjadi garda terdepan penyelesaian masalah ini. Muhamadiyah melalui fikih informasinya telah memulai melakukan ini, media-media mainstream sudah mulai memerangi hoax, para penggiat informasi sudah bergerak membuat aplikasi-aplikasi untuk membongkar hoax, lalu Facebook sudah memulai algoritma yang bisa mengontrol penyebaran hoax.

Tidak kalah penting adalah harus adanya pihak ke tiga yang menjembatani polarisasi tersebut, pihak ketiga yang menjadi penyeimbang berita yang berasal dari komponen-komponen masyarakat yang masih berfikir jernih dan logis, yang mampu untuk tidak terseret pada polarisasi ini, sehingga polarisasi menjadi sedikit mereda dan cair. Bagaimanapun pembangunan bangsa sudah sangat terlambat dan akan mundur jika hal-ini tidak ada jalan keluarnya. Media sosial hanyalah alat berkomunikasi untuk mendekatkan kita semua, selayaknya dikembalikan ke fungsinya semula.

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…