Selasa, Januari 26, 2021

Polarisasi Sosial Media Sosial Pasca Pilkada Jakarta

Terorisme dan Eskapisme Beragama

“Agama,” tulis Lenin dalam The Attitude of the workers’ Party of Religion (1909), “adalah candu bagi rakyat. Inilah diktum Karl Marx yang menjadi pijakan...

Sastra, Dildo dan Evolusi Manusia

Paling tidak, berdasarkan catatan tertulis, kita tau bahwa sastra, sejak 4000 tahun lalu telah ada dalam sejarah umat manusia. Hari ini, catatan yang ditulis...

Legitimasi Agama, Barang Lama yang Masih Laku Dijual

“…Mula-mula didekatinya para intelektual dan kaum moralis untuk mendapatkan legitimasi bahwa usaha kudetanya legal. Karena bagaimanapun usaha politik butuh legitimasi baik agama maupun sejarah...

Putra Kepala Negara dan Pelaporan yang Sia-sia

Sejak kemarin, anak Jokowi yang bernama Kaesang menjadi perbincangan hangat di dunia sosial media karena diduga telah menodai Agama seperti halnya yang dilakukan oleh...

Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok dan calon Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan di Balai Kota, Jakarta, Kamis (20/4). ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A.

Pilkada DKI 2017 meninggalkan polarisasi sangat kuat antara dua pendukung. Polarisasi ini sebenarnya mulai muncul ketika Pilkada DKI 5 tahun lalu, kemudian semakin menguat ketika Pilpres 2014 yang memunculkan Jokowi, orang ndeso yang menjadi Presiden RI ke-7 mengalahkan Prabowo, seorang jenderal dan bagian dari para priyayi.

Polarisasi ini lantas semakin meruncing pada Pilkada DKI yang baru saja selesai, karena polarisasinya bergeser menjadi polarisasi agama, antara Islam dan anti Islam. Sedikit aneh memang kalau melihat komposisi yang ada, jika kemudian polarisasinya menjadi Islam dan anti-Islam. Di kelompok yang dikatakan anti-Islam sesungguhnya ada Nahdatul Ulama yang merupakan organisasi terbesar representasi umat Islam. Sedangkan di kelompok yang mengklaim pembela Islam, juga ada kelompok-kelompok non-Islam yang menjadi pendukungnya.

Namun, itulah faktanya; orang-orang mengikuti sesuatu yang dipersepsikan benar oleh tokoh-tokohnya, kemudian mengkorfirmasi bahwa pendapat tersebut adalah benar karena sesuai dengan persepsinya juga (confirmation bias). Saya kira polarisasi ini akan tetap dipertahankan sampai Pilpres 2019. Selama rentang waktu itu, akan ada konflik-konflik kecil yang terjadi, seperti yang dikatakan mahzab neo-weberianism bahwa konflik adalah pendorong perubahan.

Faktor Penyebab Polarisasi

Setiap orang secara naluriah akan bergabung dengan orang-orang yang mempunyai kesesuaian dengan dirinya. Kesesuaian tersebut dipengaruhi oleh pengalaman hidup, pengetahuan dan konstruksi fikirannya terhadap semua hal yang diperolehnya. Inilah yang kemudian menjadi mental model baginya. Inilah yang mengarahkan seseorang untuk mencari informasi secara aktif untuk memenuhi kebutuhannya bersosialisasi dalam lingkar kelompoknya.

Akibatnya terjadi perputaran informasi yang itu-itu saja dalam kelompok tersebut sehingga terjadi penguatan informasi terhadap orang-orang di dalamnya (echo chamber). Hal ini menyebakan polarisasi semakin tajam. Kelompok satu semakin membenci kelompok lainnya, karena telah dibanjiri oleh informasi tentang “kejahatan” pihak lainnya.

Pandangan yang tercipta adalah kami kelompok yang benar dan tidak ada salah, sementara kelompok lain adalah kelompok yang salah dan tidak ada kebenaran darinya. Dengan pemahaman seperti itu, berita yang disebarkan bukan lagi berdasarkan benar atau tidak benar, namun menjadi andil kepada kemenangan kelompoknya dan kekalahan kelompok lain.

Efek echo chamber ini sangat luar biasa ketika informasi yang beredar di dalamnya adalah informasi palsu, apakah itu fake news atau bahkan hoax. Akan terjadi kebencian yang semakin meningkat, yang pada akhirnya akan terjadi benturan di antara keduanya. Melihat secara mata telanjang berita-berita yang menyebar saat pilkada lalu, hampir sepenuhnya diisi oleh fake news dan hoax, apalagi sudah ada upaya delegitimasi terhadap media arus utama seperti Metro TV, Kompas di satu sisi dan TV one dan Republika di sisi lain.

Praktis berita yang dikonsumsi adalah berita-berita yang dimuat dari website-website dan share dari buzzer-buzzer yang tidak bisa dimintai pertanggungjawaban. Sehingga kebencian menguat pada titik yang tertinggi. Inilah salah satu yang bisa menjelaskan mengapa tingkat kepuasan warga DKI yang tinggi (76%) tidak berbanding lurus dengan pilihan warga DKI yang hanya memilih Ahok sebesar 42% saja.

Berarti sebanyak 34% warga DKI harus menghadapi kondisi tidak nyaman (Cognitive dissonance), saat mengikuti mental model nya yang berlawan dengan realitas yang sedang ia hadapi. Bahwa agamanya menolak memilih Ahok, sebagus apa pun hasil kerjanya dan sebesar apa pun pengaruh baik terhadapnya.

Media Sosial sebagai Penguat Polarisasi

Dalam Cyberpsychology, ada yang dikenal dengan istilah disinhibition effect, yaitu sebuah gejala yang dialami oleh seseorang yang mengatakan dan melakukan sesuatu di dunia maya yang tidak mereka lakukan di dunia nyata dalam komunikasi tatap muka. Mereka menjadi bisa berekspresi lebih terbuka, lebih bebas dan merasa tidak ada hambatan untuk melakukannya.

Efek ini mengklarifikasi betapa orang begitu mudah menshare berita-berita tanpa mempelajari dahulu kebenaran beritanya. Efek ini dipadukan dengan panggilan kelompoknya menjadi satu hal yang luar biasa militan dalam penyebaran berita-berita palsu dan hoax.

Wael Ghonim, penggagas Revolusi Mesir melalui Facebook yang berhasil menurunkan Mubarak dari kursi kepresidenan, lalu diikuti oleh negara-negara arab lainnya yang dikenal dengan Arab Spring, menyatakan penyesalannya pada Desember 2015 di TEDGlobal di Geneva, bahwa media sosial telah menjadi pemecah Mesir menjadi dua kelompok yang terus saling bertikai, yaitu militer dan Islamis.

Dan pertikaian itu sampai sekarang belum bisa dicairkan. Dia berpendapat bahwa media sosial mempunyai peran yang sangat signifikan untuk meningkatkan polarisasi tersebut.

Platform media sosial bekerja dengan Algoritma yang berlandaskan pada perhitungan bisnis. Bisnis yang berbasis internet (website) sangat bergantung pada trafik. Semakin banyak pengguna yang masuk ke website tersebut, maka trafiknya semakin tinggi. Trafik semakin tinggi artinya undangan bagi pebisnis lainnya untuk membuka iklan dan kerjasama lainnya.

Algoritma di media sosial akan menampilkan kontent-konten yang mendapat respons paling ramai dari penggunanya (trending topic). Siapa yang menampilkan konten dan bagaimana kualitas konten tersebut, tidak dihiraukan. Itulah mengapa pemilik akun yang mempunyai pengikut yang banyak lebih sering muncul di timeline kita.

Bagi pemilik akun, hal ini juga menjadi ladang mencari uang dengan menjadi buzzer. Buzzer ini berperan sebagai penyebar isu yang kemudian diamini dan dishare oleh pengikut-pengikutnya. Pemilik pos Metro mengatakan pada Tirto.id, bahwa penghasilan rata-rata mereka adalah 25-30 juta perbulan hanya dengan mengambil artikel dari media lain dan diolah dengan gaya provokatif.

Menghadapi persoalan ini, literasi informasi melalui media sosial menjadi wajib saat ini, penyebaran informasi tentang bahanya informasi yang sesat harus terus dikumandangkan, pembuatan-pembuatan pamflet dan film-film singkat tentang ancaman para penyebar fitnah harus secara masif disebarkan untuk mengurangi kecenderungan orang menyebarkan berita sesat tersebut. Dengan semakin berkurangnya berita-berita sesat, setidaknya kebenaran mutlak bisa sedikit dikurangi, bahwa kita tidak benar 100% dan dia tidak salah 100%. Ini menjadi penting untuk mengurai polarisasi yang semakin tajam ini.

Organisasi-organisasi sosial dan keagamaan mempunyai peran yang sangat vital untuk menjadi garda terdepan penyelesaian masalah ini. Muhamadiyah melalui fikih informasinya telah memulai melakukan ini, media-media mainstream sudah mulai memerangi hoax, para penggiat informasi sudah bergerak membuat aplikasi-aplikasi untuk membongkar hoax, lalu Facebook sudah memulai algoritma yang bisa mengontrol penyebaran hoax.

Tidak kalah penting adalah harus adanya pihak ke tiga yang menjembatani polarisasi tersebut, pihak ketiga yang menjadi penyeimbang berita yang berasal dari komponen-komponen masyarakat yang masih berfikir jernih dan logis, yang mampu untuk tidak terseret pada polarisasi ini, sehingga polarisasi menjadi sedikit mereda dan cair. Bagaimanapun pembangunan bangsa sudah sangat terlambat dan akan mundur jika hal-ini tidak ada jalan keluarnya. Media sosial hanyalah alat berkomunikasi untuk mendekatkan kita semua, selayaknya dikembalikan ke fungsinya semula.

Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Pengalaman Mantan Pasien Wisma Atlet

Ibu Mawar ingin memberi cerita pengalamannya yang dialami ia dan keluarga dalam menghadapi karena mengidap Covid 19 yang sempat dirawat di Wisma Atlet serta...

95% Keluarga Muda Terancam Menjadi Gelandangan Masa Depan

Pernikahan menjadi salah satu momen yang istimewa bagi siapa saja. Namun siapa sangka, pernikahan yang tidak dilakukan dengan pertimbangan dan perencanaan matang, justru akan...

Utang, Literasi, dan Investasi

Belakangan ini, belantara media sosial diriuhkan oleh suatu kasus yang menarik perhatian publik. Yakni investasi saham dengan menggunakan uang hasil ngutang ke sejumlah kreditur. Alih-alih...

Warna, Nada, dan Keberagaman Bangsa

Rifa Rosydiana Ratal SMAN 24 Jakarta Pemenang Lomba Menulis Esai “Mengenal Indonesia, Mengenal Diri Kita”. Sahabat Khatulistiwa. Desember 2020 Berbagai kontras yang dimiliki warna dan berbagai...

Kebiri Kimia Amputasi HAM

Pada 7 Desember 2020 lalu, Presiden Jokowi menandatangani Peraturan Pemerintah No. 70 Tahun 2020 tentang Tata Cara Pelaksanaan Tindakan Kebiri Kimia, Pemasangan Alat Pendeteksi...

ARTIKEL TERPOPULER

Revolusi Azyumardi Azra

Ketika masih sekolah di Pendidikan Guru Agama (PGA), setingkat SMA, di Pariaman, Sumatera Barat, Azyumardi Azra mengirim puisi berbahasa Inggris ke Harian The Indonesian...

Larry King, Wawancara dengan Sejarah

Oriana Fallaci beruntung. Ia seakan mendapat wangsit mendadak untuk menjuduli bukunya dengan cemerlang, "Intervista con la storia", himpunan interviunya dengan para pemimpin dunia yang...

Towards Success: Re-evaluating Indonesia Ecological Development

Indonesia has long been an active participant of the environmental policy formation and promotion. Ever since 1970, as Dr Emil Salim appointed as the...

Pandji yang Sedikit Tahu, tapi Sudah Sok Tahu

Siniar (podcast) komedian Pandji Pragiwaksono kian menegaskan bahwa budaya kita adalah sedikit tahu, tapi sudah merasa sok tahu. Sedikit saja tahu tentang gambaran FPI...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.