Rabu, Oktober 21, 2020

Polarisasi Publik Terhadap Branding Politik

Apa Sih Hebatnya Menulis?

Hayo, siapa yang tersinggung dengan kata-kata di atas? Saya sebagai penulis, tentunya cukup kecewa dengan konten ucapan orang tua yang seperti itu. Hakikat orang tua...

Konser Simpul, Kaya Makna yang Tak Gampang Dicerna

Kalau pernah mendatangi sebuah konser musik maka hal pertama yang menjadi incaran penonton kebanyakan tentulah kursi yang paling depan atau paling tidak bisa berdiri...

Cara Kuntowijoyo Membela “Yang Bukan Manusia”

Negara punya tata, desa punya cara, dan pasar punya aturan. Begitu yang terus digemakan Kuntowijoyo lewat tokoh Pak Mantri, dalam novelnya “Pasar”. Ikat pinggang...

Bangsa Republik-Monarki

Sejak kita mendeklarasikan kemerdekaan kita, kita secara resmi telah menepikan sistem dan kultur pemerintahan serta politik masa silam kita. Kerajaan-kerajaan yang dulu ada di...
Dony Anggara
Mahasiswa Ilmu Politik Universitas Jambi

Di awal tahun 2019 ini suhu politik tanah air langsung panas akibat kontestasi politik yang semakin ramai digaungkan dengan tujuan untuk saling menjatuhkan demi meningkatkan elektabilitas. Awal tahun ini langsung dibuka dengan serangkaian isu berita bohong atau Hoaks dari salah satu kubu. Ini baru diawal ketika kita baru saja memasuki tahun politik, lantas bagimana beberapa bulan kedepannya?

Pasti akan semakin keos jika terus seperti ini, lalu siapa yang dirugikan? Jelas masyarakat, Polarisasi disini harus dilakukan masyarakat. Polarisasi yang dimaksud disini adalah proses, perbuatan,pembagian atas dua bagian (kelompok orang yang berkepentingan dan sebagainya) yang berlawanan, atau simpelnya adalah proses memilah mana yang baik dan yang buruk diantara kedua kubu yang bertentangan dengan membandingkan keduanya dengan analisis dan akal sehat.

Pentingnya polarisasi ialah agar tidak terjadi kesalahpahaman masyarakat terhadap segala hal (Narasi Politik) yang disampaikan oleh para pelaku politik yang cenderung  digunakan untuk pencarian pembenaran bukan kebenaran.

Polarisasi dilakukan terhadap “Branding” yang dilakukan oleh pelaku politik. Secara Sederhana branding dapat diartikan sebagai “pemberian merk” terhadap suatu produk dengan tujuan untuk menanamkan kesan yang akan selalu di ingat oleh konsumen, baik itu dengan cara menampilkan keunggulan produk, logo, simbol dan sebagainya untuk dapat tertanam di benak konsumen.

Dalam dunia perpolitikan branding digunakan untuk mencari atensi atau perhatian masyarakat dan juga sebagai pendongkrak elektabilitas. Namun sayangnya branding politik yang dilakukan cenderung kearah yang notabene saling menjatuhkan, menyebarkan isu dan sebagainya.

Seharusnya branding politik ini dilakukan dengan strategi yang substantif. Contohnya para kandidat ataupun pelaku politik menampilkan keunggulan yang ada pada diri mereka, apa yang hendak dilakukan dan diberikan kepada publik  sehingga calon pemilih tidak kebingungan dalam menentukan pilihannya.

Logika sederhana nya ialah pembeli dapat dengan jelas membandingkan sendiri dua produk Nike dan adiddas misalnya melalui mutu dan kualitas dengan mencoba produk tersebut, sehingga terpilih la produk yang bagus dan ia sukai untuk dibeli dan tanpa adanya penyesalan setelah membelinya.

Begitu juga dalam politik, kita dapat memilih dan menentukan jika kita dapat melihat seberapa pantas hal tersebut dengan apa yang di tawarkan. Apabila ini terjadi Maka  terciptalah perpolitikan yang sehat.

Polarisasi masyarakat tidak lagi rumit, tidak lagi bingung, masyarakat membandingkan antara kandidat yang satu dengan yang lainnya dengan memberikan presepsi yang positif  sesuai dengan kualitas setiap kandidat ataupun para pelaku politik sehingga menunjukan tingkat keberhasilan positioning yang dilakukan kandidat.

Memang dari segi politik segala hal atau bagaimanapun cara dalam strategi branding politik tidak dapat disalahkan. Integritas tak lagi menjadi prioritas dalam dunia politik. Di tahun politik ini tujuan pelaku politik hanyalah mencari panggung untuk mendapatkan atensi atau perhatian dari masyarakat demi mendogkrak elektabilitas.

Baru-baru ini penulis melihat akun twitter salah satu partai baru di indonesia yang memberikan contoh strategi politik dengan melakukan sebuah award yang ditunjukkan kepada kubu sebelah hal tersebut menjadi lucu bagi penulis, memang tidak dapat disalahkan namun jelas sebagai branding serta strategi politik yang dilakukan untuk mencari atensi masyarakat. Tanpa disadari hal tersebut juga bisa menjadi “senjata makan tuan” yang dapat membenamkan.

Hal-hal seperti inilah yang harus di analisis dengan hati nurani serta dan kecerdasaan akal sehat. Kita sebagai masyarakat tidak dapat berbuat banyak selain berfikir secara rasional dengan polarisasi tadi. Kita yang harus sadar,para pelaku politik memang susah untuk disadarkan.

Penulis sendiri pun sudah melakukan hal tersebut, Sejak dimulainya masa kampanye pilpres khususnya hingga saat ini, lebih didominasi oleh sensasi yang jauh dari esensi. Kampanye yang cenderung kearah yang tidak substantif dan lebih ke arah provokatif saling menjatuhkan dan tidak ada hubungan sama sekali dengan masalah kehidupan Publik.

Maka dari itu kembali kepada diri kita sebagai masyarakat yang cerdas untuk dapat melihat keos nya perpolitikan tanah air kemudian tidak ikut memperkeruh suasana. Pada tulisan ini penulis tidak akan melarang siapapun atau dipihak manapun pembaca berada dan juga penulis hanya mengajak para pembaca untuk cerdas melihat kontestasi politik di tahun politik ini, jangan sampai menjadi orang yang ikut-ikutan kemudian sampai menjadi fanatik dan ikut menjatuhkan orang lain.

Bak kata Pribahasa “bodoh-bodohn sepat,tak makan pancing emas” , penulis tidak menganggap pembaca bodoh, logikanya ialah meskipun bodoh, dapat juga memilih mana yang baik dan mana yang buruk. Berpandangan tidak hanya dengan satu sisi, berbicara tidak hanya dengan satu fakta, Lihat realita yang ada dan jadilah bijaksana.

*) Penulis merupakan mahasiswa program studi Ilmu Politik Universitas Jambi. Kader Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Komisariat Universitas Jambi.

Dony Anggara
Mahasiswa Ilmu Politik Universitas Jambi
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Membereskan Pembukuan Tanpa Menguras Kantong

Pernahkah Anda mengalami sulitnya membereskan pembukuan dengan cepat dan mendapatkan laporan keuangan berhari-hari? Seringkali pebisnis hanya fokus cara meningkatkan omset bisnisnya saja, namun tidak menyadari cara...

Mengenal Sosok Tjokroaminoto

Tjokroaminoto merupakan orang yang pertama kali meneriakkan Indonesia merdeka, hal ini membuatnya sosok yang ditakuti oleh pemerintah Hindia-Belanda. De Ongekroonde Van Java atau Raja...

Mengapa Banyak Abdi Negara Muda Pamer di Media Sosial?

Apakah kamu pengguna Twitter yang aktif? Jika iya, pasti kamu pernah melihat akun @txtdrberseragam berseliweran di timeline kamu. Sebagaimana tercantum di bio akun ini,...

Flu Indonesia

“Indonesia sedang sakit, tapi cuma flu biasa....” Di pojok gemerlapnya kota metropolitan, jauh dari bising suara knalpot kendaraan, dan bingar-bingar musik dugem, tentu ada masyarakat...

K-Pop dalam Bingkai Industri Budaya

Budaya musik Korea atau yang biasa kita sebut K-Pop selalu punya sisi menarik di setiap pembahasannya. Banyak stigma beredar di masyarakat kita yang menyebut...

ARTIKEL TERPOPULER

Tanggapan Orang Biasa terhadap Demo Mahasiswa dan Rakyat 2019

Sudah dua hari televisi dihiasi headline berita demonstrasi mahasiswa, hal yang seolah mengulang berita di TV-TV pada tahun 1998. Saya teringat kala itu hanya...

Hitam Putih Gemerlap Media Sosial

“Komunikasi adalah inti dari masyarakat kita. Itulah yang menjadikan kita manusia.” Setidaknya begitulah yang dikatakan Jan Koum, pendiri aplikasi Whatsapp yang kini telah mencapai...

Cara Mahasiswa Menghadapi Revolusi Industri 4.0

Teknologi selalu mengalami perubahan-perubahan seakan tidak pernah ada ujungnya. Seperti halnya saat ini teknologi sudah sangat berkembang dengan pesat terutama dalam bidang teknologi informasi...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Jangan Bully Ustazah Nani Handayani

Ya, jangan lagi mem-bully Ustazah Nani Handayani “hanya” karena dia salah menulis ayat Al-Qur’an dan tak fasih membacakannya (dalam pengajian “Syiar Kemuliaan” di MetroTV...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.