Sabtu, Desember 5, 2020

Pola Perilaku Masyarakat Selama Pandemi

Kartu Nikah dan Tantangan Modernisasi Pernikahan

Dalam ruang negara-modern, birokratisasi Islam selalu menjadi persoalan yang menarik (Müller 2017; Sezgin and Künkler 2014). Apalagi jika kita melihat yang terjadi pada ranah...

510 (Ciputat- Kp. Rambutan) Riwayatmu Kini

Dekil, kumal, agak bau, tapi dinanti, diminati, didambakan, bahkan dikejar-kejar. Koantas Bima 510 adalah primadona pada masanya.Siapa pun yang pernah menetap atau sekadar singgah...

Globaliasi, Daya Tahan Bangsa dan Soft Power

Semakin derasnya arus globalisasi saat ini membuat negara-negara berkembang  termasuk Indonesia harus waspada dan mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya. Benturan dan konflik dengan negara lain...

Pendidikan Beda Zaman

Pendidikan menjadi persoalan yang terus dibahas mulai dari bapak-bapak di warung kopi sampai dengan pejabat tinggi negeri. Indonesia menjadi urutan ke-69 dari 72 Negara yang...
Izzuddin Ar Rifqiy
ASN BPS Maluku Tenggara Barat, Staf Seksi Neraca Wilayah dan Analisis Statistik

Sejak diumumkannya kasus pertama pada 2 Maret lalu, kini kasus positif Indonesia telah mencatatkan lebih dari 34 ribu kasus (6/10). Sampai saat ini kurvanya masih terus menanjak, berturut-turut lebih dari seribu kasus dalam dua hari terakhir. Padahal bulan Juni ini adalah bulan mulai digaungkannya new normal. 

Pada masa-masa transisi menuju new normal ini banyak beredar meme yang serupa yang kurang lebih kalau dinarasikan begini. Pada bulan Maret ketakutan akan Covid-19 tinggi padahal kasus masih relatif sedikit. Sedangkan pada bulan Juni masyarakat sudah tak lagi takut, padahal kasusnya semakin banyak dan belum menunjukkan tanda-tanda penurunan.

Akhir-akhir ini semakin sering diberitakan perilaku yang tak taat aturan seiiring meningkatnya apatisme masyarakat terhadap Covid-19. Mulai meninggalkan kebiasaan semua yang telah dijalani beberapa bulan ke belakang ini. Diselingi kejadian-kejadian yang sulit dibayangkan sebelumnya.

Sebut saja pengambilan paksa jenazah Pasien Dalam Pengawasan (PDP) dari rumah sakit yang dilakukan sampai menimbulkan kericuhan, penolakan rapid test di berbagai tempat, dan menjamurnya bermacam teori konspirasi. Hal-hal yang jarang ditemukan pada awal pandemi. Sebenarnya apa yang terjadi?

Untuk mengetahui persepsi masyarakat tentang Covid-19, Badan Pusat Statistik (BPS) melaksakan survei daring bertajuk “Survei Sosial Demografi Dampak Covid-19” yang melibatkan 87.379 responden dari seluruh Indonesia pada 13-20 April 2020. Survei ini bertujuan untuk mendapatkan pemahaman tentang bagaimana masyarakat di Indonesia menjalani kondisi ini dan dampak akibat virus ini di masyarakat. Serta didapatkan gambaran dampak Covid-19 terhadap kondisi ekonomi responden. Survei ini secara lengkapnya dapat diakses melalui covid-19.bps.go.id

Hasilnya sebagai berikut; Sebagian besar (72%) responden menerapkan jaga jarak, (80%) sering mencuci tangan, (80%) selalu menggunakan masker saat di luar rumah, (82%) menghindari transportasi umum dan mayoritas menilai isolasi mandiri efektif dalam menekan laju penyebaran covid-19. Persepsi positif ini menunjukkan responden mematuhi anjuran pemerintah. Hal tersebut merupakan buah dari rasa khawatir akan keselamatan dirinya saat keluar rumah (69%) dan kecemasan diakibatkan pemberitaan media (65%).

Hal yang serupa juga ditunjukkan oleh Google Mobility Index yang menggambarkan kondisi mobilitas masyarakat cenderung menurun setelah diterapkannya kebijakan Work From Home (WFH) pada akhir Maret. Indikator lain adalah Air Quality Index (AQI) yang awal tahun ini sempat menjadi perbincangan hangat.

Kondisi AQI di beberapa kota besar mengalami penurunan polutan yang signifikan seperti di Kota Bogor dan Surabaya menunjukkan turunnya mobilitas dan aktivitas masyarakat. Meskipun masih ada perbedaan di beberapa tempat lain. Seperti Depok dan Semarang masih cenderung konstan kualitas udaranya. Atau kawasan industri di Tangerang Selatan yang malah menunjukkan kenaikan polutan signifikan.

Dampak Covid-19 pada Ekonomi

Beberapa sektor usaha mengalami penurunan produksi akibat penurunan penjualan hasil produksi sehingga mengakibatkan penurunan pendapatan usaha. Tidak sedikit usaha yang gulung tikar, atau melakukan efisiensi biaya produksi dengan mengurangi jumlah karyawan maupun pemotongan gaji karyawan, dan mengambil kebijakan pengurangan shift kerja dan merumahkan sebagian karyawannya. Hal ini tentunya berdampak pada penurunan pendapatan yang dialami oleh para karyawan.

Imbas dari pandemi ini, 21 dari 100 orang dirumahkan. 3 orang di-PHK sedangkan 18 orang lainnya masih berstatus karyawan namun dirumahkan dengan kemungkinan besar tidak menerima bayaran. Hampir setengah responden (42%) mengaku mengalami penurunan pendapatan.

Namun pukulan paling keras diterima oleh pekerja yang berpendapatan rendah (di bawah 1,8 juta rupiah), 70 persen pekerja golongan ini mengalami penurunan pendapatan. Ini gambaran jelas bahwa masyarakat miskin, rentan miskin, dan yang bekerja di sektor informal merupakan yang paling terdampak dari mewabahnya pandemi Covid-19.

Lapangan usaha yang paling terdampak yang yaitu Perdagangan Besar dan Eceran, Reparasi Mobil dan Sepeda Motor, Transportasi dan Pergudangan, serta Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum. Lapangan usaha tersebut masuk dalam lingkup sektor pariwasata, yang mengalami penurunan jumlah wisatawan baik domestik maupun internasional. Sementara aktifitas perdagangan mengalami pergeseran besar ke arah belanja online.

Survei ini bukannya tanpa kekurangan. Menggunakan rancangan Non-Probability Sampling yang merupakan kombinasi dari Convenience, Voluntary dan Snowball Sampling untuk mendapatkan respon partisipasi sebanyak-banyaknya dalam kurun waktu 1 minggu pelaksanaan survei. Survei online ini cenderung sampai ke individu yang memiliki internet literacy yang tinggi, yang mau secara sukarela mengisi. Penggunaan penimbang untuk mengurangi bias juga belum diterapkan.

Semua data yang ditampilkan adalah kondisi pertengahan April. Baru berselang beberapa minggu dari mulai adanya pembatasan-pembatasan. Artinya kita bisa lihat pada pertengahan April masyarakat cenderung patuh pada pemerintah meskipun mereka sudah mulai mengalami penurunan pendapatan. Yang menarik, kepatuhan ini dipengaruhi oleh umur, semakin muda responden maka indeks tingkat kepatuhan menurun.

Apakah masyarakat sudah tak lagi khawatir setelah dua bulan berlalu? Kita perlu survei baru lagi untuk menjawab hal tersebut. Yang jelas pemerintah mulai melonggarkan aturan dan menyebutnya new normal. Mulai melumasi rantai agar roda perekonomian kembali normal. Atau setidaknya mendekati normal.

Izzuddin Ar Rifqiy
ASN BPS Maluku Tenggara Barat, Staf Seksi Neraca Wilayah dan Analisis Statistik
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Nasib Petani Sawit Kalau Premium Dihapus

What? Chaos macam apa lagi ini? Itu pikiran saya saat beberapa bulan lalu terdengar kabar dari radio bahwa ada rencana pemerintah untuk menghapus bahan bakar...

Islam Kosmopolitan

Diskursus tentang keislaman tidak akan pernah berhenti untuk dikaji dan habis untuk digali. Kendati demikian, bukan berarti tidak ada titik terang. Justru, keterkaitan Islam...

Kerusakan Lingkungan Kita yang Mencemaskan

Menurut data dari BPS, pada tahun 2018 jumlah kendaraan bermotor di Indonesia mencapai 146.858.759 unit, jumlah tersebut meliputi mobil pribadi, mobil barang, bis dan...

Pilkada yang Demokratis

Tidak terasa pergelaran pemilihan kepada daerah yang akan dilaksankan pada 9 Desember mendatang sebentar lagi akan dijalankan. Pilkada serentak dilaksanakan di 270 daerah di...

DPRD DKI; Kembalilah Menjadi Wakil Rakyat!

Saya terhenyak ketika mendapat informasi perihal naiknya pendapatan langsung dan tidak langsung anggota DPRD DKI Jakarta tahun anggaran 2021. Berdasarkan dokumen Rencana Kerja Tahunan...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Hyper Grace : Kejahatan Intelektualitas Manusia Yang Menggunakan

Hyper Grace adalah anugerah yang dilebih-lebihkan (keluar dari porsi) anugerah yang melebihi yang Firman Allah katakan (menambahkan Firman-Nya).Itu adalah anugerah di mana kamu harus...

Yesus, Tuhan Kaum Muslim Juga? [Refleksi Natal dari Seorang Mukmin]

Setiap menjelang perayaan Natal, fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) tentang boleh tidaknya kaum Muslim mengucapkan selamat Natal menjadi perbincangan. Baru-baru ini MUI kembali menambah...

Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Pendidikan di Indonesia

Sudah 8 bulan lalu kasus virus Covid-19 menyerang dunia. Begitu cepatnya perubahan wabah Covid-19 dari Endemi hingga memenuhi syarat menjadi Pandemi, wabah yang mendunia....

Nasib Petani Sawit Kalau Premium Dihapus

What? Chaos macam apa lagi ini? Itu pikiran saya saat beberapa bulan lalu terdengar kabar dari radio bahwa ada rencana pemerintah untuk menghapus bahan bakar...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.