OUR NETWORK

Pohon Harapan Itu Bernama Timnas U-16 Indonesia

Mari kita tengok luka yang sama tiga tahun kemudian.

Timnas U-16 Indonesia menang lagi. Di laga pembuka Grup C Piala AFC U-16 2018, skuat yang kerap mendapat puja-puji dengan panggilan Garuda Asia ini menghantam Iran dua gol tanpa balas. Bagus Kahfi dan Bagas Kaffa—Upin-Ipinnya Indonesia itu—mencetak masing-masing satu gol.

Bagiku, atau bagi mereka yang sudah lama menyimak kiprah Timnas sepak bola Indonesia di level Asia maupun Asean, pengalaman mengajarkan kami untuk tak cepat berharap. Tidak melulu di level kompetisi muda. Tentu kita ingat betapa tingginya harkat Indonesia saat Tim Senior menang 2-1 atas negara Timur Tengah lain—Bahrain—di laga pembuka penyisihan grup Piala Asia 2007.

Aku masih ingat, indah betul gol Budi Sudarsono dan Bambang Pamungkas di laga itu. Terlalu indah hingga pahit kekalahan dari Arab Saudi dan Korsel pada laga berikutnya seolah lebih membekas dari putus cinta pertama remaja mana pun di dunia. Putus cinta karena mendapati harapan Indonesia meraih pencapaian tinggi di level Asia hanya seumur 12 SKS kuliah.

Tak usah jauh-jauh lawan negara Timur Tengah. Mari kita tengok luka yang sama tiga tahun kemudian. Semua jelas lebih ingat zaman keemasan Alfred Riedl di Piala AFF 2010. Saat itu kita bak anak panah yang tak mungkin bisa dikejar lagi. Dengan wacana ‘naturalisasi’ yang menghadirkan nama-nama macam Kim Kurniawan, Irfan Bachdim, hingga Christian Gonzales, Garuda Kelewat superior. Terlalu tangguh untuk bersua Malaysia di final.

Sebuah optimisme sempat lahir, saat mendapati riwayat yang membuktikan Indonesia bisa melumat Harimau Malaya 5-1 dalam laga penyisihan beberapa hari sebelumnya. Tapi apa daya, takdir terlanjur dipesan jauh-jauh hari. Garuda tetap kalah agregat di partai puncak, lewat serangkaian polemik yang melibatkan laser serta aneka hal konyol lain.

Level U-19 sempat membuatku sedikit menaruh harap lebih besar. Kemunculan Evan Dimas dan kawan-kawan sebagai juara AFF U-19 tahun 2013 lalu jelas suatu fenomena. Namun, toh semua kembali kacau. Anak-anak itu lekas kehilangan keajaiban saat sudah memasuki jenjang U-23. Negara kita beberapa kali bicara banyak di SEA Games dengan komposisi jebolan era Evan Dimas, tapi toh tak sekali pun mampu menggondol predikat juara .

Perkembangan Timnas U-19 pun belum menunjukkan hal berarti, saat nama-nama anyar dan harapan baru kembali menumbuhkan rasa kecewa. Lihat saja, berapa kali kita lolos ke semifinal atau final kompetisi Asean dan akhirnya takluk? Jelas kita masih ingat kekalahan di semifinal AFF U-19 tahun 2017 dan 2018—dua tahun beruntun—dari dua negara berbeda: Thailand dan Malaysia.

Tapi toh kekecewaan demi kekecewaan yang sudah menahun itu tak menghentikan kita untuk berharap. Bahkan hingga detik ini.

Kemenangan atas Iran di Piala AFC U-16, Jumat (21/9/2018) kemarin sesungguhnya hanya sulutan api pada sumbu yang sebelumnya sudah kelewat terbasahi minyak tanah. Minyak tanah itu bernama gelar juara Piala AFF U-16 2018.

Sudah bukan rahasia kalau skuat yang terjun di Piala AFC U-16 kali ini adalah jebolan para pemain yang menjuarai Piala AFF U-16 bulan Juli lalu. Tak perlu jadi penggemar sepak bola garis keras untuk mengetahuinya. Para cebong dan kampret barangkali bisa tahu hanya dengan membaca unggahan ucapan selamat dari yang mulia Jokowi di akun twitternya beberapa waktu lalu.

Pertanyaan yang kemudian muncul adalah: salahkah untuk kembali berharap?

Seorang teman sempat mengingatkanku lewat pesan singat, beberapa jam usai kemenangan Timnas U-16 Indonesia atas Iran. “Harapanmu buat timnas itu bagaikan pohon yang sudah kelewat tua, hanya akan mengundang hantu dan menakuti dirimu sendiri,” begitu tulisannya di pesan tersebut.

Sebenarnya, tanpa peringatan itu pun aku sudah paham. Perasaan sakit hati yang kerap muncul saat Tim Nasional kita kalah, adalah buah dari pohon harapan yang telah ditanam bersama. Namun, toh itu tak menghentikanku—dan kita semua—untuk tetam menanam.

Adalah hal yang sulit untuk menafikkan jika kemenangan atas Iran menimbulkan harapan baru. Apalagi, baru beberapa pekan lalu Timnas U-23 kita gagal total di gelaran Asian Games 2018. Dan tentu kalian masih ingat kalau di kompetisi itu, dua kekalahan yang kita dapat berasal dari negara Timur Tengah: Palestina dan Uni Emirat Arab.

Tak mungkin untuk tidak bangga, saat beberapa bulan sesudahnya, negara kita—di level kompetisi dan dengan skuat yang lebih muda—mampu menaklukkan negara Timur Tengah lain. Semacam muncul kelegaan. Seperti jatuh cinta kedua setelah putus dan patah hati yang berulang.

Wacana baru pun segera muncul. Publik berharap tinggi dengan satu premis baru: lolos ke Piala Dunia. Wajar saja harapan ini muncul. Aturan FIFA secara tegas mengatakan bahwa empat tim yang lolos ke semifinal Piala AFC U-16 tahun ini dipastikan mendapat tempat untuk tampil dalam Piala Dunia U-17 2019 yang akan dihelat di Peru.

Pelatih Timnas U-16, Fakhri Husaini langsung angkat bicara. Tak seperti pelatih Tim Nasional Indonesia lain yang kerap menghindar saat ditanyai target, Fakhri secara tegas menyebutkan bahwa lolos ke Piala Dunia 2019 memang target skuatnya. “Target kami adalah bisa bermain di Piala Dunia, jadi saya minta pemain fokus agar dapat meraih target itu,” katanya seperti dikutip laman resmi PSSI.

Sebagian mungkin menganggap kata-kata Fakhri terlalu arogan. Namun, bagiku itu bukan kalimat bernada sesumbar. Dalam sebuah episode Captain Tsubasa, sambil kelonan dengan bola lusuhnya, Tsubasa Ozora pernah berkata: tanpa mimpi dan semangat, seseorang tak akan bisa meraih pencapaian apapun.

Maka seperti itulah segalanya bekerja. Dengan semangat saja kita belum tentu juara, apalagi kalau tanpa semangat?

Kembali ke kasus rekan yang mengingatkanku setelah kemenangan atas Iran tadi, aku lekas membalas pesan singkatnya. Dalam pesan itu, aku berkata begini: “Kita tak akan bisa memanen buah, tanpa menanam pohon terlebih dahulu.”

Bekas mahasiswa yang menolak nganggur.

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…