in

PMII: Santri Kota-nya NU


“Terbentuknya pribadi muslim Indonesia yang bertaqwa kepada Allah SWT, berbudi luhur, berilmu, cakap dan bertanggung jawab dalam mengamalkan ilmunya serta komitmen memperjuangkan cita-cita kemerdekaan Indonesia”

17 April 1960 wikipedia mencatat sebagai hari bersejarah bagi bangsa Indonesia yang dikenang oleh dunia internasional dan diabadikan. Hari itu adalah hari dimana satu organisasi mahasiswa lahir. Dia adalah Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia atau disingkat PMII. 57 tahun sudah PMII lahir dan hidup dibumi pertiwi ini sebagai kelompok masyarakat yang menjadi eksponen bangsa dalam rangka menjawab segala tuntutan zaman. Organisasi yang memiliki afiliasi ideologi dengan Nahdlatul Ulama (NU) atau bisa disebut “anak ideologis” NU ini diharapkan mampu mengemban amanah dalam rangka menjaga kesatuan dan keutuhan NKRI serta merawat tradisi Islam yang Rahmatan Lil alamin sebagaimana ajaran Rasulullah Saw. Dengan tujuan yang amat mulia, PMII telah hadir sebagai kelompok yang terus mengisi dinamika kemerdekaan Indonesia sampai saat ini. Berbagai kiprah telah ditunjukan oleh PMII dalam menjaga amanah tersebut. Berpuluh-puluh tokoh telah dilahirkan dari rahim organisasi ini sebagai bentuk sumbangsih terhadap bangsa dan agama. Maka menjadi suatu ketidaklayakan jika kita masih mempertanyakan kiprah dan sepak terjang organisasi ini dibumi pertiwi Indonesia.

Sebagai organisasi yang memiliki basis terkuat santri yang kental akan wacana-wacana keislaman tradisional, bukan berarti NU tidak bisa melahirkan santri-santri yang faham dan utuh dalam memahami persoalan-persoalan sosial dan kebangsaan. Justru sejarah mengatakan bahwa santri NU lah yang telah merebut kembali kemerdekaan Indonesia dengan semnagat Resolusi Jihad nya. NU pula yang telah berhasil melahirkan konsep tentang relasi Negara dan Agama. Dan masih banyak lagi kiprah NU bagi Indonesia.

Lalu sebagai organisasi yang diyakini lahir dari rahim Nahdlatul Ulama (NU), sudah barang tetntu PMII memiliki kesamaan visi, misi dan tujuan dengan induknya yaitu memperjuangkan cita-cita kemerdekaan Indonesia dan mengusung misi Islam Rahmatan Lil Alamin dalam bingkai ideologi Islam Ahlussunah wal Jamaah. Yang hanya membedakan antara NU dan PMII hanyalah berkutat diwilayah struktural dan kelompok masyarakatnya saja, mungkin sedikit diwilayah pemikiran dan gerakan pun berbeda. Dalam tubuh NU sendiri kita mengenal karakter dan watak yang berbeda-beda. Ada Nu yang konservatif, ada NU yang progresif dan kekinian muncul lagi ada NU yang garis lurus.


Melihat geliat perkembangan wacana dan diskursus yang ada dan dibangun dalam tubuh PMII secara sepintas mungkin belum bisa dilihat mewakili kesantrian yang ada dalam PMII sendiri. Karena dalam catatan sejarah PMII secara pemikiran kader dan gerakannya sering dicap melenceng dari koridor-koridor ke-NU-an. Dengan entitas kemahasiswaannya, kader PMII lebih doyan melahap wacana-wacana intelektual yang lebih condong ala kiri, baik dari kalangan muslim maupun non muslim sekalipun. Dalam kalangan muslim mereka lebih menggandrungi wacana yang disuguhkan Asghar Ali, Hasan Hanafi, Fazlurrahman, Sayyed hossen Nasr, dll. Dikalangan non muslim seperti Marx, Neitczhe, Jurgen Habermas, Fereire, dll. sehingga oleh NU sendiri PMII acapkali distempel sebagai anak nakal NU, anak hilang NU dan lebih parah bukan santri NU.

Akan tetapi hal itu dalam pandangan penulis tidak lantas mengurangi status kesantrian kader PMII, hanya saja sedikit perbedaan status saja antara santri yang mondok dipesantren dan santri di PMII. Kalau santri yang mondok di pesantren salafi, mereka dijuluki santri tradisional NU, sedangkan santri PMII adalah santri kotanya NU. Karena pada dasarnya sekalipun PMII demikian, tidak lantas mengurangi semanagat pertalian yang utuh antara NU-PMII dalam rangka mewujudkan visi dan cita-cita bersama. Disinilah perjumpaan visi antara NU-PMII yang dibangun dalam wacana yang bersumber kepada ajaran Islam Ahlussunah wal Jamaah yang utuh dan progresif.

Mari kita perhatikan lebih jauh bahwa mahasiswa yang bergabung dengan PMII hampir mayoritas mereka adalah mereka yang dulu pernah nyantri salaf. Proses mereka menjadi santri kota dimulai saat mereka masuk jenjang perguaran tinggi, baik yang berbasis agama seperti STAIN, IAIN dan UIN maupun yang berbasis umum dan vocasi. Walau dengan status santri kota, kader PMII menyadari bahwa mereka memiliki ikatan yang sangat kuat dengan Islam tradisi ala NU sendiri. Sehingga point inilah yang tidak bisa melepaskan ikatan antara NU-PMII sendiri. Karena secara sadar ataupun tidak, PMII telah menjadi basis gerakan kaum muda NU yang memiliki karakter yang progresif terutama dalam melihat realitas sosial.

Menurut Martin van Bruinessen seorang pakar Islam Indonesia dalam bukunya NU: Tradisi, Relasi-relasi Kuasa, Pencarian Wacana Baru, disinilah letak perbedaan yang mencolok antara PMII dan kalangan mahasiswa Islam Modernis. Dengan latar belakang pernah jadi santri tradisional, kader PMII tidak hanya mampu menguasai wacana-wacana tradisional semata, melainkan lebih luas dari pada kurikulum tradisional. Dengan cara mengembangkan wacana dan diskursus baru dalam tubuh PMII, NU telah memiliki kalangan muda atau mahasiswa yang memiliki karakter progresif dalam merespon persoalan-persoalan sosial dan keagamaan.

Lebih lanjut, melihat perdebatan kekinian dalam arena Muktamar NU jombang dan Kongres PMII mengenai status PMII dalam jangkaun NU antara menjadi Badan Otonom (Banom) atau tidak, kembali dependen atau tidak (lebih lengkap silahkan baca sejarah PMII), dalam hemat penulis wacana demikian sudah tidak lagi relevan kita bahas dan pada akhirnya Kongres PMII di Palu pun tidak memutuskan menjadi Banom atau tidakkah PMII dalam struktur NU. Dari pada kita menghabiskan waktu, energi dan fikiran menyoal persoalan klasik tersebut lebih baik kita terus bergerak melanjutkan visi dan misi NU-PMII secara bersama. NU memberikan pemahaman yang lebih dalam terhadap masyarakat terutama kalangan akar rumput yang belum tersentuh NU tentang pentingnya menjaga keutuhan NKRI dan merawat tradisi Islam Ahlussunah Wal Jamaah An-Nahdliyah. PMII terus berproses sebagaiamana mestinya dalam mencetak dan mempersiapkan kader-kadernya sebagai generasi penerus NU, Islam dan bangsa serta melakukan counter gerakan-gerakan Islam radikal dan fundamental di kampus. Karena yang lebih penting ketimbang menjadi Banom atau tidak adalah bagaimana ruh perjuangan yang dilakukan oleh NU dan PMII, bagaimana relasi pertalian antara NU dan PMII terus sejalan dalam bingkai Ahlussunah wal Jamaah yang utuh dan progresif. Tanpa memperhatikan kebersamaan secara struktur, saat ruh dan pertalian sudah terjalin kuat maka perjuangan dalam menggapai visi, misi serta tujuan akan tercapai.

Sekali lagi mari kita pertegas bahwa PMII merupakan bagian integral bagi NU sebagai Santri Kotanya NU tanpa harus menyoal status struktur NU-PMII itu sendiri

Tabik !!!!

*Penulis adalah Kader PMII Kota Serang


Jai Guru Deva

Tinggalkan Balasan

Loading…

TINGGALKAN KOMENTAR