Minggu, Januari 17, 2021

PK Ahok Ditolak MA: Antara Keadilan dan Ketidakadilan Hukum

Masihkah Kaum Feminis Ngeyel Setelah Menonton Film Endgame?

Tingginya dan tidak stabilnya intensitas pertarungan politik antara kedua kubu presiden sekiranya tak membuat Marvel Holic Indonesia kehilangan semangat dalam menyambut rilisnya film Avenger:...

Tafsir Orba tentang G30S dan Generasi Zaman Old

Bagaimana tafsir Orba tentang G30S? Bagi yang berusia 35 tahun ke atas, tentu ini bukanlah hal yang asing lagi. Karena Orba sudah membuat film...

Jejak, Remah-remah, Kuasa Digital

Setiap detik penjelajahan manusia di dunia virtual menciptakan miliaran data baru. Jejak-jejak peradaban digital dihimpun dalam komputer-komputer raksasa nan rakus. Kerakusan yang dipenuhi oleh...

Perempuan dalam Belenggu Bahasa

Seperti yang telah kita semua ketahui, bahasa ialah instrumen penting dalam berkomunikasi. Bahasa juga merupakan bagian atau unsur dari sebuah kebudayaan. Bisa dibilang, bahasa...
Wawan Kuswandi
Pemerhati komunikasi massa, founder blog INDONESIAComment, mantan editor Newsnet Asia (NNA) Jepang dan penyuka sambal

Masyarakat tak begitu terkejut ketika Hakim Agung Artidjo Alkostar yang memimpin sidang peninjauan kembali (PK) mantan Gubernur Jakarta Ahok, mengetok palu usai memutuskan PK Ahok ditolak.

Tak ada alasan yang dikemukakan sang hakim, mengapa PK Ahok ditolak. Usai sidang, suasana senyap, seolah publik yang hadir di sidang maupun Ahok beserta pengacaranya, menerima keputusan itu dengan pasrah.

Juru bicara MA, Suhadi, Senin (26/3/2018) mengatakan, majelis hakim tidak mengabulkan PK yang diajukan Ahok. “Alasannya (mengajukan PK) tidak dikabulkan majelis hakim. Pertimbangan penolakkan belum bisa saya beri tahu” ujar Suhadi kepada awak pers.

Seperti diketahui, Ahok mengajukan PK tanggal 2 Februari 2018 lalu. Sidang perdana digelar Senin (26/2/2018) di Pengadilan Negeri Jakarta Utara. Alasan Ahok mengajukan PK, salah satunya ialah soal vonis 1,5 tahun penjara terhadap Buni Yani di Pengadilan Negeri Bandung. Buni Yani adalah orang yang disebut-sebut mengubah video Ahok yang mengutip surat Al Maidah 51 di Kepulauan Seribu.

Tak terdengar suara nyaring kesedihan dan kekecewaan para pendukung Ahok maupun pengacaranya. Sebelumnya, mereka memang sudah menduga bahwa nasib PK Ahok di tangan Hakim Artijo, posisinya 50:50.

Toh faktanya, Ahok kalah. Tak ada hal lain yang perlu dilakukan Ahok, selain menerima dan mensyukuri keputusan itu, walaupun pahit tapi itu mungkin jalan terbaik.

Seperti diketahui, Artidjo merupakan hakim agung spesialis kasus korupsi. Sejumlah pejabat korup berhasil dijebloskan ke penjara, diantaranya Luthfi Hasan Ishaaq, Angelina Sondakh, Akil Mochtar, Anas Urbaningrum dan pengacara kondang Otto Cornelis Kaligis.

Sebelum sidang PK Ahok berlangsung, sejumlah media juga sudah santer memberitakan dan menyebut-nyebut bahwa Artijo merupakan sahabat dekat imam besar Front Pembela Islam (FPI), Rizieq Shihab. Bahkan, Artijo disebut pernah menjadi penasehat hukum FPI, sebuah ormas yang selama ini dikenal anti Ahok.

Di sisi berbeda, kelompok yang anti Ahok merasa puas dengan keputusan Hakim Artijo. Mereka menang dua kali, setelah sebelumnya berhasil menjebloskan Ahok ke penjara dengan tekanan aksi massa, kini Ahok gagal memenangkan PK-nya di MA. Sebagian pihak, mungkin menilai kekalahan PK Ahok merupakan bentuk ketidakadilan hukum.

Sebenarnya, persoalan adil dan tidak adil, tidak serta merta muncul begitu saja dalam penolakan PK Ahok. Hakim Artijo pasti punya alasan khusus untuk menolak PK Ahok. Namun, persoalan menjadi rumit, ketika Hakim Artijo tidak menjelaskan alasan penolakan PK Ahok. Wajar saja, kalau publik bertanya-tanya.

Persoalan lain yang juga tidak kalah pentingnya ialah seandainya PK Ahok diterima dan Ahok divonis bebas, dampak apa yang akan terjadi? Sudah dapat dipastikan, Jakarta akan kembali bergemuruh dengan berbagai aksi demo dari kelompok-kelompok muslim, termasuk FPI yang anti Ahok.

Artijo juga akan menjadi sasaran ‘tembak’ aksi massa. Lebih parahnya lagi, mereka akan menuding sistem hukum tidak adil dan telah direkayasa. Segudang alasan lainnya, pasti akan mereka ungkapkan. Intinya, mereka menolak Ahok dibebaskan. Mungkin, pertimbangan-pertimbangan di atas itulah yang masuk dalam nalar hakim Artijo untuk menolak PK Ahok.

Persoalan pun menjadi panjang, kalau memang alasan-alasan di atas menjadi dasar penolakkan PK Ahok, maka publik akan kembali bertanya, apakah kekuatan hukum kalah oleh tekanan aksi massa?

Terlepas dari berbagai argumen yang disampaikan banyak pihak tentang keadilan dan ketidakadilan terhadap penolakan PK Ahok, ternyata masalah keadilan dan ketidakadilan hukum sangatlah kompleks. Plato seorang pemikir idealis abstrak berpendapat bahwa keadilan berada diluar kemampuan manusia biasa.

Sumber ketidakadilan adalah adanya perubahan dalam masyarakat. Dengan kata lain, ketidakadilan menurut Plato sangat terkait dengan perubahan masyarakat. Apa yang disampaikan Plato sangat tepat untuk melihat kasus penolakan PK Ahok. Artinya, perubahan masyarakat (terutama kelompok yang anti Ahok) akan melakukan perlawanan, jika PK Ahok dikabulkan. MA dinilai tidak adil.

Aristoteles dalam bukunya Nicomachean Ethics, menyebutkan bahwa keadilan sebagai bagian dari nilai sosial yang memiliki makna amat luas, bahkan pada suatu titik bisa bertentangan dengan hukum sebagai salah satu tata nilai sosial.

Terkait dengan pemikiran Aristoteles ini, apabila PK Ahok dikabulkan, maka MA bisa dinilai telah melanggar hukum karena dianggap menodai nilai sosial versi kelompok-kelompok yang anti Ahok.

Sedangkan menurut paradigma hukum Utiliranianisme, keadilan dan ketidakadilan hukum dapat dilihat secara luas. Cara satu-satunya untuk mengukur sebuah keputusan hukum itu dinilai adil atau tidak adil adalah seberapa besar dampaknya bagi kesejahteraan manusia (human welfare).

Nah, dalam konsep hukum utiliranianisme ini, masyarakat sebenarnya sudah bisa menyimpulkan alasan hakim Artijo menolak PK Ahok.

Wawan Kuswandi
Pemerhati komunikasi massa, founder blog INDONESIAComment, mantan editor Newsnet Asia (NNA) Jepang dan penyuka sambal
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Soe Hok Gie, Perihal PKI dan Humanity

Soe Hok Gie sendiri adalah salah satu tokoh kunci dalam gerakan anak muda yang kemudian berujung dengan kejatuhan Orde Lama. Ia memainkan peran yang...

Ihwal Teori Keadilan John Rawls

Keadilan merupakan salah satu diskursus dalam filsafat yang paling banyak dibahas, bahkan menjadi topik utama dalam dunia global saat ini. Para filsuf sejak zaman...

Fisika dan Kemajuan Teknologi Bidang Transportasi

Era globalisasi telah mengubah kehidupan manusia di muka bumi ini akibat dari Revolusi Industri 4.0 yang ditandai dengan penemuan internet pada akhir–akhir Revolusi Industri...

Menilik Proses Pembentukan Hukum Adat

Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia dikaruniai Tuhan Yang Maha Kuasa kekayaan yang begitu melimpah di segala bidang. Segala jenis tumbuhan maupun binatang...

Milenial Menjawab Tantangan Wajah Baru Jatim

Tahun berganti arah berubah harapan baru muncul. Awal tahun masehi ke-2021 terlihat penuh tantangan berkelanjutan bagi Jawa Timur setelah setahun penuh berhadapan dengan Covid-19...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Bagaimana Menjadi Muslim Moderat

Pada tahun 2017 saya pernah mengikuti Halaqah Ulama ASEAN yang diselenggarakan oleh Kementerian Agama. Kampanye yang digaungkan Kemenag masih seputar moderasi beragama. Dalam sebuah diskusi...

Narkoba Menghantui Generasi Muda

Narkoba telah merajalela di Indonesia .Hampir semua kalangan masyarakat positif menggunakan Narkoba. Bahkan lebih parahnya lagi adalah narkoba juga telah merasuki para penegak hukum...

Mengapa Banyak Abdi Negara Muda Pamer di Media Sosial?

Apakah kamu pengguna Twitter yang aktif? Jika iya, pasti kamu pernah melihat akun @txtdrberseragam berseliweran di timeline kamu. Sebagaimana tercantum di bio akun ini,...

“HUTRI72 – Makna ‘Dari Sabang sampai Merauke’: Pesan untuk Pemimpin dan Generasi Muda”

“HUTRI72 – Makna ‘Dari Sabang sampai Merauke’: Pesan untuk Pemimpin dan Generasi Muda” Oleh Ali Romdhoni   “…’Dari Sabang sampai Merauke’, empat perkataan ini bukanlah sekedar satu...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.