Kamis, Oktober 29, 2020

Pilpres AS, Masih Trump Layak Terpilih Kembali?

Jadi Sarjana Tanpa Kuliah, Berkah Atau Musibah?

Ketika mengurus surat izin kegiatan pengabdian kepada masyarakat di wilayah yang saya tempati, Bu Lurah Yulita Ekowati tampak antusias. Ia menyatakan setuju dan mendukung...

BPJS dan Konsep Gotong Royong

Sistem jaminan kesehatan nasional di Indonesia mengalami perubahan dan pertumbuhan yang bisa dibilang lambat. Hal ini tidak lepas dari siapa dan bagaimana pengelolaannya. Kendati...

Yahudi dan Covid-19

Pada tahun 2019, terdapat penolakan terhadap vaksinasi Measles-Rubella yang berdampak pada angka cakupan vaksin Measles, Mumps, dan Rubella (MMR) yang kecil di tiga provinsi,...

Nikahsirri.com : Tantangan Baru Upaya Pemberdayaan Perempuan

Fenomena sosial media untuk mencari pasangan(dating app) tentunya bukan hal yang baru di Indonesia. Sebutlah beberapa pemain yang sudah aktif sejak beberapa tahun yang...
Adzhlan Muhammad Shah
Fresh Graduated Hubungan Internasional, Universiti Utara Malaysia

3 November 2020, dimana Amerika Serikat akan menentukan nasib negara mereka lewat pemilihan presiden (pilpres). Walaupun dunia sedang dilanda pandemi Covid-19, namun kongres tetap ngotot untuk melanjutkan pilpres Amerika Serikat, meskipun banyak warga negara yang protes. Ya, wajar saja, Amerika Serikat saat ini adalah juara pertama kasus positif Corona di dunia, yaitu mencapai 7.31 Juta kasus dan 208 ribu meninggal dunia, apalagi Amerika Serikat sedang dilanda resesi paling buruk setelah Sembilan tahun terakhir.

Namun, apa daya, pemerintah tetap memaksa untuk menyelenggarakan Pemilihan Umum walaupun dilanda keburukan, salah satu faktornya adalah selesainya periode presiden Petahana, Donald Trump yang telah menjabat selama empat tahun.

Siapa yang tidak tahu Donald J. Trump? Ya, dia  adalah presiden Amerika Serikat yang ke 45, dan sekarang ia mencalonkan kembali sebagai presiden yang didukung oleh partai Republikan. Dan sebagai penantangnya, partai Demokrat menunjuk politisi senior sekaligus mantan wakil presiden dari Barrack Obama, Joe Biden.

Pada sesi debat pertama yang diadakan di Case Western Reserve University Cleveland, Ohio tersebut, terlihat baik Trump dan Biden saling beradu argumen, terlihat Donald Trump selalu memotong pembicaraan ketika Biden sedang berbicara, sampai-sampai moderator debat, Chris Wallace kehilangan kendali atas debat. “Gentlemen, Stop!” begitulah perkataan Chirs Wallace yang meminta Trump untuk berhenti mengganggu. Sementara, Biden hanya bisa bertahan dan bersikap tenang dalam perdebatan.

Dalam debat pertama bisa kita melihat, bahwa baik Trump dan Biden sama-sama serius untuk menangani permasalahan yang ada di AS, walaupun baik dari kedua kubu tersebut terkadang menyerang secara pribadinya.

Walaupun begitu, dalam debat sesi pertama ini sebenarnya masih belum jelas pilihan masyarakat AS. Ya, terlalu dini untuk menilai siapa yang pantas untuk menjadi presiden AS selanjutnya dari debat pertama tersebut, karena masih ada debat wakil Presiden  yang akan direncanakan tanggal 09 Oktober mendatang antara petahana, Mike Pence sebagai wakil dari Trump dan Kamala Harris sebagai wakil dari Biden, yang akan diselenggarakan di University of Utah in Salt Lake City, Kingsbury Hall on President’s Circle.

Selain dari soal debat, ada banyak hal lain yang bisa kita jadikan indikator tentang pilihan masyarakat Amerika Serikat, maka marik kita simak apakah Donald Trump masih dibutuhkan oleh rakyat Amerika? Bagaimana Dunia Melihat AS dan Trump? Dan apakah Tump layak menjadi  sebagaai presiden AS kembali?

Yang pertama, apakah Trump masih dibutuhkan oleh rakyat Amerika? Jawabanya bisa iya namun bisa juga tidak. Sebab menurut survey gallup.com (2019) , mayoritas warga AS tidak puas terhadap Trump dalam menangani pekerjaannya, bahkan masyarakat menganggap Trump adalah presiden yang terburuk sepanjang sejarah AS, yang mengalahkan Obama, Bush Jr, dan Jimmy Charter. Mereka juga menganggap Trump adalalah presiden yang telah gagal dan pembuat kekacauan di AS.

Meskipun demikian, walaupun sebagian masyarakat AS menganggap pemerintahan Trump merupakan terburuk, namun ada juga yang berpendapat bahwa pemerintahan Trump sangatlah baik, terutama di kalangan kolot dan konservatif. Wajar saja, mayoritas pendukung partai Republikan adalah dari kalangan Konsevatif tua, yang selalu berpikiran kuno.

Kendati demikian, ada sisi positif dan sisi negatif dalam kepemimpinan dari Trump. Kita tahu bahwa Trump memang sangat rasis terhadap orang Asia, terutama pada orang Chinese dan Arab, kita juga tau bahwa Trump tak segan-segan mendeportasi para imigran yang telah lama menetap di AS. Namun begitu, dibalik kontroversinya beliau, ingat apa slogan Trump ketika Pilpres 2016 lalu?

Ya, benar sekali, “American First, Make America Great Again!”  ya, menjadi Amerika kembali menjadi negara yang memprioritaskan masyarakat AS dalam segala aspek, karena Trump menilai selama ini mayoritas pekerjaan di banyak sector telah dipenuhi oleh pekerja imigran yang merantau mencari rezeki di negara adidaya tersebut.

Trump menilai bahwa hal tersebut merupakan ancaman serius terhadap masyarakat AS sendiri, karena semakin sedikit pekerjaan yang dilakukan oleh masyarakat AS. Karena pemerintahan Obama telah membuka lebar-lebar bagi para imigran dari mancanegara untuk tinggal di AS, yang membuat AS sendiri menjadi over populated.

Pertanyaan kedua, bagaimana dunia melihat AS yang dipimpin Trump? Orang-orang di seluruh dunia mempunyai pandangan yang berbeda terhadap AS dan Trump. Menurut survei dari Pew Research Center (2019), dari 33 negara yang telah di survey, kepercayaan terhadap AS dan Trump sangat rendah.

Menurut pandangan global, kepercayaan terhadap Trump sangatlah sedikit, jauh lebih sedikit dibandingkan dengan presiden sebelumnya, Barrack Obama. Selain itu, dunia menganggap kebijakan luar negeri dari Trump sangat tidak populer, seperti memindahkan ibukota Israel ke Yerusalem, yang dimana di tentang oleh PBB karena ilegal, memberlakukan Travel ban terhadap 7 negara yang di cap teroris untuk masuk ke AS, dan membuat tembok raksasa di perbatasan AS dan Meksiko guna menghentikan warga Meksiko yang ingin merantau ke AS.

Serta, masyarakat menilai penarikan Trump dari  penarikan senjata nuklir Iran yang sangat negatif, akan tetapi lebih positif tentang negosiasinya dengan Kim Jong Un  mengenai program senjata nuklir Korea Utara.

Terakhir, apakah Trump layak menjadi presiden AS kembali? Sebelum kita menjawab pertanyaan ini, kita melihat dulu pada situasi di Amerika Serikat saat ini, apalagi dengan adanya pandemi Covid-19 ini. Kita mengetahui bahwa saat ini Amerika Serikat menjadi negara yang kasus positif Covid-19 yang terbesar di dunia, bagaimanakah respons dari Trump? Bukannya memikirkan bagaimana caranya agar menurunkan angka persentase korban Covid-19, justru beliau mengabaikan pandemi tersebut. Bahkan, Trump menyangkal bahwa Covid-19 ini adalah konspirasi.

Ditambah lagi, masyarakat AS sendiri semakin bebal terhadap pandemi ini, bahkan banyak dari mereka turun ke jalan dalam rangka gerakan anti masker dan protokol kesehatan, Ditambah lagi kasus Black Lives Matter yang dimana kasus kekerasan serta bentuk diskriminasi terhadap minoritas warga AS keturunan Afrika, yang mengakibatkan kerusuhan massal di seluruh penjuru AS. Apa respons dari Trump? Beliau sebenarnya setengah-setengah dalam menangani kasus tersebut, sehingga masyarakat menganggap Trump lambat dalam menangani kasus ini.

Jadi, kesimpulannya adalah, apakah Trump masih layak terpilih kembali? Ya, mengingat segala kebijakan yang kontroversial dan penilaian dari masyarakat AS maupun Internasional, sepertinya sangat sulit bagi Trump untuk mendapati kursi Ring-1 di White House kembali, karena banyak masyarakat AS telah menganggap pemerintahan Trump telah gagal dalam masa tugasnya.

Adzhlan Muhammad Shah
Fresh Graduated Hubungan Internasional, Universiti Utara Malaysia
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Pendidikan di Era Disrupsi (Catatan Karya Yudi Latif)

Yudi Latif lebih muda 10 tahun dari saya. Dan walau saya, tentunya, lebih awal menulis, Yudi jelas jauh lebih produktif. Dua bulan lalu, saya diminta...

Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Pendidikan di Indonesia

Sudah 8 bulan lalu kasus virus Covid-19 menyerang dunia. Begitu cepatnya perubahan wabah Covid-19 dari Endemi hingga memenuhi syarat menjadi Pandemi, wabah yang mendunia....

Kelamnya Dunia Politik di Thailand

Apa yang kalian bayangkan tentang negara Thaiand? Ya, negara gajah putih tersebut sangat dikenal dengan keindahannya. Apalagi keindahan pantai yang berada di Krabi dan...

Anak Muda dan Partai Politik

Tak dapat disangkal, gelombang demokratisasi seiring dengan gerakan reformasi 1998 telah mengantarkan kita pada suatu elan kehidupan publik yang terbuka, egaliter, dan demokratis. Reformasi...

Machiavelli: Pemikir yang Banyak Disalah Pahami

Dalam kajian Ilmu Politik, nama Nicollo Machiavelli dipandang sebagai penggagas teori politik modern. Tentu hal tersebut sangat beralasan, mengingat posisi Machiavelli yang secara tegas...

ARTIKEL TERPOPULER

Sandiwara Dibalik Pernikahan Raja Majapahit Bali

Belakangan di Bali ramai pemberitaan mengenai acara pertunangan Raja Majapahit Bali bernama lengkap Abhiseka Ratu Dr Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna Mahendradatta Wedasteraputra...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Dialog Sang Penyemangat

Ketika Sang Penyemangat datang kepadaku untuk memberikan tausiyah yang membarakan kalbu, Jiwaku begitu menggebu-gebu. Setiap kudengar tausiyah suci itu rangkai katanya merona dikalbu dan...

Pandangan 2 Mazhab Hukum Terhadap Putusan MA Soal Eks Napi Koruptor

Pertengahan tahun 2018 ini publik dikagetkan dengan hadirnya PKPU No. 20/2018 yang dalam Pasal 4 ayat (3) menyatakan bahwa Pengajuan daftar bakal calon anggota...

Machiavelli: Pemikir yang Banyak Disalah Pahami

Dalam kajian Ilmu Politik, nama Nicollo Machiavelli dipandang sebagai penggagas teori politik modern. Tentu hal tersebut sangat beralasan, mengingat posisi Machiavelli yang secara tegas...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.