Kamis, Oktober 22, 2020

Pilpres 2019 Demokrasi Zonder Literasi

Merawat Toleransi Dengan “Kutang”

Di suatu hari yang terik, saya berkunjung ke rumah salah seorang teman untuk mendiskusikan sejumlah persoalan yang berkaitan dengan konteks keindonesiaan. Sampai di tempat,...

Mempertanyakan Keberadaan

http://www.chrisakins.com/wp-content/uploads/2014/12/self-reflection.jpgSebuah ungkapan kegelisahan yang terus-menerus muncul dalam sebuah pikiran yang meragukan segala sesuatu. Itulah dasar di mana Descartes mempertanyakan keadaan “Co geto Ergo Sum”...

Film Kim Ji Young, Born 1982 dan Kultur Patriarki

Kim Ji Young, Born 1982, film asal Korea Selatan besutan sutradara Kim Do Young yang dirilis pada tanggal 20 November 2019 itu sempat menuai...

Pak Jokowi, Reshuffle Ditunggu atau Dibiarkan?

Sepak terjang Kabinet Indonesia Maju dalam 100 hari terakhir dianggap kurang memuaskan. Selama kurang lebih tiga bulan ini, kinerja mereka disorot publik guna mengetahui...
Abel Tasman Jawaher
Pemerhati branding politik

Ibarat menyaksikan pementasan drama, jalan cerita menuju Pilpres 2019 terasa makin hambar, membosankan, bahkan menjengkelkan. Narasi yang disuguhkan ke hadapan rakyat sebagai pemilih, masih berputar putar pada logika dan semantika dangkal, janggal dan parsial.

Belum menukik pada isu krusial dengan narasi besar berbasis ilmu pengetahuan dan keadaban. Kedua pasang kandidat masih berkutat pada tema-tema emosional dan sentimental untuk menyedot perhatian rakyat dengan sebaran opini yang jauh sekali dari etos pendidikan politik yang ditopang dengan struktur etik dan spirit estetik.

Dengan kata lain, pertunjukan pilpres kali ini larut dalam demokrasi teramat super liberal dan liar  tanpa arah dan tujuan. Sehingga, pilpres kali ini hanyalah sebuah pertunjukan demokrasi, zonder atau tanpa pijakan literasi.

Sejak awal kedua pasangan ini mendeklarasikan diri untuk maju dalam kontestasi, baik petahana maupun penantang, genderang opini mulai ditabuh dengan diksi-diksi negatif destruktif. Diawali dengan imajinasi fiksi negara ini akan bubar, tempe setipis kartu ATM, interpretasi tampang dan profesi yang terkesan merendahkan sampai pada negara akan punah. Itulah sebagian diksi atau pilihan semantik dari penantang.

Petahana dan pendukungnya pun tak kalah sengit sehingga terlontarlah; genderuwo, sontoloyo dan pilihan diksi lain yang juga setara ketidakmenarikannya. Diteruskan dengan pembelaan dan apologi dari pendukung kedua pasangan yang terang benderang tanpa berpijak pada nalar sehat dan kewarasan.

Prosesi menuju pencoblosan kurang sembilan puluh hari lagi. Seyogyanya, kedua pasang kandidat berpikir ulang, apakah pertunjukan demokrasi yang tak laik dan tak apik ini akan tetap diteruskan?

Atau akan berubah menjadi orkestrasi demokrasi nan cantik? Jika demikian, sebagai rakyat tentulah kita boleh bergembira, politik tidaklah kumuh dan saling bunuh. Melainkan ekspresi puncak ilmu pengetahuan dan capaian tertinggi seni.Jika harapan baik ini yang dipilih kedua pasangan, skenario dan strategi yang didisain menuju kemenangan, haruslah berangkat dari pijakan literasi, daya cipta dan kreativitas seni.

Segala aspek terkait upaya meraih kuasa, bersandar pada ilmu pengetahuan, sains dan olah rasa estetika. Bukan sekadar opini asalan dengan kebebalan bernalar.Mulai dari visi-misi, tentu haruslah berbasis data kongkret yang bisa dipertanggungjawabkan. Didukung kerangka teoritik-paradigmatik yang saintifik.

Diteruskan pada segala bentuk turunannya berupa program program yang bisa diwujudkan dan masuk akal. Sampai pada bentuk artikulasi, ekspresi, sosialisasi yang mampu menyentuh kedalaman akal budi, dengan daya cipta dan kreativitas seni.Kedua pasangan boleh saja menganggap pertarungan pilpres ini seumpama perang.

Namun perangnya adalah perang otak, intelektual, konseptual, tarung kesabaran, tata kelola emosi dan kesiapan penuh stamina rohani. Bagaikan pertunjukan orkestra, tim pemenangan kedua pasangan mestinya dipimpin seorang konduktor mumpuni, yang amat piawai memandu berbagai lagu dan penuh akurasi memimpin beragam komposisi.

Tak ada salahnya jika petahana menduplikasi Barack Obama melawan Mitt Romney dalam palagannya yang kedua. Penantang silakan saja meniru Trump dalam melawan Hillary. Namun jangan keliru duplikasi. Berupayalah seperti pertunjukan orkestra ala Indonesia yang dimainkan dalam nada indah berirama.

Dan tentu saja berpegang teguh pada sistem nilai dan keadaban bangsa kita.Memang sudah seharusnya, dimulai dari sekarang, demokrasi terutama dalam hal pilpres, berangkat dari epistemologi hingga implementasi nan cantik dan menarik. Jika tidak juga, negeri ini akan terus terperangkap dalam labirin kejumudan dan rakyat sendiri akan terus berkonflik, karena para elite yang berada di puncak terus mempertontonkannya.

Jika tidak ada kesadaran untuk perbaikan, demokrasi di negeri ini akan mengalami bahaya; munculnya antipati, kemuakan dan frustasi terhadap demokrasi. Hingga benarlah apa yang dikatakan Jean Paul Sartre; demokrasi mati dibunuh oleh pengusungnya sendiri. Akankah kita bersetuju negeri ini menuju kematian demokrasi? Atau kita akan berbahagia menikmati kontestasi, orkestrasi demokrasi berbasis literasi. Carpidiem!

Abel Tasman Jawaher
Pemerhati branding politik
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Vaksin Demi Kesehatan Rakyat

Pemerintah berjuang penuh demi kesehatan rakyat. Keseriusan untuk menemukan vaksin Covid-19 adalah langkah yang sangat tepat. Karena vaksin merupakan solusi yang menjadi harapan rakyat...

Wabah, Membela Eksistensi Tuhan di Hadapan Ateisme (Habis)

Covid-19 Sebagai Fakta Kehidupan  Terlepas dari apakah Covid-19 adalah akibat dari ulah manusia, dan karena itu sebagai bagian dari kehendak bebas manusia, penderitaan kita hari ini pada...

Membereskan Pembukuan Tanpa Menguras Kantong

Pernahkah Anda mengalami sulitnya membereskan pembukuan dengan cepat dan mendapatkan laporan keuangan berhari-hari? Seringkali pebisnis hanya fokus cara meningkatkan omset bisnisnya saja, namun tidak menyadari cara...

Mengenal Sosok Tjokroaminoto

Tjokroaminoto merupakan orang yang pertama kali meneriakkan Indonesia merdeka, hal ini membuatnya sosok yang ditakuti oleh pemerintah Hindia-Belanda. De Ongekroonde Van Java atau Raja...

Mengapa Banyak Abdi Negara Muda Pamer di Media Sosial?

Apakah kamu pengguna Twitter yang aktif? Jika iya, pasti kamu pernah melihat akun @txtdrberseragam berseliweran di timeline kamu. Sebagaimana tercantum di bio akun ini,...

ARTIKEL TERPOPULER

Tanggapan Orang Biasa terhadap Demo Mahasiswa dan Rakyat 2019

Sudah dua hari televisi dihiasi headline berita demonstrasi mahasiswa, hal yang seolah mengulang berita di TV-TV pada tahun 1998. Saya teringat kala itu hanya...

Cara Mahasiswa Menghadapi Revolusi Industri 4.0

Teknologi selalu mengalami perubahan-perubahan seakan tidak pernah ada ujungnya. Seperti halnya saat ini teknologi sudah sangat berkembang dengan pesat terutama dalam bidang teknologi informasi...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Hitam Putih Gemerlap Media Sosial

“Komunikasi adalah inti dari masyarakat kita. Itulah yang menjadikan kita manusia.” Setidaknya begitulah yang dikatakan Jan Koum, pendiri aplikasi Whatsapp yang kini telah mencapai...

Jangan Bully Ustazah Nani Handayani

Ya, jangan lagi mem-bully Ustazah Nani Handayani “hanya” karena dia salah menulis ayat Al-Qur’an dan tak fasih membacakannya (dalam pengajian “Syiar Kemuliaan” di MetroTV...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.