Sabtu, Oktober 31, 2020

Pilkada Milik Calon Petahana?

Integritas Gelar Harga Mati

Beberapa minggu terakhir, kita disajikan berita yang cukup menghebohkan dari dunia pendidikan. Pertama, Rektor Universitas Negeri Jakarta, Profesor Djaali, terlibat aksi plagiat disertasi yang...

Pancasila sebagai Common Platform Bangsa Indonesia

Satu hari pasca Indonesia memproklamirkan diri sebagai negara merdeka, terjadi peristiwa mencengangkan ketika narasi sila pertama Pancasila dalam Piagam Jakarta yang berbunyi “Ketuhanan dengan...

Meninggalkan Islam ‘Warisan’

Di saat bara globalisasi mulai membara di tengah hamparan teknologi yang menganga, disaat itu pula ajaran Islam mulai kembang kempis bahkan surut atas problematika...

Jakob Oetama, Sang Wartapreneur yang Rendah Hati

Indonesia kehilangan satu lagi putra terbaik bangsa. Jakob Oetama, pendiri Kompas Gramedia, berpulang pada hari Rabu, 9 September 2020 di Jakarta dalam usia 88...
Mahpudin
Mahasiswa jurusan politik pemerintahan UGM

Menjelang masa-masa pendaftaran pasangan calon kepala daerah pada pilkada serentak yang akan dilangsungkan pada 23 September 2020 di lebih dari 270 daerah di Indonesia, geliat politik mulai memperlihatkan persaingan yang cukup dinamis dalam memperebutkan jabatan politik sebagai pemimpin daerah.

Pintu pemilu memang selalu menyajikan peluang bagi siapa pun untuk menjadi calon kandidat. Bahkan, untuk mendukung partisipasi masyarakat dan perwujudan keadilan pemilu, regulasi kepemiluan memberikan kesempatan kepada calon perseorangan tanpa harus mendapat dukungan dari partai politik.

Kendati demikian, meski pemilu terlihat terbuka dan inklusif, nyatanya dalam konteks pemilu di tingkat lokal (pilkada) selalu berada dalam dominasi calon petahana (incumbent). Calon petahana yang sebelumnya menjabat sebagai kepala daerah, mencoba kembali mencari peruntungan politik dengan mengikuti kontestasi pemilu untuk periode kedua. Tentu saja, keberadaan calon petahana membuat dimensi persaingan menjadi tidak fair.

Hal tersebut tidak lepas dari berbagai previlage yang dimiliki oleh calon petahana. Pertama, dari segi popularitas, calon petahana sudah pasti lebih unggul dibandingkan dengan calon yang masih baru (new comer). Masyarakat di daerah yang sebelumnya pernah dipimpin oleh calon petahana relatif sudah mengenal.

Meskipun popularitas tidak selalu berbanding lurus dengan tingkat elektabilitas, tetapi popularitas menjadi modal politik yang sangat penting bagi calon yang akan maju di pemilu. Pada umumnya sebelum masyarakat memilih calon kandidat tertentu sudah mengenali calon kandidat sebelumnya.

Kedua, calon petahana memiliki akses terhadap anggaran pemerintah daerah. Dengan modus bantuan dana hibah, calon petahana kerap menjadikan bantuan dana hibah untuk mendongkrak popularitas.

Menjelang masa-masa pemilu, pemerintah daerah sering memberikan bantuan kepada masyarakat seperti bantuan dana untuk perbaikan infrastruktur, pendirian rumah ibadah, dan bantuan lainnya baik dalam bentuk sumbangan uang maupun barang.

Tidak heran jika kemudian, pada masa pemilu, rencana anggaran daerah untuk kategori dana hibah pada umumnya akan membengkak. Tentu saja, tindakan tersebut masuk dalam kategori pelanggaran sebab calon petahana menggunakan anggaran daerah untuk melakukan kampanye secara terselubung yang dikemas atas nama dana hibah (sumbangan).

Baru-baru ini, salah satu Bupati di Kabupaten Serang yang juga akan kembali mencalonkan diri sebagai calon petahana memberikan dana hibah berupa bantuan pengadaan mobil ambulan sebanyak 50 unit yang dibagikan kepada desa-desa di Kebupaten Serang. Berdasarkan penelusuran di berbegai media, rencananya bupati akan kembali membagikan 50 unit mobil ambulan di tahun berikutnya. Menariknya, pada mobil ambulan tersebut terdapat gambar figur sang bupati seorang diri.

Logikanya, jika bantuan tersebut adalah murni dana hibah tanpa tujuan kampanye terselubung, seharusnya dalam gambar tersebut juga disertakan gambar figur wakil bupati yang masih menjabat. Bahkan seharusnya, tidak perlu dipasang gambar figur karena sangat kental dengan nuansa marketing figur.

Dua keuntungan tersebut mempertegas bahwa pilkada cenderung didominasi oleh petahana. Tidak heran jika partai berbondong-bondong mengusung calon petahana karena dianggap memiliki peluang kemenangan yang cukup tinggi. Elit partai sebagai aktor yang rasional tidak akan membuang banyak energi untuk mendukung calon yang kecil kemungkinan untuk menang.

Akibatnya, fenomena borong partai menjadi sebuah keniscayaan dalam perhelatan pilkada. Bahkan dalam tingkat yang lebih ekstrim, beberapa daerah justru menghasilkan calon tunggal karena nyaris semua partai politik mendukung calon petahana. Sebagai contoh, pada pilkada serentak tahun 2018 lalu, dari empat kabupaten/kota yang menyelenggarakan Pilkada di Provinsi Banten, tiga diantaranya (Kabupaten Lebak, Kabupaten Tangerang, Kota Tangerang) adalah calon tunggal.

Di lain pihak, calon kandidat yang berasal dari jalur perseorangan tidak mudah mengalahkan dominasi calon petahana. Persyaratan dukungan yang begitu kompleks bagi calon perseorangan membuat mereka sering kali harus kalah sebelum berperang. Dalam arti dinyatakan gagal untuk menjadi peserta pemilu karena tidak terpenuhinya persyaratan.

Kendati pun beberapa calon perseorangan ada yang sampai menjadi calon kandidat, presentase kemenangannya sangat minim. Meskipun pernah ada yang berhasil memenangkan pertarungan pemilu, tetapi lebih banyak yang harus menelan kekalahan.

Pada dasarnya tidak ada masalah ketika calon petahana kembali melenggang di pentas pemilu dengan harapan terpilih kembali menjadi kepala daerah untuk periode kedua. Sebab konstitusi dengan tegas memberikan hak tersebut secara sah.

Dengan prisnip keadilan dan kebebasan untuk memilih dan dipilih, semua warga negara yang memenuhi syarakat memiliki peluang yang sama untuk maju di Pilkada, termasuk calon petahana. Namun, dari pemaparan ini, penulis melihat bahwa secara empiris menunjukkan anomali. Dimana, Pilkada adalah panggung politik milik petahana.

Mahpudin
Mahasiswa jurusan politik pemerintahan UGM
Berita sebelumnyaKUKM Diuji di Tengah Pandemi
Berita berikutnyaDisleksia Bencana
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Menjaga Kesehatan Tubuh dari Covid-19

Menjaga kesehatan menjadi hal yang penting dilakukan semua kalangan. Apalagi dengan kondisi alam yang semakin merabahnya virus covid 19. Terkadang hal sederhana yang rutin...

Kesehatan Mental dan Buruh

Kerja adalah cerminan kesehatan jiwa. Semakin baik tempat kerja, semakin kecil kemungkinan kita mengalami masalah kejiwaan. Adam Smith dalam bukunya Wealth of Nation secara...

Charlie Hebdo, Emmanuel Macron, dan Kartun Nabi Muhammad

Majalah satir Charlie Hebdo (CH) yang berkantor di Paris kembali membuat panas dunia. CH merilis kartun Nabi Muhammad untuk edisi awal September 2020. Padahal...

Imajinasi Homo Sapiens Modern dalam Menguasai Dunia

  Foto diatas ini mewakili spesies lainnya yang bernasib sama, tentu bukan hanya Komodo, masih ada dan masih banyak lagi hewan yang bernasib sama sebut...

TBC Mencari Perhatian di Tengah Pandemi

Pada awal Maret, Indonesia melaporkan kasus Coronavirus Disease-2019 yang dikenal sebagai COVID-19, terkonfirmasi muncul setelah kejadian luar biasa di Wuhan, Cina. Penyakit ini disebabkan...

ARTIKEL TERPOPULER

Sandiwara Dibalik Pernikahan Raja Majapahit Bali

Belakangan di Bali ramai pemberitaan mengenai acara pertunangan Raja Majapahit Bali bernama lengkap Abhiseka Ratu Dr Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna Mahendradatta Wedasteraputra...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Pandangan 2 Mazhab Hukum Terhadap Putusan MA Soal Eks Napi Koruptor

Pertengahan tahun 2018 ini publik dikagetkan dengan hadirnya PKPU No. 20/2018 yang dalam Pasal 4 ayat (3) menyatakan bahwa Pengajuan daftar bakal calon anggota...

KDRT Saat Pandemi

Severe acute respiratory syndrome coronavirus 2 (SARS-CoV-2) atau yang lebih dikenal dengan nama COVID-19 adalah jenis baru dari coronavirus yang menular ke manusia. Virus ini...

Menyerupai Suatu Kaum: Hadits, Konteks Budaya, dan Tahun Baru 2018

Hanya dengan satu hadits ini, “Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka” (HR Abu Daud dan Ahmad), banyak ustaz yang lantang...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.