Banner Uhamka
Sabtu, September 19, 2020
Banner Uhamka

Pilkada Jatim dan Nasib Orang Pulau

Kartu Kuning Mahasiswa dan Kuatnya Figur Jokowi

Aksi Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM-UI) Zaadit Taqwa yang berani atau nekat mengacungkan “kartu kuning” terhadap Jokowi beberapa hari kemarin ramai diperbincangkan...

Heroisme Joni dan Peran Masyarakat Milenial

Yohanes Ande Kala Marcal Lau yang  akrab disapa Joni, remaja kelas VII SMP di Kabupaten Belu, NTT, lewat aksi heroiknya mengundang decak kagum warganet seantero...

Nasib Buruh dalam Pusaran Pandemi

May Day atau peringatan hari buruh tahun ini terasa sangat berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Biasanya setiap tanggal 1 Mei, para buruh selalu melakukan aksi...

Insentif Korupsi di Indonesia

Kasus penangkapan Bupati Batubara oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dalam operasi tangkap tangan seolah menunjukkan bahwa perang melawan korupsi belum tuntas. Perilaku korup yang...
Idang Aminuddin
Orang jelata dari desa. Melangkah untuk merdeka

Sebelumnya mohon maaf, atas keterlambatan dalam merumuskan bentuk kritikan, kami terlalu leha, woles, kurang uptudate dengan informasi kontemporer dan klasik sehingga banyak sekali yang tertinggal. Kurang cepat dalam mengambil peran dimomentum pesta politik praktis dan kekuasaan. Entah itu dari keterbatasan fasilitas informasi, atau kami memang trauma apa memang kecewa? Entahlah!

Jelaslah bagi semuanya bahwa sebagian besar masyarakat Indonesia, sebentar lagi akan disibukkan untuk menentukan pilihan pemimpin kepala daerah, (provinsi dan kabupaten/kota), sebuah pesta demokrasi ajang lima tahunan. Termasuk di dalamnya adalah Jawa Timur, sekaligus menjadi spesifikasi bahasan ini.

Melihat seperti yang dirilis oleh DetikNews (15/9/2017), di Jawa Timur ada 38 kabupaten dan kota, 18 kabupaten/kota ikut dalam gelaran pilkada serentak 2018, serta pemilihan gubernur Jatim, tepatnya pada tanggal 27 juni 2018 mendatang.

Tentu masyarakat penuh harap mengarungkan tangan meng-amini setiap janji politik para calon pemimpinnya. Meskipun ada yang merasa psimis, trauma dan kecewa wabil-khusus masyarakat pinggiran, pesisir, yang amat jauh dari gemerlapnya kota metropolis di Jawa Timur. Tentu ada pula yang semangat, antusias, mengikuti arena pertarungan dengan harapan mendapat suaka politik dari calon dukungannya, karena di ring tinju politik tidak ada makan siang gratis.

Sekali lagi kami disini mohon maaf bagi pembaca. Pertama sajian ini tanpa teori serta data yang tervalidasi, tapi insyaallah siap uji. Kedua bukan maksud ingin menggiring opini yang bertendensi primordial, kedaerahan yang syarat kepentingan. Karena kami ingin menarik momentum Pilkada pada ranah lokal dan spesifik, (khusus Jawa Timur dan orang Pulau Kangean-Sumenep Madura) karena kami orang Pulau nyaris tidak tau harus pada apa, dan siapa keluh kesah ini kami ditorehkan.

Kondisi Orang Pulau dan harapan

Laiknya kita tahu, Gus Ipul atau Ibunda Khofifah inilah dua sosok calon pemimpin Jatim kelak. Satu berstatus Ptahana di Pilkada Jatim, satunya berstatus mantan Mentri Sosial plus pernah dua kali sebagai calon Gubernur di Jawa Timur. Diantara kedua calon pemimpin ini tentu sudah tidak asing, nama dan popularistasnya bagi warga Jawa Timur. Tapi pertanyaannya?

Tahukah diantara keduanya, bahwa ada Pulau disebrang samudra laut non jauh dipenghujung Timur Madura- Jawa Timur, dengan kisaran daftar pemilih tetap (Dpt) 160 ribu jiwa. Terdiri dari 3 kecamatan, 1. Kec Arjasa (19 desa), 2. Kec Kangayan (9 desa), 3. Kec Sapeken (11 desa). Tahukah? Kami ragu.

Tanpa mengurangi rasa hormat, bagi kami orang pulau, tak mau tau siapa pun yang terpilih nanti baik Gus Ipul atau Ibunda Khofifah. Kami hanyalah menaruh berjuta-juta harapan besar tentang perbaikan nasib duka dan nestapa sebagai orang Pulau. Mari kita bayangkan bersama, betapa ngeri nasib sebagai orang Pulau. Dari sekian numpuknya persoalan, beratnya beban penderitaan yang tak kunjung usai.

Tak ada fasilitas mumpuni untuk menyampaikan aspirasi. Infrastruktur rangsek, mulai dari akses jalan yang rusak, trasportasi laut Trayek Kangean-Sumenep yang tidak layak, dengan jarak tempuh 10 -12 jam, operasi dua kali dalam seminggu, kadang sebulan sekali disaat cuaca alam tak bersahabat.

Konsekuensinya perekonomian mati. Lain lagi antara manusia dicampur dengan barang dan muatan binatang (termasuk ayam)-didalam Kapal. Alat penerangan PLN menyala 12 jam malam hari, kadang pemadaman bergilir antar desa. Harga BBM (bensin) 10 ribu rupiah. Penegakan hukum timpang, proses perceraian terlalu longgar, hingga berkeliaran janda muda.

Narkoba mulai menjangkiti generasi anak sekolah. Pendidikan yang tertinggal, sehingga sumber daya manusianya tak bisa diharapkan. Banyak yang jadi korban pelarian nasib ke negri Jiran-Malaysia.

Dibalik kondisi sadis tersebut, ironisnya pemerintah daerah Kabupaten (Sumenep) abai dalam hal itu. Legislatif (DPRD) khusus dapil VII, berjumlah 7 orang, yang mewakili Pulau Kangean, terdiri dari tiga kecamatan juga tidak bisa diharapkan.

Mereka tampak tak bertaring, tak lihai dan tak pandai untuk mempengaruhi lawan dan kawan diparlemen, sehingga tak ada bingkisan kebijakan yang disuguhkan untuk masyarakat Kepulauan Kangean, (Sumenep/Madura/Jatim). Alibinya mekanisne rumit dan runyam. Terbukti sejauh ini, kondisi Kepulauan Kangean tidak ada perubahan sejak Bahtera Nabi Nuh sampai era Jokowi-JK.

Tepat 27 juni 2018 mendatang bila tidak ada perubahan ketentuan, itu adalah ajang Pemilihan Gubernur. Maka disitulah orang Pulau Kangean-Sumenep (Madura, Jatim) segala tumpuan “harapan akan diberikan”. Rasanya cukuplah bapak ibu kami menjadi generasi terakhir kebodohan. Produk kekejian rezim yang terlupakan. Dari fakta sosial tersebut diatas, meskipun bersifat Hipotesa, Gus Ipul dan Ibunda Khofifah kami anggap solusi yang akan mengentaskan nasib orang Pulau apabila masyarakat Jawa Timur sudah meng-amanahi diantara salah satunya.

Diantara mereka berdua anggapan semua warga Jawa Timur, mereka mampu menjadikan Pil-(kada) sebagai obat untuk menyembuhkan luka lebam, nasib derita yang selama ini ditanggungnya. Keteledoran dan kekhilafan mereka berdua selama ini, mungkin masyarakat masih bisa memaklumi.

Mereka juga manusia biasa “No Body Perfect”. Tapi apabila mereka berdua, diantara salah satunya menjadi orang nomer satu di Jawa Timur, maka zona nyaman harus siap ditinggalkan, demi masyarakat yang menaruh haparan. Sekali lagi “ini harapan”.

Perjuangan orang pulau

Uraian tesis kedua ini setelah bahasan tentang kondisi dan harapan orang Pulau, kiranya kami tak perlu panjang kali lebar menjelaskan, hanya sebatas menegaskan. Bahwa orang Pulau Kangean-Sumenep (Madura/Jatim), selama ini tidak diam, tapi mereka bergerak dan melawan. Dibalik jiwa mereka yang keras, nyali mereka yang pemberani. Sebab pemerintah daerah (kabupaten  sumenep) tak lagi bisa diharapkan, kebijakan tak ada keberpihakan.

Gus Ipul dan Ibunda Khofifah perlu sadar, orang Pulau nyaris tak pernah meminta suaka pemerintah. Mereka demi mengentaskan nasib kemiskinanya pergi merantau ke Negri Jiran, Malaysia. Agar kebelanjutan generasinya tak menanggung derita yang sama. Tak menanggung beban dosa akan tanggung jawab kekuarga. Sanggupkah Gus Ipul & Bunda Khofifah mengentaskan derita duka mereka ? Mahkamah sejarah yang akan mencatat mereka berdua.

Dititik kulminasi masyarakat Kepulauan, mereka pernah menyatakan sikap tegas. Seperti dirilis oleh “Portal Madura.com”- Minggu (8/5/2016) . Mereka yang tergabung dari lapisan elemen masyarakat, Mahasiswa, tokoh pemuda, dan tokoh agama, mendeklarasikan “Kabupaten Kepulauan Kangean” di Pelabuhan Kalianget-Sumenep. Menuntut pembentukan Daerah Otom Baru (DOB). Dikordinatori oleh Araful Firaq S.pd tokoh pemuda kepulauan Kangean, Mantan Presiden BEM Universitas Darul Ulum-Jombang.

Itulah sekilas gambaran derita tak kunjung usai dan perjuangan orang Pulau Kangean yang tak sampai. Kini Gus Ipul dan Ibunda Khofifah,  menjadi satu-satunya tumpuan harapan bagi masyarakat Kepulauan Kangean. Sekaligus menjadi sinstesa dari segala persoalan dan garis perjuangan, untuk mengangkis mereka dari jurang nestapa penderitaan. Taruklah nasib orang Pulau dipelupuk matanya, Gus dan Bunda! Pliss… amanah jangan dusta.

Idang Aminuddin
Orang jelata dari desa. Melangkah untuk merdeka
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Madilog Sekali Lagi

Gerakan modernisasi dan perkembangan teknologi terjadi begitu cepatnya saat ini, memunculkan berbagai dampak, baik positif maupun yang negatif, mulai dari dampak yang terlihat maupun...

Harmonisasi Agama, Negara dan Dakwah (I)

Agama (Islam) mengakui eksistensi ‘kabilah’, kaum, suku dan bangsa untuk saling mengenal dan bekerjasama demi kemanusiaan dan peradaban (surah al-Hujurat 9:13). Islam menekankan pentingnya semangat/cinta...

Solusi Bersama untuk PJJ

Gebrakan dari Mas Manteri Nadiem Makarim di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) dalam memerdekan pendidikan di Indonesia patut diacungkan jempol. Berbagai konsep pendidikan seperti...

Kita Lengah Karena Syariatisasi Ternyata Masih Berjalan

Kebijakan Bupati Gowa yang akan memecat ASN (Aparatus Sipil Negara) yang bekerja di lingkungannya yang buta aksara al-Qur’an membuat kita sadar jika syariatisasi di...

Sepak Bola, Cara Gus Dur Menyederhanakan Politik

Tahun 1998 adalah masa pertama penulis mulai gemar menonton sepak bola. Kala itu, bersamaan dengan momentum Piala Dunia (World Cup) di Prancis. Ketika opening...

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.