Banner Uhamka
Kamis, Oktober 1, 2020
Banner Uhamka

Pilkada dan Investor Politik

Dunia dalam Pusaran para Pemimpin Perusak Lingkungan

Siapakah pemimpin-pemimpin dunia yang melakukan paling banyak pengrusakan terhadap lingkungan? Mungkin, paling mudah Anda akan menjawab: Donald Trump. Ya, tepat sekali. Tetapi Trump tidak...

Peran Ekspor-Impor dalam Perdagangan Internasional Era Milenial

Perdagangan Internasional sangatlah mempengaruhi pertumbuhan ekonomi suatu negara, karena dalam perdagangan internasional semua negara bersaing di pasar internasional, dan itu terjadi karena bertemunya subyek-subyek...

Apa Lawan Media Sosial?

Pada tanggal 21 Mei 2019 jelang pukul 23.00 WIB ketika saya hendak mengucapkan “selamat malam” dan “semoga mimpi indah” kepada kekasih di kota lain....

Pandemik Covid-19 dalam Perspektif PAUD

Hadirnya pandemik Covid 19 secara nyata memunculkan multiplier efect, semua sisi kehidupan terdampak, seluruh umat manusia secara langsung atau tidak langsung merasakannya. Ketika kebijakan belajar...
Naufal Madhure
Penulis Lepas dan Aktivis Forum Libertarian Indonesia, Wilayah Sumenep, Madura.

Ada 270 daerah akan menyelenggarakan pilkada serentak pada 23 September mendatang. Salah satunya daerah kelahiran saya, Sumenep. Genderang perang mulai ditabuh dan terompet pertempuran mulai ditiup, sebagai pertanda bahwa, perang politik akan segera dimulai.

Para kontestan sudah bersiap-siap turun ke gelanggang pertempuran, memoles dirinya dengan gincu dan beragam bedak harum semerbak. Janji-janji politik kian ramai dipublikasikan melalui spanduk, baliho dan media-media sosial untuk mendapatkan simpati publik. Dan yang tak kalah spektakulernya, gambar-gambar para kontestan bertebaran di pinggir-pinggir jalan dengan senyum manisnya bak iklan sabun mandi.

Mereka juga mulai rajin mengunjungi rakyat jelata yang sudah lama berjibaku dengan kemiskinan dan kemelaratan. Mereka tebar senyum dan janji manis perubahan, seraya berharap mereka akan terbuai denga bualan-bualan politiknya. Padahal selama berpuluh-puluh tahun mereka berkelai sendirian dengan kemiskinan yang menjeratnya. Nyaris tak ada elite politik yang sudi menanyai akan melarat yang menjeratnya itu.

Sungguh malang nasib rakyat kita!

Hajatan politik atau yang lebih masyhur disebut pesta demokrasi ini merupakan satu instrumen menuju perubahan suatu daerah yang lebih baik. Ada banyak harapan digantungkan di atas langit-langit pilkada. Persoalan kesenjangan sosial dan ekonomi adalah salah satu bagian terpenting dari sekian persolan yang harus dientaskan. Karena hal itu adalah momok paling menakutkan bagi rakyat kita.

Pilkada harus benar-benar menjadi pesta demokrasi, yang berarti pesta rakyat. Segala kerian-gembiraan harus dirasakan oleh rakyat. Segala manfaat harus kembali pada rakyat karena demokrasi sejatinya “dari rakyat oleh rakyat untuk rakyat,” bukan untuk yang lain. Bukan untuk para elite politik, birokrat, dan apalagi korporat.

Rakyat tidak boleh hanya dijadikan tunggangan politik, yang apabila kepentingan politiknya tercapai, maka tunggangan itu akan dihempaskan entah ke mana. Atau tidak boleh hanya dipandang sebagai komoditas politik, yang bebas diperjual-belikan sesuai kepentingan pasar politik para elite. Tidak boleh.

Meski begitu, saya tetap akan ber-khusnudzan kepada para kontestan pilkada kita hari ini bahwa, mereka adalah putra-putra terbaik daerah yang memiliki i’tikad baik membangun daerahnya, menciptakan perubahan, dan membebaskan rakyatnya dari belenggu kemiskinan dan kemelaratan. Saya meyakini itu.

Mewaspadai Gerakan Investor Politik

Sebagaimana kita mafhum, bahwa ongkos politik kita amatlah mahal. Harus ada banyak dana yang digelontorkan demi suksesnya ia merebut kursi kekuasaan. Ada dana kampanye, dana tim sukses, dana atribut dan dana-dana tak terduga lainnya. Alhasil, tidak lah cukup mengandalkan kecerdasan, popularitas, dan elektabilitas. Dana yang memadai menjadi nomor wahid di alam gebyar dan artifisial ini. Yang beruang berpeluang lebih besar ketimbang yang cekak.

Permasalahan pilkada kita menjadi pelik memang ketika dikaitkan dengan ongkos politik. Dan di sini lah peran investor politik menjadi urgen. Alfan Alfian lebih suka menyebut investor politik ini dengan bosisme politik (political bossism).

Dalam bukunya “Demokrasi Pilihlah Aku: Warna-Warni Politik Kita” (2013), Alfan Alfian mengartikan bosisme politik sebagai sebuah sistem politik yang menempatkan sosok tunggal dengan kekuatan penuh mengontrol jalannya politik. Dengan kekuatan modal dan dan jejaring yang kuat di segala lini serta dengan tekhnik kecanggihan tertentu, si bos bisa mendiktekan kemauan politiknya kepada kontestan.

Investor politik akan menginvestasikan uangnya untuk memenangkan salah satu pasangan kontestan pilkada. Anekdot “tidak ada yang gratis di dalam politik” menjadi berlaku di sini.Yang namanya investasi, maka ia harus menguntungkan, baik secara politik maupun ekonomi.

Kebijakan-kebijakan politiknya harus berpihak pada kepentingan sang investor, bukan pada rakyat. Juga kekayaan alamnya akan dengan mudah dijarahnya melalui regulasi yang dibuat untuk kepentingan ekonominya. Politik balas budi itu benar-benar ada dalam konstelasi perpolitikan kita.Jika begini, maka jangan berharap akan lahir perubahan, kesenjanagan sosial-ekonomi akan segera teratasi, infrastruktur akan merata dari kota hingga ke pelosok desa, dan rakyat rakyat di akar rumput akan dipikirkan. Karena rakyat tak lebih hanya dipandang sebagai komuditas politik.

Pemilih Cerdas

Istilah pemilih cerdas acapkali kita dengar setiap perhelatan pesta demokrasi. Ia begitu akrab di telinga kita. Karena di tangan pemilih cedas lah nasib rakyat selama lima tahun digantungkan. Pemilih cerdas adalah pemilih yang berani memilih pemimpin sesuai hati nuraninya, memilih pemimpin yang menguntungkan rakyat banyak.

Menjadi pemilih cerdas tidak lah amat mudah, semudah membalikkan telapak tangan. Tidak. Ada banyak godaan untk menjadi pemilih cerdas itu, di antaranya adalah pragmatisme. Di mana keuntungan materi yang besrsifat sangat pribadi lebih didahulukan ketimbang keuntungan yang ideal dan bersifat sosial. Pragmatisme adalah virus berbahaya yang menjangkiti sebagian besar pemilih kita selama ini, sehingga tidak melahirkan pemimpin yang visioner dan merakyat.

Kita mafhum bahwa, rakyat kita butuh materi, butuh uang tetapi bukan berarti halal menukar idealisme kita dengan uang atau pun materi-materi yang lain. Nasib rakyat masih jauh lebih penting dari sekedar uang seupil itu. Idealismemu lah yang akan menghantarkan bangsa ini pada masa keemasannya. Jika ingin perubahan hindarilah politik uang!

Naufal Madhure
Penulis Lepas dan Aktivis Forum Libertarian Indonesia, Wilayah Sumenep, Madura.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Pilkada dan Jerat Klientelisme

Perhelatan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2020 mulai semarak. Kurang lebih 270 daerah (Kota/Kabupaten dan Provinsi) akan menyelenggarakan pesta demokrasi elektoral ini. Tentunya Pilkada tahun...

Pancasila dan Demokrasi Kita Hari Ini

Perjalanan demokrasi di Indonesia tidak selamanya sejalan dengan ideologi negara kita, Pancasila. Legitimasi Pancasila secara tegas tercermin dalam Undang-Undang Dasar 1945, dan difungsikan sebagai...

PKI, HMI, dan NU

Saya pernah membuka kliping koran Kedaulatan Rakyat (KR) tahun 1965-an, dari Januari sampai 30 September di Perpus DIY, Malioboro, tahun 2018. Waktu itu saya...

Dua Perwira di Bawah Pohon Pisang (Kenangan Kekejaman PKI di Yogya)

Yogya menangis. Langit di atas Kentungan muram. Nyanyian burung kutilang di sepanjang selokan Mataram terdengar sedih. What's wrong? Ono opo kui? Rakyat Ngayogyakarta risau, karena sudah...

Pilkada dan Pergulatan Idealisme

Invasi Covid-19 memang tak henti-hentinya memborbardir aspek kehidupan manusia secara komprehensif. Belum usai kegamangan pemerintah terkait preferensi mitigasi utama yang harus didahulukan antara keselamatan...

ARTIKEL TERPOPULER

Lebih Baik Dituduh PKI daripada PKS

Ini sebenarnya pilihan yang konyol. Tetapi, ketika harus memilih antara dituduh sebagai (kader, pendukung/simpatisan) Partai Komunis Indonesia (PKI) atau Partai Keadilan Sejahtera (PKS), maka...

Pengakuan Pak Harto: Malam Jahanam itu Bernama Kudeta

RAUT wajah Presiden Sukarno tampak menahan kesal teramat sangat. Sambil duduk, ia dihadapkan pada selembar kertas yang harus ditandatangani. Di sisi kanan Bung Besar,...

PKI, HMI, dan NU

Saya pernah membuka kliping koran Kedaulatan Rakyat (KR) tahun 1965-an, dari Januari sampai 30 September di Perpus DIY, Malioboro, tahun 2018. Waktu itu saya...

Narasi – Narasi Seputar G-30S 1965

Hingga hari ini, masih banyak masyarakat awam yang percaya bahwa dalang utama dibalik peristiwa G30S adalah PKI. Kepercayaan tersebut tidak bisa dilepaskan dari kampanye...

Hyper Grace : Kejahatan Intelektualitas Manusia Yang Menggunakan

Hyper Grace adalah anugerah yang dilebih-lebihkan (keluar dari porsi) anugerah yang melebihi yang Firman Allah katakan (menambahkan Firman-Nya).Itu adalah anugerah di mana kamu harus...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.