Jumat, Oktober 30, 2020

Pilkada 2018: Daulat Rakyat Mencari Pemimpin Baik (II)

Generasi Netflix dan Politik Orang Tua

“Gue suka banget series baru di Netflix, lo harus nonton!” Ini pesan dari teman saya yang lagi suka-sukanya nonton series di Netflix. Dia kemudian cerita...

Indonesia di Organisasi Internasional

Pembukaan Undang-undang Dasar 1945 mengamanatkan Indonesia untuk turut serta dalam melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial. Ini sejalan dengan...

Menyoal Debat Raja Juli Antoni dan Fadli Zon

Perdebatan sengit antara Sekretaris Jenderal Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Raja Juli Antoni dengan Wakil Ketua DPR RI, Fadli Zon yang juga Wakil Ketua Umum...

Menulislah Maka Kita Beradab

Liburan natal dan tahun baru ini terasa bagai angin segar. Waktu senggang yang melimpah membuat hidup terasa nikmat. Hari yang biasa diisi rutinitas, kini...

Komponen Pemimpin Baik

Pertanyaan lanjutan dari adanya hak untuk bebas menentukan pilihan adalah apakah cara menjalankan pilihan sudah dipahami pemilik hak? Apakah rakyat boleh memilih sebebas-bebasnya? Apa yang diperlukan untuk menghasilkan pemimpin yang baik dan berkualitas?

Sebetulnya, siapapun boleh dipilih tetapi kiranya jangan serampangan. Diperlukan semacam timbangan dalam mengukur ketepatan untuk melepaskan hak tersebut. Karena setiap tindakan mempunyai konsekuensi.

Rakyat selaku pemilik kedaulatan tertinggi akan sangat keterlaluan apabila justru meloloskan oknum-oknum yang tidak amanah menjadi pemimpin. Mereka itu ringkasnya yang terbiasa melakukan KKN, memanipulasi fakta dan hasil pekerjaan serta tidak menunjukan sikap diri yang baik.

Jangan mudah termakan janji manis kandidat yang berikrar akan menciptakan kesejahteraan publik. Tetapi tidak menguasai masalah rakyat dan tidak sama sekali punya empati terhadap isu sosial kemasyarakatan.

Dalam pergaulan masyarakat ia mengekslusifkan diri dan hanya mau berinteraksi dengan masyarakat strata tertentu saja. Seyogianya rakyat harus jeli dan cermat dalam membaca konteks retorika dan tindakan faktual kandidat. Maka, ada beberapa cara untuk menghasilkan pemimpin yang baik.

J.S Bowdman mengatakan bahwa pemimpin dituntut harus memiliki 3 (tiga) kompetensi yaitu pertama kompetensi teknis (misalnya: pengetahuan yang terspesialisasi, pengetahuan hukum, manajemen program, manajemen strategis, dan manajemen sumberdaya).

Kedua, kompetisi etika (misalnya: manajemen nilai, kemampuan penalaran moral, moralitas pribadi, moralitas publik dan etika organisasional) dan ketiga kompetensi leadership (misalnya: penilaian dan penetapan tujuan, ketrampilan manajemen hard/soft, gaya manajemen, ketrampilan politik dan negosiasi dan evaluasi) (Lihat, Haryatmoko, tanpa tahun, hlm.8).

Pemimpin yang baik untuk rakyat dalam artian dapat diharapkan bekerja untuk mengatasi pelbagai permasalahan rakyat dan pemerintahan seperti kemiskinan, pengangguran, gizi buruk, pendidikan, pembangunan infrastruktur, percepatan pembangunan di daerah tertinggal, pengelolaan sumber daya alam, pemberdayaan masyarakat, reformasi birokrasi, penegakan hukum dan seterusnya harus memenuhi ketiga kriteria di atas.

Mengelola daerah membutuhkan komitmen yang besar, jiwa yang besar, dan hati yang besar. Tidak bisa dengan modal nekat saja karena yang dipertaruhkan adalah nyawa manusia.  Ketika seseorang pemimpin lahir denga kompetensi teknis maka ia mempunyai modal untuk menguasai isu atau masalah secara tuntas.

Maka, dengan mudah menyusun program yang bertujuan menguarai masalah rakyat agar lekas tuntas. Sebaliknya, jika tidak ada kemampuan teknis apalagi hanya mengandalkan bekingan orang lain maka sejak awal ia telah lemah untuk berjalan.

Sementara itu, pemimpin yang hadir dengan kemampuan etika memposisikan diri sebagai orang yang bijaksana karena ia punya empati dan selalu berikhtiar untuk melayani rakyat. Etika adalah soal mengelola nilai-nilai yang diyakini bermanfaat baik untuk diri sendiri maupun orang lain.

Sebagai contoh, akan timbul orang-orang yang mempunyai integritas tinggi, akuntabel, transparan, percaya pada adanya dosa dan takut berbuat menyimpang dari kelaziman norma. Dalam konteks memilih pejabat publik yang tidak kalah penting diperhatikan adalah etika kebangsaan sang pejabat.

Merujuk pada TAP MPR No. VI/MPR/2001 tentang Etika Kehidupan Berbangsa disebutkan pokok-pokok etika dalam kehidupan berbangsa mengedepankan kejujuran, amanah, keteladanan, sportifitas, disiplin, etos kerja, kemandirian, sikap toleransi, rasa malu, tanggung jawab, menjaga kehormatan serta martabat diri sebagai warga bangsa.

Terakhir kemampuan leadership mengutamakan orang-orang yang mempunyai visi untuk kemajuan dan kemakmuran orang banyak. Pemimpin dengan kemampuan leadership tidak takut gagal, selalu berinovasi, melibatkan publik dalam setiap keputusannya, mengutamakan kepentingan rakyat, tidak berpihak dalam keputusannya terhadap satu kelompok semata, mampu mengelola resiko, tidak cukup puas atas pencapaian tetapi terus melakukan evaluasi untuk perbaikan terhadap bagian-bagian yang gagal dan peningkatan terhadap kesuksesan.

Apakah ketiga komponen kompetensi tersebut sudah ada dalam kandidat pilihan anda? Bila belum, sebesar apapun cinta anda kepadanya hendaknya perlu dipikirkan kembali kelayakan yang bersangkutan. Dan, kiranya pemimpin-pemimpin yang terpilih dalam Pilkada 2018 adalah mereka yang matang tiga kompetensi tersebut dan menjadi harapan baru dari rakyat masing-masing daerah.

Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Imajinasi Homo Sapiens Modern dalam Menguasai Dunia

  Foto diatas ini mewakili spesies lainnya yang bernasib sama, tentu bukan hanya Komodo, masih ada dan masih banyak lagi hewan yang bernasib sama sebut...

TBC Mencari Perhatian di Tengah Pandemi

Pada awal Maret, Indonesia melaporkan kasus Coronavirus Disease-2019 yang dikenal sebagai COVID-19, terkonfirmasi muncul setelah kejadian luar biasa di Wuhan, Cina. Penyakit ini disebabkan...

Pemuda dalam Pergerakan Nasional Pandemi Covid-19

Peringatan hari Sumpah Pemuda mempunyai makna yang khusus di masa Covid-19 saat ini. Tak bisa dipungkiri bahwa negara Indonesia adalah salah satu negara yang...

Pilu-Kasih di Medan Aksi

Malam itu menjadi momen yang tak terlupakan. Saya kira, saya hanya akan menghabiskan malam dengan makan atau nongkrong di kafe favorit bersama sang kekasih....

Pendidikan di Era Disrupsi (Catatan Karya Yudi Latif)

Yudi Latif lebih muda 10 tahun dari saya. Dan walau saya, tentunya, lebih awal menulis, Yudi jelas jauh lebih produktif. Dua bulan lalu, saya diminta...

ARTIKEL TERPOPULER

Sandiwara Dibalik Pernikahan Raja Majapahit Bali

Belakangan di Bali ramai pemberitaan mengenai acara pertunangan Raja Majapahit Bali bernama lengkap Abhiseka Ratu Dr Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna Mahendradatta Wedasteraputra...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Pendidikan di Era Disrupsi (Catatan Karya Yudi Latif)

Yudi Latif lebih muda 10 tahun dari saya. Dan walau saya, tentunya, lebih awal menulis, Yudi jelas jauh lebih produktif. Dua bulan lalu, saya diminta...

Pemuda, Agama Sipil, dan Masa Depan Indonesia

Sejarah sangat berguna untuk mengetahui dan memahami masa lampau, dalam rangka menatap masa depan, ungkap Ibnu Khaldun (1332-1406 M). Semestinya tidak hanya dibaca sebagai...

Pandangan 2 Mazhab Hukum Terhadap Putusan MA Soal Eks Napi Koruptor

Pertengahan tahun 2018 ini publik dikagetkan dengan hadirnya PKPU No. 20/2018 yang dalam Pasal 4 ayat (3) menyatakan bahwa Pengajuan daftar bakal calon anggota...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.