Selasa, Maret 2, 2021

Pilih Siapa Ya, Dedi Mulyadi, Demiz, Emil, Apa Kamu?

Setelah 25 Tahun Genosida Muslim Bosnia

11 Juli kemarin adalah hari yang sangat pilu dirasa bagi warga Bosnia-Herzegovina. Di Srebrenica, 25 tahun yang lalu, umat Islam setempat menghadapi genosida dari pasukan...

Pers dan Capres

Pak Prabowo terekam video sedang terlihat kesal dengan wartawan. "Dari tivi mana loe?" kata Pak Prabowo. Hal itu disebabkan kekesalannya kepada media yang tidak...

Mengatasi Luka Sosial

Di negeri ini, kata "rekonsiliasi" sudah seperti suplemen obat kuat yang dipaksa minum untuk mengatasi luka-luka sosial, seperti buruknya penegakkan hukum, kasus-kasus kekerasan, dan...

Menyongsong Lomba Bahasa dan Sastra dalam Festival Literasi Purb

Literasi Sastra dan BudayaSastra adalah sebuah nama dengan alasan tertentu diberikan kepada sejumlah hasil seni tertentu dalam suatu lingkungan kebudayaan. Cipta sastra merupakan karya...
Muit ElAbbas
Penulis bukan siapa-siapa dan bukan apa-apa, bisa jadi enggak penting bagi pembaca.

Suhu politik menjelang Pemilihan Gubernur (Pilgub) Jabar 2018, kian hari kian memanas. Sejumlah tokoh, dengan berbagai identitas terus bermunculan mengkampanyekan dirinya kepada khalayak banyak bahwa dirinya akan mencalonkan menjadi pemimpin dalam pemerintahan di Tanah Sunda.

Diantara banya tokoh yang muncul. Ada tiga tokoh populer yang selalu menjadi perbincangan. Yaitu, Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi, Wakil Gubernur (Wagub) Jabar Dedi Mizwar dan Walikota Bandung Ridwan Kamil. Ketiga tokoh itu, seakan-akan membuat pemerhati pemerintah dan politik tak ingin lepas dari perbincangan sosok tersebut.

Ketiga tokoh itu, kita tahu betuk mereka mempunyai pengalaman dan disiplin ke-ilmuan masing-masing dalam memimpin. Seperti, Kang Dedi sapaan populer Dedi Mulyadi, dia dikenal sebagai sosok pemimpin yang cerdas memadukan konsep ke-Islaman dan ke-Sundaan.

Gaya nyentrik dan estentrik, menjadi cirikhas Kang Dedi. Apalagi saat dia berpidato, banyak orang menyebut pidatonya seperti Presiden Soekarno yang selalu mengebu-gebu, membakar semangat audien.

Dilihat dari segi pengalaman, jelas Kang Dedi sangat berpengalaman. Dia menjabat Bupati Purwakarta selama dua periode, dan saat ini periode terakhir. Sebelumnya pun dia pernah menjabat sebagai Wakil Bupati Purwakarta dan pernag juga menjabat sebagai anggota DPRD Kabupaten Purwakarta. Artinya, jika dilihat perjalanan kepemimpinannya dalam dunia pemerintah, pria yang juga menjabat Ketua Majelis Daerah (MD) Korp Alumni HMI (KAHM) Jabar, tentu sangat berpotensi dan sudah teruji.

Dipojok lain, ada Wagub Jabar Dedi Mizwar, sosok arti dengan peran naga bonar dalam dunia perfilman ini, memang cukup dikenal masyarakat. Bahkan bukan hanya di Jabar saja, se-Indonesia mungkin banyak yang mengenal dirinya. Itu sangat wajar puluhan tahun dalam industri perfilman membuat diri tak asing lagi ditelinga masyarakat.

Kepopuleran dia, membuat Gubernur Jabar Ahmad Heryawan kepicut dan mengandengnya saat kontestasi Pilgub Jabar tiga tahun lalu. Untuk mendulang suara, saat Pilgub Periode kedua, Kang Aher mengajak Demiz untuk menjadi wakilnya di Pilgub.

Saat ini Aher memasuki periode terakhir dan tak bisa mencalonkan kembali. Apa kata pepatah, kesepatan takkan pernah terulang kembali. Ternyata, dengan pengalam pertama menjadi wakil yang beru menjabat empat tahun, akhirnya Demiz memutuskan ingin ikut kembali dalam kontestasi Pilgub Jabar tentunya bukan sebagai wakil. Dia maju ingin menjadi calon gubernur Jabar pada 2018 mendatang.

Walau perjalannya masih dini, tetapi popularitas dirinya mungkin sulit untuk ditandingi dengan calon-calon yang lain. Maka wajar saja dirinya memutuskan untuk maju menjadi orang nomor satu di tanah sunda.

Terakhir, Walikota Bandung Ridwan Kamil, seorang teknokrat baru pertama kali menjabat sebagai walikota Bandung. Ternyata dia pun tak ingin tertinggal dalam gegap gempita Pilgub Jabar.

Sosok Kang Emil, begitu dia dipanggil, dirinya memang cukup dikenal dalam dunia media sosial. Bagi generasi milenial, yang hidupnya tak pernah lepas dari gadget mungki siapa yang tak kenal dirinya.

Kalimat guyonan ala anak muda dalam status dimedsosnya, bisa dibilang menjadi cirikhas pria berkacamata ini. Pasalnya, gaya bahasa rennya dan ringan apalgi tentang kejombloan anak muda selalu dia gunakan.

Dari pengalaman kepemerintahan memang dirinya masih sangat baru. Karena baru satu periode, namun karena hasrat politik apa boleh dikata. Siapapun pasti akan maju jika ada kesempatan. Termasuk saya, kalau dapat rekomendasi partai saya juga siap maju menjadi Kades he he.

Yang perlu digaris bawahi, kemungkinan besar jika tak ada badai yang menghempas ketiga tokoh ini akan bertaruk merebutkan jabatan nomor satu di Tanah kita Tanah Sunda.

Sebagai rakyat atau “Gelandangan Dikampung Sendiri” (mengutif Cak Nun). Kita harus betul-betul jeli, dilihat, diraba, dirasakan. Sosok siapakah yang ideal untuk menjadi pengelola, pengembang amanah rakyat.

Bagi rakyat sih sebetulnya, ada atau tidaknya Gubernur di itu tidak masalah. Masyatakat mah cukup dengan adanya RT/RW dan Kades itu sudah cukup, he he.

Tapi mau tidak mau, karena hiduo kita terikat sistem kenegaraan. Ya kita harus siap memilah dan memilih yang cocok untuk tanah kita tanah sunda.

Lalu bagaimana cara mengenalnya, jika kita ingin mengenal serius dengan pemimpin kita, tentunya kita harus Ta’aruf. Sebagai mana sepasang kekasih yang ingin menikah, dalam ajaran Islam diajarkan untuk Ta’aruf. Ta’aruf itu untuk saling mengenal, mengenal, sifat, sikap, karakter, keluarga dan aspek lainnya.

Sementara bagaimana kalau kita ingin Ta’arufan dengan pemimpin kita, dalam sistem pemilu nanti pada saat sudah ditetapkan calon. Para calon diberikan waktu khusus untuk kampanye, kampanye itu sama halnua dengan mereka men-Ta’aruf-kan diri kepada kita rakyat. Nah semua itu saya kira tidak cukup waktunya terlalu singkat.

Untuk menambah informasi lebih detail, tentunya kita harus mencari referensi dalam berbagai sumber, teserah sumbernya apa. Yang penting dengan adanya sumber itu kita bisa ‘Istikhoro’ mana yang mau dipilih.

Ya kalau saya sih, lebih baik pilih kamu saja deh, iya kamu, yang membuat hati luluh dan tersimpuh ingin Ta’aruf dengan kamuh, he he.(*)

Muit ElAbbas
Penulis bukan siapa-siapa dan bukan apa-apa, bisa jadi enggak penting bagi pembaca.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Mencermati Inflasi Menjelang Ramadhan

Beberapa pekan lagi, Bulan Ramadhan akan tiba. Bulan yang ditunggu-tunggu sebagian umat muslim ini adalah bulan yang istimewa karena masyarakat muslim berusaha berlomba-lomba dalam...

Kasus Khashoggi Makin Mendunia

Hari ini, 1 Maret 2021, Biden mau umumkan resmi di Washington keterlibatan MBS dalam pembunuhan Kashoggi. Menarik. KAS pasti meradang. Ini konflik pertama, yg sulit...

Jujur Itu Hebat, Artidjo Personifikasi dari Semua Itu

Satu demi satu orang tumbang dibekap covid, penyakit lain atau karena usia. Pagi ini saya kembali dikejutkan oleh berpulangnya Artidjo Alkostar, kawan lama yang...

Common Sense dalam Filsafat Ilmu

Ilmu filsafat selalu merumuskan tentang pertanyaan – pertanyaan kritis atas kemapanan jawaban yang sudah dipecahkan oleh ilmu pengetahuan. Pada zaman sekarang ilmu pendidikan tidak...

Artidjo Alkostar, Sebuah Kitab Keadilan

Gambaran apa yang muncul di benak Anda setiap mendengar profesi pengacara dan kepengacaraan? Apapun citra itu, Artidjo Alkostar menghancurkannya berkeping-keping. Sebagai pengacara hingga akhir 1990an,...

ARTIKEL TERPOPULER

Artidjo Alkostar, Sebuah Kitab Keadilan

Gambaran apa yang muncul di benak Anda setiap mendengar profesi pengacara dan kepengacaraan? Apapun citra itu, Artidjo Alkostar menghancurkannya berkeping-keping. Sebagai pengacara hingga akhir 1990an,...

Ziarah Ke Media Sosial

Meminjam istilah masyarakat industrial Kuntowijoyo dalam masyarakat tanpa masjid (2001), merupakan kondisi masyarakat yang terkungkung oleh rasionalisasi, komersialisasi dan monetisasi. Mengutip pendapat Robert Bala,...

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Common Sense dalam Filsafat Ilmu

Ilmu filsafat selalu merumuskan tentang pertanyaan – pertanyaan kritis atas kemapanan jawaban yang sudah dipecahkan oleh ilmu pengetahuan. Pada zaman sekarang ilmu pendidikan tidak...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.