Kamis, Januari 28, 2021

Pilgub Sumatera Utara Memanas, Djarot Muncul Dalam Gelanggang

Kebangkitan PKI: Paranoia Korban Hegemoni

Apa yang terjadi dua hari kemarin, Sabtu dan Minggu, 16-17 September 2017 di depan gedung YLBHI, yaitu pembubaran paksa diskusi pelurusan sejarah 65 dan...

Zen RS: Simulakra Sepakbola

Setelah membaca buku dengan judul Simulakra Sepakbola (2016) punya seorang kawan, saya langsung mencari tahu siapa sih yang sebenarnya yang mampu dan mau-maunya menulis buku...

GMO: Permainan Russian Roulette di Sektor Pangan

Genetically Modified Organism (GMO) adalah modifikasi organisme hidup. Bicara GMO, teknologi ini tidak lepas dari perusahaan predator raksasa asal negeri Paman Sam, Monsanto yang...

Aksi Teror Makin Akut, Trust Kepada Pemerintah Harus Dikuatkan

Belakangan ini aksi teror semakin merajalela. Atau bisa dikatakan semakin akut. Hal ini sungguh memprihatinkan sekaligus meresahkan masyarakat. Kareana dengan adanya sederet peristiwa ini...
Riki Syahputra
Pengamat Politik

Genderang Pemilihan Gubernur Sumatera Utara 2018 telah ditabuh, membuat situasi kian dinamis dan suhu politik meningkat di tingkat grassroot. Bahkan beberapa pengamat meyakini bahwa peta dan situasi politik masih akan terus berubah dalam kurun waktu pertiga bulan ke depan.

 Dengan 10 (sepuluh) juta lebih jumlah pemilih yang tersebar di 33 Kabupaten/Kota dengan luas wilayah 71.680 km serta tingkat heterogenitas masyarakat yang tinggi juga menjadi faktor iklim politik menjadi dinamis. Sehingga sangat wajar jika Sumatera Utara selalu disebut sebagai salah satu barometer politik nasional yang memegang peran penting dalam mempengaruhi peta politik nasional setelah Jawa. Dalam hal lain, sebagian pihak merasa, pertarungan politik pada Pilgub Sumatera Utara 2018 ini menjadi kunci untuk menentukan peta politik pada pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 mendatang.

Sejumlah tokoh sudah mulai bermunculan ke permukaan, bahkan Bupati Simalungun Jr. Saragih dan Pangkostrad Edy Rahmayadi sudah mengambil ancang-ancang untuk maju sebagai calon gubernur Sumatera Utara. Tak hanya itu, penerima penghargaan Ramon Magsaysay Award Abdon Nababan di gadang-gadang untuk maju sebagai calon Gubernur dari jalur perseorangan.

  Hasil survei ditunjukkan oleh Lembaga Pelopor Muda yang baru-baru ini merilis nama-nama kandidat pemimpin yang diharapkan oleh masyarakat pada Pilgub Sumatera Utara 2018. Abdon Nababan unggul dengan 9,6% masyarakat yang mengharapkan ia menjadi pemimpin Sumut, mengikuti di bawahnya DPR RI Maruarar Sirait 8,7%, Ade Sandra Purba 7,8% dan Pangkostrad Edi Rahmayadi 7,2%.

Kendati begitu ragam survei itu menunjukkan bahwa situasi masih sangat dinamis, meski Tengku Erry sebagai incumbent, tidak menjamin kemenangan dan kekuatan politik akan berpihak kepadanya. Sebab sebanyak 50,8% warga Sumatera Utara mengaku belum menentukan pilihan akibat tidak percaya kepada bakal calon yang muncul, ada shock dalam memilih di masyarakat akibat beberapa kali Gubernur Sumatera Utara menjadi langganan tangkap tangan KPK. Kondisi ini tidak menutup kemungkinan bahwa kapanpun kemenangan dan kekuatan politik akan berpihak pada tiap kandidat bakal calon. Selain itu, tidak menutup kemungkinan pula importing tokoh-tokoh lain dari luar untuk masuk ke Sumatera Utara akan memunculkan ketokohan baru ditengah krisis kepemimpinan yang terjadi di Sumatera Utara.

Dilema Mengusung Bakal Calon, Sampai Pada Importing Calon

Kondisi Pilgub Sumatera Utara yang masih dinamis, membuat Parpol menjadi dilematis. Pasalnya, sampai sekarang ragam partai politik besar di Sumatera Utara belum mengeluarkan mandat untuk mengusung bakal pasangan calon gubernur.  Hal itu juga dipengaruhi dengan krisis kepemimpinan yang terjadi. Dari nama-nama bakal calon yang muncul, Tengku Erry sampai Edi Rahmayadi yang digadang-gadang menjadi bakal calon terkuat, ternyata memiliki rekam jejak permasalahan yang akan menjadi manuver politik jika mereka benar-benar diusung oleh partai. Kondisi tersebut membuat bakal calon jalur perseorangan Abdon Nababan menjadi sosok strategis untuk dipinang oleh partai politik, karena merupakan pendatang baru dalam arena kontestasi Pilgub Sumatera Utara.

Spekulasi itu dibuktikan pada opini yang bergulir tentang JR Saragih yang akan disandingkan dengan putra Amin Rais yakni Ahmad Mumtaz Rais, sebagai bakal pasangan calon gubernur dan wakil gubernur. Sontak isu itu mendapatkan perhatian dari Amin Rais yang menganggap bahwa isu yang berkembang adalah isu hoax dari oknum tak bertanggung jawab. Dalam hal lain, pendiri partai PAN itu tak mau mengambil resiko dengan menyandingkan putranya dengan JR Saragih yang dalam beberapa hal memiliki rekam jejak buruk selama menjabat sebagai Bupati Simalungun.

Belum selesai isu JR Saragih dan Mumtaz Rais meredam, muncul kembali isu importing tokoh politik dari PDIP yakni Djarot, mantan wakil gubernur DKI Jakarta yang akan disandingkan dengan Abdon Nababan dalam gelanggang Pilgub Sumatera Utara 2018. Banyak pihak menilai bahwa skema itu realistis jika terjadi, pertama, krisis kepemimpinan yang terjadi menuntut adanya tokoh baru yang hadir di Sumatera Utara dan kedua, Abdon Nababan sebagai putra Sumut asli merupakan pasangan yang tepat untuk mendampingi Djarot dalam gelanggang Pilgub, dari segi infrastruktur politik dan basis akar rumput yang dimiliki.

Sebab memilih pendamping sebagai pasangan calon bukanlah tindakan yang tanpa pertimbangan strategis, hal ini menjadi perhitungan yang cukup serius khususnya dalam menunjang kekuatan politik pasangan calon. Apabila salah memilih pasangan maka akan berpengaruh terhadap elektabilitas, bahkan kemungkinan terburuk akan terjadi stagnasi dalam dinamika elektabilitas. Kondisi inilah pada akhirnya membuat Parpol di Sumatera Utara kian dilematis, tak hanya soal basis akar rumput dan popularitas, rekam jejak pasangan calon harus menjadi prioritas utama dalam mengusung calon. Sebab jika salah mengusung calon, maka akan pula berpengaruh besar terhadap tingkat keterpilihan calon sesuai dengan peta politik yang terjadi di Sumatera Utara.

Riki Syahputra
Pengamat Politik
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Ayat-Ayat Ekosistem dan Dakwah Politik Lingkungan

Postingan saya tentang ayat-ayat ekosistem di status akun Facebook perlu saya jelaskan. Walaupun sebagian besar pemberi komen di status tersebut bersuara mendukung, satu atau...

Mencermati Dampak Kebijakan Kendaraan Listrik di AS

Amerika Serikat (AS) baru saja menjalani transisi pemerintahan dari Presiden Donald Trump dari partai Republik kepada Joseph (Joe) Biden yang didukung partai Demokrat. Saat...

Mengapa Pancasila?

Oleh: Alif  Raya Zulkarnaen SMAN 70 Jakarta Pemenang Lomba Menulis Esai “Mengenal Indonesia, Mengenal Diri Kita”. Sahabat Khatulistiwa. Desember 2020 Rumusan-Rumusan Staatsidee 29 Mei-1 Juni 1945 “Ketuhanan yang Maha...

Kritik Jamaluddin al-Afghani Atas Khilafah Islamiyah

Sejak abad ke-9 M hingga memasuki abad ke-14 M menjadi masa keemasan Islam dalam panggung peradaban dan ilmu pengetahuan. Ternyata uforia ilmu pengetahuan terhenti...

Roman Abramovich, Alexei Navalny, dan Premier League

Industri olahraga, khususnya sepakbola, telah mengalami perkembangan pesat. Mulai dari segi teknis maupun non-teknis. Mulai dari aktor dalam lapangan hingga pemain-pemain di belakang layar....

ARTIKEL TERPOPULER

Larry King, Wawancara dengan Sejarah

Oriana Fallaci beruntung. Ia seakan mendapat wangsit mendadak untuk menjuduli bukunya dengan cemerlang, "Intervista con la storia", himpunan interviunya dengan para pemimpin dunia yang...

Revolusi Azyumardi Azra

Ketika masih sekolah di Pendidikan Guru Agama (PGA), setingkat SMA, di Pariaman, Sumatera Barat, Azyumardi Azra mengirim puisi berbahasa Inggris ke Harian The Indonesian...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Ada Apa Di Balik Pembangunan Jalan Tol Kita?

Dua catatan tentang jalan tol ini saya tulis lebaran tahun sebelumnya, saat terjadi tragedi di pintu keluar tol Brebes Timur (Brebes Exit/Brexit) yang menewaskan...

Pandji yang Sedikit Tahu, tapi Sudah Sok Tahu

Siniar (podcast) komedian Pandji Pragiwaksono kian menegaskan bahwa budaya kita adalah sedikit tahu, tapi sudah merasa sok tahu. Sedikit saja tahu tentang gambaran FPI...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.