Rabu, Maret 3, 2021

Pilgub Jabar: Kontestasi Politik dan Optimisme Kultural

Latihan Perang Rusia di Tengah Pandemi Covid-19, Untuk Apa?

Pandemi Covid-19 tidak menjadi penghalang bagi Rusia untuk menggelar kekuatan militernya. Tass, agen berita pemerintah Rusia, memberitakan proses dan eskalasi latihan militer Rusia yang...

Ambiguitas Pemaknaan Taaruf dengan Pacaran Versi Syariat

Ada kerisauan dalam hati para kawula muda mana kala masih saja bertahan dalam kesendirian tanpa seorang pasangan. Terutama bagi yang sudah cukup usia untuk...

Kenabian Muhammad di Mata Michael Cook

Orang-orang pada saat itu menganggap Nabi Muhammad gila dan sesat. Sebagai pembawa agama baru, Nabi Muhammad terlebih dahulu mempertimbangkan apa sumber daya yang tersedia...

Ketika Perempuan Mengumandangkan Azan

Jumhur Ulama sepakat bahwa suara perempuan bukan aurat, karena para sahabat perempuan dahulu sering kali mendengarkan suara istri-istri Nabi saw. ketika belajar hukum-hukum agama...
rian wahyudin
Pengagum Bung Hatta

Beberapa bulan ke depan kita akan merayakan, merasakan, meresapi dan mengamati salah satu pesta demokrasi terbesar di Indonesia. Ya, pesta demokrasi itu adalah Pilkada serentak 2018 yang diselenggarakan di beberapa daerah di seluruh Indonesia. Setahun kemudian disusul dengan Pilpres 2019 yang tentunya merupakan hajat demokrasi terbesar setelahnya.

Tak heran jika beberapa hari ini kita selalu disuguhkan berita baik di media mainstream maupun non mainstream dengan kabar politik, politik dan politik, sabar. Geliat para tim pemenangan di beberapa daerah pun sudah mulai terlihat dalam melebarkan jurus-jurus ampuh demi meraih simpati masyarakat, khususnya masyarakat pedesaan.

Sementara itu, para calon sibuk menguntai kata-kata dalam menarasikan program-program unggulan yang akan diperdebatkan. Lantas di manakah posisi penulis dalam merespon perhelatan ini? Apakah bagian dari salah satu timses?

Penulis sebagai warga Jawa Barat tulen meskipun jauh di perantauan, pure menanggapi kontestasi ini sebagai warga biasa berharap dengan penuh optimis bahwa kontestasi pilgub Jabar harus jauh dari hal-hal yang selama ini dikhawatirkan seperti halnya kontestasi pilkada sebelumnya, selama warga Jawa Barat berpegang teguh pada nilai-nilai kearifan lokal.

Ya, selain mengacu pada koridor hukum, norma agama, sosial, yang paling penting bagi warga Jawa Barat dalam menghadapi kontestasi ini adalah dengan mengorientasikan diri pada nilai-nilai kultural. Nilai-nilai kultural itu di antaranya adalah semboyan silih asah silih asih dan silih asuh. 

Meski demikian, disebrang persimpangan, isu-isu provokatif bertebaran yang entah dari mana ia berasal. Tahun politik pun menjadi riuh rindang menegang. Betapa tidak, isu-isu itu setidaknya tersebar di beberapa daerah yang akan melangsungkan perhelatan lima tahunan itu seperti kasus penyerangan beberapa ulama dan tokoh agama belakangan ini di antaranya di Jawa Barat.

Ya, setidaknya kasus paling banyak itu terjadi di Jawa Barat yang kurang lebih dua bulan terakhir terjadi 13 kasus. Tak ayal kasus yang dinilai intoleransi ini sempat disinggung oleh beberapa paslon (pasangan calon) dalam debat kandidat pertama dan menimbulkan reaksi dan tanggapan oleh paslon lainnya (12/93/1018). Saling lempar pertanyaan dan saling adu argumentasi sesama paslon pun mewarnai nuansa debat pertama itu yang disiarkan oleh salah satu stasiun tv swasta.

Tak hanya itu, konten debat Pilgub Jabar juga menyuguhkan kreasi seni dari tiap-tiap paslon bersama tim pemenangannya. Tak pelak, pasangan RINDU (Ridwan-UU), HASANAH (TB. Hasanudin- Anton Charliyan), ASYIK (Sudrajat- Ahmad Syaekhu), dan DD (Deddy-Dedi), tenggelam bersama lantunan  kreasi seni kesundaan itu setelah beberapa sesi sebelumnya satu sama lain saling menegang dan memanas. Suatu pemandangan baru yang berbeda dengan tampilan debat pilgub-pilgub lainnya sehingga diapresiasi positif oleh masyarakat khususnya masyarakat Jawa Barat.

Artinya, stigma pilgub Jabar yang disinyalir menakutkan, mencemaskan dan dipredikasi chaos itu suatu prediksi yang tidak berdasar selama masyarakat Jabar saling menjaga, mengontrol dan mengingatkan satu sama lain.

Rosi Silalahi (moderator debat pilgub Jabar pertama) pun pada sesi ke lima menegaskan bahwa kreasi seni yang ditampilkan itu sebagai cerminan pilgub Jabar yang haruslah menjadi ajang demokrasi yang menggembirakan dan bukan menakutkan, membuat ceria dan bukan mencemaskan.

Begitulah kira-kira pernyataan presenter yang berambut pendek itu. Pernyataan itu di sisi lain adalah harapan dan optimisme publik agar pilkada serentak yang diselenggarakan bulan Juni ini berjalan dengan damai, aman dan demokratis khususnya di Jawa Barat.

Orientasi Kultural

Sebagai salah satu suku tertua di Indonesia, suku Sunda (Jawa Barat/Banten) memiliki nilai-nilai kearifan lokal yang menjadi falsafah hidup, dan diejawantahkan dalam kehidupan sehari-hari. Adalah semboyan silih asah, silih asih dan silih asuh di antara kearifan itu.

Jika diterjemahkan ke dalama bahasa Indonesia yang sesuai dengan EYD kurang lebih semboyan itu memiliki arti “Silih asah = saling menajamkan pikiran/saling mengingatkan (saling mencerdaskan), silih asih= saling mengasihi, menyayangi dan silih asuh= saling mengasuh atau saling membimbing”.

Meski semboyan ini menjadi tagline salah satu paslon, itu bukan menjadi persoalan karena sesungguhnya semboyan itu sejatinya harus dimiliki oleh setiap warga Jawa Barat atau suku sunda khususnya.

Dalam konteks politik, sejatinya semboyan itu harus menjadi landasan filosofis dalam gerak-gerik semua elemen masyarakat sebagai pelaku utama pelaksanaan demokrasi itu, baik parpol, tim pemenangan, KPU, Bawaslu juga masyarakat biasa yang notabene sebagai konstituen.

Atas dasar itu, maka dalam kontestasi politik lima tahunan ini, kampanye hitam, kampanye negatif, hate speech, dan hoax sejatinya tidak terjadi di wilayah yang terkenal dengan sopan santunnya ini (somȇah).

Azyumardi Azra (10:2002) menyatakan bahwa dalam konteks demokratisasi di wilayah lokal memerlukan adanya suatu pembelajaran politik. Menurutnya, pembelajaran politik itu tidak hanya sebatas sosialisasi politik khususnya yang ditujukan kepada masyarakat itu sendiri, melainkan pembelajaran itu mengandung aspek yang luas. Aspek-aspek pembelajaran politik itu menurutnya bisa juga mencakup aspek sosial, budaya dan pendidikan.

Artinya, tidak ada salahnya jika masyarakat Jawa Barat yang kental dengan orientasi budayanya mengaplikasikan kontestasi politiknya itu dengan mengacu pada falsafah hidup tadi sebagai produk dari aspek budaya itu sendiri.

Kampanye harus menitikberatkan pada hal-hal yang bernuansa mencerdaskan rakyat (silih asah) seperti mendeskripsikan isu-isu strategis yang menjadi persoalan utama masyarakat Jawa Barat, potensi SDA, SDM, dan lain sebagainya.

Kontrol sosial atau saling mengoreksi satu sama lain (silih asuh) juga dibutuhkan demi menghindari kampanye hitam, kampanye negatif, hate speech, dan hoax yang akhir-akhir ini marak terjadi. Bukan tidak mungkin, jika luput dari semboyan atau falsafah hidup tadi suasana pilgub akan diwarnai polemik yang selama ini dikhawatirkan bersama, seperti chaos dan lain-lain.

Oleh karena itu, rasa kepedulian dan saling menyayangi (silih asih) sesama warga Jawa Barat juga diperlukan demi menghindari hal-hal yang tidak diinginkan juga sebagai bentuk pengaplikasian dari falsafah hidup tadi.

Dengan demikian, sesungguhnya urusan politik itu tidak dijadikan batu penghalang dalam mengaplikasikan semboyan silih asah, silih asih dan silih asuh. Justru, kontestasi ini harus dijadikan wadah dan media oleh warga Jabar sebagai ajang saling mencerdaskan, saling membimbing dan saling mengasihi demi terciptanya provinsi Jawa Barat yang gemah ripah repeh rapih. Karena sesungguhnya semboyan ini merupakan bentuk orisinil dari konsep kehidupan yang demokratis yang berarkar pada kesadaran dan keluhuran akal budi.

rian wahyudin
Pengagum Bung Hatta
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Artijo dan Nurhadi di Mahkamah Agung

In Memoriam Artijo Alkostar Di Mahkamah Agung (MA) ada dua tokoh terkenal. Artijo Alkostar, Hakim Agung di Kamar Pidana dan Nurhadi, Sekjen MA. Dua tokoh MA...

Gangguan Jiwa Skizofrenia

Kesehatan jiwa adalah kondisi dimana individu dapat berkembang secara fisik, mental, spiritual dan social sehingga individu tersebut menyadari kemampuan diri sendiri. Dapat mengatasi tekanan,...

Mencermati Inflasi Menjelang Ramadhan

Beberapa pekan lagi, Bulan Ramadhan akan tiba. Bulan yang ditunggu-tunggu sebagian umat muslim ini adalah bulan yang istimewa karena masyarakat muslim berusaha berlomba-lomba dalam...

Kasus Khashoggi Makin Mendunia

Hari ini, 1 Maret 2021, Biden mau umumkan resmi di Washington keterlibatan MBS dalam pembunuhan Kashoggi. Menarik. KAS pasti meradang. Ini konflik pertama, yg sulit...

Jujur Itu Hebat, Artidjo Personifikasi dari Semua Itu

Satu demi satu orang tumbang dibekap covid, penyakit lain atau karena usia. Pagi ini saya kembali dikejutkan oleh berpulangnya Artidjo Alkostar, kawan lama yang...

ARTIKEL TERPOPULER

Artidjo Alkostar, Sebuah Kitab Keadilan

Gambaran apa yang muncul di benak Anda setiap mendengar profesi pengacara dan kepengacaraan? Apapun citra itu, Artidjo Alkostar menghancurkannya berkeping-keping. Sebagai pengacara hingga akhir 1990an,...

Ziarah Ke Media Sosial

Meminjam istilah masyarakat industrial Kuntowijoyo dalam masyarakat tanpa masjid (2001), merupakan kondisi masyarakat yang terkungkung oleh rasionalisasi, komersialisasi dan monetisasi. Mengutip pendapat Robert Bala,...

Common Sense dalam Filsafat Ilmu

Ilmu filsafat selalu merumuskan tentang pertanyaan – pertanyaan kritis atas kemapanan jawaban yang sudah dipecahkan oleh ilmu pengetahuan. Pada zaman sekarang ilmu pendidikan tidak...

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.