Rabu, Januari 20, 2021

Pikiran Terbuka dalam Menyikapi Perbedaan

Demonstrasi dan Gagal Pahamnya Salafi

Pra-reformasi pada tahun 1998, Indonesia dipimpin rezim otoriter. 32 tahun Orde Baru menjalankan pemerintahan dengan kekuatan besi.  Kebebasan berpendapat menjadi barang langka ditemukan. Masyarakat...

Poskolonialisme Negara pada Masyarakat Dani

Isu pakaian koteka di pengadilan Negeri Jakarta Pusat kali ini viral karena ditolak. Hal ini menarik perhatian kita semua bagaimana negara memandang suatu kebudayaan....

Demokrasi dan Geliat Korupsi

TAHUN 2017 merupakan tahun yang pelik bagi Indonesia. Di saat negara luar memikirkan pemusatan industrialisasi dan komoditas pendapatan negara, Indonesia justru terjerumus ke dalam...

Jurnalis di Tengah Pandemi

Pada akhir Juni lalu, media online Kumparan melakukan PHK terhadap hampir 100 pekerjanya dengan alasan pendapatan yang turun akibat pandemi Covid-19. Kumparan juga meminta...
Rulli Rachman
penulis dadakan, pengen punya toko buku sekaligus warung kopi

Saya mendapat oleh-oleh yang menarik saat menghadiri buka bersama Ramadhan yang lalu dengan kolega masa kuliah. Dua teman saya menceritakan pengalamannya selama berada di luar negeri. Yang satu bercerita perihal berpuasa di Oman, sedangkan teman yang lain berkisah soal pengalamannya di Turki.

Kawan yang di Oman bercerita bahwa disana ia berpuasa selama 14 jam, dimulai dari pukul 5 pagi sampai berbuka pada pukul 19 malam. Orang-orang asli Oman disana hanya menyantap kudapan sekedarnya (bisa berupa kurma, kue-kue atau camilan lain) pada saat jam berbuka. Selanjutnya mereka menunaikan ibadah tarawih. Adapun makan malam dengan menyantap hidangan yang berat baru dilakukan pada sekitar pukul 12 malam. Dan hanya sekali itu saja mereka makan besar. Mereka tidak bangun lagi untuk melahap makan sahur sebagaimana lazimnya kita di Indonesia. Tentu saja teman saya yang notabene adalah asli Indonesia tidak bisa mengikuti siklus ini. Ia tetap makan dua kali seperti warga Indonesia pada umumnya.

Salah satu tantangan terberat berpuasa di Oman adalah suhunya yang sangat panas. Temperatur diluar ruangan bisa mencapai sekitar 44-45 derajat Celcius. Walaupun teman saya itu bekerja didalam ruangan (indoor), tetap saja hawa panas dan terik masih terasa. Untuk bilangan sholat tarawih tidak berbeda dengan di Indonesia. Disana mereka melaksanakan shalat tarawih sebelas rakaat dengan salam tiap dua kali rakaat.

Mayoritas muslim di Oman beraliran Mazhab Ibadi. Ada banyak versi yang menjelaskan tentang mazhab Ibadi ini. Tapi tidak semua fakta sama dengan yang diberitakan. Mungkin kita pernah mendengar bahwa muslim Ibadi tidak melaksanakan sholat Jumat. Hal ini disebabkan karena mereka menganggap bahwa kewajiban untuk menunaikan sholat Jumat hanya berlaku di kota-kota besar dimana nilai-nilai keadilan sudah terjamin. Faktanya, di tempat teman saya berada mereka tetap melaksanakan sholat Jumat. Justru kebanyakan dari mereka akan melaksanakan sholat jamak (penggabungan dua sholat di satu waktu). Jadi mereka melaksanakan sholat Jumat sekaligus jamak sholat ashar. Untuk maghrib dan isya pun mereka juga menjamak sholatnya. Untuk tata cara sholat, mazhab Ibadi lebih mirip kepada aliran syiah dimana mereka tida.k melipat tangan di dada.

Salah satu fakta menarik adalah bahwa di Oman semua aliran bisa hidup berdampingan dengan damai. Disana mereka sangat menjunjung tinggi toleransi. Mungkin ini salah satu imbas dari perkembangan muslim Ibadi yang telah bertransformasi menjadi salah satu aliran muslim yang moderat. Baik muslim Ibadi, muslim Sunni atau Syiah dapat sholat berdampingan dalam satu masjid. Kehidupan beragama di Oman yang toleran ini dapat memberikan hawa sejuk dalam panasnya atmosfir perbedaan antara sunni dan syiah yang selalu dihembuskan oleh media kita.

Lain halnya dengan pengalaman teman saya yang lain kala ia ditugaskan di Istanbul Turki. Kurun waktu beberapa minggu bekerja di salah satu pabrik cukup memberikan wawasan baru pada teman saya soal kehidupan beragama di Turki. Seperti kita ketahui bahwa Turki adalah negara sekuler walaupun ada indikasi Erdogan berniat untuk mengembalikan Negara pada konsep Negara Islam. Warna sekulerisme masih sangat kental disana. Salah satu pengalaman teman saya yakni pada saat sholat Jumat. Ternyata dia baru mengetahui bahwa orang-orang di pabrik pada umumnya tidak melaksanakan sholat Jumat. Mereka lebih mengutamakan untuk menyelesaikan target produksi ketimbang menunaikan kewajiban sholat Jumat.

Tak hanya itu. saat bergabung dengan kolega lainnya di tempat makan, teman saya berkali-kali ditawari oleh orang asli Turki untuk menenggak minuman (bir atau wine).

“Sorry, I’m moslem. I don’t drink alcohol.” Kata teman saya.
“I’m a moslem too. But I drink, so what?” jawab salah satu dari mereka.

Begitulah. Bagi mereka bir atau wine sekalipun tidak terhitung haram dikonsumsi. Dan mereka dapat dengan bebas untuk minum minuman seperti itu disana. Adalah bukan hal yang luar biasa jika di bulan Ramadhan sekalipun, tampak pemandangan beberapa orang yang berbuka puasa (ifthar) berdampingan meja dengan mereka yang minum-minum bir, dalam satu lokasi.

Mungkin ini bukan hal yang baru bagi Anda. Atau salah satu dari Anda juga pernah mengunjungi kedua kota tersebut, Oman dan Turki sehingga bisa merasakan langsung suasana kehidupan disana. Hal menarik yang ingin saya sampaikan disini adalah bahwa perbincangan soal kehidupan beragama yang berbeda-beda ini ternyata bersamaan dengan adanya perdebatan antara sesama teman kami di dunia maya. Mereka memperdebatkan perbedaan sektarian klasik yakni antara Sunni dan Syiah. Masing-masing memiliki pandangan yang berbeda soal kedua aliran tersebut. Untuk perbedaan masing-masing pandangan bukan tempatnya untuk dibahas disini.

Yang ingin saya sampaikan adalah bahwa dengan memperoleh pengetahuan baru : kehidupan di Turki dan Oman nyatanya semakin membuka wawasan saya. Bahwa perbedaan itu adalah keniscayaan. Islam adalah agama mayoritas peringkat kedua di seluruh dunia. Dalam perkembangannya Islam terbagi menjadi banyak aliran. Dari tatacara fiqh pun sudah mengelompok menjadi empat Imam Mazhab besar, bahkan lebih. Sehingga rasanya kurang elok apabila perbedaan-perbedaan ini terus ditonjolkan atau bahkan berlanjut menjadi konflik.

Sebagai seseorang yang lahir di Yogyakarta yang notabene dibalut dengan warna Muhammadiyah disana-sini, lalu kemudian berkeluarga dan berdomisili di Tangerang dimana lebih kental nuansa NU, tak sulit bagi saya untuk beradaptasi. Perbedaan-perbedaan minor pasti saya rasakan seperti misalnya perbedaan soal wirid seusai sholat, doa qunut di rakaat terakhir sholat Shubuh, dua kali adzan saat sholat Jumat dan lain-lain. Namun hal tersebut tidak sampai membuat saya mengalami culture shock. Dan saya melihat hal tersebut wajar adanya. Masing-masing memiliki dasar yang kuat dan referensi tersendiri.

Hal lain yang patut dikhawatirkan dari perdebatan soal perbedaan ini adalah terjadinya fenomena bias konfirmasi (confirmation bias). Rolf Dobelli dalam bukunya “The Art of Thinking Clearly” mendefinisikan fenomena bias konfirmasi sebagai kondisi dimana seseorang akan cenderung mengambil fakta-fakta dan informasi baru yang dianggapnya sesuai dan menguatkan teori, kesimpulan atau keyakinan awal yang ia miliki. Bias konfirmasi akan membuat kita cenderung menolak semua informasi baru yang bertentangan dengan keyakinan yang kita miliki (bukti yang membatalkan). Apalagi tempat berkembang biak yang sangat baik untuk bias konfirmasi ini adalah wilayah keyakinan dan filosofi.

Seseorang yang sudah memiliki keyakinan kuat bahwa aliran lain itu salah dan hanya alirannya saja yang benar, maka bisa jadi ia akan menolak fakta-fakta yang mungkin saja bertentangan dengan keyakinan yang ia miliki. Celah bias konfirmasi akan semakin lebar saat diskusi berujung pada perdebatan yang tidak menghasilkan kesimpulan apa-apa karena masing-masing tetap bersiteguh pada keyakinan yang dimiliki. Kesalahan pemikiran ini jelas akan mengakibatkan sempitnya pikiran dan menghalangi proses pembelajaran.

Pada acara Mata Najwa yang menghadirkan dua ulama besar; Prof. Muhammad Quraish Shihab dan KH. Mustofa Bisri (Gus Mus), ada sedikit penjelasan tentang kebenaran. Prof. Quraish Shihab mengatakan bahwa kebenaran itu tidak hanya satu, bisa beberapa. Contohnya saat kita melihat gajah. Apabila ada yang bilang gajah itu besar, itu benar. Kalau ada yang mengatakan bahwa gajah itu punya dua telinga, itu juga benar. Tuhan tidak menanyakan 5 + 5 sama dengan berapa. Karena jawabannya pasti hanya satu, yakni 10 (sepuluh). Yang Tuhan tanyakan pada kita adalah 10 itu berapa ditambah berapa. Tiga ditambah tujuh sama dengan sepuluh. Sedangkan dua ditambah delapan maka sepuluh juga hasilnya.

Semua kembali kepada kita dalam menyikapi perbedaan. Apakah kita mau berbesar hati untuk menurunkan intonasi suara (termasuk ego kita) dan mau mendengarkan informasi baru yang kita terima. Apakah kita memilih untuk open-mind, membaca sejauh mana perbedaan yang ada sekaligus menguji fakta-fakta dan informasi baru? Atau bersikap kaku karena doktrin yang sudah melekat erat sehingga menjadikan kita alergi terhadap perbedaan? It’s your call… []

Rulli Rachman
penulis dadakan, pengen punya toko buku sekaligus warung kopi
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Revolusi Mental Saat Pandemi

Vaksin Sinovac memang belum banyak terbukti secara klinis efektifitas dan efek sampingnya. Tercatat baru dua negara yang telah melakukan uji klinis vaksin ini, yakni...

Bencana Alam: Paradigma Ekologi dan Aktivisme

Ekologi sebagai kajian ilmiah tentang hubungan antara makhluk hidup dengan makhluk tidak hidup telah memberikan perspektif baru tentang sistem keterkaitan. Namun, sebagian besar pemerhati...

Tanpa Fatwa Halal, Pak Jokowi Tetap Harus Menjalankan Vaksinasi

Akhirnya MUI mengatakan jika vaksin Sinovac suci dan tayyib pada tanggal 8 Januari 2021. Pak Jokowi sendiri sudah divaksin sejak Rabu, 13 Januari 2021,...

Dilema Vaksinasi dalam Menghadapi Masa Transisi

Pandemi covid-19 telah membawa perubahan kebiasaan yang fundamental dalam kehidupan bermasyarakat. Selama masa pandemi, kebiasaan-kebiasaan di luar normal dilakukan dalam berbagai sektor, mulai dari...

Wacana sebagai Represifitas Tersembunyi

Dewasa ini, lumrah dipahami bahwa represifitas diartikan sebagai tindakan kekerasan yang berorientasi pada tindakan fisik. Represifitas juga acap kali dikaitkan sebagai konflik antara aparatus...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Mengapa Banyak Abdi Negara Muda Pamer di Media Sosial?

Apakah kamu pengguna Twitter yang aktif? Jika iya, pasti kamu pernah melihat akun @txtdrberseragam berseliweran di timeline kamu. Sebagaimana tercantum di bio akun ini,...

Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Pendidikan di Indonesia

Sudah 8 bulan lalu kasus virus Covid-19 menyerang dunia. Begitu cepatnya perubahan wabah Covid-19 dari Endemi hingga memenuhi syarat menjadi Pandemi, wabah yang mendunia....

penerapan etika bisnis dalam CSR dan lingkungan hidup

Di dalam perkembangan zaman yang semakin maju dan kompetitif menuntut para pembisnis untuk meningkatkatkan daya saingnya. Namun kebanyakan dari mereka masih belum mengerti bagaimana...

Bencana Alam: Paradigma Ekologi dan Aktivisme

Ekologi sebagai kajian ilmiah tentang hubungan antara makhluk hidup dengan makhluk tidak hidup telah memberikan perspektif baru tentang sistem keterkaitan. Namun, sebagian besar pemerhati...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.