Senin, April 12, 2021

Petuah Sunan Kalijaga untuk Era Milenial

Buya Syafii dan Persoalan Kemanusiaan Kita

Harus saya akui mengikuti short course Sekolah Kemanusiaan dan Kebudayaan Ahmad Syafii Maarif Periode 3 yang diselenggarakan pada tanggal 13-19 Desember 2019 di Sawangan,...

Manfaat Punya Rival Tetangga Macam Malaysia

Pertandingan antara Malaysia vs Indonesia menjadi laga seru yang paling ditunggu publik kedua negara bertetangga ini. Rivalitas antara kedua negara ini membuat atmosfer pertandingan...

Akar Politisasi dan Kekerasan Atas Nama Agama

Dalam konteks politik, faktor utama munculnya berbagai gerakan radikalisme agama yang terjadi di dunia Islam, khususnya di Timur Tengah, adalah kegagalan para ulama dan...

Ihwal Sains Populer di Indonesia

Sains atau biasa disebut dengan pengetahuan alam merupakan hasil perpaduan antara panca indera manusia dengan bentangan alam semesta yang sangat begitu luas ini. Hasrat...
Aming Soedrajat
Pegiat Media Sosial

Ratusan tahun kebelakang Kanjeng Sunan Kalijaga sudah mewanti-wanti Bangsa Nusantara (bangsa Indonesia) untuk terus menjaga Desa.

Dalam sebuh cerita di Riwayatkan, sewaktu muda kanjeng Sunan yang merupakan anak ningrat ini sangat senang untuk berkelana dari Desa ke desa, untuk sekedar melihat dan memperhatikan keadaan rakyat walaupun di larang oleh orang tuanya.

Dari kebiasaan pergi dari satu desa ke desa lain menjadikan Kanjeng Sunan paham betul tentang keadaan dan kejadian yang berkembang di masyarakat.

Walaupun beliau besar di pulau Jawa, bukan berarti beliau tidak paham bagaimana Nusantara secara umum, beliau paham betul bagaimana identitas dan geografis bangsa Indonesia.

Indonesia yang notabenya merupakan wilayah Pedesaan, kanjeng sunan sudah mewanti-wanti agar masyarakatnya untuk tetep menjaga tradisi dan melestarikan identitas Nusantara.

Ratusan tahun semenjak beliau meninggal, apa yang telah di ucapkannya ternyata benar. Desa yang merupakan identitas bangsa nusantara menjadi ‘Tameng’ yang sangat kuat dalam menjaga hegemoni modernitas.

Apabila Desa lemah, maka lemah lah bangsa ini. Apabila Desa Kuat, maka kuat pula lah bangsa ini.

Kenapa seperti itu?

Pertama Dilihat dari sisi ekonomi, ketika krisis 1998 menghantam bangsa ini, harga kebutuhan pokok meningkat tajam, masyarakat perkotaan tertimpa imbas yang sangat besar. Tetapi masyarakat pedesaan tidak terkena permalahan tersebut.

Terbalik ketika kita menyebut perkotaan sebagai lumbung ekonomi, karena sebenarnya lumbung ekonomi bangsa ini adalah Desa.

Selanjutnya tradisi. Dalam liriknya Iwan Fals pernah berkata, ‘Kota hanyalah menawarkan kekerasan’

Artinya, kita tidak bisa mengandalkan Kota untuk menjadi tameng penjaga kebudayaan. Pola hidup masyarakat kota lebih condong Materialisme dan Individualisme.

Hal tersebut jelas sangat bertentangan dengan Budaya masyarakat kita yang dikenal sebagai masyrakat Gotong Royong. Materi bukanlah tolak ukur yang utama, tapi kemanusiaanlah yang paling utama.

Ketiga, salah besar kalau Universitas adalah tempat ilmu. Tempat ilmu yang sesungguhnya adalah desa. Selain tempatnya ilmu pengetahuan, desa juga merupakan saran pendidikan Karekter dan sarana kemanunggalan antara manusia dengan alamnya.

Saya sangat meyakini, soekarno-soekarno baru pasti akan lahir di pedesaan. Permasalahan-permasalahan yang melanda bangsa ini pasti bakalan terkikis sedikit demi sedikit seketika orang desa yang memimpinnya.

Keempat, desa adalah penjaga Pancasila sejati. Siapa bilang Pancasila mulai memudar? Pancasila memudar hanya dikalangan mereka yang tidak pernah tau desa, hanya mereka yang sibuk memakan uang rakyat, hanya mereka yang sibuk memecah belah, hanya mereka yang tinggal di kota-kota mewah.

Tapi lihatlah Pancasila di Desa-desa, lihatlah pancasila di pelosok-pelosok. Pancasila tetap gagah mencengkram kebhinekaan. Mereka, dalam keadaan laparpun tidak menurunkan cintanya terhadap Pancasila dan NKRI

Sayang sekali, mereka-mereka yang setia menjaga marwah pancasila dan kewibawaan pancasila tidak di akui oleh mereka yang tinggal di sejuknya ruangan ac seolah-olah paling pancasilais padahal kesibukannya mencopet kekayaan burung garuda.

Kalau bangsa ini ingin menjadi kuat baik secara ekonomi maupau mapan secara tradisi, maka yang paling utama di jaga adalah Desanya.

Kembalilah ke Desa sebagai jati diri Nusantara. Jagalah Desa, tanpa desa orang kota tidak akan bisa hidup. Hargailah orang desa, karena merekalah kita masih bisa makan beras, kita masih bisa menghirup udara segar.

Seperti yang dikatakan oleh Kang Dedi Mulyadi, ‘kita selalu menghinakan orang desa seolah-olah tertinggal di jaman milenial, padahal orang-orang desa lebih maju di bandingkan kita yang merasa milenial.

Saat kita berbicara kedaulatan, orang desa sudah berdaulat, saat kita berbicara pancasila dan gotong royong, orang desa lebih pancasilais dan bergotong royong. Saat kita berbicara pentinggnya menjaga alam, orang Desa setia menjaga alam, sementara kita sibuk merusak alam dan sibuk mecemari sungai dengan limbah-limbah.

Jangan berbicara paling pancasilais, nasionalis dan agamis di hadapan orang Desa, karena mereka bukan hanya bicara, tapi sudah menerapkan itu semua’.

Jagalah Desa seperti menjaga diri kita sendiri. Desa bukanlagi harapan, melainkan kekuatan utama bangsa kita.

‘Apabila Sungai sudah kering, pasar hilang gaunnya, wanita hilang rasa malunya, maka cepatlah berkelanan dari desa ke desa untuk mendapatkan ilmu Hikmah’ Sunan Kalijaga

Aming Soedrajat
Pegiat Media Sosial
Berita sebelumnyaNo Pain No Crown
Berita berikutnyaRezim Saudi, Ulama, dan Perubahan
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Bertahan Disegala Kondisi

Pandemi COVID-19 membawa beragam nilai positif. Bagi dunia pendidikan, selain orangtua mengetahui betapa susahnya Pendidik (guru/dosen) mengajar anak didik, pendidik juga bisa belajar secara...

Bagaimana Cara Mengatasi Limbah di Sekitar Lahan Pertanian?

Indonesia merupakan negara agraris yang mayoritas warganya bermata pencaharian sebagai petani. Pada bidang pertanian terutama pertanian konvensional terdapat banyak proses dari penanaman hingga pemanenan,...

Terorisme dan Paradoks Keyakinan

Jika Brian May, gitaris grup band Queen, menulis lagu berjudul "Too Much Love Will Kill You", dalam terorisme barangkali judul yang lebih tepat, "Too...

Kebebasan Berpendapat Masih Rancu

Kebebasan berpendapat merupakan sebuah bentuk kebebasan yang mutlak bagi setiap manusia. Tapi belakangan ini kebebasan itu sering menjadi penyebab perpecahan. Bagaimana bisa kebebasan yang...

Laporan Keuangan? Basi?

Berbicara soal laporan keuangan, tentu sudah tidak asing lagi di telinga orang ekonomi, apalagi yang bergelut dalam dunia akuntansi. Secara singkat, laporan keuangan adalah...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Jihad Versi Kristen?

Kamus Besar Bahasa Indonesia menuliskan arti kata jihad sebagai usaha dengan segala upaya untuk mencapai kebaikan. Mengamati definisi ini paling tidak kita memiliki pengertian...

Umat Kristiani Bukan Nashara [Kaum Nasrani]

Dalam bahasa Arab, kata "nashara" merupakan bentuk jamak dari "nashrani". Sebutan "umat Nasrani" secara salah-kaprah digunakan untuk merujuk pada umat Kristiani, penganut agama Kristen....

Terorisme dan Paradoks Keyakinan

Jika Brian May, gitaris grup band Queen, menulis lagu berjudul "Too Much Love Will Kill You", dalam terorisme barangkali judul yang lebih tepat, "Too...

Mengenang Hans Küng (1928-2021), Tokoh Dialog Antar Agama

Bagi para pegiat dialog antar agama, sosok dan pemikiran Hans Küng tak asing lagi. Namanya kerap disebut seiring dengan pemikirannya tentang upaya mewujudkan perdamaian...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.