Kamis, Desember 3, 2020

Pesan untuk Para Pemimpin dari Imam Al Ghazali

Injil yang Berkeadilan Sosial

Penyaliban adalah hukuman yang paling tragis di dalam sejarah. Setiap pemerintahan pasti memikirkan cara-cara untuk menakuti rakyatnya. Sejak dahulu kala hingga saat ini, hal seperti...

Jangan Mencari Simpati dengan Isu PKI

Apa sebab isu komunis kembali mencuat? Partai Komunis Indonesia (PKI) menjadi diksi yang seksi. Sejak bulan September tahun 2018 lalu kita selalu gencar mendengar dan...

Persoalan Menag dan Ekstremisme ASN

Lagi-lagi Menteri Fachrul Razi. Setelah melempar kontroversi dengan cadar dan cingkrang akhir tahun 2019 yang lalu, mantan jenderal yang kini dipercaya Presiden Joko Widodo...

Tapuak Galembong dan Psikologi

Pertunjukan seni ialah salah satu pusat untuk mempertahankan tradisi masing-masing daerah. Seperti Minangkabau, Randai, Sumatera Utara, Opera Batak, Jawa Timur, Reog Ponorogo, Bali, Kecak,...
Joko Yuliyanto
Penulis buku Kaum Minor. Penggagas Komunitas Seniman NU. Alumni Mahasiswa Universitas Sebelas Maret.

Dalam Islam, pemimpin mempunyai banyak istilah, di antaranya, rain, syekh, imam, umara’, kaum, wali, dan khalifah. Istilah rain merupakan arti pemimpin yang merujuk pada hadis Nabi saw yang berbunyi:

كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ اْلْ ِمَامُ ر

Artinya; “setiap kalian adalah pemimpin, dan kalian akan dimintai pertanggung  jawaban atas kepemimpinannya.” (HR. Shahih Muslim)

Dalam hadis ini, rain memiliki arti pemimpin yang lingkupnya sangat luas. Tidak terbatas kepada pemimpin yang memiliki jabatan di pemerintahan. Diri ini juga pemimpin atas tubuh sendiri, sedangkan istilah syekh memiliki pengertian kepala suku, pemimpin, tetua, atau ahli agama Islam.

Saat ini kita menyaksikan demonstrasi dari berbagai daerah. Menyatakan kekurangsetujuannya terhadap kebijakan yang diambil pemerintah. Rakyat yang merasa dikecewakan oleh wakilnya dan pemimpinnya. Sehingga tidak dapat dielakan terjadi kekerasan dan kerusuhan di kota-kota besar Indonesia. Berikut ini adalah beberapa pesan Al Ghazali dalam Kitab Nasihatul Al-Muluk.

Sangat langka pada saat orang sedang berkuasa sadar dan sembuh dari mabuk tahta dan kekuasaannya, serta memperlakukan pegawai dengan adil dan baik. Tanda-tanda orang mabuk tahta yaitu saat pemimpin menyerahkan jabatan menteri kepada orang yang sangat dibutuhkan. Jabatan itu tetap dipertahankan sampai keperluan penguasa terpenuhi. Setelah itu jabatannya dicopot dan mengangkat orang lain sebagai penggantimya.

Apakah baginda tidak mengetahui bahwa nikmat paling besar, setelah nikmat Islam adalah nikmat kesehatan dan ketentraman. Rasa aman ini dapat tercipta hanya dengan siyasat politik seorang pemimpin. Maka dari itu, seorang pemimpin mesti menggunakan siyasat politik yang harus dilaksanakan dengan cara yang adil. Seorang pemimpin adalah khalifah Allah di muka bumi.

Setiap pemimpin yang mengambil sesuatu dari rakyat dengan curang dan gashab, seperti seorang yang membangun fondasi sebuah pagar, tetapi ia tidak sabar hingga fondasi itu selesai, kemudian ia meletakan bangunan di atasnya, maka fondasi itu runtuh, begitu juga dengan bangunan di atasnya.

Seorang pemimpin sebaiknya bersifat tenang serta beribawa, tidak selayaknya raja menyenangkan hati serta tergesa-gesa. Menurut orang bijak ada tiga hal buruk tetapi tiga hal yang berikut ini lebih buruk lagi yaitu; marah bagi para raja, rakus terhadap dunia, dan kikir bagi para orang kaya.

Orang yang jujur ada tiga macam; para Nabi, para raja, dan orang yang gila. Sakr diartikan dengan gila, padahal arti yang sesungguhnya takut mabuk, karena mabuknya orang gila bersifat batin, sedangkan gilanya orang yang mabuk bersifat lahir. Celaka bagi orang selalu dalam keadaan mabuk dan lalai. Seperti dalam syair berikut ini:

Jika seorang mabuk karena meminum khamrIa tidak akan menanggung malu setelah kembali sehatSedangkan orang yang mabuk tahtaIa menjadi waras jika kekuasaan telah melayang darinya.

Ada empat hal kewajiban para pemimpin. Pertama, menjauhkan orang-orang bodoh dari pemerintahannya. Kedua, membangun negara, merekrut kaum intelektual, dan yang berpotensi. Ketiga, menjaga para ulama dan bijaksana. Keempat, melakukan uji coba dan meningkatkan kemajuan negara dengan melakukan penertiban dan pembersihan terhadap segala tindak sengaja.

Seorang pegawai para pemimpin, seharusnya bersikap seperti yang dikatakan penyair berikut:

Jika anda menjadi pembantu penguasa, maka pakailah pakaian takwa kebanggaandan jika anda masuk (istana), masuklah dengan mata terpejamdan jika keluar, keluarlah dengan mulut membisu.

Orang yang berfoya-foya bersama pemimpin, maka sesungguhnya telah menganiaya dirinya sendiri, walaupun dia anak seorang pemimpin. Dalam keadaan apapun, para pegawai pemerintahan, tidak dibenarkan berfoya-foya bersama para pemimpin. Sebagaimana kata syair berikut:

Jika dirimu terpaku oleh hidangan lezat seorang pemimpin,Hindarkanlah jika keselamatan dirimu lebih kau diutamakan.

Perumpamaan orang yang berfoya-foya bersama pemimpin, seperti seorang pengumpul ular yang selalu hidup bersama ular-ular, makan dan tidur bersamanya. Seumpama seorang yang dikepung buaya-buaya ganas ditengah lautan, sehingga dirinya selalu dalam keadaan terancam bahaya.

Celakalah orang yang terlena oleh persahabatan dengan para pemimpin. Sebab biasanya mereka adalah orang-orang yang tidak mengenal kawan, kerabat, pegawai, anak, dan tidak menghargi seseorang, kecuali yang mereka perlukan, baik karena ilmu maupun karena keberaniannya. Namun, setelah kebutuhan mereka terpenuhi maka tidak ada lagi bagi mereka rasa kasih sayang, tepat janji, maupun rasa malu.

Pekerjaan yang paling sering mereka lakukan adalah memandang kecil dosa besar yang mereka lakukan dan memandang besar dosa kecil yang dilakukan orang lain. Sufyan berkata, “Janganlah kamu bersahabat dengan pemimpin dan janganlah kamu menjadi pegawainya. Sebab jika kamu patuh kepadanya, maka ia akan membuatmu lelah. Sementara jika kamu menentangnya, ia akan membunuh dan memusnahkan kamu”.

Masa sekarang ini adalah zaman yang kurang menguntungkan. Manusia selalu berbuat kejahatan, sementara kaum intelektual dan para pemimpin menyibukan diri dengan urusan dunia, gemar menumpuk dan mencintai harta kekayaan, karena itu seseorang tidak dibenarkan lengah dan lari di tengah keburukan manuisa.

Rasulullah saw bersabda; “Adil adalah bagian dari agama, dan dalam keadilan terletak kebaikan seorang penguasa dan orang awam. Dalam keadilan juga terletak kebaikan rakyat, kesejahteraan, dan kesehatan mereka. Segala sesuatu akan ditimbang dengan timbangan keadilan.”

Allah berfirman; “Dan Allah telah meninggikan langit dan meletakan neraca (keadilan)” (QS. Ar-Rahman: 7).

Setiap pemimpin harus berlaku adil dan melakukan penyelidikan secara seksama mengenai keputusan politik yang ditetapkan sehingga keputusan itu dapat dilaksanakan secara merata. Betapapun siyasat pemimpin, keadilan dan ketajaman pemikirannya dapat saja terkalahkan oleh suap dan lenyaplah kekuasaan. Hal ini dapat terjadi sebab kelalaian dan kecerobohan pemimpin. Oleh karena itu, seorang pemimpin mesti berusaha sekuat tenaga untuk membenahi kekurangannya.

Sekiranya seorang pemimpin tidak mempersulit penjagaan, tentu tidak aka nada petugas pemerintahan berani berbuat zalim kepada rakyatnya. Rakyatpun tidak akan berani saling bertindak zalim.

Seorang pemimpin harus membantu rakyatnya yang dalam keadaan sulit dan sangat kesusahan, terutama dalam masa paceklik dan resesi ekonomi. Di mana rakyat terhimpit kesulitan hidup dan tidak mampu mengembangkan usaha. Dalam keadaan demikian seorang pemimpin harus memberikan bantuan kepada rakyat dalam bentuk pangan dan harta kekayaannya.

Referensi

Al Ghazali, Al-Tibr al-Masbuk fi Nasihat Al-Muluk. T. Munfaridah: 2006

Joko Yuliyanto
Penulis buku Kaum Minor. Penggagas Komunitas Seniman NU. Alumni Mahasiswa Universitas Sebelas Maret.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Menjatuhkan Ganjar-Jokowi dengan Satu Batu

Saya sebenarnya kasihan dengan Jokowi. Sejak beberapa hari yang lalu organ di bawahnya terlihat tidak bisa kerja. Misalnya soal kasus teroris di Sigi, tim...

Mengapa RUU Minol Harus Disahkan

Pada zaman yang serba modern seperti sekarang ini apa saja dapat dilakukan dan didapatkan dengan mudah karena teknologi sudah semakin canggih. Dahulu untuk mendapatkan...

Pay It Forward Merespon Dampak Pandemi Covid-19

Sinopsis Film Pay It Forward Pay It Forward merupakan sebuah film asal Amerika Serikat yang sarat pesan moral. Film ini dirilis pada tahun 2000, yang...

Senyum Ekonomi di Tengah Pandemi

Pandemi tak selamanya menyuguhkan berita sedih. Setidaknya, itulah yang disampaikan Menteri Keuangan Sri Mulyani. Berita apa itu? Sri Mulyani, menyatakan, kondisi ekonomi Indonesia tidak terlalu...

Dubes Wahid dan Jejak Praktek Oksidentalisme Diplomat Indonesia

Pada 5 Oktober 2000 di Canberra dalam forum Australian Political Science Association, pakar teori HI terkemuka Inggris, Prof. Steve Smith berpidato dengan judul, “The...

ARTIKEL TERPOPULER

Luasnya Kekuasaan Eksekutif Menurut Undang-Undang

Proses demokrasi di Indonesia telah memasuki tahap perkembangan yang sangat penting. Perkembangan itu ditandai dengan berbagai perubahan dan pembentukan institusi atau lembaga baru dalam...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Pendidikan di Indonesia

Sudah 8 bulan lalu kasus virus Covid-19 menyerang dunia. Begitu cepatnya perubahan wabah Covid-19 dari Endemi hingga memenuhi syarat menjadi Pandemi, wabah yang mendunia....

Hyper Grace : Kejahatan Intelektualitas Manusia Yang Menggunakan

Hyper Grace adalah anugerah yang dilebih-lebihkan (keluar dari porsi) anugerah yang melebihi yang Firman Allah katakan (menambahkan Firman-Nya).Itu adalah anugerah di mana kamu harus...

“Pilkada Pandemi” dan Pertanyaan Soal Substansi Demokrasi

Pilkada sebagai sebuah proses politik di negara demokrasi adalah salah satu wujud terpenuhinya hak politik warga negara, selain terjadinya sirkulasi elite penguasa. Namun di...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.