Kamis, Desember 3, 2020

Pesan Moral dari Serial Captain Tsubasa

Belajar Birokrasi Ideal Dari Taylor

 Frederick Winslow Taylor, merupakan tokoh yang sangat berpengaruh dalam dunia manajemen, ia dilahirkan dari keluarga yang cukup berada di kawasan Philadephia Amerika Serikat. Diriwayatkan...

Delusi Pembangunan

Pembangunan selalu diimajinasikan sebagai lahirnya kota-kota yang gemerlap, dikelilingi gedung-gedung pencakar langit yang nampak angkuh dengan kokohnya beton-beton yang kian menunjukan kesombongannya dan kepongahanya—pembangunan...

Pesta Demokrasi Bukan Pesta Koruptor

"Memang masih bisa maju, tapi kan pasti kalah," begitu Sekjen PAN Eddy Soeparno mengomentari peluang Asrun dalam pemilihan Gubernur Sulawesi Tenggara (Koran Tempo 2/3/2018)....

Mengapa Saya Tertarik dengan Jaringan Islam Liberal

Semenjak nyantri di Pesantren sejujurnya saya sangat tidak suka dengan orang-orang liberal yang tergabung dalam komunitas JIL. Ketidaksukaan saya bermula ketika saya cukup sering...
Ismail Naharuddin
Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Islam Makassar. Author of https://www.coretanpartisipatif.web.id/. Saat ini diamanahkan sebagai Sekretaris DPD Pertuni Sulawesi Selatan.

Menonton kembali serial Captain Tsubasa membuat kita bisa memetik hikmah di balik semangat para tokoh sepak bola Jepang dalam kartun tersebut. Mereka berjuang untuk menjadi pemain terbaik dan bercita-cita membawa nama negaranya dalam kancah dunia.

Semuanya dimulai saat Tsubasa pertama kali pindah ke kota Nankatsu. Di sana ia bertemu dengan Isizaki, seorang anak yang merupakan anggota dari tim sepakbola SD Nankatsu. Ia memulai debut pertandingannya melawan tim dari SD Sutetzu yang waktu itu diperkuat oleh penjaga gawang hebat Wakabayashi.

Dengan kemampuan dan rasa cintanya pada permainan sepak bola, Tsubasa yang berhasil membawa tim SD Nankatsu mengalahkan tim SD Sutetzu itu berhasil menarik perhatian Wakabayashi. Sejak saat itu, Wakabayashi merasa tertarik karena telah menemukan lawan tanding yang dapat membobol gawangnya.

Seiring waktu berlalu, Tsubasa yang pada akhirnya bersama Wakabayashi berhasil lolos tahap seleksi pemain tim sepak bola Nankatsu mengikuti kejuaraan tingkat sekolah se-Jepang. Dalam setiap laga pertandingan Tsubasa bersama teman-temannya yang tak lain adalah Isizaki dan seorang anak pengelana bernama Taro Misaki tak jarang menemukan lawan-lawan yang tangguh. Kemunculan berbagai pemain ujung tombak pada masing-masing klub seperti Jun Misugi, Kojiro Hyuga, Jito, Matsuyama, Wakashimatsu, dll menjadikan berbagai warna dari permainan sepak bola generasi muda Jepang.

Singkatnya, seluruh pemain muda Jepang tersebut kemudian dikumpulkan dalam satu tim untuk mewakili Jepang dalam kejuaraan dunia tingkat junior. Tak tanggung-tanggung, mereka pun menghadapi berbagai pemain terbaik dari negara masing-masing. Namun, berkat semangat dan komando oleh Kapten Tsubasa, mereka berhasil keluar sebagai juara setelah mengalahkan tim Jerman yang diperkuat oleh Snider.

Setelah membawa Jepang bertandang di Eropa, Tsubasa akhirnya memutuskan untuk masuk dalam tim sepak bola Brazil yang dilatih oleh Roberto. Setelah mencetak prestasi gemilang bersama tim Brancos, Tsubasa kemudian berpindah ke satu klub dalam liga Spanyol bernama Cattalonia.

Tidak hanya Tsubasa, sejumlah rekannya yang tergabung dalam Tim Junior Jepang pun memutuskan untuk memetik pengalaman di Eropa. Hyuga yang berhasil masuk ke klub Geomente pada Liga Italia, Misaki yang berlaga di Liga Perancis, dan Wakabayashi yang sejak awal telah memutuskan untuk pergi ke Jerman dan berhasil memperkuat klub Grunwald dalam Liga Jerman.

Dari sini, kita bisa melihat bahwa para tokoh dalam serial tersebut mempunyai impian yang kuat. Impian tersebut yang berhasil membawa mereka melewati pintu-pintu keberhasilan hingga menjadi seorang pemain sepak bola ternama di Eropa.

Dari serial Captain Tsubasa, kita dapat melihat bahwa impian menjadi landasan utama bagi para tokoh sebagai arah kehidupan mereka. Tak jarang yang menjadi kutipan mereka adalah “Kami berada di lapangan ini untuk menggapai satu impian. Menjadi nomor satu di dunia!”.

Tanpa adanya impian tersebut, mereka bukanlah siapa-siapa. Jika kita ingin meninjaunya secara logis, mudah saja. Mereka yang awalnya hanyalah seorang anak SD namun bercita-cita untuk menjadi pemain terbaik dunia. Dengan cita-cita yang mereka genggam tersebut dapat memacu semangat mereka dalam berlatih dan memperdalam kemampuan mereka. Hingga pada akhirnya, ruang untuk semakin mendekati cita-cita tersebut terbuka lebar. Mereka bermain dalam satu tim sepak bola Nasional Jepang, kemudian mendapatkan kesempatan mewakili negaranya dalam liga di Eropa.

Keikutsertaan mereka sebagai pemain junior Jepang adalah peluang untuk membuktikan kebolehan mereka. Yah, peluang yang mereka manfaatkan dengan sempurna. Peluang yang diisi oleh guyuran keringat mereka saat berlatih keras agar bisa memaksimalkan permainan dalam setiap laga-laga Jepang.

Dan ketika buah dari usaha itu telah diraih, tugas selanjutnya ialah mempertahankan prestasi sekaligus naik pada tingkatan selanjutnya. Akan ada peluang-peluang baru yang bermunculan sebagai jembatan untuk meraih impian tadi. Seperti yang digambarkan dalam kisah Tsubasa yang mana setelah berhasil meraih gelar juara bersama tim Jepang, ia bersama kawan-kawannya memutuskan untuk bergabung dalam tim ternama di Eropa. Tsubasa yang bermain di Catalonia, Hyuga yang bermain di Geomente, dan Wakabayashi yang bermain di Grunwald.

Namun, dalam menjalani sebuah peluang tersebut tentu terdapat berbagai tantangan tersendiri yang harus dilalui. Tidak semudah itu dalam menjalani suatu proses apalagi mengejar impian yang cukup tinggi. Tekad yang dimiliki Tsubasa bersama teman-temannya membuat mereka bisa melewati tantangan yang ada. Hyuga yang pada debut perdananya di Liga Italia harus mengalami kekecewaan dikarenakan ketangguhan lawannya yang mengetahui kelemahan Hyuga secara fisik membuat Hyuga sulit mencetak angka pada pertandingan tersebut. Pada akhirnya, Hyuga pun ditarik keluar lapangan dan digantikan oleh pemain cadangan Geomente.

Di tengah kekecewaan, Hyuga yang menyadari kelemahan pada bagian otot tubuhnya yang tidak seimbang akhirnya menemukan jalan untuk membentuk struktur fisik yang proporsional bagi pemain kelas dunia. Ia pun giat dalam berlatih dengan dipandu oleh pelatih fisik dari tim Geomente. Dan pada episode terakhir serial Captain Tsubasa, terlihat bahwa Hyuga kembali turun ke lapangan untuk menggantikan penyerang Geomente yang saat itu kesulitan dalam mencetak gol di menit-menit akhir pertandingan.

Hyuga yang telah menjalani proses latihan fisik dalam kurun waktu terakhir kemudian memperlihatkan kemampuannya yang baru. Dan akhirnya, satu gol yang disumbangkan olehnya berhasil membawa kemenangan bagi Geomente. Para penonton dan pemain dari bangku cadangan bersorak meneriakkan nama Hyuga seolah ia adalah bintang lapangan pada pertandingan itu.

Namun, di atas segala peluang yang telah mereka manfaatkan itu, masih ada tantangan sekaligus peluang lainnya yang harus mereka lalui. Di ahkir cerita, mereka telah berada pada pembukaan Kualifikasi Pra Piala Dunia. Itulah tingkatan yang selama ini mereka incar untuk menggapai impian mereka. Sebuah jembatan utama untuk menjadi nomor satu di dunia. Tentunya itu bukanlah akhir dari segalanya. Berbagai rintangan masih kian membentang luas di hadapan mereka yang harus dilalui hingga impian mereka benar-benar tercapai.

Olehnya itu, kita dapat menarik sebuah kesimpulan bahwa impian merupakan hal utama dalam menentukan arah kehidupan. Namun, impian bukanlah angan-angan belaka yang hanya terukir indah dalam imajinasi seseorang. Tapi, impian adalah tujuan di mana kita akan melangkah di masa depan yang mana perjalanannya memiliki rintangan dengan semangat, tekad yang kuat dan kegigihan sebagai kuncinya.

Ismail Naharuddin
Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Islam Makassar. Author of https://www.coretanpartisipatif.web.id/. Saat ini diamanahkan sebagai Sekretaris DPD Pertuni Sulawesi Selatan.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Menjatuhkan Ganjar-Jokowi dengan Satu Batu

Saya sebenarnya kasihan dengan Jokowi. Sejak beberapa hari yang lalu organ di bawahnya terlihat tidak bisa kerja. Misalnya soal kasus teroris di Sigi, tim...

Mengapa RUU Minol Harus Disahkan

Pada zaman yang serba modern seperti sekarang ini apa saja dapat dilakukan dan didapatkan dengan mudah karena teknologi sudah semakin canggih. Dahulu untuk mendapatkan...

Pay It Forward Merespon Dampak Pandemi Covid-19

Sinopsis Film Pay It Forward Pay It Forward merupakan sebuah film asal Amerika Serikat yang sarat pesan moral. Film ini dirilis pada tahun 2000, yang...

Senyum Ekonomi di Tengah Pandemi

Pandemi tak selamanya menyuguhkan berita sedih. Setidaknya, itulah yang disampaikan Menteri Keuangan Sri Mulyani. Berita apa itu? Sri Mulyani, menyatakan, kondisi ekonomi Indonesia tidak terlalu...

Dubes Wahid dan Jejak Praktek Oksidentalisme Diplomat Indonesia

Pada 5 Oktober 2000 di Canberra dalam forum Australian Political Science Association, pakar teori HI terkemuka Inggris, Prof. Steve Smith berpidato dengan judul, “The...

ARTIKEL TERPOPULER

Luasnya Kekuasaan Eksekutif Menurut Undang-Undang

Proses demokrasi di Indonesia telah memasuki tahap perkembangan yang sangat penting. Perkembangan itu ditandai dengan berbagai perubahan dan pembentukan institusi atau lembaga baru dalam...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Pendidikan di Indonesia

Sudah 8 bulan lalu kasus virus Covid-19 menyerang dunia. Begitu cepatnya perubahan wabah Covid-19 dari Endemi hingga memenuhi syarat menjadi Pandemi, wabah yang mendunia....

Hyper Grace : Kejahatan Intelektualitas Manusia Yang Menggunakan

Hyper Grace adalah anugerah yang dilebih-lebihkan (keluar dari porsi) anugerah yang melebihi yang Firman Allah katakan (menambahkan Firman-Nya).Itu adalah anugerah di mana kamu harus...

“Pilkada Pandemi” dan Pertanyaan Soal Substansi Demokrasi

Pilkada sebagai sebuah proses politik di negara demokrasi adalah salah satu wujud terpenuhinya hak politik warga negara, selain terjadinya sirkulasi elite penguasa. Namun di...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.