Kamis, Maret 4, 2021

Pesan Kepada Fans Politik dan Pemilih Labil

Sampah Atribut Kampanye

Pemilu akan dilaksanakan 17 April 2019. Partai politik, calon anggota legislatif (DPR dan DPRD), calon dewan perwakilan daerah (DPD) calon Presiden dan calon Wakil...

Syawapres, Tapi Bukan Syapres

Pemilihan Legislatif (Pileg) dan Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 akan digelar serentak pada  Rabu, 17 April 2019. Hal ini sudah disepakati sebelumnya oleh Panja RUU...

Menanti Komitmen Jokowi untuk KPK

Kurang lebih 2 bulan lalu masyarakat Indonesia dihebohkan dengan kasus penyiraman air keras kepada penyidik senior KPK bung Novel Baswedan di Masjid kediaman rumahnya...

Poros Ketiga 2019: Terhambat dan Menghambat

Kurang dari satu bulan lagi memasuki masa pendaftaran pasangan calon presiden dan wakil presiden yang akan berkontestasi di pemilihan presiden 2019 mendatang. Seluruh partai...
Kevin Ng
Kevin saat ini sedang melakukan studi di University of Western Australia dan merupakan jurnalis lepas di salah satu media Indonesia di Australia. Ia tertarik pada filsafat, ilmu sosial, komunikasi, sejarah, bisnis, politik dan ekonomi, serta berbagai macam topik lainnya. Ia terbuka untuk berdiskusi atau sekedar berbincang mengenai isu-isu aktual hingga bercandaan.

Sedemikian naifnya kita merasa takut akan pemilihan nanti. Mulai ketakutan akan golput hingga konspirasi politik lainnya. Hingga saat ini, keadaan Indonesia masih relatif aman. Toh masih banyak yang bergosip ria tentang hal-hal yang tak begitu penting. Dan para politisi masih tertawa dan bercanda. Mengapa para pemegang hak suara yang ribut?

Fenomena ini saya teliti dari banyaknya berita-berita simpang siur yang belakangan ini tersebar di media daring. Berawal dari berita, hingga ke percakapan antara masyarakat “madani”, berubah jadi konspirasi. Memang tidak bisa dipungkiri, sekarang kita selalu berbicara mengenai politik (walaupun tidak terlalu paham). Inti dari pembahasannya sekedar spekulasi.

Dan subjektifitas masuk ke dalam topik pembicaraan. Pastinya kelompok relawan pertahana akan berbicara mengenai kehebatan figur favoritnya, begitu pula kelompok sebelah. Alhasil yang terjadi adalah kekosongan pengetahuan mengenai kanidat dari kubu berlawanan. Karena itu politik di Indonesia tidak menarik. Rasionalitas pemilih hanya sekedar urusan “logika” akal sehat dari pengalaman mereka. Percuma juga kedua pasangan calon memberikan program kerja, kalau para pemilihnya tidak memilih berdasarkan apa yang akan dikerjakan, namun berdasarkan ideologi.

Debat-debat yang telah kita lihat sebegitu membosankannya. Retorika yang sama dilontarkan lagi dan lagi. Paling tidak kedua kubu selalu berbicara soal rakyat dan kemiskinan, itu saja. Tentu mereka menargetkan pemilih yang “kurang beruntung”, karena kelas sosial yang lebih tinggi sudah ketebak pemetaannya.  Perdebatan itu diperuntukkan hanya sebagai hiburan bagi fans fanatik politik yang pragmatis. Yang lainnya bakal bingung akan inti dari perdebatan-perdebatan itu.

Terlepas dari kemeriahan “pesta” demokrasi ini, kita dapat melihat problematika dari sudut pandang para pemilih labil. Sesungguhnya para pemilih labil ini tidaklah bodoh, melainkan pemilih yang benar-benar memposisikan dirinya sebagai zoon politikon. Mereka berpikir akan masa depan, dan melihat segala kemungkinan yang terjadi apabila calon pemimpin berhasil menduduki kursi istana.

Sebagian dari mereka putus harapan dan memilih golput. Sebagian lagi mungkin tetap memilih the lesser evil. Namun ini bukan masalah mencoblos atau tidak mencoblos, melainkan penderitaan yang mereka alami dengan begitu banyakanya informasi dari kedua kubu. Kebingungan pasti akan sampai, dan titik lelah jadi akibatnya. Pemilih yang belum menentukkan pilihannya bisa tersesat.

Maka saya punya pesan kepada pemilih yang masih bingung : lebih baik tutup telinga dan menyendiri ! Sebagai manusia yang beradab, kita memilki tingkat pemikiran yang kritis. Tidak perlu memilih karena orang lain menyuruhmu untuk memilih. Sejatinya kita punya prinsip kepada apa yang kita percayai. Ini bukan perkara mudah, karena suara individu adalah hak individu. Para pendukung yang memantapkan pilihannya jauh-jauh hari sudah memilih sebelum tanggal 17 April 2019. Dan yang benar-benar memilih pada tanggal 17 April 2019 itu tidaklah banyak.

Dan kepada para pemilih yang sudah punya calon favorit, lebih baik bersenang-senanglah dengan para kawan-kawan kalian. Hargai pilihan orang lain dan jadilah pemilih yang bertanggung jawab. Mungkin orang-orang disekelilingmu sudah tahu betul siapa yang akan kau pilih, tetapi ada juga orang-orang yang tak mau tahu kau memilih siapa. Bukan berarti ini sebuah larangan, tetapi sekiranya menahan emosi dan lebih santai dalam berpolitik.

Tapi saya berpesan begini juga percuma. Kalau sudah bebal pemikirannya juga susah. Apalagi kalau ada yang berkata, “Dek, masih kecil jangan sok pinter politik.”. Terkadang ada juga yang menanyakkan berapa usiaku ? Memang sulit untuk beri nasihat kepada orang yang lebih tua. Pastinya mereka sadar kalau umurku masih muda. Sepertinya mereka melewatkan pemilih muda dan labil. Selamat berjuang ibu dan bapak !

 

Kevin Ng
Kevin saat ini sedang melakukan studi di University of Western Australia dan merupakan jurnalis lepas di salah satu media Indonesia di Australia. Ia tertarik pada filsafat, ilmu sosial, komunikasi, sejarah, bisnis, politik dan ekonomi, serta berbagai macam topik lainnya. Ia terbuka untuk berdiskusi atau sekedar berbincang mengenai isu-isu aktual hingga bercandaan.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Demitologisasi SO 1 Maret

Menarik bahwa ada kesaksian dari Prof. George Kahin tentang SO 1 Maret 1949. Menurutnya, SO 1 Maret bukanlah serangan balasan pertama dan terbesar dari...

Polwan Yuni Purwanti yang Terjebak Mafia Narkoba

Publik terkejut. Jagad maya pun ribut. Ini gegara Kapolsek Astana Anyar, Kota Bandung, Kompol Yuni Purwanti Kusuma Dewi terciduk tim reserse antinarkoba Polda Jabar....

Stop Provokasi, Pelegalan Miras? Mbahmu!

Lampiran Perpres yang memuat izin investasi miras di daerah tertentu, baru saja dicabut oleh Presiden. Ini disebabkan karena banyak pihak merasa keberatan. Daripada ribut...

Beragama di Era Google, Mencermati Kontradiksi dan Ironi

Review Buku Denny JA, 11 Fakta Era Google: Bergesernya Pemahaman Agama, dari Kebenaran Mutlak Menuju Kekayaan Kultural Milik Bersama, 2021 Fenomena, gejala, dan ekspresi...

Artijo dan Nurhadi di Mahkamah Agung

In Memoriam Artijo Alkostar Di Mahkamah Agung (MA) ada dua tokoh terkenal. Artijo Alkostar, Hakim Agung di Kamar Pidana dan Nurhadi, Sekjen MA. Dua tokoh MA...

ARTIKEL TERPOPULER

Ziarah Ke Media Sosial

Meminjam istilah masyarakat industrial Kuntowijoyo dalam masyarakat tanpa masjid (2001), merupakan kondisi masyarakat yang terkungkung oleh rasionalisasi, komersialisasi dan monetisasi. Mengutip pendapat Robert Bala,...

Common Sense dalam Filsafat Ilmu

Ilmu filsafat selalu merumuskan tentang pertanyaan – pertanyaan kritis atas kemapanan jawaban yang sudah dipecahkan oleh ilmu pengetahuan. Pada zaman sekarang ilmu pendidikan tidak...

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Artidjo Alkostar, Sebuah Kitab Keadilan

Gambaran apa yang muncul di benak Anda setiap mendengar profesi pengacara dan kepengacaraan? Apapun citra itu, Artidjo Alkostar menghancurkannya berkeping-keping. Sebagai pengacara hingga akhir 1990an,...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.