OUR NETWORK

Perubahan Iklim, Kolonisasi Mars, dan Hikmah Berpuasa

Ramadan selalu datang dan pergi setiap tahun. Iklim juga terus menerus berubah. Lantas hikmah apa yang bisa kita pelajari dari puasa sebulan penuh di tengah iklim yang berubah?

Milyaran makhluk hidup di bumi, termasuk manusia berada pada ancaman kepunahan. Di tengah kerusakan lingkungan dan perubahan iklim, perhatian manusia saat ini adalah bagaimana menyelamatkan diri dari ancaman tersebut. Fisikawan Stephen Hawking dalam Starmus Festival di Trondheim, Norwegia (21/6/2017) mendesak manusia untuk terus berinovasi agar pada 2025 manusia bisa mendarat di Mars. Baginya, mengkoloni planet lain adalah jalan tepat untuk menyelamatkan manusia.

Yang dikemukakan Hawking di atas adalah bagian dari adaptasi terhadap tidak menentunya bumi di masa depan. Gagasan yang brilian, namun bukan solusi yang tepat untuk saat ini. Berpindahnya manusia ke luar angkasa akan memunculkan peradaban baru yang tidak dapat dipungkiri, menimbulkan potensi kerusakan lanjutan. Siklus itu akan terus berlanjut, karena makhluk hidup dengan nama ilmiah Homo sapiens sapiens ini telah dilabeli sebagai spesies paling serakah (QS. Al-Baqarah 2: 30).

Alih-alih memindahkan manusia ke luar angkasa, hal mendesak yang perlu dilakukan adalah bersatu menghadapi perubahan tersebut. Langkah pertama adalah menyadari bahwa peruabahan iklim memang terjadi. Jajak pendapat oleh Climate Asia pada 2012 menyebutkan bahwa 48 persen masyarakat Indonesia kurang mendapatkan informasi bagaimana beradaptasi terhadap perubahan iklim. Tingginya angka ketidaktahuan masyarakat ini menyebabkan rendahnya partisipasi masyarakat dalam menerapkan gaya hidup hijau.

Jika semua manusia tahu bahwa konsumsi satu kilogram udang bisa menyumbang 1600 kilo gram gas rumah kaca (GRK) (CIFOR, 16/6/2017), dan akumulasi GRK di atmosfer turut menyumbang tenggelamnya pulau-pulau di Indonesia, maka ia akan berhati-hati dalam mengatur pola konsumsinya. Begitu juga konsumsi daging misalnya, berkontribui terhadap peningkatan gas metana (CH4), yang menjadi salah satu sebab kekeringan berkepanjangan di Afrika.

Perubahan iklim sendiri dipengaruhi oleh meningkatnya GRK di atmosfer. Selain karbon dioksida (CO2) yang dihasilkan dari pembakaran bahan bakar fosil, komponen lain penyusun GRK adalah CH4 yang memiliki koefisien daya tangkap panas 25 kali lebih besar dari CO2. Jika diperhatikan, sumber penghasil CH4 adalah yang kita gunakan sebagai makanan keseharian kita.

Beras yang menjadi makanan pokok masyarakat Indonesia dihasilkan dari aktvitas pertanian padi, sedangkan pertanian dengan kondisinya yang tergenang adalah penyumbang 50 persen CH4 di muka bumi ini. Setelah pertanian padi, penyumbang CH4 berikutnya adalah peternakan, yang memproduksi daging. Sendawa, kentut, dan kotoran hewan ruminansia seperti sapi menyumbang 60 persen CH4 dari aktivitas pertanian ke atmosfer setiap tahunnya. Belum lagi pengolahan dan distribusi bahan pangan tersebut hingga sampai di meja makan, nyatanya juga menghasilkan jejak karbon yang besar.

Jika 6 milyar jiwa penduduk bumi ini sadar bahwa konsumsi kesehariannya berpengaruh terhadap iklim dan kelangsungan hidupnya sendiri di masa depan, maka ia akan berpikir dua kali sebelum mengkonsumsi makanan. Kehati-hatian dan tidak berlebihan dalam memilih makanan ini sebenarnya telah dicontohkan dengan baik oleh Islam.

Melalui puasa, umat Islam dilatih untuk mengurangi waktu makan menjadi hanya dua kali dalam sehari. Hal ini akan mengurangi angka kebutuhan dan produksi makanan besar, seperti beras dan daging.

Selain itu, ada juga jenis makanan yang memiliki nilai sunah untuk dikonsumsi saat berbuka, yang artinya mendatangkan lebih banyak pahala, seperti kurma dan buah-buahan lainnya. Faktanya, buah-buahan adalah tanaman yang paling tepat dibudidayakan sebagai respon perubahan iklim, karena selain dapat dikonsumsi, juga dapat menjadi penyerap CO2 di atmosfer.

Puasa memang dapat mengurangi kebutuhan dan produksi makanan tinggi karbon. Meskipun demikian, pada hakikatnya puasa adalah menahan hawa nafsu. Menahan diri dari memenuhi keinginan pribadi dan mengkonversinya menjadi aktivitas yang bernilai ibadah. Sehingga puasa bisa mendorong manusia untuk berbuat lebih arif terhadap lingkungan.

Beradaptasi terhadap perubahan iklim dengan berpuasa sejatinya sudah dilakukan oleh beberapa kelompok atau agama lain di dunia. Federasi Dunia Gereja Lutheran (LWF) misalnya, mengajak gereja-gereja anggota di seluruh dunia untuk berpuasa saat berlangsungnya negosiasi iklim pada COP 19 di Warsawa, Polandia. Upaya ini dilakukan sebagai bentuk simpati terhadap bencana akibat perubahan iklim yang melanda bumi.

Aktivitas berpuasa seperti ini hendaknya diduplikasi dan diterapkan oleh semua kalangan sebagai contoh bahwa kita bisa menahan temperatur bumi untuk tidak naik di atas 1,5 derajat celsius. Karena naiknya temperatur bumi di atas 1,5 derajat celcius tidak dapat dipungkiri adalah dampak dari manusia yang tidak bisa menahan hawa nafsunya. Bagi umat muslim, semangat berpuasa Ramadan untuk perbaikan iklim, juga bisa diterapkan dalam puasa Senin-Kamis, puasa Syawal, dan puasa sunah lainnya.

Selain puasa, mengkonsumsi makanan diet karbon juga harus diterapkan. Dengan mengurangi konsumsi beras dan daging melalui diversifikasi pangan, kita turut mengurangi emisi CH4 yang dihasilkan dari pertanian dan peternakan. Sebenarnya, adaptasi terhadap perubahan iklim bisa dimulai dari hal-hal sederhana. Jika kita mau berpuasa dan menerapkan gaya hidup rendah karbon, di masa depan, kita tak perlu paranoid terhadap ”kiamat” akibat perubahan iklim.

I am an enthusiast in ecology-evolution-conservation and environmental science. I also concern about science writing and the intersection topics between science and religion.

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…