Kamis, Januari 28, 2021

Pertemuan IMF-World Bank 2018, Pemborosan atau Investasi?

Dilema Kaum Muda “Peragai atau Kibuli”

Menatap bangsa dengan ketenangan jiwa, mencoba melepaskan diri dari amukan hasrat serta birahi politik yang bergelegar. Maka sampailah seorang putra bangsa pada sebuah perenungan. Dilema...

Jenderal Kardus dan Politik Tagar

Beberapa hari yang lalu, di tengah malam saya tergelitik melihat story WhatsApp seorang teman yang juga calon legislatif (caleg) salah satu partai politik soal Jenderal Kardus....

Membaca Peta Politik Amien Rais

Beberapa waktu lalu, KPK menyebut Amien Rais menerima aliran dana terkait kasus dugaan korupsi alat kesehatan (alkes) sebesar Rp 600 juta. aliran dana itu...

Fundamentalis, Mereka yang Merasa Terasing

Di panggung dunia ini, manusia terdampar sebagai seorang yang dengan kesadaran dan kebebasannya harus memahami siapa dirinya sebenarnya. Dunia menggambarkan keterpisahan, ketidakadilan, dan kecemasan...
Nika Pranata
Peneliti pada Pusat Penelitian Ekonomi-LIPI

Tahun 2018 menjadi tahun yang monumental bagi Indonesia, negara kita dipercaya dunia sebagai tuan rumah dua acara besar berskala internasional yaitu Asian Games 2018 dan Annual Meeting IMF-World Bank Group 2018 (AM IMF-WB).

Khusus AM IMF-WB, ajang tersebut merupakan pertemuan ekonomi dan keuangan yang terbesar di dunia dan akan menjadi pertemuan keuangan terbesar dalam sejarah Indonesia. Pemerintah memperkirakan acara tersebut akan dihadiri oleh sekitar 18 ribu orang dari 189 negara yang terdiri dari para gubernur bank sentral, delegasi masing – masing negara, jurnalis, akademisi, sektor swasta, parlemen, dan peserta lainnya.

Namun, meskipun Indonesia mendapatkan kehormatan menjadi negara penyelenggara pertemuan akbar tersebut, terdapat polemik di masyarakat yang menganggap acara ini hanya ajang penghambur-hamburan anggaran negara demi gengsi semata.

Munculnya polemik ditengah masyarakat sejatinya merupakan hal yang wajar mengingat selama ini citra IMF dan Bank Dunia yang kurang baik di mata masyarakat umum. Hal itu diperburuk dengan pemahaman masyarakat yang belum menyeluruh akan biaya yang dibutuhkan dan dan dampak yang akan diperoleh dari penyelenggaraan acara tersebut.

Selama ini masyarakat lebih banyak menekankan pada biaya yang dikeluarkan pemerintah tanpa melihat pada dampak positifnya.

Mengurai Biaya Penyelenggaraan

Dalam rangka mendukung perhelatan akbar ini, pemerintah telah menganggarkan sebanyak 855 miliar rupiah. Angka yang memang terlihat cukup besar, namun sebetulnya jika dibandingkan dengan ajang internasional yang saat ini sedang berlangsung, Asian Games, angka tersebut relatif kecil.

Untuk penyelenggaraan Asian Games pemerintah mengalokasikan anggaran sebesar 7,2 triliun rupiah. Asian Games berlangsung selama 16 hari, sedangkan AM IMF-WB berlangsung selama 7 hari. Jika dibagi perhari, maka Asian Games membutuhkan 450 miliar rupiah per hari, sedangkan AM IMF-WB memerlukan kurang dari seperempatnya saja yaitu 122 miliar rupiah per hari. Selain itu, dari sisi negara yang terlibat, AM IMF-WB diikuti oleh 189 negara di dunia, sementara Asian Games hanya diikuti oleh 45 negara Asia.

Lebih jauh, yang masyarakat umum belum banyak tahu adalah tidak semua anggaran penyelenggaraan adalah uang habis pakai. Sebagian anggaran digunakan untuk menalangi para delegasi menyewa kamar hotel dan ruangan.

Karena sifatnya adalah dana talangan, maka dana tersebut akan dibayarkan kembali oleh mereka ke pemerintah dalam bentuk Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP). Selain itu, sebanyak 555 miliar rupiah (64%) digunakan untuk pembangunan infrastruktur seperti pembangunan underpass Simpang Tugu Ngurah Rai. Artinya, hanya 36% (313 miliar rupiah) yang dianggarkan untuk non-infrastruktur.

Dampak Langsung dalam Jangka Pendek

Paling tidak, terdapat dua dampak langsung dalam jangka pendek akibat dari penyelenggaran AM IMF-WB. Pertama adalah dampak terhadap perekonomian daerah yaitu melalui peningkatan pendapatan masyarakat, penciptaan lapangan kerja, dan pertumbuhan sektor pariwisata melalui perputaran uang di Bali akibat diselenggarkannya acara tersebut. Menteri PPN memperkirakan perputaran uang mencapai 6,9 triliun rupiah.

Dampak langsung berikutnya adalah peningkatan pendapatan daerah/pusat melalui penerimaan pajak. Pertama, dari sisi akomodasi, diperkirakan sebanyak 13.500 kamar hotel bintang 4-5 di kawasan Nusa Dua dengan tarif per malam 600 dollar AS dan 4.500 kamar di Kuta dengan tarif 200 dollar AS akan disewa oleh para peserta selama 10 hari. Menggunakan kurs saat ini, maka pengeluaran para peserta untuk akomodasi mencapai 1,3 triliun rupiah.

Kedua, jika kita asumsikan pengeluaran untuk membeli cinderamata mencapai 20% dari akomodasi, maka pengeluaran untuk hal tersebut mencapai 262 miliar rupiah. Ketiga, panitia penyelenggaraan memperkirakan akan ada 2-3 ribu pertemuan terkait acara tersebut. Jika diasumsikan akan ada 2,5 ribu pertemuan dengan biaya per pertemuan 100 juta rupiah, maka biaya penyelenggaran pertemuan mencapai 250 miliar rupiah.

Jika ketiganya ditotal, maka biaya pengeluarannya mencapai 1,82 triliun rupiah. Dengan tarif pajak hotel dan PPN sebesar 10%, maka potensi penerimaan pajaknya sebesar 182 miliar rupiah. Angka tersebut sudah mencapai hampir 60% dari biaya non-infrastruktur penyelenggaraan AM IMF-WB.

Itupun belum menghitung pengembalian dana talangan sewa kamar dan ruangan dari para delegasi, PPh, sewa kendaraan, airport tax, pajak penjualan tiket pesawat, dan dampak perekonomian ke daerah penyangga. Sederhananya, semua uang yang dikeluarkan untuk penyelenggaraan AM IMF-WB akan kembali lagi, bahkan melebihi yang sudah dianggarkan pemerintah.

Dampak Tidak Langsung dalam Jangka Panjang

Sejatinya, manfaat terbesar yang akan diterima Indonesia bukanlah dampak langsung jangka pendek, melainkan dampaknya dalam jangka panjang. Dengan Indonesia sebagai tuan rumah, maka Indonesia bisa leluasa mengatur agenda (agenda setting) yang menguntungkan Indonesia. Sebagai contoh, ditengah perang dan gugatan dagang dengan AS yang akhir-akhir ini kerap terjadi, kita bisa menyisipkan agenda yang menitikberatkan pada keberpihakan bagi Indonesia.

Berikutnya, ditengah pertumbuhan ekonomi yang melambat, maka Indonesia perlu penopang perekonomian baru. Ditengah konsumsi masyarakat dan belanja pemerintah yang relatif stagnan, serta neraca dagang yang kerap defisit, maka kita harus mengoptimalkan investasi untuk menggenjot pertumbuhan ekonomi Indonesia.

AM IMF WB merupakan momentum yang sangat baik untuk menarik investasi dunia, mengingat acara ini dihadiri oleh punggawa-punggawa ekonomi dan keuangan dunia. Kita bisa menyiapkan agenda yang mempromosikan capaian-capaian Indonesia dalam hal ekonomi, seperti membaiknya iklim investasi Indonesia dengan dicapainya peringkat layak investasi dari lembaga kredibel dunia, menurunnya tingkat kemiskinan, penyederhanaan dan deregulasi perizinan, serta potensi ekonomi Indonesia yang besar.

Selain itu, pemerintah juga sudah menyiapkan agenda-agenda wisata yang mengenalkan destinasi wisata internasional baru seperti Lombok, Banyuwangi, Labuan Bajo,dan kawasan lainnya.Jika promosi in sukses, maka sektor pariwisata juga bisa diandalkan sebagai sumber pertumbuhan perekonomian baru.

Dengan besarnya manfaat penyelenggaraan AM IMF-WB, maka pemerintah berkewajiban untuk menjamin kelancaran berlangsungnya perhelatan akbar tersebut. Aspek yang penting dijaga adalah keamanan dan kenyamanan seperti pencegahan aksi terorisme dan penanganan aksi demonstrasi mengingat biasanya penyelanggaraan AM IMF-WB di negara lain diwarnai dengan demo.

Berikutnya, ditengah gempa bumi yang kerap terjadi, penyelenggara perlu menyiapkan mitigasi bencana dengan baik. Selain itu, untuk menggenjot investasi pemerintah juga perlu mempercepat perbaikan iklim investasi seperti mempermudah pembebasan lahan dan debottlenecking perizinan di daerah.

Akhir kata, alih-alih mempermasalahkan biaya penyelenggaran AM IMF-WB, kita bisa mengganggap biaya tersebut sebagai biaya investasi yang sangat menguntungkan. Indonesia seharusnya patut berbangga terpilih sebagai penyelenggara mengingat ajang akbar ini memiliki manfaat yang besar bagi negara baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang.

Nika Pranata
Peneliti pada Pusat Penelitian Ekonomi-LIPI
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Roman Abramovich, Alexei Navalny, dan Premier League

Industri olahraga, khususnya sepakbola, telah mengalami perkembangan pesat. Mulai dari segi teknis maupun non-teknis. Mulai dari aktor dalam lapangan hingga pemain-pemain di belakang layar....

Perempuan dan Politik

Politik selalu identik dengan dunia laki-laki, dengan dunia kotor, tidak pantas untuk perempuan masuk kedalam ranah tersebut. Politik selalu identik dengan sesuatu yang aneh...

Karakteristik Milenial di Era Disrupsi

Dewasa ini, pemakaian istilah Disrupsi masih terdengar asing oleh kaum muda atau generasi milenial sekarang. Lalu apa sebenarnya yang dimaksud dengan disrupsi?. Jika kita...

Hak Cipta dan Perlindungan Kekayaan Intelektual

Hak atas Kekayaan Intelektual (HAKI) merupakan terjemahan dari Intellectual Property Right (IPR), sebagaimana diatur dalam undang-undang No. 7 Tahun 1994 tentang pengesahan Agreement Establishing...

Pengalaman Mantan Pasien Wisma Atlet

Ibu Mawar ingin memberi cerita pengalamannya yang dialami ia dan keluarga dalam menghadapi karena mengidap Covid 19 yang sempat dirawat di Wisma Atlet serta...

ARTIKEL TERPOPULER

Revolusi Azyumardi Azra

Ketika masih sekolah di Pendidikan Guru Agama (PGA), setingkat SMA, di Pariaman, Sumatera Barat, Azyumardi Azra mengirim puisi berbahasa Inggris ke Harian The Indonesian...

Larry King, Wawancara dengan Sejarah

Oriana Fallaci beruntung. Ia seakan mendapat wangsit mendadak untuk menjuduli bukunya dengan cemerlang, "Intervista con la storia", himpunan interviunya dengan para pemimpin dunia yang...

Pandji yang Sedikit Tahu, tapi Sudah Sok Tahu

Siniar (podcast) komedian Pandji Pragiwaksono kian menegaskan bahwa budaya kita adalah sedikit tahu, tapi sudah merasa sok tahu. Sedikit saja tahu tentang gambaran FPI...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Towards Success: Re-evaluating Indonesia Ecological Development

Indonesia has long been an active participant of the environmental policy formation and promotion. Ever since 1970, as Dr Emil Salim appointed as the...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.